"Kamu emang jenius, kenapa dingin banget sih?"
"Gapapa."
"Gapapa apanya? kamu tuh dingin kayak... Es krim ini."
"Iya. Es krim itu juga kan.... manis."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon alfphyrizhmi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB — 09
BAB 09 — Rumus yang Salah
Papan tulis putih itu penuh dengan cacing-cacing hitam. Rumus, angka, vektor, dan diagram gaya yang saling tumpang tindih.
Pelajaran Fisika Lanjut dengan Pak Burhan adalah mimpi buruk bagi 90 persen siswa SMA Pelita Bangsa. Pak Burhan adalah legenda. Pria tua berusia enam puluhan dengan rambut memutih, kacamata tebal yang selalu melorot, dan temperamen yang sependek sumbu mercon.
Dia tidak mengajar. Dia mendikte alam semesta.
“Hukum Kekekalan Momentum!” suara Pak Burhan menggelegar, membuat Naufal yang sedang mengantuk di barisan tengah tersentak bangun.
Pak Burhan memukul papan tulis dengan spidol permanen. Tak!
“Jika dua benda bertumbukan lenting sempurna, maka energi kinetik sebelum dan sesudah tumbukan adalah tetap. Paham?!”
“Paham, Pak!” jawab seisi kelas serempak, padahal separuh dari mereka bahkan tidak tahu apa itu 'lenting sempurna'. Mereka cuma tahu kalau tidak menjawab 'paham', Pak Burhan akan melempar penghapus kayu.
Mayang duduk tegak di bangku belakangnya yang biasa. Matanya fokus. Dia tidak mencatat setiap kata Pak Burhan. Dia hanya mencatat poin-poin penting dan menggambar diagram di buku tulis batiknya yang setia.
Di sampingnya, Naufal sudah menyerah. Buku tulisnya penuh dengan gambar kartun orang lidi sedang main basket.
“Gue nggak kuat, May,” bisik Naufal putus asa. “Otak gue berasap. Ini bahasa planet mana sih?”
“Ini bahasa alam, Fal,” jawab Mayang tanpa menoleh. “Kalau kamu ngerti, ini indah kok. Semuanya seimbang.”
“Indah gundulmu. Gue liat angka keriting gitu bawaannya pengen muntah.”
“Sstt!” desis Vivie dari depan. “Berisik! Gue lagi konsentrasi nih!”
Vivie sedang mencatat dengan pulpen warna-warni. Merah untuk judul, biru untuk rumus, hijau untuk definisi. Catatannya sangat estetik, layak masuk Pinterest. Tapi Mayang tahu, Vivie hanya menyalin bentuk, bukan memahami isi.
Pak Burhan menghapus papan tulis bagian kiri. Debu spidol beterbangan.
“Sekarang, perhatikan soal ini. Ini soal seleksi Olimpiade Fisika tingkat Provinsi tahun 2018. Kalau kalian bisa jawab ini, kalian aman di ulangan harian besok.”
Pak Burhan mulai menulis soal cerita yang panjang. Tentang peluru yang ditembakkan ke balok kayu yang digantung (Ayunan Balistik), lalu balok itu berayun mencapai ketinggian tertentu.
Siswa-siswa mulai gelisah. Soal itu terlihat rumit. Ada massa peluru, massa balok, kecepatan awal, gravitasi, dan koefisien gesek udara (yang biasanya diabaikan, tapi kali ini Pak Burhan memasukkannya untuk menyiksa murid).
Pak Burhan mulai mengerjakan penyelesaiannya di papan tulis. Langkah demi langkah. Dia menulis dengan cepat, bergumam sendiri.
V \= akar dari (2gh)... ditambah momentum... dikurangi gesekan...
Di barisan depan, Vino duduk dengan posisi khasnya: bersandar malas, satu kaki disilangkan di atas lutut, memutar-mutar pulpen di antara jari-jarinya. Dia tidak mencatat.
Mata Vino mengikuti gerakan tangan Pak Burhan. Baris 1: Benar. Baris 2: Benar. Baris 3: Benar.
Tiba-tiba, mata Vino menyipit. Gerakan memutar pulpennya berhenti.
Di baris ke-4, saat mensubstitusi variabel kecepatan sudut menjadi kecepatan linear, Pak Burhan melupakan faktor pembagi massa gabungan dalam penyebut pecahan.
Salah, batin Vino.
Itu kesalahan fatal. Jika penyebutnya hilang, hasil akhirnya akan meleset jauh. Energinya akan menjadi tak terhingga, yang mana mustahil dalam hukum fisika.
Vino menghela napas panjang. Dia melihat jam tangannya. Masih ada 15 menit sebelum bel.
Kalau dia angkat tangan dan mengoreksi, Pak Burhan pasti akan mendebatnya (Pak Burhan benci dikoreksi). Perdebatan itu akan memakan waktu 10 menit. Lalu Pak Burhan akan menyuruhnya maju mengerjakan ulang. Total 20 menit terbuang.
Ah, males, pikir Vino. Biarin aja sesat berjamaah. Nanti juga pas ujian pada salah semua.
Vino memutuskan untuk diam. Dia kembali memutar pulpennya, membiarkan kesalahan itu terpampang abadi di papan tulis.
Siswa lain menyalin dengan tekun. Vivie menyalin rumus yang salah itu dengan tinta glitter warna ungu. Naufal menyalin sambil menggaruk kepala.
“Catat yang rapi!” perintah Pak Burhan. “Ini rumus kunci! Jangan sampai ada yang kelewat!”
Di belakang, Mayang berhenti menulis.
Keningnya berkerut. Dia melihat catatannya sendiri, lalu melihat ke papan tulis.
Dia menghitung ulang di kertas buram. m1 v1 + m2 v2 \= (m1+m2) v’ Energi Kinetik \= 1/2 m v kuadrat.
Hitungan Mayang berhenti di angka yang berbeda dengan Pak Burhan.
Mayang mengecek lagi. Sekali. Dua kali.
“Salah,” bisik Mayang pelan.
Naufal menoleh. “Apanya yang salah? Gue nyalinnya salah?”
“Bukan. Rumus Bapaknya. Itu kurang per (m1+m2) di bawah akar.”
“Hah? Masa sih? Pak Burhan kan dewa Fisika, May. Mana mungkin salah.”
“Dewa juga manusia, Fal. Itu fatal. Kalau pake rumus itu, nanti pas ulangan hasilnya bakal error.”
Mayang gelisah. Dia melihat sekeliling. Tidak ada yang sadar. Semua mencatat dengan patuh seperti domba yang digiring ke jurang kesalahan.
Dia melihat ke arah Vino. Vino pasti tahu. Vino kan jenius.
Mayang melihat Vino hanya diam, menatap kosong ke jendela.
Kenapa dia diam? batin Mayang gemas. Dia pasti tahu itu salah. Apa dia nggak peduli kalau teman-temannya bakal dapet nilai jelek?
Egois. Mayang menyimpulkan. Vino terlalu sombong untuk peduli pada nasib akademis orang lain.
Pak Burhan selesai menulis hasil akhir. Dia menggarisbawahi hasilnya dua kali.
“Nah! Jadi kecepatan pelurunya adalah 450 m/s. Ada pertanyaan?”
Hening.
“Bagus. Kalau tidak ada, kerjakan LKS halaman 50 nomor 1 sampai 5 menggunakan rumus ini. Kumpulkan sebelum bel!”
Kepanikan melanda kelas. Semua mulai membuka LKS dan mencoba memasukkan angka ke rumus (yang salah) itu.
Mayang tidak bisa membiarkan ini. Ini bukan soal pamer pintar. Ini soal kebenaran. Fisika adalah tentang kejujuran alam. Membiarkan rumus yang salah itu sama saja memfitnah alam semesta.
Mayang mengangkat tangan. Ragu-ragu awalnya, lalu tegak lurus.
“Pak!”
Suara Mayang terdengar cempleng di tengah kesibukan kelas.
Pak Burhan menoleh, matanya melotot dari balik kacamata. “Ya? Siapa itu di belakang? Mayang?”
“Iya, Pak.”
“Kenapa? Mau izin ke toilet? Tahan dulu. Kerjakan soal.”
“Bukan, Pak,” Mayang berdiri. Jantungnya berdegup kencang. Semua mata tertuju padanya.
Vivie berbisik keras pada Sarah, “Dih, mau cari muka lagi dia.”
“Maaf, Pak,” suara Mayang sopan tapi jelas. “Sepertinya... ada yang keliru di baris keempat.”
Suasana kelas seketika mencekam. Mengoreksi Pak Burhan adalah tindakan bunuh diri.
Pak Burhan mengerutkan kening dalam-dalam. Wajahnya mulai memerah. “Keliru? Maksud kamu Bapak salah tulis?”
“Mungkin... Bapak lupa memasukkan faktor massa gabungan di pembagi, Pak. Karena ini tumbukan tidak lenting sama sekali di fase kedua, jadi massanya harus dijumlahkan di penyebut sebelum dikuadratkan.”
Pak Burhan terdiam. Dia menatap papan tulis. Dia melihat baris keempat.
Egonya sebagai guru senior terusik. Dia tidak langsung mengecek, dia malah menatap Mayang tajam.
“Kamu anak baru ya? Berani sekali kamu mengoreksi saya. Saya sudah mengajar Fisika sejak kamu belum lahir, bahkan sejak orang tua kamu belum lahir!”
Beberapa siswa tertawa kecil, menikmati pembantaian itu.
“Maaf, Pak. Saya tidak bermaksud tidak sopan. Tapi kalau rumusnya begitu, nanti dimensi satuannya tidak setara. Kiri Joule, kanan jadi Newton. Nggak ketemu.”
Pak Burhan terdiam lagi. Argumen tentang "dimensi satuan" adalah argumen dasar yang tak terbantahkan.
“Maju,” tantang Pak Burhan. Dia menyodorkan spidolnya kasar. “Kalau kamu merasa lebih pintar dari saya, perbaiki. Tapi kalau kamu salah, kamu keluar dari kelas saya dan berdiri di tiang bendera sampai jam pulang!”
Mayang menelan ludah. Hukumannya berat.
Naufal menarik ujung baju Mayang. “May, udah duduk aja. Jangan cari masalah.”
Mayang melepaskan tangan Naufal pelan. Dia melangkah ke lorong meja.
Dia berjalan melewati Vino.
Vino tidak menoleh, tapi matanya melirik ke bawah, melihat langkah kaki Mayang yang mantap.
Mayang sampai di depan papan tulis. Dia tidak mengambil spidol besar Pak Burhan. Dia mengambil kapur tulis kecil sisa pelajaran sebelumnya yang ada di nampan papan tulis. Kapur putih yang debunya lebih sedikit.
Mayang berdiri di depan rumus raksasa itu. Tubuhnya terlihat kecil di hadapan angka-angka itu.
Dia tidak menghapus tulisan Pak Burhan. Itu tidak sopan.
Dia hanya membuat kotak kecil di samping kanan rumus itu.
Dia menulis: Koreksi: Hukum Kekekalan Momentum: p awal \= p akhir m1.v1 \= (m1+m2).v'
v' \= (m1.v1) / (m1+m2)
Tulisan Mayang kecil, rapi, dan sederhana. Dia menurunkan rumusnya pelan-pelan. Tanpa banyak gaya. Tanpa melompati langkah.
Lalu dia mensubstitusikan ke persamaan energi.
Ek \= 1/2 (m1+m2) (v')^2
Di bagian penyebut, dia melingkari bagian (m1+m2) yang hilang di rumus Pak Burhan.
“Di sini, Pak,” kata Mayang pelan sambil menunjuk lingkaran itu. “Kalau ini hilang, energinya jadi terlalu besar.”
Mayang meletakkan kapurnya. Dia mundur dua langkah, memberi ruang bagi Pak Burhan untuk melihat.
Pak Burhan maju. Dia menyipitkan mata. Dia melihat penurunan rumus Mayang. Dia melihat rumus miliknya. Dia membandingkan.
Satu detik. Dua detik. Sepuluh detik yang hening.
Keringat dingin mengalir di punggung Mayang.
Pak Burhan mendengus kasar. Dia mengambil penghapus papan tulis.
Wusshhh!
Dia menghapus baris keempat miliknya yang salah itu dengan gerakan cepat dan kasar. Debu beterbangan.
Lalu dia menoleh ke kelas. Wajahnya masam, tapi tidak lagi marah.
“Kalian lihat ini?” tunjuk Pak Burhan ke kotak kecil tulisan Mayang.
“Lihat, Pak...” jawab kelas takut-takut.
“Salin yang di dalam kotak itu. Itu yang benar. Rumus Bapak tadi... itu tes. Bapak sengaja bikin salah buat ngetes ketelitian kalian. Ternyata cuma satu orang yang sadar. Sisanya tidur!”
Alibi klasik guru yang tidak mau mengaku salah: Itu cuma tes.
Tapi semua orang tahu kebenarannya. Mayang benar.
“Kamu, Mayang,” kata Pak Burhan. “Kembali duduk. Nilai keaktifan kamu saya tambah 10 poin. Yang lain, jangan cuma bengong! Kerjakan!”
Mayang mengangguk sopan. “Terima kasih, Pak.”
Dia berjalan kembali ke bangkunya.
Saat dia berjalan di lorong meja, suasana kelas berubah. Tatapan teman-temannya bukan lagi tatapan meremehkan. Ada rasa segan. Mayang bukan cuma tukang bubur. Dia penakluk Pak Burhan.
Mayang melewati meja Vino.
Vino masih bersandar santai. Tapi kali ini, dia tidak melihat ke jendela.
Dia melihat Mayang.
Saat Mayang lewat tepat di sampingnya, Vino menatap papan tulis, ke arah tulisan tangan Mayang yang rapi.
Sudut bibir Vino terangkat. Hanya 0,5 sentimeter. Sangat tipis. Nyaris tak terlihat.
Tapi Mayang melihatnya. Sekilas. Sebuah senyum pengakuan. Bukan senyum ramah, tapi senyum sesama "pemilik logika".
Vino bergumam pelan, tanpa menoleh, saat Mayang lewat.
“Precise.” (Presisi).
Satu kata itu terdengar lebih merdu di telinga Mayang daripada pujian "Hebat!" atau "Keren!" dari Naufal.
Mayang kembali duduk. Dadanya bergemuruh.
Naufal langsung heboh berbisik. “Gila lo, May! Lo nekat banget! Jantung gue mau copot. Tapi sumpah, lo keren abis. Pak Burhan sampe kicep.”
“Aku cuma nggak mau kalian salah ngerjain soal, Fal,” jawab Mayang sambil membuka kembali bukunya.
Di depan, Vivie membanting pulpennya kesal. Dia harus mencoret catatan estetiknya yang sudah rapi karena rumusnya salah total. Kertasnya jadi kotor penuh tipex.
“Dasar sok pinter,” gerutu Vivie. “Pasti dia cuma hoki doang.”
Tapi Vivie tahu, dalam pelajaran eksakta, tidak ada yang namanya hoki. Yang ada hanya benar atau salah. Dan hari ini, Mayang benar.
Bel pulang sekolah berbunyi.
Mayang membereskan tasnya cepat-cepat. Dia harus segera ke pasar untuk belanja bahan bubur besok.
Saat dia keluar dari gerbang sekolah, dia melihat Vino berdiri di dekat pos satpam, sedang menunggu jemputan Pak Ujang.
Mayang ragu sejenak, lalu memutuskan untuk lewat saja tanpa menyapa. Dia takut mengganggu.
Tapi saat dia lewat di belakang Vino, cowok itu bicara.
“Kenapa lo koreksi?”
Mayang berhenti. Dia berbalik. Vino tidak menoleh, dia melihat ke arah jalan raya yang macet.
“Maksud Kakak?”
“Kenapa lo koreksi Pak Burhan? Lo tahu risikonya lo bisa dijemur. Kenapa ambil risiko buat nyelamatin nilai teman-teman lo yang bahkan nggak peduli sama lo?”
Pertanyaan itu tajam. Khas Vino yang selalu mengkalkulasi untung-rugi.
Mayang berpikir sejenak.
“Karena rumusnya salah, Kak,” jawab Mayang sederhana.
“Cuma itu?”
“Iya. Fisika itu jujur. Kalau rumusnya salah, nanti pesawat bisa jatuh, jembatan bisa rubuh. Saya nggak peduli siapa yang nulis, tapi kebenarannya harus ditegakkan.”
Vino akhirnya menoleh. Dia menatap Mayang dengan pandangan yang sulit diartikan.
“Lo idealis,” kata Vino. “Idealisme itu mahal, Mayang. Hati-hati. Nggak semua orang suka dikoreksi.”
“Termasuk Kakak?” tantang Mayang balik. “Kakak tadi diam aja. Padahal Kakak tahu itu salah, kan?”
Vino terdiam. Dia tertangkap basah.
“Saya tahu,” aku Vino. “Tapi saya malas ribut. Efisiensi energi.”
“Itu bukan efisiensi, Kak. Itu apatis,” kata Mayang berani. “Kakak punya ilmu, tapi pelit. Ilmu itu kalau nggak dibagi, nggak barokah.”
Lagi-lagi kata barokah.
Vino mendengus geli. Dia menggeleng-gelengkan kepala.
“Lo bener-bener unik. Lo nyampur aduk Fisika Kuantum sama ceramah agama.”
Mobil Land Rover hitam Pak Ujang merapat. Kaca jendela turun.
“Yuk, Den,” panggil Pak Ujang.
Vino membuka pintu mobil. Sebelum masuk, dia menahan pintu itu. Dia menatap Mayang lagi.
“Tulisan kapur lo rapi,” kata Vino tiba-tiba. “Strukturnya sistematis. Gue suka orang yang berpikir terstruktur.”
Itu pujian tulus. Tanpa sarkasme.
Wajah Mayang memanas. “Makasih, Kak.”
“Besok ada ulangan harian. Soal nomor 5 pasti keluar. Pelajari penurunan rumus tadi. Jangan sampai salah hitung. Gue nggak mau saingan gue dapet nilai jelek.”
Saingan? Vino menganggapnya saingan?
Vino masuk ke mobil. Pintu tertutup rapat. Mobil mewah itu melaju pergi, meninggalkan Mayang yang berdiri terpaku di trotoar berdebu.
Mayang memegang dadanya. Senyum lebar merekah di bibirnya.
Dia bukan lagi "benda asing" di sekolah ini. Dia bukan lagi sekadar "investasi". Dia adalah "saingan".
Bagi Mayang, itu adalah kenaikan pangkat tertinggi yang bisa dia dapatkan dari seorang Vino Al-Fatih.
Mayang melangkah menuju pangkalan angkot dengan ringan. Langkahnya berirama.
Di kepalanya, rumus Fisika tadi menari-nari. m1.v1 + m2.v2... Momentum cinta dan logika mulai bertumbukan. Dan Mayang tahu, tumbukannya tidak akan lenting sempurna. Energinya akan terserap, mengubah mereka berdua selamanya.
Bersambung.....