NovelToon NovelToon
Mantu Koplak Menjadi Penguasa

Mantu Koplak Menjadi Penguasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Mafia
Popularitas:992
Nilai: 5
Nama Author: richard ariadi

Tanda tangani ini, dan semua hutangmu dianggap lunas," ucap Minghua Zhang sambil melemparkan kontrak pernikahan ke atas meja yang penuh puntung rokok. Chen Song menatap angka di kertas itu, lalu menatap wajah dingin Luna di pojok ruangan. Baginya, ini bukan pernikahan, ini adalah tiket keluar dari neraka—yang tanpa ia sadari, justru akan membawanya ke neraka jenis baru.

Chen Song adalah seorang pria dari kelas menengah ke bawah yang memiliki kecanduan judi yang parah. Dalam sebuah permainan berisiko tinggi di kasino bawah tanah, ia kehilangan segalanya. Ternyata, lawan mainnya adalah seorang kolektor hutang kejam yang bekerja untuk relasi bisnis keluarga Zhang. Chen Song berhutang dalam jumlah yang mustahil ia bayar miliaran yuan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon richard ariadi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

pasar loak

Setelah drama di Puri Utama mereda, Chen Song dan Luna Zhang akhirnya diizinkan pulang ke Mansion Gou Tun. Suasana di dalam mobil sepanjang perjalanan pulang terasa sangat berat. Luna terus menatap ke luar jendela, sementara Chen Song duduk dengan santai—tampak sangat kontras dengan statusnya yang baru saja dijatuhi hukuman "tukang bersih-bersih".

Begitu masuk ke dalam mansion, Luna langsung berbalik dan menatap Chen Song dengan mata berkaca-kaca. Rasa malu, bingung, dan marah bercampur menjadi satu.

Luna: "Kenapa kau harus bertingkah seperti itu, Chen Song?! Kenapa kau harus berpura-pura bodoh dengan alasan buku loak itu? Kakek memberikanmu hukuman menghina seperti itu dan kau hanya menerimanya? Kau membuatku terlihat semakin bodoh di depan mereka!"

Chen Song hanya tersenyum tipis. Ia berjalan melewati Luna menuju dapur, mengambil segelas air seolah tidak terjadi apa-apa. Ia tahu Luna belum bisa memahami catur jangka panjang yang sedang ia mainkan.

Tak lama kemudian, Minghua Zhang masuk ke mansion dengan langkah terburu-buru. Wajahnya yang biasanya angkuh kini tampak layu. Begitu melihat Chen Song di dapur, ia tidak berani berteriak seperti biasanya.

Ia teringat bagaimana David tiba-tiba kesakitan dan ayahnya sembuh secara ajaib. Meski Chen Song bilang itu "keberuntungan", instingnya sebagai wanita licik mengatakan ada sesuatu yang sangat berbahaya di balik wajah tenang menantunya itu.

Malam harinya, saat Luna sudah mengunci diri di kamarnya, Chen Song duduk bersila di kamarnya yang terpisah. Ia menggunakan Mata Dewa untuk memantau seluruh mansion.

Lantai Atas Ia melihat Minghua sedang mandi. Namun kali ini, Chen Song tidak hanya mengintip. Ia mencoba mengalirkan sedikit energi Qi melalui dinding ke arah air mandi Minghua.

Efek Qi: Seketika, air mandi itu menjadi hangat dengan sendirinya, memberikan sensasi yang sangat nyaman namun aneh bagi Minghua. Minghua tersentak, ia merasa seolah-olah ada tangan yang tak terlihat sedang membelainya melalui air tersebut. Ia menoleh ke sekeliling dengan panik, namun ruangan itu kosong.

Chen Song memejamkan mata dan memfokuskan pikirannya pada David Zhang yang berada di rumah sakit atau Puri Utama. Melalui benang energi yang ia tanam tadi siang, ia memberikan satu "sentakan" kecil.

Di tempat lain, David tiba-tiba terbangun dari tidurnya sambil menjerit, memegangi dadanya yang terasa seperti dipukul palu godam.

Keesokan paginya, Chen Song sudah bangun lebih awal. Ia menyiapkan sarapan dengan cara yang sangat efisien. Saat Minghua turun dengan mata sembab karena kurang tidur (akibat perasaan aneh saat mandi semalam), Chen Song menyapanya dengan nada yang terlalu ramah.

Chen Song "Ibu Mertua, tidurnya nyenyak? Aku merasa semalam Ibu sangat menikmati mandi malamnya. Air hangat memang bagus untuk saraf yang tegang..."

Minghua membeku di tangga. Bagaimana Chen Song bisa tahu air mandinya terasa "berbeda" semalam?

Chen Song meninggalkan mansion dengan langkah santai, mengabaikan teriakan Luna yang memintanya membantu mengurus berkas perusahaan. Ia memiliki agenda yang jauh lebih penting: Pasar Barang Antik Gou.

Jika sebelumnya ia datang sebagai pecundang yang mencari keberuntungan, kini ia datang sebagai seorang "Predator" dengan Mata Dewa yang mampu menembus tabir ribuan tahun sejarah.

Pasar itu penuh dengan turis dan kolektor amatir yang tertipu oleh barang-barang "tua" buatan pabrik kemarin sore. Chen Song berjalan perlahan, matanya terus berkilat dengan energi Qi yang tipis.

Ia melewati sebuah lapak yang memajang "Pedang Dinasti Ming" yang mengkilap—di matanya, pedang itu hanya besi rongsokan dengan aura abu-abu murahan.

Ia mengabaikan giok-giok yang dipoles bahan kimia.

Tiba-tiba, matanya terpaku pada sebuah toko pojok yang sangat kumuh, bahkan baunya pun apek. Di sana, seorang kakek tua sedang tertidur di atas tumpukan barang pecah belah.

Di sudut rak yang tertutup debu tebal, Chen Song melihat sebuah benda berbentuk asbak kusam yang tertutup noda nikotin dan kotoran. Namun, di bawah penglihatan Mata Dewa, benda itu memancarkan cahaya Ungu Pekat yang murni—tanda dari sebuah pusaka kuno tingkat tinggi.

Mata Dewa Informasi "Cawan Perunggu Penelan Langit. Era Dinasti Shang. Mengandung energi Yin yang sangat besar, dapat digunakan untuk memurnikan Qi atau sebagai wadah penyimpanan energi."

Chen Song mendekati kakek penjual itu dengan wajah bodohnya yang biasa.

Chen Song: "Kek, asbak ini sepertinya bagus untuk ditaruh di kamarku. Berapa harganya? Aku hanya punya uang sisa belanja sayur."

Penjual: (Membuka mata sebelah) "Itu barang rongsokan dari penggalian selokan. Berikan aku 50 ribu rupiah dan bawa pergi."

Chen Song membayar dengan cepat. Ia membungkus "asbak" itu dengan koran bekas. Di tangannya sekarang ada harta yang jika dilelang di pusat kota, nilainya bisa membeli sepuluh mansion keluarga Zhang.

Begitu ia menemukan tempat sepi di belakang pasar, Chen Song menyalurkan sedikit Qi ke benda tersebut. Seketika, kotoran yang menempel rontok, menampakkan ukiran naga kuno yang tampak hidup.

Cawan ini mulai menghisap energi Qi kotor di sekitar pasar dan mengubahnya menjadi Cairan Energi yang murni.

Chen Song meminum satu tetes cairan itu, dan ia merasa meridian di tubuhnya melebar dua kali lipat. Kekuatannya naik drastis.

Saat hendak keluar dari pasar, Chen Song melihat sosok yang tidak asing. Tun Zhang (ayah mertuanya) sedang berdiri di depan sebuah toko barang antik besar milik saingan keluarga Zhang. Tun tampak panik dan sedang mencoba menjual salah satu koleksi pribadi keluarga Zhang demi menutupi utang rahasianya.

Tun Zhang tidak melihat Chen Song, tapi Chen Song bisa melihat dengan Mata Dewanya bahwa barang yang dibawa Tun Zhang adalah Palsu. Tun Zhang sedang dijebak oleh pemilik toko tersebut.

Melihat Tun Zhang yang malang terjebak dalam perangkap, Chen Song tidak segera menolong. Ia justru berdiri di balik sebuah pilar besar, menggunakan Mata Dewa untuk menikmati tontonan komedi tragis di depan matanya.

Di dalam toko yang terlihat mewah itu, Tun Zhang sedang berhadapan dengan Pemilik Toko Li, seorang pria paruh baya yang licik. Tun Zhang membawa sebuah lukisan gulung yang ia curi dari koleksi pribadi Tibet Zhang untuk menutupi hutang judinya yang membengkak.

Tun Zhang"Tuan Li, ini adalah lukisan 'Naga Musim Gugur' asli. Aku butuh 2 miliar segera. Kau tahu harga aslinya bisa mencapai 5 miliar!"

Pemilik Li memeriksa lukisan itu dengan kaca pembesar, lalu tersenyum meremehkan. Padahal, melalui Mata Dewa, Chen Song melihat lukisan itu memang palsu, tetapi Li berpura-pura bahwa itu asli namun "cacat" agar bisa memeras Tun Zhang lebih dalam.

Pemilik Li "Tuan Tun, lukisan ini asli, tapi ada noda jamur di sudutnya yang merusak nilai estetikanya. Aku hanya bisa memberimu 200 juta. Tapi... karena kau butuh 2 miliar, aku punya tawaran. Tanda tangani surat pinjaman ini dengan jaminan Sertifikat Mansion Gou Tun."

Tun Zhang, yang sudah kalap dan gemetar karena dikejar penagih hutang, hampir saja menggoreskan penanya di atas kertas perjanjian yang akan membuatnya kehilangan rumah.

Tepat sebelum pena itu menyentuh kertas, Chen Song melangkah masuk dengan gaya santai, memegang kantong kresek berisi "asbak" kusam yang baru ia beli.

Chen Song: "Wah, Ayah Mertua! Sedang apa di sini? Apa kau sedang mencoba menjual lukisan tiruan buatan tahun 1990-an ini kepada Tuan Li yang terhormat?"

Tun Zhang tersentak, wajahnya memucat. "Chen Song! Tutup mulutmu, bajingan! Apa yang kau tahu tentang barang antik?!"

Chen Song mendekati lukisan itu, lalu dengan gerakan cepat—seolah tidak sengaja—ia menyenggol gelas teh di meja hingga isinya tumpah ke atas lukisan tersebut.

Pemilik Li "Kurang ajar! Kau merusak barang berharga!"

Chen Song "Tenang, Tuan Li. Jika ini asli, tinta Dinasti Ming tidak akan luntur karena teh hangat. Tapi lihat..."

Benar saja, warna pada lukisan itu mulai luntur dan mengeluarkan bau kimia cat minyak murahan. Tun Zhang ternganga. Ia baru sadar bahwa koleksi yang ia curi dari ayahnya sendiri ternyata sudah ditukar dengan barang palsu sejak lama (mungkin oleh Paman Besar).

Pemilik Li menggeram karena rencananya menjebak sertifikat rumah gagal. Tun Zhang jatuh terduduk, lemas karena menyadari ia tidak punya uang untuk membayar hutang dan hampir saja kehilangan rumah.

Chen Song merangkul bahu ayah mertuanya yang gemetar itu, namun cengkeramannya sangat kuat—mengalirkan sedikit energi Qi yang membuat Tun Zhang merasa lumpuh sesaat.

Chen Song (Berbisik di telinga Tun Zhang) "Ayah Mertua, kau hampir saja membuat Luna dan Ibu Mertua Minghua tidur di jalanan. Jangan khawatir, aku akan memberimu 2 miliar untuk melunasi hutangmu... tapi sebagai gantinya, mulai malam ini, kau tidak boleh pulang ke mansion selama satu bulan. Pergilah 'berwisata' ke luar kota, biar aku yang menjaga Minghua di rumah."

Tun Zhang menatap Chen Song dengan ngeri. Ia melihat kilatan "Iblis" di mata menantunya yang biasanya pendiam. Namun, karena rasa takut pada penagih hutang, ia tidak punya pilihan selain menerima tawaran itu.

Situasi di dalam toko barang antik itu berubah menjadi sangat aneh dan memuakkan. Tun Zhang, yang biasanya memandang Chen Song tak lebih dari seekor serangga, kini benar-benar kehilangan tulang punggungnya. Setelah kedoknya menjual lukisan palsu terbongkar dan ia terancam masuk penjara atau mati di tangan penagih hutang, ia beralih ke mode bertahan hidup yang paling rendah.

Tun Zhang tiba-tiba memegang tangan Chen Song dengan erat. Wajahnya yang keriput mencoba memasang senyum paling manis yang bisa ia buat, namun justru terlihat menjijikkan.

Tun Zhang  "Chen Song... Menantuku yang baik, naga di antara manusia! Aku tahu selama ini aku salah menilaimu. Kau jenius, kau hebat! Tolonglah Ayah Mertuamu ini sekali saja. Hanya kau yang bisa menyelamatkanku dari maut!"

Melihat Chen Song hanya diam dengan tatapan dingin, Tun Zhang mulai melantur dan memberikan janji-janji gila. Ia bahkan tidak peduli lagi pada martabat istrinya, Minghua.

Tun Zhang "Dengar, Chen Song. Jika kau membantuku melunasi hutang ini dan membiarkanku pergi dengan aman, aku tidak akan mencampuri urusanmu lagi. Kau mau kunci kamar mandi mansion? Kau mau akses ke brankas perhiasan Minghua? Ambil saja! Bahkan... jika kau ingin 'menghibur' Minghua saat aku tidak ada, aku akan pura-pura buta dan tuli. Dia masih sangat cantik bukan? Dia milikmu, asal aku selamat!"

Chen Song merasa mual sekaligus puas melihat betapa busuknya pria di depannya ini. Inilah sosok yang selama ini menghinanya sebagai "sampah tidak berguna," namun sekarang justru menawarkan istrinya sendiri demi uang.

Chen Song melepaskan tangan Tun Zhang dengan kasar, lalu menggunakan selembar tisu untuk menyeka tangannya yang baru saja disentuh mertuanya itu.

Chen Song: "Ayah Mertua... kau benar-benar tidak punya batas bawah, ya? Kau merayu menantumu sendiri untuk membiarkanmu menjadi pengecut? Baiklah, aku akan membantumu. Tapi bukan karena rayuanmu yang sampah itu."

Chen Song mengeluarkan selembar cek dari sakunya—hasil dari pencairan dana kecil melalui hubungannya dengan Tuan Suhai. Ia melemparkan cek itu ke lantai.

Chen Song: "Ambil ini. Lunasi hutangmu. Tapi ingat perjanjian kita: Pergi dari kota ini sekarang juga. Jika aku melihat bayanganmu di Mansion Gou Tun sebelum satu bulan berlalu, aku akan memastikan 'cek ini milik suhai ming

Tun Zhang memungut cek itu dengan gemetar, air matanya mengalir karena lega sekaligus takut. Tanpa menoleh lagi, ia lari keluar dari toko seolah-olah iblis sedang mengejarnya.

Telepon dari Tun Zhang itu terasa sangat janggal bagi Minghua. Suara suaminya terdengar terengah-engah, antara lega dan ketakutan, namun ada nada terburu-buru yang tidak bisa disembunyikan.

"Jiangnan? Urusan barang antik selama sebulan?" gumam Minghua setelah sambungan telepon terputus. Ia menatap ponselnya dengan kening berkerut. Jiangnan adalah kota yang jauh, dan suaminya tidak pernah pergi mendadak tanpa rencana yang matang, apalagi meninggalkan urusan klan yang sedang memanas.

Minghua berdiri di ruang tengah yang luas, merasa ada yang tidak beres. Ia tahu Tun Zhang sedang terlilit hutang, tapi pergi sebulan penuh di saat David terluka dan Tibet Zhang baru saja sembuh secara ajaib terasa seperti pelarian. Ia merasa ditinggalkan di garis depan sendirian untuk menghadapi menantunya yang semakin aneh.

Saat Minghua masih termenung, suara langkah kaki yang mantap terdengar dari arah dapur. Chen Song muncul dengan santai, mengeringkan tangannya dengan handuk kecil. Ia menatap Minghua dengan tatapan yang seolah-olah sudah mengetahui isi percakapan telepon tadi.

Chen Song "Sepertinya Ayah Mertua sangat sibuk ya, Ibu Mertua? Pergi ke Jiangnan untuk 'bisnis'... sebuah perjalanan yang sangat tepat waktu."

Minghua tersentak dan mencoba mengembalikan wibawanya sebagai nyonya rumah.

Minghua "Apa urusanmu? Suamiku sedang mengejar kesepakatan besar. Kau harusnya fokus pada tugasmu membersihkan toilet di Puri, bukannya menguping urusan orang tua!"

Chen Song tidak marah. Ia justru melangkah mendekat, memperpendek jarak hingga Minghua bisa merasakan aura Qi yang panas dan dominan dari tubuh Chen Song.

Chen Song  "Mengejar kesepakatan atau melarikan diri dari hutang? Aku tahu segalanya, Minghua. Aku tahu cek yang ia bawa, dan aku tahu alasan kenapa dia tidak berani menatap matamu sebelum pergi."

Chen Song meletakkan tangannya di sandaran kursi tepat di belakang Minghua, seolah mengurungnya. Dengan Mata Dewa, ia bisa melihat detak jantung Minghua yang sangat cepat karena ketakutan dan luapan adrenalin.

Chen Song "Satu bulan adalah waktu yang sangat lama. Di rumah sebesar ini, hanya dengan seorang menantu 'sampah' seperti aku... siapa yang akan melindungimu jika ada sesuatu yang terjadi di tengah malam?"

Minghua merasa tubuhnya lemas. Ia ingin berteriak, tapi ia teringat bagaimana Chen Song bisa mengendalikan nyawa ayahnya (Tibet) dan menghancurkan David hanya dengan kata-kata. Ia menyadari bahwa Tun Zhang bukan pergi untuk bisnis, melainkan telah menyerahkannya sebagai "jaminan" kepada Chen Song.

Malam itu, hujan mulai turun menyelimuti Mansion Gou Tun. Luna masih di luar kota, Tun Zhang sudah menghilang menuju Jiangnan. Mansion itu kini menjadi wilayah kekuasaan Chen Song sepenuhnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!