Geun hanya ingin cepat kaya dan hidup nyaman.
Tapi setiap kebohongan kecil dan pertarungan nekat demi uang justru melahirkan legenda baru.
Saat dunia bela diri mulai menyebutnya monster dan iblis, Geun sendiri hanya sibuk mencari kerja dengan bayaran tinggi.
Geun yang awalnya hanyalah pemuda gelandangan yang ingin hidup bebas dan nyaman, namun tanpa sadar meninggalkan jejak yang mengubah dunia bela diri selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Drunk Cats, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab #24: Gu
Perjalanan menuju perbatasan Provinsi Jiangnan seharusnya aman. Jalan rayanya lebar, dan bendera Sekte Wudang yang berkibar di kereta kuda adalah jaminan keamanan yang dihormati oleh hampir semua bandit yang waras.
Namun, ada satu wilayah yang bahkan matahari pun enggan menyentuhnya.
Hutan Grey Mist
Meskipun siang hari bolong, tapi cahaya matahari tertahan oleh kanopi pohon-pohon tua yang rapat ditambah lapisan kabut tebal.
"Hentikan kereta," perintah Baek Mu-jin pelan. Tangannya memberi isyarat sandi tangan Wudang: Waspada Penuh.
Kereta kuda berhenti.
Suara roda kayu yang berdecit berhenti, menyisakan keheningan hutan yang... salah.
Tidak ada suara burung.
Tidak ada suara angin.
Bahkan jangkrik pun tidak berani bersuara.
Di dalam kereta, Geun sedang sibuk mengelus-elus kantong emasnya sambil berbaring. Dia merasakan kereta berhenti mendadak.
"Kenapa berhenti?" gerutu Geun.
Dia menyibakkan sedikit tirai jendela.
Yang dia lihat hanyalah putih babut.
Tapi hidung gembelnya, yang lebih tajam dari anjing pelacak, mencium sesuatu yang aneh di balik aroma tanah basah.
Baunya manis.
Terlalu manis.
Seperti bau madu yang dicampur dengan daging busuk yang didiamkan di bawah matahari.
"Bau apa ini?" gumam Geun. "Manis, tapi bikin mual."
Di luar, Seo Yun-gyeom mencabut pedangnya setengah.
"Senior Baek, kabut ini... ini bukan kabut air. Ini agak lengket."
Baek Mu-jin mengangguk serius. Dia mengalirkan energi internal ke matanya untuk menembus pandangan.
"Formasi Bertahan! Lindungi kereta!"
Tiba-tiba, terdengar suara krek-krek dari balik pepohonan.
Suara itu seperti ribuan ranting kering yang dipatahkan bersamaan.
Dari balik kabut, sesosok bayangan muncul.
Dia berdiri di atas dahan pohon, jubah abu-abunya berkibar tanpa angin. Keranjang bambu besar di punggungnya bergetar hebat.
The Corpse Collector.
"Siapa di sana?!" bentak Jang Min-seok.
Sosok itu tidak menjawab..
Dia mengangkat tangan kanannya. Di telapak tangannya, ada sebuah toples keramik hitam kecil. Dia membuka tutupnya.
NGIIIIING...
Suara dengungan tinggi yang menyakitkan telinga meledak dari toples itu. Itu bukan suara serangga biasa. Itu adalah frekuensi pengendali.
"Anak-anakku lapar," ucap Corpse Collector, suaranya menggema dari segala arah. "Makanlah."
Tanah di sekitar kereta tiba-tiba tampak hidup.
Kabut putih di bawah kaki kuda bergejolak.
Bukan hantu yang muncul.
Tapi lautan hitam yang mengkilap.
Ribuan kumbang
Ukurannya bervariasi, dari sebesar kuku jempol hingga sebesar kepalan tangan bayi. Cangkang mereka berwarna hitam legam dengan corak merah darah di punggung. Rahang mereka terbuka, memperlihatkan gigi-gigi yang tampak seperti gergaji.
Gu Pemakan Mayat Rahang Besi.
"Serangga?!" teriak Yun-gyeom kaget. "Jumlahnya ribuan!"
Target pertama mereka bukan manusia. Tapi kuda.
"HIHIIIIING!!!"
Kuda penarik kereta menjerit histeris.
Ribuan kumbang itu merayap naik ke kaki kuda dalam hitungan detik.
Mereka tidak menggigit kulit luar. Mereka mencari lubang.
Hidung, telinga, mata, anus.
KRIUK. KRIUK. KRIUK.
Suara itu, suara ribuan mulut kecil menggerogoti daging dari dalam.
Kuda-kuda itu ambruk, menendang-nendang liar, lalu kejang-kejang.
Di bawah kulit kuda yang masih hidup itu, terlihat benjolan-benjolan bergerak cepat. Daging mereka dimakan dari dalam.
"Tolong kudanya!" teriak Min-seok hendak maju.
"JANGAN SENTUH!" bentak Mu-jin. Dia menebaskan pedangnya, menciptakan gelombang angin Taiji untuk meniup serangga yang mencoba mendekati Junior-junior nya. "Itu bukan serangga biasa! Itu Gu! Seni Serangga Parasit dari wilayah selatan!"
Di dalam kereta, Geun pucat pasi.
Dia mendengar jeritan kuda yang mengerikan itu. Dia mendengar suara renyah basah yang familiar, mirip suara Jiangshi yang sedang makan, tapi versi mini dan berjumlah ribuan.
"Apa-apaan di luar sana?!"
Geun mengintip lagi. Dia melihat kuda penarik keretanya sudah menjadi gundukan daging merah yang diselimuti karpet hitam bergerak.
Dan karpet hitam itu, sekarang bergerak menuju kereta.
"Mati aku..." desis Geun.
Geun mencoba bangun, tapi kakinya yang meski sudah sembuh sedikit, masih sedikit lemas karena dia malas melatihnya.
Dia merangkak mundur ke pojok kereta.
Di luar, pertempuran menjadi kacau.
Pedang Wudang sangat hebat untuk memotong manusia atau besi. Tapi melawan ribuan serangga kecil? Itu seperti mencoba memotong hujan dengan pisau.
"Formasi Api!" perintah Mu-jin.
Murid-murid Wudang mengeluarkan jimat api dan melemparnya ke tanah.
BOOM!
Api membakar sebagian serangga.
Bau daging hangus dan protein terbakar memenuhi udara.
Tapi Corpse Collector di atas pohon hanya terkekeh.
Dia menggoyangkan keranjangnya lagi.
"Api biasa? Gu-ku dibesarkan di dalam perut mayat yang dibakar demam. Mereka suka panas."
Serangga-serangga yang terbakar itu tidak mati. Cangkang mereka memerah seperti besi panas, dan mereka justru bergerak lebih cepat, marah karena panas api.
Mereka mulai memanjat roda kereta.
Mereka mulai menggerogoti kayu lantai kereta.
KREK... KREK...
Lantai kayu di bawah kaki Geun mulai berlubang.
Satu kepala kumbang dengan rahang tajam muncul, antenanya bergerak-gerak liar.
"WAAAA!" Geun refleks memukulnya dengan bantal.
Tidak mempan. Bantalnya malah digigit sampai robek, bulu angsa berterbangan.
Geun mengambil linggisnya.
PAK!
Dia memukul kumbang itu sampai penyek. Cairan hijau muncrat.
Tapi dari lubang yang sama, muncul dua lagi. Tiga lagi.
Lalu dari jendela, dan dari celah pintu.
Mereka masuk.
Geun terpojok. Dia dikepung di dalam kotak kayu sempit bersama ratusan serangga karnivora.
Geun memukul-mukul kepalanya sendiri.
"Mereka melacak apa? Kenapa mereka makan kuda dulu? Kenapa mereka ngejar murid Wudang di luar?"
Dia melihat serangga-serangga itu.
Tubuh mereka kecil, tapi di dalamnya ada inti energi yang panas.
Dan Geun melihat pola gerakan mereka.
Antena mereka tidak melihat. Antena mereka merasakan.
Mereka bergerak menuju sumber panas.
Mereka mengerumuni kuda yang darahnya panas.
Mereka mengejar murid Wudang yang sedang membakar energi internal untuk bertarung.
"Mereka buta..." sadar Geun. "Mereka cuma ngejar panas tubuh."
Geun melihat tubuhnya sendiri.
Jantungnya berdetak kencang karena panik. Darahnya memanas. Qi liarnya, meski dantian nya rusak, namun masih ada residunya di otot.
Bagi serangga-serangga itu, Geun adalah lilin berjalan di tengah kegelapan.
Satu kumbang merayap di celana sutra Geun.
Rahangnya terbuka, siap menggigit daging paha Geun.
"Jangan gigit! Itu aset!"
Geun menepisnya.
Tapi sepuluh lagi datang.
Geun tidak bisa lari. Pintu kereta dikepung.
Dia tidak bisa menggunakan energi untuk meledakkan mereka—tubuhnya masih trauma dan akan kejang kalau dia paksa.
Hanya ada satu cara.
Jika mereka mencari panas...
Jika mereka mencari kehidupan...
Maka Geun harus Mati.
Di tengah kepanikan, di tengah kerumunan serangga yang mulai naik ke badannya, Geun memejamkan mata.
Dia tidak menarik napas.
Sebaliknya, dia membuang napas habis-habisan sampai paru-parunya kosong total.
Lalu, dia mengirim sinyal listrik ke otot pacu jantung alami di jantungnya.
"Berhenti."
Bukan melambat.
Tapi berhenti.
Ini adalah perjudian gila. Menghentikan jantung secara sadar bisa menyebabkan kematian permanen dalam hitungan menit. Otak akan kekurangan oksigen.
DEG..................................
Jantung Geun berhenti berdetak.
Sirkulasi darah berhenti.
Suhu tubuhnya turun drastis dalam hitungan detik, menyesuaikan dengan suhu lingkungan yang dingin berkabut.
Wajahnya berubah dari pucat menjadi abu-abu mayat.
Aura kehidupannya padam total.
Kumbang yang sudah ada di atas pahanya berhenti.
Antenanya bergerak-gerak bingung.
Target panasnya hilang.
Kumbang itu turun dari paha Geun.
Ia berbalik arah, menuju jendela, ke arah luar di mana Baek Mu-jin sedang bertarung dengan aura panas yang membara.
Geun duduk bersila, mematung, tidak bernapas, tidak berdetak.
Matanya terbuka sedikit, menatap horor pada ribuan serangga yang merayap melewatinya seolah dia hanyalah patung kayu.
Dia selamat.
Tapi dia tidak boleh bergerak satu milimeter pun.
Dan di luar, Wudang sedang dibantai perlahan oleh sang pengendali Gu yang tertawa di atas pohon.
"Tolong jangan lama-lama..." batin Geun menjerit dalam diam. "Aku cuma bisa tahan napas tiga menit sebelum otakku rusak..."