Di balik gerbang kemewahan keluarga terpandang, Putri tumbuh sebagai bayangan. Terlahir dari rahim yang tak pernah diinginkan, ia adalah noda bisu atas sebuah perasaan yang tak terbalaskan.
Warisan pahit dari ibu yang pergi sesaat setelah melahirkannya, ia dibesarkan di bawah tatapan dingin ibu tiri dan kebisuan sang ayah, Putri tak pernah mengenal apa itu kasih sayang sejati. Ia hanyalah boneka yang kehadirannya tak pernah diinginkan, namun keberadaannya tak bisa disingkirkan.
Ketika takdir kembali bermain kejam, Putri sekali lagi dijadikan tumbal. Sebuah skandal memalukan yang menimpa keluarga besar harus ditutup rapat, dan ia, sang anak yang tak pernah diinginkan dan yang tak berarti, menjadi kepingan paling pas dalam permainan catur kehormatan.
Ia dijodohkan dengan Devan, kakak kelasnya yang tampan dan dingin, pria yang seharusnya menikah dengan kakaknya, Tamara.
Di sanalah penderitaan Putri berlanjut, akankah ia menyerah pada takdir yang begitu pahit, atau bertahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝑹𝒊𝒂𝒏𝒂 𝑺𝒂𝒏, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tuduhan Tak Berdasar
Keesokan harinya, pertengkaran semalam menyisakan perang dingin yang beku. Devan berangkat kerja tanpa sepatah kata pun, meninggalkan Putri yang masih meringkuk di kasur dengan tubuh menggigil.
Pukul sepuluh pagi, ponsel Putri berdering nyaring, nama Anggun tertera di layar.
Putri menarik napas panjang, menyiapkan mental sebelum mengangkatnya. "Halo Bu?"
"Putri! Kamu ke rumah sekarang," suara Anggun terdengar panik dan memerintah, tanpa basa-basi. "Rian demam tinggi, dia ngigau dan terus manggil nama kamu. Saya ada meeting penting dengan investor setengah jam lagi, saya nggak bisa temenin dia. Pembantu di sini bodoh semua, nggak ada yang bisa bikin Rian tenang."
"Tapi, Bu. Em, Putri juga lagi kurang enak badan..." cicit Putri pelan. Kepalanya sendiri terasa berat seperti dipukul besi.
"Alasan!" balas Anggun, "adik kamu sakit parah, kamu malah mikirin diri sendiri? Kamu itu kakaknya! Selama ini Rian cuma mau makan kalau kamu yang suapin. Cepat ke sini, jangan jadi anak durhaka yang lupa sama keluarga yang sudah membesarkan kamu!"
Sambungan telepon diputus sepihak.
Putri menatap layar ponselnya yang gelap dengan pandangan buram. Tubuhnya sakit semua, sendi-sendinya ngilu. Tapi bayangan Rian, satu-satunya orang di rumah itu yang pernah memanggilnya 'Kakak' dengan tulus saat kecil, membuatnya tidak tega.
Dengan sisa tenaga yang ada, Putri memaksakan diri mandi dan bersiap. Ia menelan obat pereda nyerinya dua butir lagi, Putri berharap obat itu bisa bertahan beberapa jam.
Sesampainya di rumah besar ayahnya, suasana memang kacau.
Rian terbaring lemah di ranjangnya, wajah anak itu merah padam karena demam tinggi. Sesekali ia meracau, memanggil nama ibunya yang tak kunjung pulang, lalu berganti memanggil nama Putri.
Putri duduk di tepi ranjang, tangannya yang kurus dan dingin dengan telaten mengompres dahi adiknya.
"Ssttt... kakak di sini, Dek. Tidur ya," bisik Putri lembut, mengusap rambut Rian yang basah oleh keringat.
Meskipun sendi-sendi Putri sendiri menjerit kesakitan, dan kepalanya terasa seperti ditusuk ribuan jarum, ia mengabaikan rasa sakitnya demi Rian.
Baginya, Rian adalah satu-satunya benang penghubung yang tulus di rumah itu. Rian tidak pernah memandangnya sebagai aib, melainkan sebagai kakak yang selalu melindunginya.
Berjam-jam Putri merawat Rian, ia menyuapkan bubur, meminumkan obat, hingga akhirnya napas Rian mulai teratur dan suhu tubuhnya perlahan turun.
Putri menghela napas lega, namun tubuhnya sendiri yang membayar harganya.
Putri merasa sangat lemas hingga harus berpegangan pada pinggiran meja nakas agar tidak ambruk, pandangannya berkunang-kunang hebat.
"Nyonya Anggun sudah pulang, Non," suara asisten rumah tangga terdengar dari ambang pintu, membuyarkan lamunan Putri.
Putri menatap jam dinding, pukul tujuh malam. Ia harus segera pulang sebelum Devan marah lagi.
Putri melangkah keluar dari kamar Rian dengan gontai, berniat berpamitan pada ibu tirinya.
Di ruang tengah yang mewah, Anggun sedang berdiri dengan wajah merah padam. Tas kerjanya tergeletak sembarangan di sofa, dan isi kotak perhiasannya berserakan di atas meja rias kecil, yang ada di sudut ruangan.
Mbok Sumi tidak ada, beliau sedang keluar untuk membeli keperluan dapur.
"Ibu, Rian sudah tidur. Demamnya sudah turun," lapor Putri pelan.
Anggun menoleh cepat, tatapannya bukan tatapan terima kasih, melainkan tatapan emosi penuh tuduhan.
Ia melangkah lebar mendekati Putri, bunyi high heels sepatunya menggema menakutkan di lantai marmer.
PLAK!
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi tirus Putri tanpa peringatan.
Putri terhuyung ke belakang, memegangi pipinya yang terasa panas dan perih. Sudut bibirnya yang pecah-pecah kembali mengeluarkan darah.
"I-ibu? Kenapa?" tanya Putri dengan suara bergetar, syok.
"Jangan pura-pura bodoh kamu!" bentak Anggun, telunjuknya menuding tepat di depan hidung Putri. "Dasar anak tidak tau diuntung! Sudah saya izinkan injak rumah ini lagi, malah kamu pakai kesempatan ini buat nyuri!"
Putri menggeleng panik, air mata mulai mengalir.
"Nyuri? Putri nggak ngerti maksud Ibu. Putri ke ke sini cuma buat ngerawat Rian," jawabnya tidak mau dituduh sembarangan.
"Alasan!" teriak Anggun, "kalung berlian saya hilang! Tadi pagi sebelum berangkat, saya taruh di atas meja rias itu karena buru-buru. Dan seharian ini tidak ada yang masuk ke ruang tengah kecuali kamu dan Rian! Pembantu semua di dapur!"
"Demi Allah, Bu. Putri nggak lihat kalung apa-apa. Putri seharian cuma di kamar Rian," bela Putri, suaranya parau menahan tangis.
"Bohong! Kamu pasti butuh uang kan karena Devan nggak ngasih kamu jatah? Atau kamu iri karena nggak punya perhiasan mahal? Dasar mental maling, persis kayak ibumu yang nyuri suami orang!"
Kata-kata itu lebih sakit daripada tamparan fisik. Anggun selalu tahu cara membunuh karakter Putri dengan membawa nama mendiang ibunya.
"Geledah tasnya!" perintah Anggun pada salah satu pembantu yang berdiri ketakutan di pojok ruangan.
"Ibu, jangan! Putri nggak bawa apa-apa!"
Putri mencoba mempertahankan tasnya, harga dirinya sebagai manusia sedang diinjak-injak.
Namun percuma, tetap saja Anggun merampas tas tangan Putri dengan kasar. Ia membalikkan tas itu, menumpahkan seluruh isinya ke lantai.
Isi tas Putri berserakan. Dompet usang, ponsel, tisu yang ada bercak darahnya, dan... beberapa botol obat tanpa label yang menggelinding di lantai marmer.
Tidak ada kalung.
Anggun mengaduk-aduk barang-barang itu dengan kakinya, menendang botol obat Putri dengan jijik. "Mana? Kamu umpetin di mana? Di baju dalam kamu?"
"Nggak ada, Bu. Putri nggak ngambil kalung itu," jawab Putri terisak, tubuhnya merosot ke lantai. Ia memunguti obat-obatannya yang merupakan penyambung nyawanya dengan tangan gemetar hebat.
Anggun mendengus kecewa karena tidak menemukan barang buktinya, tapi ia tidak mau mengakui kesalahannya. Egonya terlalu tinggi.
"Pasti sudah kamu kasih ke orang lain, atau kamu buang karena takut ketahuan. Dengar ya, Putri. Saya tidak mau melihat muka kamu lagi di sini. Keluar! Dan jangan harap kamu bisa ketemu Rian lagi!"
"Tapi, Bu... Putri_"
"KELUAR!" jerit Anggun. "Atau saya telepon Devan dan bilang kalau istrinya adalah pencuri!"
Mendengar nama Devan disebut, Putri membeku. Ia tidak sanggup jika Devan semakin membencinya. Cukup ia dianggap parasit, jangan sampai dianggap pencuri juga.
Dengan sisa tenaga terakhirnya, Putri bangkit. Ia memasukkan barang-barangnya asal-asalan ke dalam tas. Tanpa berani menatap Anggun, ia berbalik dan berjalan keluar dari rumah besar itu.
Di halaman rumah, hujan mulai turun rintik-rintik, seolah langit ikut menangis melihat ketidakadilan itu.
Putri berjalan gontai menembus gerbang, tubuhnya menggigil kedinginan, pipinya berdenyut nyeri bekas tamparan, dan hatinya hancur lebur.
Tepat saat ia melangkah keluar kompleks, sebuah mobil sedan mewah yang sangat ia kenal berhenti mendadak di sampingnya. Kaca jendela turun.
Itu mobil ayahnya, pak Brahma. Ayahnya baru pulang kerja.
Putri menatap ayahnya dengan tatapan penuh harap. "Pa, tolong aku," batinnya menjerit.
Pak Brahma menatap Putri dari dalam mobil, ia melihat pipi anaknya yang merah bekas tamparan. Ia melihat tubuh kurus itu basah kehujanan. Ada kilatan iba di mata tua itu. Namun, detik berikutnya, pak Brahma memalingkan wajah, menaikkan kaca jendelanya lagi, dan memerintahkan sopir untuk melajukan mobil masuk ke dalam gerbang.