NovelToon NovelToon
Satu Rumah Dua Asing: Pernikahan Tanpa Suara

Satu Rumah Dua Asing: Pernikahan Tanpa Suara

Status: sedang berlangsung
Genre:Angst / Pernikahan rahasia / Perjodohan / CEO / Nikah Kontrak / Konflik etika
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: EsKobok

Di kantor, dia adalah Arash, CEO dingin yang tak tersentuh. Aku hanyalah Raisa, staf administrasi yang bahkan tak berani menatap matanya. Namun di balik pintu apartemen mewah itu, kami adalah suami istri yang terikat sumpah di atas kertas.

Kami berbagi atap, tapi tidak berbagi rasa. Kami berbagi meja makan, tapi hanya keheningan yang tersaji. Aturannya sederhana: Jangan ada yang tahu, jangan ada yang jatuh cinta, dan jangan pernah melewati batas kamar masing-masing.

Tapi bagaimana jika rahasia ini mulai mencekikku? Saat dia menatapku dengan kebencian di depan orang lain, namun memelukku dengan keraguan saat malam tiba. Apakah ini pernikahan untuk menyelamatkan masa depan, atau sekadar penjara yang kubangun sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kecemburuan Aneh

Ia melihat Raisa hanya diam, tampak gemetar dan ketakutan. Arash tidak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan, namun melihat Raisa yang seolah tak berdaya di depan Vino membuatnya merasa sangat murka. Bukan hanya marah pada Vino, tapi juga marah pada Raisa karena terlihat begitu lemah.

Begitu Vino pergi, Arash segera menekan tombol interkom di mejanya dengan kasar.

"Ke ruanganku sekarang," perintahnya dingin begitu Raisa mengangkat telepon di mejanya.

Beberapa menit kemudian, pintu ruangannya terbuka. Raisa masuk dengan wajah pucat, masih tampak lembap dan lelah. Arash tidak langsung bicara. Ia memutar kursinya, menatap Raisa dengan pandangan yang seolah ingin menguliti wanita itu hidup-hidup.

"Sudah selesai bersenang-senang di lorong servis?" tanya Arash, suaranya seperti es yang retak.

Raisa tersentak, matanya membulat. "Apa maksud Anda, Pak?"

Arash berdiri, berjalan perlahan mengitari mejanya. Langkah kakinya yang berat bergema di ruangan yang sunyi itu. "Aku memberikanmu payung untuk melindungimu dari hujan, bukan untuk dijadikan bahan obrolan mesra dengan staf marketing di lorong yang gelap."

"Aku tidak—"

"Aku melihat semuanya, Raisa!" potong Arash, suaranya meninggi. Ia kini berdiri tepat di depan Raisa, auranya begitu mengintimidasi. "Aku melihat bagaimana dia menyentuhmu. Aku melihat bagaimana kau membiarkannya memojokkanmu. Apa itu cara yang kau gunakan untuk mendapatkan teman di kantor ini? Dengan cara menjual tampang menyedihkanmu?"

Wajah Raisa memerah, kali ini bukan karena malu, tapi karena amarah. "Dia hanya bertanya kenapa aku lewat sana! Dia melihat payung itu dan mulai curiga. Aku berusaha melindungimu, Arash! Aku berusaha agar rahasia ini tidak terbongkar!"

"Dengan cara membiarkan dia menyentuh bahumu?" Arash mencengkeram lengan Raisa, menariknya sedikit lebih dekat. "Dengar baik-baik. Selama kontrak ini berjalan, kau adalah istri Arash Dirgantara. Tidak ada pria lain yang boleh menyentuhmu, sekalipun itu hanya ujung rambutmu. Paham?"

Raisa menatap mata Arash yang berkilat penuh amarah. "Kau cemburu?" tantangnya dengan suara bergetar.

Arash tertawa sinis, sebuah tawa yang kering dan tanpa rasa humor. "Cemburu? Jangan terlalu percaya diri. Aku hanya peduli pada reputasiku. Jika orang melihat istriku digoda oleh staf rendahan seperti Vino, itu akan mencoreng namaku."

Ia melepaskan cengkeramannya dengan kasar. "Cuci wajahmu. Kau terlihat menjijikkan dengan sisa air hujan itu. Dan jangan pernah biarkan dia mendekatimu lagi, atau aku pastikan hari ini adalah hari terakhirnya bekerja di perusahaan ini."

Raisa mengepalkan tangannya, menahan tangis yang nyaris pecah. "Kau egois, Arash. Kau hanya peduli pada dirimu sendiri."

"Memang," sahut Arash sambil kembali ke kursinya, seolah perdebatan itu sudah selesai. "Sekarang kerjakan laporanmu. Dan jangan lupa, sore ini kita pindah kamar. Pastikan kau tidak membawa kuman dari lorong itu ke tempat tidurku."

"Apa?!" pekik Raisa.

Pintu kayu mahoni itu tertutup sendiri dengan dentum pelan yang gema-nya seolah merambat naik ke tulang punggung Raisa. Di dalam ruang kerja CEO yang kedap suara itu, suhu udara terasa turun beberapa derajat, bukan karena pendingin ruangan, melainkan karena tatapan Arash yang sedingin es kutub.

Arash berjalan menuju dinding kaca yang menampilkan panorama kota yang kelabu. "Kau sudah mendengar instruksiku, Raisa. Sore ini, setelah jam kantor berakhir, kau tidak akan kembali ke kamar tamu. Semua barangmu sudah dipindahkan ke kamar utama."

Raisa terpaku di tempatnya berdiri. Map laporan di tangannya nyaris terlepas. "Kau bercanda, kan? Arash, kita punya kesepakatan. Pasal empat dalam kontrak itu dengan jelas menyebutkan privasi mutlak. Kamar tamu adalah wilayahku!"

Arash berbalik perlahan, langkah kakinya di atas karpet beludru tidak menghasilkan suara, namun kehadirannya terasa seperti badai yang mendekat. Ia meletakkan kedua tangannya di pinggiran meja marmer, mencondongkan tubuh ke arah Raisa.

"Kesepakatan itu dibuat saat Kakek belum menaruh mata-mata di dalam apartemen kita," desis Arash, suaranya rendah namun penuh penekanan. "Tadi malam, asisten pribadi Kakek menanyakan padaku kenapa tagihan listrik untuk pemanas ruangan di kamar tamu tetap tinggi padahal seharusnya kamar itu kosong. Mereka mulai menghitung, Raisa. Mereka mulai mencari celah untuk membuktikan bahwa pernikahan ini palsu."

Raisa menggeleng keras, melangkah mundur hingga tumit sepatunya menabrak sofa kulit. "Lalu kau pikir solusinya adalah memasukkanku ke dalam kamarmu? Ke dalam ruang pribadimu? Itu gila! Aku bisa tidur di lantai atau di sofa kamar tamu tanpa menyalakan pemanas, tapi aku tidak akan pindah ke sana!"

"Dan membiarkan pelayan yang membersihkan rumah setiap pagi melihat bahwa tempat tidur di kamar tamu kusut sementara tempat tidurku rapi?" Arash memotong dengan nada sarkastik. Ia berjalan mendekat, memangkas jarak di antara mereka hingga Raisa bisa melihat urat syaraf yang menegang di pelipis pria itu. "Jangan naif. Kakek menginginkan cicit, bukan sekadar tanda tangan di atas kertas. Jika kita tidak terlihat berbagi napas di ruangan yang sama, saham itu akan jatuh ke tangan paman-pamanku yang rakus itu. Dan kau tahu apa artinya itu bagi ayahmu?"

Raisa terdiam, tenggorokannya mendadak kering. Nama ayahnya adalah kartu as yang selalu dimainkan Arash untuk membungkamnya. Ia meremas jemarinya sendiri hingga memutih. "Kau ... kau menjanjikan perlindungan, bukan penyerahan diri secara total."

Arash menarik napas panjang, sebelah tangannya terangkat—bukan untuk menyentuh, melainkan untuk melonggarkan dasinya yang terasa mencekik. "Aku tidak memintamu menyerahkan diri. Aku memintamu menjalankan peranmu sebagai aktris dengan lebih profesional. Di kamar itu, ada walk-in closet yang cukup besar. Kau bisa tidur di sana jika kau mau, atau aku yang akan tidur di sofa panjang. Tapi secara visual, secara administratif di mata para pelayan dan mata-mata Kakek, kita adalah suami istri yang tidak bisa dipisahkan."

"Aku butuh batasan, Arash," suara Raisa melemah, ada getaran keputusasaan di sana. Ia menatap mata Arash, mencari sisa-sisa kemanusiaan di balik iris gelap yang angkuh itu. "Setidaknya biarkan aku memiliki kunci untuk sisi lemariku sendiri."

Arash mendengus, sebuah tawa kering tanpa rasa humor keluar dari bibirnya. Ia melangkah maju satu tahap lagi, membuat Raisa terdesak ke sandaran sofa. "Di rumah itu, tidak ada kunci yang tidak bisa kubuka. Kau adalah istriku di mata hukum dan di mata dunia. Jika kau terus membantah seperti ini, kau hanya akan membuatku semakin ingin menekanmu."

Raisa memalingkan wajah, merasa terintimidasi oleh aroma maskulin Arash yang begitu dominan. "Kau kejam."

"Aku praktis," koreksi Arash dingin. Ia meraih dagu Raisa dengan dua jari, memaksa wanita itu kembali menatapnya. Sentuhannya dingin, namun seolah meninggalkan jejak api di kulit Raisa. "Sore ini, jam lima. Jangan biarkan aku mencarimu di meja kerjamu dan menyeretmu ke parkiran. Kau tahu aku sanggup melakukan itu."

Raisa menepis tangan Arash dengan gerakan cepat. "Aku akan pindah. Tapi jangan harap aku akan bicara padamu saat pintu kamar itu tertutup. Kau mungkin bisa menguasai ruanganku, tapi kau tidak akan pernah menguasai suaraku."

Arash kembali ke posisi tegaknya, merapikan kembali kemejanya yang sedikit kusut seolah perdebatan barusan hanyalah gangguan kecil dalam jadwal harian yang padat. "Aku tidak butuh suaramu, Raisa. Aku hanya butuh kehadiranmu untuk memenangkan permainan ini."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!