NovelToon NovelToon
Nikah Paksa, Tapi Kok Baper

Nikah Paksa, Tapi Kok Baper

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Dijodohkan Orang Tua / Cinta setelah menikah / Cinta Seiring Waktu / Romansa / Komedi
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: PutriBia

Nara Amelinda dan Arga Wiratama dipaksa menikah demi janji lama keluarga, tanpa cinta dan tanpa pilihan. Namun hidup serumah yang penuh pertengkaran konyol justru menumbuhkan perasaan tak terduga—membuat mereka bertanya, apakah pernikahan ini akan tetap sekadar paksaan atau berubah menjadi cinta sungguhan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PutriBia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pagi yang Sangat Canggung (Dan Runtuhnya Tembok Berlin)

Cahaya matahari pagi menyelinap dengan tidak sopan melalui celah gorden apartemen Arga yang mahal. Burung-burung mungkin sedang berkicau di luar sana, tapi di dalam kamar utama, suasana masih sesunyi ruang ICU sebelum terjadi kode biru.

Nara Amelinda mulai merasa kesadarannya kembali. Hal pertama yang ia rasakan adalah kehangatan yang luar biasa. Kasurnya terasa jauh lebih empuk daripada biasanya, dan ada aroma kayu manis bercampur sabun maskulin yang sangat enak jenis aroma yang membuatmu ingin menarik selimut lebih tinggi dan tidak bangun sampai gajian bulan depan.

Nara bergumam pelan, menggosokkan hidungnya ke sesuatu yang terasa padat namun kenyal.

Tunggu sebentar. Sejak kapan bantal paha ayamnya punya otot dada sekeras ini? Dan sejak kapan bantal paha ayamnya punya detak jantung?

Deg... Deg... Deg...

Mata Nara terbuka lebar secara mendadak dan ia membeku.

Pemandangan pertama yang menyambutnya bukan langit-langit kamar, melainkan leher seseorang. Bukan sembarang leher, tapi leher Arga Wiratama. Nara menyadari posisinya sekarang ialah Ia sedang memeluk Arga seperti koala yang sedang mempertahankan pohon eukaliptus terakhir di bumi. Kakinya melingkar di pinggang Arga, tangannya menyusup di bawah kaus pria itu, dan wajahnya terkubur di ceruk leher suaminya.

"Sudah bangun?" sebuah suara berat dan serak, suara khas bangun tidur yang sangat berbahaya bagi kesehatan jantung terdengar tepat di atas kepalanya.

Nara langsung meloncat mundur hingga hampir jatuh dari tempat tidur jika Arga tidak dengan cepat menangkap lengannya.

"HUWAAAA! ARGA! KENAPA KAMU ADA DI SINI?!" teriak Nara, suaranya mencapai oktaf yang sanggup memecahkan gelas kristal.

Arga duduk dengan tenang, merapikan kausnya yang kusut akibat invasi tangan Nara semalam.

"Secara teknis, ini kamar saya, apartemen saya, dan sisi kasur saya. Pertanyaan 'kenapa saya di sini' adalah sebuah kekeliruan logika yang fatal."

Nara menunjuk bantal guling "Tembok Berlin" yang sekarang sudah tergeletak mengenaskan di pojok ruangan.

"Terus itu guling kenapa bisa sampai sana? Kamu ya yang tendang?! Kamu sengaja narik aku ke wilayah kamu biar bisa modus, kan? Ngaku nggak! Kamu mau ambil denda satu miliar aku, kan?!"

Arga menatap Nara dengan wajah lempeng, namun jika Nara memperhatikan dengan saksama, telinga Arga sudah semerah cabai rawit.

"Nara, mari kita tinjau faktanya secara empiris," ujar Arga sambil mengambil kacamata di nakas.

"Semalam kamu bergerak seperti baling-baling helikopter yang mengalami malfungsi sistem. Kamu menendang guling itu, lalu kamu mulai mengeluh kedinginan. Secara termodinamika, saya hanya membantu menyeimbangkan suhu tubuh kamu agar kamu tidak hipotermia di tengah kamar AC 18 derajat."

"Hipotermia gundulmu!" Nara membungkus dirinya dengan selimut, hanya menyisakan matanya yang melotot.

"Kamu bisa aja bangunin aku dan kasih selimut tambahan! Nggak usah pakai acara meluk-meluk segala! Tangan aku tadi... tadi masuk ke baju kamu, ya?"

"Iya," jawab Arga datar.

"Dan kamu mencengkeram perut saya seolah-olah saya adalah pelampung darurat di tengah laut."

Nara ingin sekali menghilang dari muka bumi.

"Oke, anggap aja aku khilaf! Tapi kenapa kamu nggak dorong aku? Kenapa kamu malah... malah diem aja?"

Arga terdiam sejenak. Ia membuang muka, pura-pura sibuk memeriksa notifikasi di ponselnya yang sebenarnya tidak ada.

"Saya tidak mau mengambil risiko membangunkanmu. Berdasarkan observasi saya, kamu adalah tipe orang yang kalau bangun kaget bisa refleks melakukan kekerasan fisik. Saya lebih menghargai keselamatan wajah saya daripada aturan bantal."

"Alibi! Itu alibi busuk!" Nara bangkit berdiri di atas kasur, menunjuk Arga dengan dramatis.

"Kamu pasti menikmati momen itu, kan? Kamu pasti mikir, 'Wah, Nara ternyata imut banget kalau lagi tidur', ya kan?!"

Arga menatap Nara dari bawah ke atas, Nara yang berdiri di atas kasur dengan rambut berantakan mirip singa habis tawuran dan piyama beruang kutubnya.

"Imut? Nara, kamu mendengkur. Frekuensinya mungkin hanya 20 desibel, tapi cukup untuk membuat saya mempertimbangkan memasang peredam suara di telinga."

Nara terdiam. Harga dirinya jatuh ke titik nadir.

"Aku... aku nggak ngigo yang aneh-aneh, kan?"

Arga menatap mata Nara lebih lama kali ini.

"Kamu bilang saya robot kaku."

"Nah, itu kan bener nggak salah juga kan aku ngigo gitu?"

"Dan kamu bilang 'jangan dingin-dingin'," tambah Arga pelan.

Nara membeku, ia tidak ingat pernah mengigo begitu.

"Masa? Itu... itu pasti maksudnya aku minta remote AC-nya dikecilin! Bukan minta kamu jangan dingin!"

"Terserah apa interpretasi kamu," Arga bangkit dari kasur, menunjukkan postur tubuhnya yang tegap, membuat Nara buru-buru membuang muka.

"Cepat mandi. Kita harus ke rumah orang tua kamu jam sembilan. Agenda 'pamer kemesraan pasca-nikah' harus dimulai tepat waktu."

Nara langsung lari menuju kamar mandi, tapi langkahnya terhenti di depan pintu. Ia menoleh ke Arga yang sedang melipat selimut dengan sangat rapi dan setiap sudutnya harus simetris 90 derajat.

"Arga!"

"Apa lagi?"

"Telinga kamu merah tuh. Jangan bilang kamu lagi 'overclocking' gara-gara meluk aku semalam?" sindir Nara dengan tawa kemenangan yang dipaksakan untuk menutupi rasa malunya sendiri.

Arga tertegun, tangannya berhenti bergerak. Ia meraba telinganya, lalu kembali ke ekspresi robotnya dalam hitungan milidetik.

"Ini karena aliran darah meningkat akibat teriakan kamu yang melampaui ambang batas toleransi pendengaran manusia. Mandi, Nara. Sekarang."

"Hahaha! Robotnya malu! Robotnya malu!" Nara masuk ke kamar mandi sambil bersorak, meskipun di dalam sana ia langsung menyandarkan punggung ke pintu dan memegang dadanya yang berdegup kencang.

"Sialan," bisik Nara pada pantulan dirinya di cermin yang wajahnya sama merahnya dengan telinga Arga.

"Kenapa pelukan dia rasanya lebih anget daripada selimut sepuluh lapis sih? Gawat... kalau begini terus, satu miliarku beneran terancam!"

Sepuluh menit kemudian, Nara keluar dari kamar mandi dengan handuk di kepala, mendapati Arga sudah di dapur sedang menyiapkan kopi. Suasananya kembali canggung. Tidak ada suara selain denting sendok dan mesin kopi.

"Nara," panggil Arga tanpa menoleh.

"Ya... Ada apa?"

"Lain kali, kalau kamu butuh 'panas tubuh' tambahan, tolong ajukan permintaan tertulis di malam hari. Agar saya bisa menyiapkan protokol yang lebih terorganisir daripada sekadar menjadi pohon eukaliptus dadakan."

Nara melempar bantal sofa ke arah punggung Arga.

"DIEM KAMU, PAK AUDIT!"

Arga menangkap bantal itu tanpa melihat, lalu meletakkannya kembali ke sofa dengan posisi yang sangat rapi.

"Poin untuk pagi ini: Nara Amelinda 0, Arga Wiratama 1. Skor untuk 'siapa yang baper duluan' masih saya pimpin."

"Ih! Ngeselin banget!" Nara menghentak-hentakkan kaki menuju meja makan, sementara Arga menyembunyikan senyum tipisnya di balik cangkir kopi hitamnya.

1
icebakar
win win solution🤣/Cry/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!