NovelToon NovelToon
A.M.R.A

A.M.R.A

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / Cerai / Keluarga / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Selingkuh
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Bp. Juenk

Seorang Wanita Kuat-Amara. setelah hampir 15 th pernikahan ternyata suaminya ketahuan Selingkuh.

Semenjak itu Kehidupan Amara dan kehidupan rumah tangga nya berubah.

Masih Mencinta namun tak dapat bersama

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Proyek Yang Tak Pernah Selesai

Waktu menunjukkan pukul sepuluh malam. Ruang kerja di rumah yang sunyi itu hanya diterangi oleh lampu meja dengan sorotan hangat, membentuk pulau kecil terang di tengah lautan kegelapan.

Di pulau itu, Amara berlabuh. Sketchbook biru tuanya terbuka lebar, dipenuhi coretan-coretan liar, sketsa kasar, dan tempelan kain. Sebuah palet warna musim dingin—abu-abu batu, hijau cemara, biru es, dan aksen merah berani seperti berry—terhampar di sekelilingnya.

Dia menggenggam segenggam pensil, tangannya bergerak cepat dan penuh keyakinan, menciptakan siluet sebuah coat dengan garis yang tegas dan maskulin.

Tek-tok. Tek-tok. Suara pensilnya beradu dengan kertas menjadi irama yang menenangkan, hampir meditatif. Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, waktu terasa seperti mengalir, bukan menggenang.

Di sudut layar laptopnya, kontrak digital dari Clara bersinar, sebuah pengesahan yang memberinya izin untuk menjadi Amara lagi, bukan sekadar peran yang dia mainkan.

Tiba-tiba, suara kasar membelah konsentrasinya.

BEEP-BEEP-BEEP-BEEP!

Alarm keamanan di gerbang rumah berbunyi, diikuti suara mobil merayap masuk ke garasi.

Rafa pulang. Amara meneguk, tanpa sadar menegangkan bahunya. Dia tidak menyadari sudah sebegitu larut. Dia dengan cepat menutup sketchbook, menyembunyikannya di bawah selembar kertas kalkir besar.

Ponselnya menyala: pukul 22.47. Molornya lebih dari yang dia janjikan, pikirnya dengan getir.

Dia mendengar suara pintu depan terbuka, diikuti bunyi gesper tas kerja yang dilempar ke bangku di foyer, lalu langkah kaki berat yang diseret di lantai marmer. Rafa muncul di ambang pintu ruang kerja, bayangannya panjang dan lelah di lantai.

"Dah lah, hari yang bikin naik darah," desisnya, suaranya parau, sebelum menyapa.

Amara menoleh. Rafa terlihat compang-camping. Dasinya longgar, kancing kemeja teratas terbuka, rambutnya yang biasanya rapi sedikit berantakan. Matanya merah oleh kelelahan dan, mungkin, oleh beberapa gelas minuman saat rapat.

Dia melepas jasnya dan membiarkannya tergantung lunglai di sandaran kursi.

"Ada makan malam tersisa di microwave," ucap Amara, mencoba menetralkan suasana.

Rafa mengabaikannya. Matanya tertuju pada kekacauan di meja Amara.

"Apa semua ini?" tanyanya, mengangguk ke arah gunting, kain perca, dan pensil yang berserakan.

"Proyek untuk Clara. Aku sedang cari mood," jawab Amara, berusaha terdengar ringan.

Rafa mengeluarkan suara mendengus, bukan tertawa. Dia meraih botol air mineral dari meja dan meminumnya habis.

"Mood," ulangnya, seperti kata itu asing.

"Aku tadi seharian berdebat dengan tim legal yang idiot dan klien yang tidak tahu diri soal 'mood' kontrak mereka. Mood!"

Amara memilih diam. Dia tahu ini adalah ritual Rafa setelah hari yang buruk: melampiaskan kekesalan. Dia biasanya hanya mendengarkan, menjadi tempat pembuangan emosinya. Tapi malam ini, sesuatu dalam dirinya memberontak.

Ketika Rafa mulai mengomel panjang lebar tentang direktur keuangan yang pelit, Amara menyela dengan suara tenang, "Rafa, aku ingin bicara."

Rafa berhenti, terkejut. Dia membelalak.

"Tentang apa? Aku lelah, Mara."

"Tentang ini," kata Amara, menunjuk sekeliling ruangan, lalu menunjuk dirinya sendiri.

"Tentang aku. Tentang… perasaanku."

Rafa mendesah panjang, mengusap wajahnya.

"Sekarang? Bisa tidak kita bicara besok? Kepalaku mau pecah."

"Itu yang selalu kau katakan, Rafa. 'Besok'. Dan 'besok' itu tidak pernah datang," suara Amara mulai meninggi, meski dia berusaha menahannya.

"Aku merasa… terjebak. Selama ini. Di rumah ini, di rutinitas ini."

Rafa mendongak, matanya yang lelah tiba-tiba tajam. "Terjebak? Apa maksudmu terjebak? Kita punya rumah yang bagus, Luna sekolah di tempat terbaik, kebutuhan tercukupi. Apa kurang?"

"Itu bukan segalanya!" bantah Amara, bangkit dari kursinya. Dia mengenakan piyama katun polos, tapi ekspresinya tidak lagi polos.

"Aku tidak butuh sekadar tercukupi, Rafa! Aku butuh merasa hidup! Aku butuh merasa didengar, dilihat! Bukan cuma sebagai pengurus rumah atau ibu Luna, tapi sebagai Amara!"

"Dan itu apa hubungannya dengan… dengan semua coret-coret ini?" tanya Rafa, menunjuk meja dengan nada merendahkan.

"Ini bukan coret-coret! Ini pekerjaanku! Ini bagian dari diriku yang kau lupakan!" teriak Amara. Air mata mulai menggenang di matanya, tapi dia tidak membiarkannya jatuh.

"Aku menerima proyek ini bukan cuma untuk cari uang, tapi untuk mengingatkan diriku sendiri bahwa aku masih punya otak, masih punya bakat!"

Rafa berdiri, wajahnya memerah oleh kelelahan dan kemarahan. "Jadi sekarang masalahnya aku yang membuatmu lupa diri? Aku yang bekerja keras siang malam, memastikan kalian aman dan nyaman, malah dituding sebagai penjara?"

"Aku tidak bilang kau penjara! Tapi… cara kita… hubungan kita. Rasanya seperti…" Amara mencari kata, dadanya sesak.

"Seperti proyek yang tak pernah selesai. Kau fokus pada proyek kantormu, aku fokus pada proyek rumah ini. Tapi proyek kita… proyek pernikahan kita, tidak ada yang mengerjakannya. Tidak ada yang memperbaikinya."

Dia menarik napas dalam. "Aku menemukan kuitansi, Rafa."

Udaranya berubah. Suasana panas oleh amarah tiba-tiba menjadi dingin yang menusuk.

Rafa membeku. "Kuitansi apa?" tanyanya, tapi suaranya datar, terlalu datar.

"Bon makan malam di The Orchid Suites, Bandung. Tanggal 14 April. Untuk dua orang."

Amara menatapnya langsung, mencari secercah penyesalan, penjelasan, apapun.

"Kau bilang meeting dengan klien di Surabaya."

Ada jeda yang panjang dan menyiksa. Rafa memalingkan wajah, menatap kegelapan di luar jendela. Bahunya tampak menurun. Saat dia menoleh kembali, ekspresinya bukan marah, tapi kelelahan yang sangat dalam.

"Itu… itu urusan bisnis, Mara," katanya, suaranya rendah. "Klien dari Jepang yang sangat… privasi. Mereka minta di luar kota, pembayaran tunai. Itu hanya formalitas."

"'Hanya formalitas'?" Amara mendesak, air mata akhirnya jatuh. "Di hari ulang tahun pernikahan kita? Dan kau tidak bisa menelepon, tidak bisa memberi tahu yang sebenarnya?"

"Aku tidak ingin kamu khawatir! Dan kalau aku bilang ke Bandung, kamu pasti akan bertanya lebih banyak, minta bukti, dan itu… itu rumit!" Rafa membentak, defensif.

"Lihat? Seperti inilah jadinya. Aku coba melindungimu, dan kamu malah menyelidikiku!"

"Melindungiku? Atau menutupi sesuatu?" Amara menggeleng, rasa sakit di dadanya semakin menjadi.

"Aku tidak butuh perlindungan seperti itu, Rafa. Aku butuh kejujuran. Aku butuh partner, bukan… bukan penjaga yang berbohong."

"Kamu pikir mudah, Mara?" Rafa melangkah mendekat, wajahnya penuh dengan tekanan yang tak terungkap.

"Menjadi tulang punggung keluarga? Menjaga agar semua tetap berjalan?"

"Setiap hari adalah tuntutan: dari direksi, dari klien, dari bank. Dan aku pulang, berharap… berharap rumah ini adalah tempat untuk berhenti. Bukan tempat untuk diinterogasi!"

"Aku tidak menginterogasimu! Aku mencoba untuk terhubung denganmu!" tangis Amara, suaranya pecah.

"Tapi kau tidak ada di sini, Rafa! Bahkan saat kau di rumah, kau tidak benar-benar ada!"

"Kau di meeting-mu, di ponselmu, di kekhawatiranmu! Dan sekarang… sekarang mungkin juga di Bandung dengan 'klien' yang tidak jelas!"

Rafa menarik napas tajam, seperti terkena pukulan. Dia mundur selangkah, melihat Amara dengan tatapan asing, seperti baru menyadari betapa dalam lukanya.

"Aku… aku tidak bisa malam ini," gumamnya, suara tiba-tata kehabisan tenaga.

"Kamu emosional. Kamu tidak berpikir jernih."

"Jangan kau anggap aku histeris!" Amara membentak.

"Ini perasaanku yang sah! Dan proyek ini," dia menepuk sketchbook yang tersembunyi, "ini juga sah! Aku akan mengerjakannya. Dengan atau tanpa restumu."

Rafa memandangnya lama, konflik di matanya antara rasa bersalah, kesal, dan kelelahan total. Akhirnya, dia hanya mengangkat tangan, sebuah gestur menyerah.

"Lakukan apa yang kamu mau, Amara. Seperti biasa," ucapnya dengan nada hampa. Dia mengambil jasnya dari sandaran kursi.

"Aku tidur di kamar tamu."

Dia berbalik dan pergi, meninggalkan Amara sendirian di pulau cahaya itu. Langkah kakinya menjauh, lalu terdengar bunyi pintu kamar tamu di ujung koridor ditutup—tidak dibanting, tapi ditutup dengan pasti, seperti sebuah bab yang berakhir.

Amara tercebur kembali ke kursinya, tubuhnya gemetar. Pertengkaran itu tidak menghasilkan apa-apa. Tidak ada jawaban yang jujur tentang Bandung, tidak ada pengakuan, tidak ada pelukan rekonsiliasi.

Hanya kata-kata tajam yang melayang di udara dan sebuah pintu yang tertutup.

Dia memandangi sketsa coat yang tadi dia gambar. Garis-garis tegas itu sekarang terlihat seperti sebuah zirah, sebuah pelindung. Mungkin itu yang dia butuhkan.

Dengan tangan yang masih gemetar, dia menarik sketchbooknya keluar dari bawah kertas kalkir. Dia membuka halaman baru.

Dan dengan energi yang berasal dari amarah, luka, dan tekad yang membara, dia mulai menggambar lagi. Setiap goresan pensil di atas kertas adalah sebuah deklarasi kecil.

Sebuah penegasan bahwa dirinya masih ada.

Di luar, Jakarta tidak pernah benar-benar tidur. Cahaya kota berkelap-kelip di kejauhan, membingkai jendela ruang kerja seperti sebuah lukisan abstrak.

Di dalam, hanya ada suara pensil yang berjalan di atas kertas, dan napas seorang wanita yang, untuk pertama kalinya dalam sangat lama, memilih untuk tidak diam meski hatinya remuk.

Proyek mereka memang tak kunjung selesai. Mungkin bahkan rusak parah. Tapi proyek miliknya sendiri, di atas kertas biru tua itu, baru saja dimulai dengan sebuah amarah yang kreatif dan menyala-nyala. Dan malam itu, itu sudah cukup.

1
Kustri
pengorbanan yg sgt besar 💪
Kustri
qu ikut prihatin🥺😭
La Rue
Kali ini benaran mewek dibuat kisah Amara ini 😭
Bp. Juenk: hehe, siap2 d bab berikutnya ya Kk. sediain tisu yg banyak.
total 1 replies
Kustri
kasian luna, msh terlalu kecil🥺
Kustri
tak tunggu UP'a
sambil ☕ thor
Bp. Juenk: siap Ka, segera di update
total 1 replies
Kustri
lanjut yaa
Kustri
wuiih... kalimat"mu luar biasa thor👍
Bp. Juenk: thanks kaka 🙏
total 1 replies
La Rue
Ruang hampa,kehilangan,cinta,kepergian dan penemuan kembali jati diri dalam hubungan dua orang dewasa yang terikat dalam pernikahan. Namun pada akhirnya hanya pengertian dan mulai belajar mencintai diri sendiri serta belajar menerima kehilangan meskipun tidak ada yang benar-benar baik-baik saja dari kehilangan. Jadi ingat lirik lagu lawas " Sometimes Love Just Ain't Enough ".
Penulisnya sukses mengaduk emosi jiwa seperti naik roller-coaster dan yang buat salut hampir tidak ada typo dalam tiap bab cerita yang disuguhkan. Semoga kisah di novel ini bisa diangkat ke film,karena asli bagus jalan cerita dan penokohan serta konflik yang ada benar-benar membuat cerita ini hidup.
Terimakasih buat penulis dan sukses selalu.
La Rue: n you too. Keep it up 👍
total 2 replies
MomRea
Author ini ceritanya gak bisa di prediksi, dari bahagia sedih lagi bahagia lagi sedih lagi... lanjut Thor
MomRea
Rafa-Sari, Amara-Edo, atau Rafa-Amara. ? teka teki othor 😊
Halwah 4g
ceritamu sangat mengubek-ubek hatiku Thor 😍
MomRea
semangat Thor terimakasih banyak up nya🙏💪
Bp. Juenk: siap terimakasih dukungan nya
total 1 replies
MomRea
"Akhir sebuah bab tapi awal sebuah cerita" mantap kalimatnya Thor 😊
MomRea
gak bisa komen karna dadaku sesak banyak banget bawangnya 🥲🥲
MomRea
ikutan berdoa Thor...semoga Rafa cepat sembuh biar bisa bermain lagi dgn Luna 😊😊😊
MomRea
Semangat Amara, restart kembali pola pikir, lihat masa depan bersama Luna 🥰
Kustri
ini rumah apa apart, koq ada lift ☹️
Bp. Juenk: 🤭ada koq Ka rumah yg pake lift. di pondok indah banyak yg pake lift
total 1 replies
MomRea
bingung juga sih rumah tangga gak ada romantis romantisnya.
Bp. Juenk: 🤣 🤣🤣 bisa Bae nih ka
total 3 replies
Kustri
☕dl amara, ngecas semangat💪
MomRea
good, buka saja semua, biar ibunya Rafa yg bertindak.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!