NovelToon NovelToon
Rahasia Prajurit Li

Rahasia Prajurit Li

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Mengubah Takdir / Identitas Tersembunyi / Kehidupan Tentara / Romansa / Fantasi Wanita
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: Anastasia

Dikorbankan kepada dewa di kehidupan sebelumnya, Yun Lan kembali hidup sebelum semuanya hancur. Kali ini, ia punya kekuatan setara sepuluh pria dan satu tujuan: melindungi ayahnya dan menolak takdir.
Untuk mencegah ayahnya kembali ke medan perang, ia menyamar menjadi pria dan mengambil identitas ayahnya sebagai jenderal. Namun di tengah kamp prajurit, ia harus menghadapi panglima Hong Lin—tunangannya sendiri—yang selalu curiga karena ayah Yun Lan tak pernah memiliki putra.
Rebirth. Disguise. Kekuatan misterius. Tunangan yang berbahaya.
Takdir menunggu untuk dibalik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anastasia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 23.Alira sungai yang tenang.

Yun Lan tidak menunggu lebih lama.

Begitu perhatian semua orang terpecah oleh suara Yun yang sengaja dibuat berisik, ia menyusuri sisi aliran air hangat itu dengan langkah pelan, lalu memanjat batu besar yang menjadi pembatas alami antara kolam mata air panas dan aliran sungai di bawahnya.

Tubuhnya masih basah kuyup.

Pakaian latihan yang berat oleh air hangat kini menempel di kulitnya.

“Aku harus segera pergi. ”gumamnya pelan.

Ia tidak menoleh ke belakang.

Tidak berani.

Takut kalau tatapan itu—tatapan para pria dewasa yang sedang mandi tanpa sungkan—kembali membuat napasnya tersendat.

Segera Yun lan pergi berkat bantuan Yun, “Aku berutang budi padamu dewa.dingin...”ucapnya pelan sambil melihat sebentar kearah Yun dan yang lain.

Ia berjalan cepat menuruni batu-batu yang licin.

Angin awal musim dingin langsung menyambutnya seperti pisau tipis di kulit.

Basah.

Dingin.

Menusuk.

Tapi Yun Lan justru merasa lebih lega.

Lebih nyaman.

Lebih aman.

Lebih baik menerjang dinginnya angin musim dingin, daripada harus identitasnya yang disembunyikan terbongkar.

Karena belum, ini belum waktunya Yun lan membuka identitasnya pada rekannya.

Di kejauhan, aliran sungai kecil itu mengalir tenang di antara bebatuan abu-abu yang tertutup lumut tipis. Airnya bening, jernih, memantulkan warna langit musim dingin yang pucat.

Ia mendekat.

Mencelupkan ujung jari.

Dingin.

Sangat dingin.

Dingin yang membuat tulang terasa ngilu.

Yun Lan menghembuskan napas panjang.

“Lebih baik begini…” gumamnya pelan.

Tanpa ragu, ia melangkah masuk.

Air sungai yang dingin langsung memeluk kakinya, lalu naik ke paha, pinggang, dada.

Napasnya tertahan.

Giginya gemetar.

Tapi ia tidak keluar.

Ia membenamkan dirinya lebih dalam.

Air dingin itu menghapus sisa lumpur, sisa keringat, sisa ketegangan yang tadi menumpuk di dadanya.

Di sini, tidak ada tatapan.

Tidak ada suara tawa.

Tidak ada tubuh lain yang terlalu dekat.

Hanya dirinya.

Dan air.

Ia menunduk, membasuh wajahnya pelan. Rambutnya yang panjang tergerai basah di punggung.

Di balik batu besar dan lekukan sungai itu, tempat ini terasa tersembunyi.

Aman.

Sunyi.

Yun Lan memejamkan mata.

Beberapa saat.

Membiarkan dirinya hanyut dalam dingin yang menyakitkan tapi menenangkan.

Sementara itu, tidak jauh dari sana.

Derap langkah kuda terdengar pelan di jalan setapak menuju Kamp Perbatasan Timur.

Kuda cokelat besar itu berjalan mantap, napasnya mengepul di udara dingin.

Di atasnya duduk seorang pria tegap dengan punggung lurus dan tatapan tajam.

Xin Hong Lin.

Putra Jenderal Xin.

Pria yang baru saja menerima perintah langsung dari ayahnya untuk mengambil alih kepemimpinan Perbatasan Timur sementara selama musim dingin ini.

Mantel tebalnya berkibar pelan tertiup angin.

Tatapannya menyapu sekitar.

Sunyi.

Terlalu sunyi untuk siang hari.

Lalu—

Telinganya menangkap sesuatu.

Suara.

Suara air terpercik.

Hong Lin mengerutkan alis.

Siapa yang bermain air di sungai di musim sedingin ini?

Ia menarik tali kekang pelan.

Kuda berhenti.

Suara itu terdengar lagi.

Lembut.

Bukan suara orang mencuci pakaian.

Bukan suara hewan.

Lebih seperti seseorang… membasuh diri.

Kening Hong Lin berkerut.

Perbatasan ini bukan tempat sembarang orang bisa berkeliaran.

Ia turun dari kuda dengan gerakan ringan.

Langkahnya tenang tapi waspada.

Tangannya refleks menyentuh gagang pedang di pinggang.

Ia berjalan menyusuri semak tipis yang memisahkan jalan setapak dan sungai kecil itu.

Semakin dekat.

Suara air semakin jelas.

Lalu ia berhenti.

Di balik ranting tipis dan batang pohon kecil itu, pandangannya menangkap sesuatu yang membuat langkahnya membeku.

Aliran sungai yang tenang.

Airnya jernih.

Dan di sana—

Seseorang berdiri di dalamnya.

Dari arah belakang.

Rambut hitam panjang tergerai basah sampai ke punggung.

Kulit putih bening terlihat kontras dengan warna air yang dingin.

Tubuh ramping itu setengah terendam, air mencapai bagian atas punggungnya.

Hong Lin terdiam.

Napasnya tertahan.

Seorang… wanita?

Di sini?

Di perbatasan militer?

Di tengah musim dingin?

Pikirannya langsung bergerak cepat.

Tidak mungkin warga sipil.

Tidak mungkin penduduk desa, karena desa terdekat berjarak setengah hari perjalanan.

Dan tak ada satu pun laporan tentang perempuan yang berkeliaran di wilayah ini.

Wanita itu bergerak pelan.

Membasuh lengannya.

Mengangkat rambutnya sedikit.

Air menetes di kulit putihnya seperti butiran kristal.

Hong Lin tidak menyadari bahwa ia menatap terlalu lama.

Terlalu diam.

Terlalu terpaku.

Ada sesuatu yang aneh.

Sesuatu yang tidak masuk akal.

Tapi ia tidak bisa langsung mengalihkan pandangan.

Karena wanita itu terlihat begitu… tidak pada tempatnya.

Seperti bayangan yang salah masuk ke dunia yang salah.

Seperti rahasia yang berdiri telanjang di alam terbuka.

Yun Lan sama sekali tidak menyadari.

Ia masih membasuh dirinya pelan.

Air yang dingin membuat kulitnya memerah samar.

Ia menggosok lumpur yang tersisa di lengannya.

Menyibakkan rambutnya ke belakang.

Menghela napas panjang.

Hong Lin melangkah satu langkah maju.

Ranting kecil di bawah kakinya patah.

Krek.

Suara kecil.

Tapi cukup.

Tubuh Yun Lan langsung menegang.

Kepalanya sedikit menoleh.

Hong Lin refleks menahan napas.

Hanya sedikit.

Sedikit lagi, dan wajah itu akan terlihat.

Jantungnya berdetak lebih cepat.

Wanita itu berhenti bergerak.

Seolah merasakan sesuatu.

Tapi ia tidak menoleh sepenuhnya.

Ia hanya diam.

Mendengarkan.

Beberapa detik yang terasa sangat panjang.

Angin berdesir pelan di antara daun kering.

Air sungai terus mengalir tenang.

Hong Lin berdiri kaku.

Tidak tahu harus melangkah atau mundur.

Karena semakin lama ia berdiri di sana, semakin jelas satu hal terasa di dadanya.

Rasa penasaran.

Dan sesuatu yang lebih halus.

Lebih berbahaya.

Ketertarikan yang muncul tanpa izin.

Wanita itu akhirnya kembali bergerak.

Seolah meyakinkan diri bahwa ia hanya mendengar imajinasi sendiri.

Hong Lin perlahan menghembuskan napas.

Baru saat itulah ia sadar—

Ia belum pernah melihat punggung seseorang… seindah itu.

Dan ia tidak tahu kenapa perasaan itu justru membuatnya gelisah.

Bukan tenang.

Bukan nyaman.

Tapi gelisah.

Karena ia tahu.

Wanita itu tidak seharusnya ada di sini.

Dan fakta bahwa ia ada di sini…

Berarti ada sesuatu yang sangat besar.

Sangat tersembunyi.

Dan sangat berbahaya.

Sementara Yun Lan, tanpa sadar, baru saja berdiri di tengah ancaman terbesar terhadap rahasianya.

Dan di balik pepohonan itu, sepasang mata tajam milik Xin Hong Lin tidak pernah benar-benar berpaling.

Hong Lin akhirnya tersadar.

Apa yang sedang ia lakukan benar-benar tidak pantas.

Ia, putra Jenderal Xin, berdiri di balik semak, mengintip seorang wanita yang sedang membasuh diri di sungai.

Rasa panas menjalar ke tengkuknya.

Ia menarik napas pelan, memalingkan wajah.

“Aku harus pergi…” gumamnya pada diri sendiri.

Langkahnya mundur satu tapak.

Lalu satu lagi.

Tapi tanah di bawah kakinya licin oleh lumut tipis.

Sepatunya menggeser kerikil kecil.

Kr..ik.

Suara itu lebih jelas dari yang ia kira.

Yun Lan langsung bereaksi.

Kali ini bukan sekadar menegang.

Ia berbalik cepat.

Refleks.

Gerakan yang terlalu terlatih untuk disebut kebetulan.

Matanya menyapu semak.

Tajam.

Waspada.

Dan dalam sepersekian detik, naluri yang selama ini menyelamatkannya di kamp langsung mengambil alih.

Seseorang ada di sana.

Bukan hewan.

Bukan angin.

Seseorang.

Tanpa berpikir panjang, Yun Lan segera menepi.

Air memercik saat ia melangkah cepat keluar dari sungai. Tangannya meraih pakaian latihan yang ia letakkan di atas batu.

Basah.

Berat.

Tapi ia memakainya dengan gerakan terburu.

Tangannya yang lain sudah lebih dulu meraih pedang.

Jantungnya berdetak keras.

Wajahnya berubah.

Lembutnya menghilang.

Digantikan ketegangan yang dingin.

“Pria brengsek…” gumamnya pelan.

Amarah muncul cepat.

Ia bukan marah karena takut.

Ia marah karena merasa dihina.

Diintip.

Direndahkan.

Dirampas privasinya.

Pedang di tangannya terasa ringan.

Tubuhnya yang masih basah dan menggigil karena dingin kini bergerak tanpa ragu.

Ia melangkah menyusuri tepian batu, mendekati semak tempat suara tadi berasal.

Dengan pakaian dalamnya yang tipis Yun lan mendekat kearah Hong lin, ilmu meringankan tubuh Yun lan yang dipelajari dari Yun secepat angin malam itu bisa menyusul keberadaan Hong lin.

1
Nurhasanah
suka bangett cerita mu thor .... rajin2 up ya thor semangattt 🥰🥰🥰💪💪💪💪
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°🇮🇩
kau bukan tidak berguna tapi kau terlalu berharga untuk anak yang sudah kau besarkan Jendral Li
Nurhasanah
makin seru .. semangatt thor 🥰🥰🥰
Nurhasanah
lanjut thor ... semangattt 💪💪💪🥰🥰🥰🥰
Nurhasanah
karya bagus gini semoga banyak yg baca ya thorr semangatt ... suka bangett ceritanya 🥰🥰🥰🥰🥰
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°🇮🇩
mampir dulu aku
azka aldric Pratama
hadir
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!