Di dunia di mana setiap tetes air mata dikonversi menjadi energi Qi-Battery, perang bukan lagi soal wilayah, melainkan bahan bakar eksistensi. Li Wei, sang "Pedang Dingin" dari Kekaisaran Langit, hidup untuk patuh hingga pengkhianatan sistem mengubahnya menjadi algojo yang haus penebusan. Di seberang parit, Chen Xi, mata-mata licik dari Konfederasi Naga Laut, dipaksa memimpin pemberontak saat faksi sendiri membuangnya sebagai aset kedaluwarsa.
Saat takdir menjebak mereka dalam reruntuhan yang sama, rahasia kelam terungkap: emosi manusia adalah ladang panen para penguasa. Di tengah hujan asam dan dentuman meriam gravitasi, mereka harus memilih: tetap menjadi pion yang saling membunuh, atau menciptakan Opsi Ketiga yang akan menghancurkan tatanan dunia. Inilah kisah tentang cinta yang terlarang oleh kode etik, dan kehormatan yang ditemukan di balik laras senjata. Apakah mereka cukup kuat untuk tetap menjadi manusia saat sistem memaksa mereka menjadi dewa perang tanpa jiwa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15 Penawar Darah
Li Wei menendang pintu baja itu dengan sisa tenaga yang ia miliki, namun logam berat itu hanya bergeser beberapa inci sebelum tertahan oleh sistem penguncian darurat yang membeku. Di belakang mereka, uap kuning gas saraf menyembur dari ventilasi seperti lidah ular yang menjilat udara. Lorong sempit dekontaminasi itu dalam sekejap berubah menjadi kamar eksekusi yang kedap udara.
"Sial, kuncinya terintegrasi dengan protokol pusat!" Chen Xi berteriak sambil terbatuk hebat. Ia merosot di dinding, memegangi dadanya yang terasa seperti ditusuk ribuan jarum panas. "Li Wei... gas ini... konsentrasinya tiga kali lipat dari yang ada di parit sektor tujuh dulu."
Li Wei tidak menjawab. Ia mencoba menarik napas, namun yang masuk ke paru-parunya hanyalah sensasi terbakar yang memicu peringatan merah di penglihatan Neuro-Sync-nya. Arus listrik statis meloncat-loncat di ujung jari tangannya yang memegang Bailong-Jian.
"Aktifkan... mode hibernasi saraf," perintah Li Wei pada sistem internalnya dengan suara parau.
"Jangan!" Chen Xi membelalakkan mata, wajahnya pucat pasi. "Jika kau hibernasi sekarang, refleksmu akan mati. Kita tidak akan bisa melawan jika ada pasukan pengejar di balik pintu itu!"
"Lebih baik mati lumpuh... daripada mati karena paru-paru meledak," desis Li Wei. Ia berlutut, mencoba meminimalisir penggunaan oksigen. Di sampingnya, Xiao Hu berdiri terpaku, menatap kedua rekannya dengan mata besar yang dipenuhi ketakutan.
"Kak Li Wei? Kak Chen?" suara Xiao Hu terdengar sangat jernih di tengah suara desis gas yang mengerikan. "Kenapa kalian bersembunyi di lantai?"
Li Wei mendongak dengan susah payah. Ia melihat Xiao Hu berdiri tegak di tengah kepulan uap kuning yang pekat. Gadis itu tidak mengenakan masker, tidak terbatuk, bahkan pembuluh darah di matanya tetap putih bersih.
"Xiao Hu... menjauh dari uap itu," rintih Chen Xi sambil menutup hidungnya dengan kain sisa seragam.
"Tapi aku tidak merasa sakit, Kak Chen," Xiao Hu melangkah mendekat, jemari kecilnya menyentuh dahi Li Wei yang bersimbah keringat dingin. "Hanya sedikit bau gosong. Apa Kakak terluka?"
Li Wei terpaku. Logika teknis di kepalanya mencoba memproses apa yang ia lihat. Gas saraf ini dirancang untuk menghancurkan sistem saraf pusat dalam hitungan detik bagi siapa pun di bawah peringkat Komandan Naga, namun Xiao Hu yang hanya memiliki peringkat mekanik dasar justru tidak terpengaruh sama sekali.
"Darahnya..." Li Wei teringat ucapan Jenderal Zhao Kun dalam bayangan hologram sebelumnya tentang anomali gagal yang sangat berharga. "Chen Xi... lihat dia. Dia tidak bereaksi."
Chen Xi merangkak mendekat, matanya menatap Xiao Hu dengan campuran antara ngeri dan harapan yang putus asa. "Anomali Void-Antigen... Zhao Kun benar-benar menyembunyikan kunci penawar ini di dalam tubuh seorang anak kecil."
"Apa maksudmu?" tanya Li Wei, suaranya semakin menghilang saat racun mulai merusak pita suaranya.
"Darahnya mengandung penetral kimiawi yang tidak bisa diproduksi secara masal oleh Kekaisaran," Chen Xi menatap lengan Xiao Hu yang tergores kecil akibat serpihan kaca di ruang pompa tadi. Setetes darah merah pekat muncul di sana. "Li Wei, jika kita mengambil sedikit saja darahnya... kita bisa bertahan."
Xiao Hu menatap lengannya sendiri, lalu menatap Li Wei. "Darahku bisa membantu Kakak? Ambil saja. Aku tidak takut jarum."
Li Wei menatap wajah polos itu. Ingatannya kembali pada Sersan Han, sahabatnya yang dicuci otak hingga menjadi algojo dan terpaksa ia bunuh di pipa induk. Kekaisaran selalu memperlakukan manusia sebagai komponen, sebagai baterai, sebagai aset yang bisa dikuras.
"Tidak," ucap Li Wei tegas, meski ia harus memuntahkan sedikit cairan bening dari mulutnya.
"Li Wei, jangan bodoh! Kita akan mati dalam dua menit jika tidak melakukannya!" Chen Xi berteriak dengan sisa tenaganya.
"Aku tidak akan memulai hidup baruku dengan menjadi parasit pada seorang anak kecil," Li Wei mencengkeram bahu Xiao Hu, bukan untuk menyakitinya, tapi untuk menjauhkannya dari jangkauan Chen Xi. "Kita bukan monster seperti Zhao Kun."
"Lalu apa rencanamu? Menunggu sampai kita jadi mayat di sini?"
Li Wei melihat ke sekeliling lorong yang semakin menguning. Matanya tertuju pada botol filter air cadangan di tas mekanik Xiao Hu dan kain kasa pembalut luka.
"Xiao Hu... berikan aku kain itu," bisik Li Wei.
Xiao Hu dengan cepat merobek kain kasa dari tasnya. Li Wei mengambil kain itu, lalu dengan sangat hati-hati, ia menempelkan kain tersebut pada goresan kecil di lengan Xiao Hu, hanya untuk menyerap setetes darah yang keluar secara alami.
"Hanya ini," kata Li Wei pada Chen Xi. "Kita buat filter improvisasi. Tetesan darah ini cukup untuk memicu reaksi kimia pada respirator kita jika kita mencampurnya dengan air."
"Itu spekulasi yang sangat berisiko, Li Wei!"
"Lebih baik risiko teknis... daripada kehilangan martabat sebagai manusia," Li Wei membasahi kain yang mengandung setetes darah itu dengan air, lalu menempelkannya pada katup udara maskernya dan masker Chen Xi.
Detik-detik berlalu dalam keheningan yang menyesakkan. Bau amonia yang tajam mulai memudar di indra penciuman Li Wei. Rasa panas di dadanya perlahan mendingin, berganti dengan aliran udara yang terasa lebih ringan, meski tidak sepenuhnya murni.
"Berhasil..." Chen Xi terengah, menghirup udara melalui kain basah itu. "Efeknya tidak instan, tapi paru-paruku tidak lagi terasa seperti terbakar."
Li Wei mengangguk lemah. Ia menyandarkan kepalanya di pintu baja, menatap langit-langit lorong. "Maafkan aku, Xiao Hu. Harusnya aku melindungimu, bukan memintamu melindungiku."
Xiao Hu menggeleng, ia duduk di samping Li Wei dan menyandarkan kepalanya di bahu zirah pria itu yang dingin. "Kakak sudah melindungiku sejak di bengkel tua. Sekarang giliranku."
Gadis itu mulai menyenandungkan sebuah lagu kecil dengan suara rendah. Itu adalah lagu rakyat yang sering dinyanyikan para pekerja tambang di sektor bawah untuk mengusir rasa takut. Suara Xiao Hu menggema lembut di lorong dekontaminasi yang mematikan itu, menciptakan kontras yang menyayat hati antara kemurnian suara anak-anak dan racun kimia yang mengepung mereka.
"Li Wei... kau dengar itu?" Chen Xi bertanya pelan.
"Lagu yang indah," jawab Li Wei singkat.
"Bukan, maksudku suara di balik pintu ini," Chen Xi menunjuk ke arah pintu atap. "Suara turbin. Pesawat evakuasi sudah mendarat."
Li Wei mencoba memfokuskan pendengarannya. Di tengah badai yang menderu di luar, ia mendengar suara mesin jet yang stabil. Harapan baru muncul, namun tubuhnya terasa sangat berat karena efek racun yang baru saja diredam.
"Kita harus membuka pintu ini sekarang," Li Wei berusaha berdiri, menggunakan Bailong-Jian sebagai tongkat penopang. "Xiao Hu, tetap di belakangku. Chen Xi, siapkan unit datanya."
"Pintunya masih terkunci secara elektronik, Li Wei. Tenagamu tidak akan cukup untuk mendobraknya secara fisik dalam kondisi selemah ini," Chen Xi mengingatkan.
"Kalau begitu... jangan gunakan tenaga fisik," Li Wei menatap pedangnya. "Gunakan resonansi."
Li Wei memejamkan mata, membiarkan sistem sarafnya bersinkronisasi dengan inti energi pada gagang Bailong-Jian. Meskipun dadanya masih terasa sesak dan pandangannya berbayang, ia memaksa Dragon Heart untuk memompa sisa energi Qi ke lengannya. Pedang perak itu mulai bergetar, memancarkan frekuensi rendah yang membuat udara di sekitar mereka terasa berdengung.
"Chen Xi, bantu aku menstabilkan katup pintunya!" seru Li Wei dengan gigi terkatup.
Chen Xi segera bangkit, mengabaikan rasa pening yang menghantam kepalanya. Ia menempelkan telapak tangannya pada panel kontrol yang mati, menggunakan sisa muatan dari perangkat peretasnya untuk menciptakan hubungan pendek. "Resonansi di titik tiga puluh hertz, Li Wei! Jika kau bisa menghancurkan pengunci magnetiknya dari dalam, pintu ini akan terlepas!"
Li Wei menggeram saat ia menghujamkan ujung pedangnya ke celah sempit di antara dua daun pintu baja. Energi biru pucat memancar, beradu dengan uap kuning yang masih mengepung mereka. Suara logam yang melengking memenuhi lorong, beradu dengan suara badai petir yang semakin kencang di luar sana.
"Sedikit lagi!" Chen Xi berteriak di tengah percikan listrik.
Dengan satu hentakan terakhir yang menguras seluruh staminanya, pengunci magnetik itu meledak dalam hujan bunga api. Pintu baja itu terlempar terbuka, dan seketika itu juga, udara segar yang dingin dari atap laboratorium menyerbu masuk, menyapu sebagian besar gas saraf yang mencekik.
Li Wei ambruk ke depan, namun ia berhasil menahan tubuhnya dengan tangan gemetar. Di hadapan mereka, landasan atap yang luas terbentang di bawah langit yang hitam pekat, diterangi oleh kilatan petir yang menyambar-nyambar. Di tengah landasan itu, sebuah pesawat tempur dengan lambang Naga Laut yang sudah memudar sedang menderu, baling-baling vertikalnya menciptakan pusaran angin yang dahsyat.
"Itu mereka! Pesawat evakuasi!" Chen Xi menarik tangan Xiao Hu dan membantu Li Wei berdiri. "Ayo, sebelum pasukan patroli udara Kekaisaran mengunci posisi kita!"
Mereka berlari melintasi landasan yang licin karena hujan asam. Setiap langkah terasa seperti beban berat bagi Li Wei. Ia melihat ke arah langit, di mana titik-titik cahaya merah mulai bermunculan dari balik awan—drone pengejar Kekaisaran.
"Naik! Cepat!" seru seorang pilot yang mengenakan helm tempur retak saat pintu kargo pesawat terbuka.
Li Wei mendorong Xiao Hu masuk ke dalam kabin yang sempit, disusul oleh Chen Xi. Saat ia sendiri baru saja menginjakkan kaki di tangga pesawat, sebuah ledakan laser menghantam lantai beton hanya beberapa meter di belakangnya.
"Kita harus segera lepas landas!" teriak sang pilot.
"Tunggu, Li Wei masih di luar!" Chen Xi menjerit, tangannya terjulur untuk menarik kerah zirah Li Wei.
Li Wei berhasil melompat masuk tepat saat pesawat itu mulai terangkat secara vertikal. Guncangan hebat melempar tubuhnya ke tumpukan peti amunisi di sudut kabin. Ia terengah-engah, merasakan aliran oksigen murni dari sistem pendukung hidup pesawat mulai memulihkan kesadarannya yang sempat meredup.
"Kita selamat?" Xiao Hu bertanya dengan suara gemetar, matanya menatap pemandangan laboratorium yang semakin mengecil di bawah sana melalui pintu kargo yang perlahan tertutup.
"Untuk sementara," jawab Chen Xi, ia segera berpindah ke kursi kopilot dan mulai mengoperasikan radar. "Li Wei, kita dalam masalah besar. Badai petir ini terlalu kuat untuk navigasi standar, dan drone Kekaisaran sudah ada di ekor kita."
Li Wei mencoba duduk tegak, memegangi dadanya yang masih terasa nyeri. Ia menatap tetesan darah Xiao Hu yang masih menempel di kain filter improvisasi pada maskernya. Darah itu telah menyelamatkan nyawanya, namun ia tahu bahwa kenyataan ini hanyalah awal dari beban baru yang harus ia pikul.
"Gunakan petir itu," gumam Li Wei pelan.
"Apa kau gila?" Chen Xi menoleh dengan tatapan tidak percaya. "Petir itu bisa menghancurkan sirkuit pesawat ini!"
"Tidak jika aku yang menjadi penangkalnya," Li Wei menatap pedang Bailong-Jian yang kini terlihat retak di beberapa bagian. "Jika aku menyambungkan Dragon Heart dengan sistem tenaga pesawat, aku bisa mengubah energi petir itu menjadi cadangan daya untuk pelarian kita. Kita butuh kecepatan untuk menembus blokade udara."
"Itu akan membunuhmu, Li Wei! Sarafmu baru saja terkena racun!"
"Lihat aku, Chen Xi," Li Wei menatap mata wanita itu dengan keyakinan yang dingin. "Kita tidak punya pilihan lain. Aku lebih baik mati karena terbakar petir daripada membiarkan mereka mengambil Xiao Hu kembali."
Chen Xi terdiam sesaat, melihat tekad yang tak tergoyahkan di mata pria yang dulu ia anggap sebagai musuh bebuyutannya itu. Ia kemudian mengangguk pelan, jari-jarinya mulai mengatur ulang distribusi energi pada konsol pesawat.
"Lakukanlah, Komandan Naga," bisik Chen Xi. "Tapi jangan berani-berani mati di depanku."
Li Wei tersenyum tipis, sebuah senyuman yang jarang terlihat di wajahnya yang kaku. Ia berdiri di tengah kabin, mengangkat pedangnya tinggi-tinggi ke arah lubang pembuangan energi yang terhubung dengan antena luar pesawat. Saat petir besar menyambar langit di atas mereka, Li Wei berteriak keras, membiarkan tubuhnya menjadi jembatan antara amarah langit dan mesin baja yang membawa mereka menuju ketidaktahuan.
Cahaya putih menyilaukan memenuhi kabin, diikuti oleh raungan mesin pesawat yang tiba-tiba berlipat ganda kekuatannya. Mereka melesat menembus awan, meninggalkan laboratorium yang terbakar di bawah sana, menuju masa depan yang penuh dengan darah dan rahasia yang terkubur.