Arthur tumbuh di bawah perlindungan seorang pelayan tua yang setia, tanpa pernah benar-benar memahami ayahnya dan apa yang telah ia tinggalkan. Ketika waktu mulai merenggut kekuatan pelindung lamanya, Arthur dipaksa menghadapi dunia yang selama ini dijauhkan darinya dunia yang dibangun di atas hutang lama, keputusan sunyi, dan enam nama yang tidak pernah disebutkan secara utuh.
Sedikit demi sedikit, Arthur menemukan bahwa kebaikan ayahnya di masa lalu telah membentuk takdir banyak orang, namun juga meninggalkan retakan yang kini mengincar dirinya.
Di antara latihan, pengkhianatan yang tidak terucap, dan sosok-sosok yang mengawasi dari kejauhan, Arthur harus memilih:
meneruskan warisan yang tidak lengkap atau menyerah bahkan sebelum ia sempat memutuskan...
baca novelnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DavidTri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 10 - Adanya Harapan
Malam Kedua Masih Di Wilayah Marquis Florence
Malam turun perlahan di wilayah Marquis Florence. Kabut pagi telah berubah menjadi dingin yang menggigit, dan rumah bangsawan itu kini lebih sunyi dari sebelumnya terlalu sunyi untuk sebuah kediaman besar.
Arthur berdiri di dekat jendela kamar tamu, mengenakan mantel gelap tanpa lambang keluarga. Gareth Brackenford berdiri di sampingnya, wajahnya setenang biasanya, namun matanya menyimpan kewaspadaan tajam.
“Kau yakin itu Arthur?” tanya Gareth pelan.
“Jika kita tertangkap...”
“Teang saja kita tidak datang untuk mencuri, Gareth” jawab Arthur.
“Hanya memastikan sesuatu yang terlihat sudah mulai bergerak.”
Gareth mengangguk. Ia tidak bertanya lebih jauh.
Mereka keluar lewat balkon sisi barat, menuruni tangga batu sempit yang jarang digunakan. Di bawah, taman Florence terhampar gelap, hanya diterangi cahaya obor jarak jauh.
Arthur mencium udara.
“Ada bau logam disini,” bisiknya.
Gareth mengernyit.
“Dan juga ada bau darah kering,” jawabnya.
Sayap Timur Kamar Yang Dijaga Terlalu Ketat
Sayap timur rumah Florence tampak dijaga lebih ketat dari area lain. Dua Belas knight berdiri di depan lorong utama terlalu banyak untuk seorang pasien yang sedang sakit.
Arthur dan Gareth bergerak memutar, menyelinap lewat lorong pelayan. Di dinding tergantung lukisan-lukisan lama keluarga leluhur Florence wajah-wajah yang tersenyum kaku, seolah tahu lebih banyak dari yang mereka tunjukkan.
Di ujung lorong sempit, Arthur berhenti.
“Sepertinya di balik pintu itu, Gareth” katanya pelan.
Gareth mengangguk, mengeluarkan kepingan tipis logam berbentuk daun.
“Alat keluarga Liorant, aku meminjam nya dari si Seren ” bisiknya.
“Ini tidak merusak kunci. Hanya… membujuk?.”
Kunci berputar tanpa suara.
Kamar Lucien Florence
Udara di dalam kamar itu berat. Tirai tebal menutup jendela, hanya lilin kecil yang menyala di meja samping ranjang.
Lucien Florence terbaring diam, wajahnya pucat tak wajar. Napasnya ada pelan, terlalu pelan.
Arthur mendekat.
Ia melihat urat kehitaman samar di leher dan pergelangan tangan Lucien.
“Itu terlihat bukan racun biasa,” gumam Arthur.
Gareth membuka tas kecilnya, mengeluarkan botol kaca bening.
“Bukan racun yang membunuh,” katanya.
“Lebih seperti… racun yang menidurkan.”
Arthur memperhatikan meja.
Ada segelas air.
Ada kain lap bersih.
Dan ada… cincin perak kecil diletakkan terpisah.
Arthur mengangkat cincin itu.
Bagian dalamnya terukir simbol kecil
enam garis melingkar.
Arthur menegang.
“Seperti tidak asing, enam…”
Gareth menatap simbol itu lama.
“Aku pernah melihat lambang ini, Arthur” katanya pelan.
“Bukan keluarga bangsawan.
Ini… lebih seperti tanda persekutuan.”
Arthur teringat Borein.
Ervin.
Dan enam nama yang selalu muncul dalam bisikan.
Suara di Balik Tirai Terdengar
Langkah kaki mendekat.
Arthur memadamkan lilin dengan cepat.
Mereka berdua menepi ke balik tirai besar.
Pintu terbuka pelan.
Dua orang masuk.
Salah satunya berbicara dengan suara rendah.
“Efeknya cukup lama, kayaknya” katanya.
“Lima hari. Cukup untuk membuat mereka bingung.”
Suara kedua terdengar lebih dingin.
“Pastikan dia tidak mati. Florence masih kita butuhkan.”
Arthur penasaran dan mengintip sejenak.
Ia mengenali muka itu, sebuah muka yang sering diperlihatkan oleh ibunya.
Vastorci.
Salah satu dari enam.
Mendengar Tanpa Terlihat
“Dan si Moren?” tanya suara pertama.
Vastorci terdiam sejenak.
“Anaknya terlihat mulai bergerak lagi.”
Arthur merasakan jantungnya berdetak lebih keras.
“Kalau begitu, rencana kita” lanjut Vastorci,
“pertemuan ini berhasil. Biarkan mereka saling mencurigai.”
Langkah kaki menjauh.
Pintu tertutup.
Setelah Keheningan
Arthur dan Gareth tidak bergerak selama beberapa menit.
Baru setelah yakin, Gareth berbisik,
“Sekarang kita tahu satu hal.”
Arthur mengangguk.
“Ini bukan soal Florence lagi.”
Ia menatap Lucien sekali.
“Ini soal siapa yang berani menggerakkan bidak… di depan semua orang.”
Arthur meletakkan cincin itu kembali, persis seperti semula.
“Dan mereka baru saja memberitahuku satu hal penting yang lain.”
Gareth menoleh.
“Apa itu?”
Arthur menjawab lirih,
“Ayahku tidak jatuh sendirian.”
Mereka meninggalkan kamar itu seperti bayangan, tanpa meninggalkan jejak.
Namun malam itu, Arthur tidak bisa tidur.
Karena kini ia tahu:
pertemuan ini bukan panggung diplomasi melainkan awal perang tanpa bendera.
Dan ia sudah berdiri terlalu dekat dengan pusatnya.
Saat Jawaban Tidak Bisa Ditemukan di Aula
Malam itu, Arthur duduk sendirian di kamar penginapan Florence. Lampu menyala kecil, bayangannya bergerak pelan di dinding. Di tangannya, ia memegang secarik kain potongan kecil dari sarung tangan tabib yang ia temukan di sayap timur.
Vastorci.
Nama itu tidak keluar dari pikirannya.
Pintu diketuk pelan.
Elrian masuk tanpa suara.
“Lucien masih hidup, Arthur” katanya singkat.
“Tapi tidak membaik.”
Arthur mengangguk.
“Karena dia tidak dimaksudkan untuk sembuh.”
Elrian terdiam.
“Kau ingin pergi, ya” katanya, bukan bertanya.
Arthur berdiri.
“Ayahku pernah menyebut seseorang,” ucapnya pelan.
“Seorang wanita tua di Nostradus.”
Elrian menoleh.
“Penyembuh?”
“Bukan tabib,” jawab Arthur.
“Ia menyembuhkan adik ayahku Morvist.”
Nama itu menggantung lama di udara.
“Saudara kembar dari paman mu yang sekarang, Norvist,” gumam Elrian.
Arthur mengangguk.
“Dan sekarang… Morvist menghilang.”
Mereka berangkat sebelum fajar.
Tidak ada pengumuman.
Tidak ada pamit resmi.
Hanya Arthur, Elrian, Seren, Toxen, dan enam knight pilihan yang tahu bagaimana berjalan tanpa jejak, Gareth masih tertidur karena kemarin malam dia begadang.
Kabut menelan wilayah Florence saat mereka memasuki jalur utara jalur lama yang jarang dipakai sejak tragedi.
Toxen berjalan paling depan, matanya membaca tanah seperti halaman buku.
“Jejak manusia lama masih ada,” katanya lirih.
“Dan… sesuatu yang lebih tua.”
Arthur mencium udara.
“Darah dan tanah basah.”
Hutan Nostradus
Tempat yang Menyimpan Ingatan Lebih Tua dari Kekaisaran Valerion
Hutan Nostradus menyambut mereka dengan sunyi yang hidup. Pepohonan menjulang, akar-akar mencuat seperti tulang. Cahaya matahari sulit menembus kanopi tebal.
Seren menahan napas.
“Hutan ini berubah,” katanya.
Toxen mengangguk.
“Karena seseorang membangunkannya.”
Mereka berjalan berjam-jam tanpa bicara. Bahkan burung pun jarang bersuara.
Akhirnya, Toxen berhenti.
Ia jongkok, menyentuh tanah.
“Ada lingkaran disini,” katanya.
“Bekas perapian lama. Terlihat sering dipakai oleh seseorang.”
Arthur menoleh.
“Dia pasti masih hidup.”
Wanita Tua Itu
Mereka menemukannya di dekat sungai kecil berwarna gelap.
Seorang wanita tua duduk di atas batu, rambutnya putih kusut, matanya tertutup. Di sekelilingnya tergantung jimat-jimat dari tulang dan kayu.
Ia berbicara sebelum Arthur sempat membuka mulut.
“Kau datang terlambat, anak Moren.”
Arthur menegang.
“Kau mengenal ayahku.”
Wanita itu tersenyum tanpa membuka mata.
“Aku mengenal luka yang ia simpan.”
Elrian, Seren, Toxen dan enam knight berdiri waspada.
“Morvist datang padaku dengan tubuh yang sekarat,” lanjut wanita itu.
“Racun enam tangan.”
Arthur mengepalkan tangan.
“Vastorci?”
Wanita itu mengangguk pelan.
“Salah satu.”
Arthur menelan ludah.
“Di mana paman ku Morvist?”
Wanita itu membuka matanya.
Kosong.
Bukan buta
melainkan terlalu dalam.
“Dia memilih berjalan ke tempat yang tidak bisa kalian ikuti.”
Kebenaran yang Terlalu Berat
“Penyakit Lucien bukan untuk membunuh,” kata wanita itu.
“Sama seperti Morvist.”
Arthur berlutut.
“Bisakah kau menyembuhkannya?”
Wanita itu menatapnya lama.
“Bisa, tapi ada syaratnya” jawabnya.
“Jika kau siap kehilangan sesuatu.”
Elrian menegang.
“Apa?”
Wanita itu tersenyum tipis.
“Kepercayaan pada kebaikan tanpa batas.”
Arthur terdiam.
Ia teringat ayahnya.
Ia teringat enam orang yang ditolong dan kini menjadi bayangan.
“Aku siap, kapan pun itu” katanya akhirnya.
Angin hutan berdesir pelan.
Wanita tua itu berdiri, tongkatnya menghantam tanah.
“Kalau begitu, Arthur” katanya,
“perjalananmu baru saja berubah arah.”
Di kejauhan,
sebuah cabang pohon patah.
Seseorang atau sesuatu.
telah mendengar keputusan Arthur.
Dan Nostradus…
tidak pernah membiarkan rahasianya keluar tanpa harga yang pantas.
tentang orang jadi pembunuh gitu aja, kalau penasaran boleh di baca🔥