Javi, center dari grup LUMINOUS, jatuh dari balkon kosan Aruna saat mencoba kabur dari kejaran fans. Bukannya kabur lagi, Javi malah bangun dengan ingatan yang kosong melompong kecuali satu hal yaitu dia merasa dirinya adalah orang penting yang harus dilayani.
Aruna yang panik dan tidak mau urusan dengan polisi, akhirnya berbohong. Ia mengatakan bahwa Javi adalah sepupunya dari desa yang sedang menumpang hidup untuk jadi asisten pribadinya. Amnesia bagi Javi mungkin membingungkan, tapi bagi Aruna, ini adalah kesempatan emas punya asisten gratis untuk mengerjakan tugas kuliahnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PutriBia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KRISIS MULTIDIMENSI
Dunia Aruna saat ini sedang mengalami blue screen. Jika hidupnya adalah sebuah maket, maka maket itu baru saja terduduki gajah, tersiram kopi, dan dibakar oleh kenyataan pahit secara bersamaan. Aruna adalah tipe pejuang yang sangat gengsi, ia menyimpan rapat-rapat masalah keuangannya. Orang tuanya di desa mengira beasiswanya lancar, padahal ada kendala administrasi yang membuat uang semesterannya macet dan tabungannya ludes hanya untuk membeli kertas kalkir dan lem tembak.
Di tengah tekanan Manajer Han untuk menjauhi Javier, Aruna hanya bisa meratapi nasib di dalam kosannya yang sempit, sambil menghitung sisa butiran beras yang lebih sedikit daripada jumlah revisi dari dosennya.
Malam itu, Javier kembali beraksi. Ia tidak bisa tidur karena sensor rindunya terus-menerus memberikan peringatan Baterai Lemah. Dengan penyamaran yang lebih niat, memakai jaket hoodie hitam dan membawa kardus bekas besar agar terlihat seperti kurir paket yang tersesat, ia berhasil menyelinap masuk ke lorong kosan Aruna.
Tok. Tok. Sreeet.
"Aruna, buka pintunya. Ini Unit Kloningan 01 sedang melakukan prosedur pengantaran rindu," bisik Javier dari balik pintu.
Aruna yang kaget langsung menarik Javier masuk.
"Javi! Kamu gila ya? Kalau ketahuan Mbak Widya pemilik kosan yang kumis tipisnya lebih galak dari satpam agensimu bisa habis kita!"
"Tenang, Majikan. Saya sudah melakukan sinkronisasi dengan kegelapan lorong," sahut Javier sambil melepas kardusnya dan tentu saja memakai kacamata renang biru andalannya.
"Kenapa wajah Anda terlihat kusam? Apakah sistem metabolisme Anda kekurangan asupan es mambo?"
"Aku cuma capek, Javi. Udah, kamu pulang sekarang! Manager Han pasti akan mencarimu..."
Tepat saat Aruna hendak mendorong Javier keluar, suara langkah kaki berat yang sangat ia kenali terdengar mendekat.
BUG. BUG. BUG.
Itu adalah langkah kaki Mbak Widya, sang penguasa kos-kosan.
"ARUNA! Buka pintunya! Saya tahu kamu di dalam!" teriak Mbak Widya sambil menggedor pintu sekuat tenaga.
Aruna panik setengah mati. Ia langsung mendorong Javier masuk ke dalam lemari bajunya yang sempit.
"Javi, diem di situ! Jangan napas! Jangan kedip! Jangan aktifin mode idol kamu!"
"Tapi Majikan, oksigen di dalam sini terbatas oleh aroma parfum daster Anda—"
Cklek!
Aruna membuka pintu sedikit.
"I-iya, Mbak Widya? Ada apa ya malam-malam begini?"
Mbak Widya berdiri dengan tangan di pinggang, memegang buku catatan besar.
"Nggak usah pura-pura lupa! Ini sudah lewat tanggal sepuluh. Uang kosan bulan ini mana? Semesteran kampus emang mahal, tapi perut Mbak juga butuh diisi rendang, bukan janji manis kamu!"
Aruna menelan ludah, wajahnya memucat.
"Anu, Mbak... uang beasiswanya agak telat cair. Minggu depan ya, Mbak?"
"Minggu depan, minggu depan! Kemarin bilangnya juga begitu. Kalau lusa nggak ada, kamu saya sinkronisasikan ke jalanan ya! Angkut semua maket-maket berdebu kamu itu!"
Mbak Widya mengomel lima menit lagi sebelum akhirnya pergi dengan langkah yang membuat lantai bergetar.
Setelah suasana aman, Aruna membuka pintu lemari dengan tangan gemetar. Javier keluar dari tumpukan baju-baju kaos Aruna dengan wajah yang sangat serius. Kacamata renangnya miring hingga menutupi sebelah mata, memberikan kesan konyol yang anehnya tetap terlihat tampan, tapi matanya menatap Aruna dengan tajam.
"Aruna... kenapa Anda tidak melaporkan adanya kegagalan finansial pada sistem saya?" tanya Javier pelan. Tidak ada nada konyol kali ini, suaranya rendah dan mengintimidasi dengan cara yang lembut.
"Javi, ini bukan urusanmu. Aku bisa tanganin sendiri," sahut Aruna sambil membelakangi Javier, mencoba menyembunyikan matanya yang mulai berkaca-kaca karena malu dan sesak.
"Kamu itu punya masalah yang lebih besar di luar sana. Media lagi nyari kamu, Manajer Han lagi marah, jangan tambahin beban dengan ngurusin uang kosanku yang nunggak."
Javier melangkah mendekat, langkahnya tidak bersuara di atas lantai ubin yang dingin. Ia memegang bahu Aruna, lalu memutar tubuh gadis itu agar menghadapnya. Ia melepas kacamata renangnya perlahan, membiarkannya tergantung di leher, lalu menangkup wajah Aruna dengan kedua tangannya yang halus tangan yang biasanya memegang mikrofon di depan jutaan orang.
"Bagi dunia, saya adalah aset berharga yang tak ternilai. Tapi di depan mata saya sendiri, wanita yang saya suka sedang diancam oleh Unit Mbak Widya hanya karena masalah kertas bernama uang? Ini adalah error terbesar dalam sejarah hidup saya, Aruna."
"Javi, dengerin aku,"
Aruna berusaha melepaskan tangan Javier meski hatinya menolak.
"Kamu nggak boleh kasih aku uang. Kalau ada aliran dana mencurigakan dari rekeningmu, Manajer Han bakal tau dalam hitungan detik. Karirmu bisa hancur cuma gara-gara uang kosan sejuta dua ratus!"
"Siapa yang bilang saya mau kasih uang secara konvensional?"
Javier tersenyum nakal, sebuah senyum miring yang sanggup membuat jantung Aruna serasa di-overclock.
"Maksudmu?"
"Saya akan melakukan Proyek Rahasia. Besok, saya akan mengirimkan seseorang untuk membereskan ini melalui jalur backdoor. Anggap saja itu investasi jangka panjang untuk masa depan ibu dari anak-anak kloningan saya nanti," godanya sambil mengedipkan sebelah mata.
"Javi! Anak kloningan apanya!"
Aruna memukul lengan Javier dengan wajah yang sudah merah padam, antara kesal dan baper maksimal.
Javier tidak menghindar. Sebaliknya, ia justru menarik Aruna ke dalam pelukannya, sangat erat hingga Aruna bisa mencium aroma parfum mahal yang bercampur dengan bau lemari pakaian. Di tengah kegelapan kamar kosan yang hanya diterangi lampu jalan dari celah jendela, Javier membenamkan wajahnya di ceruk leher Aruna, membisikkan sesuatu yang membuat dunia Aruna berhenti berputar sejenak.
"Jangan pernah merasa sendirian dalam krisis ini, Aruna. Jangan pernah merasa harus menanggung semuanya sendiri seolah-olah saya tidak ada. Selama jantung saya masih berdetak dan sistem saya masih berfungsi, tugas saya bukan cuma nyanyi dan nari di panggung megah, tapi mastiin Majikan saya nggak diusir dari tempat persembunyiannya."
Javier melonggarkan pelukannya sedikit, hanya untuk menatap mata Aruna dengan pandangan yang dalam.
"Kamu itu bukan cuma asisten atau sekadar orang yang aku kenal. Kamu itu... pusat gravitasi saya. Kalau pusatnya hilang, saya bakal melayang tanpa arah di luar angkasa, Aruna."
Aruna terdiam, tangannya tanpa sadar meremas ujung jaket Javier.
"Kamu janji nggak bakal bikin masalah sama Manajer Han soal ini?"
"Sistem saya menjamin kerahasiaan tingkat tinggi,"
Javier mencium kening Aruna lama, sebuah kecupan yang terasa seperti segel pelindung.
"Sekarang, hapus air matamu. Majikan tidak boleh terlihat lemah di depan unit pendukungnya. Besok, biarkan saya yang bekerja di balik layar, oke?"
Keesokan harinya, kampus DKV terasa seperti sirkus tanpa tiket masuk. Aruna berjalan gontai, berusaha menjaga martabatnya meski dompetnya sedang melakukan mode hibernasi total. Di koridor gedung studio, ia dihadang oleh Dante, si playboy DKV yang hari ini memakai kacamata hitam di dalam ruangan mungkin karena silau melihat masa depannya sendiri.
"Aruna, sayangnya kampus ini. Wajahmu mendung sekali, seperti langit Jakarta yang kena polusi," ujar Dante sambil menyibakkan rambutnya dengan gerakan lambat yang sangat tidak perlu.
"Dengar, saya punya proyek desain prestisius untuk kafe mewah. Saya butuh asisten... atau lebih tepatnya, seseorang yang bisa saya ajak pamer di depan klien. Bonusnya? Kamu bisa beli tiga maket gedung tanpa perlu ngutang ke kantin."
"Dante, minggir. Sebelum penggaris besi 60 cm ini melakukan sinkronisasi dengan tulang keringmu!" ketus Aruna, yang sama sekali tidak tahu bahwa Dante sedang mencoba memberikan bantuan terselubung dengan gaya sombongnya.
Tiba-tiba, suara knalpot motor yang bunyinya seperti batuk berdahak memecah ketenangan kampus. Sebuah motor bebek dengan spion setinggi harapan orang tua masuk ke area parkir fakultas. Itu Bambang, Ia turun sambil menenteng ember plastik transparan yang isinya bergoyang-goyang.
"ARUNA! AKHIRNYA SAYA NEMU KELASMU!" teriak Bambang, berlari mendekat seolah sedang ikut lomba maraton tingkat kecamatan.
"Ini, Ar! Lele mutasi genetik terbaru saya! Dia punya pola sisik yang mirip logo aplikasi desainmu itu. Saya ke sini mau kasih kamu modal buat usaha sampingan. Daripada ngerjain tugas terus, mending kita buka cabang Pecel Lele Modern di depan kampus!"
Dante tertawa mengejek, menatap ember Bambang dengan jijik.
"Heh, Mas Kolam! Aruna itu calon desainer kelas dunia, bukan calon juragan lendir. Aruna, ikut saya sekarang. Saya bawakan kopi mahal yang harganya setara dengan satu kuintal lele itu!"
"Enak saja! Lele saya ini lele intelektual, Mas!" balas Bambang tak mau kalah, mengangkat embernya tinggi-tinggi hingga airnya sedikit muncrat ke arah jas Dante.
Di tengah aksi saling dorong antara Tim Kafe Mewah dan Tim Lele Intelektual, seorang pria berpakaian serba hitam, lengkap dengan earpiece dan wajah sedatar aspal jalanan muncul entah dari mana. Ia memecah kerumunan mahasiswa yang mulai menonton, lalu berjalan menuju meja administrasi pendaftaran semester yang kebetulan ada di lorong itu.
"Mohon perhatian," suara pria itu dingin dan teknis.
Ia meletakkan sebuah amplop tebal bertanda tangan segel glitter perak di atas meja petugas.
"Pembayaran biaya kuliah atas nama Aruna telah dilunasi secara tunai untuk dua semester ke depan, termasuk biaya praktikum dan biaya sewa studio khusus."
Dante melongo hingga kacamatanya turun ke ujung hidung. Bambang saking kagetnya hampir menjatuhkan ember lelenya ke kaki pria berbaju hitam itu.
"Siapa yang bayar?" tanya petugas admin bingung.
Pria itu membetulkan posisi earpiece-nya.
"Pembayaran ini dikirim oleh 'Yayasan Kacamata Renang Internasional: Divisi Penyelamatan Majikan'. Pesan dari donatur: Sistem keuangan telah disinkronisasikan. Jangan biarkan unit pendukung Anda menerima asupan dari kolam ikan atau kafe abal-abal.'"
Setelah pria itu pergi dengan langkah robotik, suasana menjadi sunyi senyap. Dante dan Bambang saling pandang, merasa kalah telak oleh yayasan misterius yang namanya sangat tidak masuk akal tersebut.
Ting!
Sebuah pesan masuk ke ponsel Aruna.
Dari: Nomor Tak Dikenal
"Status Keuangan: Hijau. Akses Pendidikan: Terbuka. Sekarang, fokuslah pada maket Anda, Majikan. Saya tidak ingin melihat Anda bekerja untuk pria bermotif naga atau pria yang bau amis. Ingat, hanya saya satu-satunya asisten yang memiliki izin untuk merusak konsentrasi Anda. P.S: Kacamata renang saya sedang saya poles, saya akan segera melakukan prosedur kunjungan diam-diam."
Aruna menutupi wajahnya dengan telapak tangan, mencoba menahan tawa sekaligus rasa haru yang meluap. Ia menatap Dante dan Bambang yang masih berdebat tentang siapa yang lebih pantas membantunya.
"Sudah, kalian berdua pulang saja," ujar Aruna dengan senyum kemenangan.
"Aku sudah punya donatur tetap yang sistem keamanannya jauh lebih canggih daripada proyek kafe atau bisnis lele kalian."
Aruna melangkah pergi meninggalkan mereka, merasa hatinya jauh lebih ringan. Ternyata, memiliki kloningan gila yang bisa meretas administrasi kampus adalah sebuah anugerah revisi hidup yang paling ia syukuri.