Di dunia ini, semua gedung tinggi secara hukum tidak boleh memiliki lantai 13 atau 4. Namun, seorang pemuda bernama Genta , seorang tukang servis lift yang punya insting tajam, menemukan bahwa lantai-lantai yang "hilang" itu sebenarnya ada secara fisik, tapi hanya bisa diakses dengan kode lift tertentu.
Lantai-lantai tersembunyi ini (Lantai 4.1, 4.2, dst.) adalah kantor pusat "Konsorsium Semesta "organisasi yang mengatur segala hal "kebetulan" di dunia. Mulai dari kenapa sandal jepit selalu hilang sebelah, sampai kenapa harga cabai naik tiba-tiba. Genta tidak sengaja terjebak di Lantai 4.5 dan membawa kabur sebuah "Remote Pengatur Sial".
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon saytama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayangan masa lalu
Ruang Pusat Distribusi Keberuntungan terasa seperti sebuah katedral elektronik yang sangat dingin. Ribuan tabung kaca setinggi tiga meter berbaris rapi hingga ke langit-langit yang tak terlihat. Di dalam tabung-tabung itu, tubuh-tubuh transparan manusia melayang dalam cairan neon, dengan kabel-kabel halus terhubung ke saraf tulang belakang mereka. Genta bisa merasakan detak jantung kolektif dari ribuan orang ini; sebuah irama yang dipaksakan oleh mesin besar milik Kenji.
"Sarah, berapa banyak waktu yang kita punya sebelum sistem menyadari kalau gerbang tadi kita sabotase secara manual?" tanya Genta sambil memeriksa panel kendali utama yang ada di tengah ruangan.
Sarah segera menghubungkan kabel dari visornya ke konsol terdekat. "Kurang dari lima menit, Genta. Firewall di sini sangat agresif. Mereka sedang melakukan pemindaian menyeluruh. Begitu mereka menemukan anomali identitas kita, seluruh ruangan ini akan berubah menjadi ruang eksekusi."
"Aki, jaga pintu masuk. Gunakan apa saja untuk menghalangi mereka," perintah Genta.
Aki mengangguk, ia memposisikan dirinya di depan pintu baja raksasa sambil memutar-mutar tongkat datanya. "Jangan khawatirkan aku, Nak. Fokuslah pada kabel utama itu. Jika kamu bisa memutus aliran energinya, semua tabung ini akan terbuka."
Genta mulai membongkar casing logam pada tiang pusat. Di dalamnya terdapat jalinan kabel serat optik yang sangat rumit, berpendar dengan warna emas. Namun, saat Genta hendak memutus kabel pertama, sebuah suara yang sangat ia kenal terdengar dari balik kegelapan di sudut ruangan.
"Genta... kenapa kamu mau merusak tempat yang begitu tenang ini?"
Genta membeku. Suara itu bukan suara Kenji. Itu adalah suara ibunya.
Ia perlahan menoleh dan melihat seorang wanita paruh baya berdiri di sana, mengenakan daster yang biasa dipakainya di rumah lama mereka di Jakarta. Wajahnya lembut, matanya penuh kasih sayang, persis seperti memori terakhir Genta sebelum petualangan gila ini dimulai.
"Ibu?" bisik Genta, obeng cahayanya hampir terlepas dari genggamannya.
"Genta, jangan dengarkan dia!" Sarah berteriak tanpa melepaskan pandangannya dari layar data. "Itu bukan ibumu! Itu adalah 'Mirror Program'! Sistem The Nexus membaca memori terdalammu dan menciptakan simulasi untuk memanipulasi emosimu!"
"Tapi dia... dia terlihat sangat nyata," gumam Genta. Sosok ibunya berjalan mendekat, tangannya terulur seolah ingin mengusap pipi Genta.
"Genta, anakku sayang... di sini ibu tidak lagi sakit. Di sini kita punya rumah yang bagus, tidak ada kebocoran atap, tidak ada penagih hutang. Kenapa kamu ingin menghancurkan dunia yang memberikan ibu kebahagiaan ini?" sosok itu bicara dengan nada yang sangat menyayat hati.
Genta gemetar. Logikanya tahu itu adalah program, tapi hatinya berontak. Di saat yang sama, dari sisi lain ruangan, muncul sosok pria tinggi tegap dengan seragam teknisi lift yang gagah. Itu adalah Ayah Genta, yang sudah lama hilang.
"Seorang teknisi bertugas untuk memperbaiki, Genta, bukan merusak," sosok ayahnya bicara dengan suara berat. "Kembalilah bekerja. Jadilah bagian dari sistem ini, dan kita akan menjadi keluarga utuh lagi di sini, selamanya."
"GENTA! SADAR!" Aki berteriak sambil memukul pintu baja yang mulai digedor dari luar oleh pasukan Deb.ger. "Itu adalah jebakan logika! Jika kamu menyentuh mereka, kesadaranmu akan terserap ke dalam sistem dan kamu akan menjadi budak data selamanya!"
Dua sosok itu kini mengurung Genta. Mereka bukan menyerang dengan senjata, tapi dengan kata-kata dan kenangan. Genta merasa kepalanya pening. Angka [LATENCY] di pergelangan tangannya melonjak naik, tanda bahwa emosinya sedang mengacaukan sinkronisasi datanya.
"Maaf..." bisik Genta, air mata digital mulai mengalir di pipinya. "Ibu... Ayah... kalian selalu bilang kalau saya harus jujur."
Genta mengangkat obeng cahayanya yang bergetar hebat. "Dan kejujuran adalah... kalian sudah tidak ada. Kalian adalah kenangan yang saya simpan di hati, bukan di dalam server komputer yang korup!"
Dengan satu teriakan penuh kemarahan, Genta menghantamkan senjatanya bukan ke arah sosok orang tuanya, melainkan ke lantai di bawah kaki mereka titik di mana proyeksi hologram itu berpijak.
"Akses Root: EXORCISM!"
Ledakan energi putih yang sangat tajam menyapu seluruh ruangan. Sosok ibu dan ayahnya seketika berubah menjadi barisan kode biner yang pecah dan menghilang menjadi abu digital. Suara tangisan mereka berubah menjadi suara statis yang menyakitkan telinga sebelum akhirnya hilang total.
Genta terengah-engah, dadanya sesak. Ia segera berbalik ke arah kabel serat optik emas tadi. Tanpa ragu lagi, ia memotong jalinan kabel itu sekaligus.
ZRRRRAAAAAAKKK!
Seluruh ruangan Pusat Distribusi bergetar hebat. Lampu-lampu neon biru berubah menjadi merah darah. Suara sirine tanda bahaya meraung-raung. Tabung-tabung kaca di sekeliling mereka mulai mengeluarkan cairan neonnya, dan orang-orang di dalamnya mulai terbangun dengan napas tersengal.
"Sistem mengalami kegagalan total!" Sarah bersorak, meskipun wajahnya tampak cemas. "Genta, kita berhasil memicu pemberontakan! Tapi Kenji tidak akan tinggal diam. Dia baru saja mengirimkan 'The Eksekusi one program pembasmi tingkat tertinggi, langsung ke koordinat kita!"
Pintu baja raksasa di depan Aki tiba-tiba hancur berkeping-keping. Dari balik debu digital, muncul sesosok ksatria baja raksasa dengan pedang laser merah yang panjangnya dua meter. Matanya hanya berupa satu garis cahaya merah yang dingin.
"Genta, Sarah... lari ke arah elevator pusat!" perintah Aki sambil memasang kuda-kuda. "Biar orang tua ini yang mengurus mesin rongsokan ini!"
"Tidak, Aki! Kita pergi bersama!" tegas Genta.
"Waktunya sudah tiba, Nak. Tugasmu belum selesai " Aki tersenyum tipis, sebuah senyuman yang penuh dengan misteri. "Cepat pergi!"
Genta melihat ribuan orang yang baru bangun mulai bingung dan berlarian. Ia menarik tangan Sarah menuju elevator, sementara di belakang mereka, Aki mulai beradu kekuatan dengan sang algojo sistem. Ledakan cahaya memenuhi ruangan saat semua berakhir, dengan meninggalkan pertanyaan besar untuk genta. apakah pengorbanan Aki adalah bagian dari rencana, ataukah ini awal dari kekalahan mereka?