NovelToon NovelToon
Braja Geni

Braja Geni

Status: sedang berlangsung
Genre:Ilmu Kanuragan / Perperangan / Pusaka Ajaib
Popularitas:6.2k
Nilai: 5
Nama Author: Bang Jigur

Lahir pada malam 1 Suro setelah dikandung dua belas bulan, seorang bayi menjadi incaran para pendekar aliran hitam dan putih. Di tengah pertumpahan darah, ia menghilang dari dunia manusia.
Diasuh oleh makhluk mitos di rimba purba, ia tumbuh dengan ilmu yang tak dikenal perguruan mana pun. Ia belajar dari angin, dari api, dan dari naluri alam.
Saat dewasa, Braja Geni kembali ke dunia persilatan.
Kehadirannya menggemparkan jagat kanuragan. Jurusnya tak berpihak pada putih maupun hitam—ia adalah kekuatan baru yang mengancam keseimbangan.
Namun di balik kesaktiannya, tersembunyi rahasia kelahiran dan takdir besar yang akan menentukan arah dunia persilatan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3

Pedang Ki Martanu berkelebat semakin cepat.

Bilahnya menari tanpa jeda, membentuk jaring-jaring maut yang menyelimuti tubuh Warok Gondosupit dari segala arah. Tebasan datang bertubi-tubi, seolah tak memberi ruang bagi lawannya untuk bernapas.

Warok mulai terdesak.

Langkahnya makin mundur. Nafasnya memburu.

Dan pada satu celah yang tercipta dalam sepersekian detik—

“Crat!”

Ujung pedang Ki Martanu berhasil menggores dada kiri Warok.

Tak dalam, namun cukup membuat kain jubahnya robek dan seleret luka tipis memanjang di kulitnya. Darah merembes perlahan, hangat di bawah cahaya bulan.

“Kurang ajar…!” geram Warok sambil meraba lukanya. Matanya kini tak lagi sekadar tajam—ia membara oleh amarah.

Aura kelam di sekeliling tubuhnya mendadak bergejolak.

Warok Gondosupit menghentakkan kakinya keras ke tanah. Tanah retak tipis di bawah pijakannya.

Ia mulai mengerahkan salah satu jurus tertingginya.

Golok besar di tangannya bergetar halus… lalu perlahan mengeluarkan kepulan asap tipis. Asap itu berwarna kelabu gelap, berpilin seperti ular yang melingkari bilah senjata.

Seketika, hawa di sekitar mereka berubah.

Panas.

Menusuk.

Setiap sabetan golok Warok kini memendarkan hawa membakar. Angin yang terbelah oleh ayunannya terasa seperti semburan api yang menyengat kulit.

Ki Martanu tertegun sesaat.

Saat golok itu menyambar lagi—

“Wussshh!”

Hawa panasnya menyentuh lengan Ki Martanu meski belum mengenai tubuhnya. Rasa perih seperti tersiram bara menjalar cepat.

“Ilmu apa lagi ini…?” batin Ki Martanu.

Ia tak menyangka Warok Gondosupit menguasai jurus berhawa api seperti ini.

Asap dari golok itu makin tebal.

Tanah yang terkena sabetannya menghitam, daun-daun kering terbakar seketika.

Warok tersenyum dingin di balik kepulan asap.

“Ini adalah… Pangalasan Bara Sukma,” ucapnya rendah. “Ilmu yang mampu membakar bukan hanya raga… tapi juga tenaga dalam lawanku.”

Suhu di sekitar mereka terus meningkat.

Dan Ki Martanu mulai menyadari—

Jika pertarungan ini berlanjut dengan tempo seperti ini…

Ia bukan hanya harus menjaga nyawanya.

Ia harus menjaga agar tenaga dalamnya tak habis terkikis oleh panas golok Warok Gondosupit.

Walau Ki Martanu masih mampu bergerak secepat bayangan, dan tak satu pun sabetan golok Warok benar-benar menyentuh tubuhnya, hawa panas yang ditebarkan bilah perak itu semakin menyiksa.

Setiap ayunan terasa seperti semburan bara.

Kulitnya perih, napasnya makin berat.

Bukan hanya panasnya yang mengerikan—ia mulai menyadari sesuatu yang lebih berbahaya.

Tenaga dalamnya… perlahan seperti tersedot.

Setiap kali pedangnya beradu dengan golok Warok, ada sensasi aneh. Seperti pusaran halus yang menarik tenaga dari lengannya, dari dadanya, dari pusat pernapasannya.

Ki Martanu mulai gelisah.

Dan kegelisahannya berubah menjadi amarah saat sekilas ia melihat ke arah pertempuran para pengawal.

Salah satu pengawalnya terjerembab di tanah.

Sebuah luka tusuk menganga di perutnya. Darah mengalir deras membasahi tanah hutan.

“Ahhh…!” rintih pengawal itu sebelum tubuhnya melemah.

“Hahaha…!” tawa Warok menggema. “Nah, Ki Martanu. Bukankah sudah kubilang sejak awal? Kau tak perlu melawan.”

Ia melangkah maju perlahan, goloknya masih mengepulkan asap panas.

“Sekarang lihatlah. Kau mulai melemah. Anak buahmu mulai tumbang. Dan kau… akan menyesal.”

Senyumnya melebar.

“Aku masih memberimu kesempatan. Serahkan istrimu.”

Namun Ki Martanu bukan lelaki yang mudah dipatahkan.

Matanya menyala.

“Tidak!” bentaknya keras. “Kau tak akan bisa mengambil istriku sebelum kau melangkahi mayatku!”

“Heiyaaahhh—!!”

Ki Martanu menarik napas panjang, dalam… sangat dalam.

Ia memusatkan seluruh sisa tenaga dalamnya ke pusat perutnya, lalu menghentakkannya ke seluruh tubuh. Urat-uratnya menegang, auranya kembali memancar kuat.

Tanah di sekitarnya bergetar halus.

Dengan satu gerakan melintang dari arah kiri, pedangnya menyasar lambung Warok dalam tebasan penuh tenaga.

“Trangggg—!!”

Warok menangkisnya.

Namun kali ini benturannya jauh lebih dahsyat.

Golok Warok hampir terlepas dari genggamannya. Tangannya bergetar hebat. Rasa nyeri menjalar hingga ke bahunya.

Warok terbelalak.

Ternyata Ki Martanu masih mampu meningkatkan tenaga dalamnya lebih tinggi lagi.

Namun senyum tipis kembali muncul di bibir Warok.

Karena ia tahu…

Jurusnya bukan jurus biasa.

Semakin besar tenaga dalam yang dikerahkan Ki Martanu, semakin kuat pula daya serap goloknya bekerja.

Asap yang menyelimuti bilah itu makin tebal.

Dan Ki Martanu mulai merasakan pusaran energi di dalam tubuhnya semakin liar.

Tenaganya seperti mengalir… masuk… ke dalam golok Warok.

Jika ini terus berlangsung—

Bukan Warok yang akan kehabisan tenaga.

Melainkan dirinya sendiri.

Ternyata jumlah yang lebih banyak di kubu Ki Martanu bukanlah penentu kemenangan.

Ilmu yang lebih tinggi di pihak Warok membuat keadaan berbalik kejam.

Satu per satu pengawal Ki Tumenggung terkapar di tanah, bersimbah darah. Rintihan mereka memudar bersama hembusan angin malam. Dua anak buah Warok—dengan golok berlumur merah—berdiri terengah namun masih tegak.

Empat pengawal telah tumbang.

Hutan Tambak Baya kini berbau darah dan asap panas.

Ki Martanu sendiri mulai melemah. Nafasnya berat. Pusaran tenaga dalam di tubuhnya tak lagi stabil. Jurus penyerap energi milik Warok telah menggerogoti cadangan kekuatannya sedikit demi sedikit.

Namun sorot matanya belum padam.

Ia tahu—ini harus diakhiri sekarang.

Dengan sisa tenaga dalam yang masih tersimpan di pusat perutnya, Ki Martanu melompat mundur setapak. Tangannya bergerak cepat mencabut sebilah keris pusaka dari balik ikat pinggangnya.

Bilahnya berlekuk sembilan, memantulkan cahaya bulan dengan kilau dingin.

Ia mengangkat keris itu tinggi-tinggi di atas kepala.

Bibirnya komat-kamit membaca mantra kuno warisan leluhur Karangwilis.

Angin berputar liar.

Tanah di bawah kakinya bergetar.

Tiba-tiba—

Keris itu bergetar hebat… lalu membelah diri.

Satu menjadi dua.

Dua menjadi lima.

Lima bilah keris identik melayang di udara, tersusun setengah lingkaran, memancarkan cahaya biru terang yang menyilaukan.

Warok Gondosupit terkejut, namun ia cepat tanggap.

Dalam satu gerakan lincah, ia bersalto ke belakang tiga kali berturut-turut, menjauh dari jangkauan Ki Martanu.

Begitu mendarat, ia langsung duduk bersila.

Kedua tangannya disilangkan di depan dada. Matanya terpejam. Mantra hitam meluncur deras dari mulutnya.

Aura kelam berputar di atas kepalanya.

Lalu—

Dari pusaran asap itu terbentuk bola-bola api.

Satu.

Dua.

Tiga.

Empat.

Lima.

Bola api merah membara melayang tepat di atas kepalanya, berputar perlahan namun sarat daya hancur.

Dan memang benar.

Saat mata Ki Martanu terbuka—sorotnya tajam bagai petir—

Ia berteriak lantang.

“Heiyaaahhh—!!”

Lima keris bercahaya biru melesat secepat kilat, mengoyak udara malam, langsung mengarah ke Warok Gondosupit.

Warok pun telah siap.

Dengan hentakan kedua tangannya ke atas—

Lima bola api itu meluncur menyongsong.

Dua kekuatan berbeda unsur bertemu di udara.

Biru dan merah.

Cahaya dan bara.

“BLARRRRR—!!!”

Ledakan dahsyat mengguncang hutan.

Gelombang kejutnya menyapu pepohonan di sekitarnya. Ranting-ranting patah beterbangan. Tanah terbelah tipis. Burung-burung malam terbang panik meninggalkan sarang.

Asap tebal mengepul tinggi ke langit.

Sejenak…

Tak ada yang terlihat.

Hanya sisa cahaya dan debu yang melayang di udara malam satu Suro.

Dan di balik kepulan asap itu—

Nasib Ki Martanu dan Warok Gondosupit ditentukan oleh siapa yang masih mampu berdiri.

1
raigor
semangat thor...cerita nusantara
👁Zigur👁: thanks 🙏
total 1 replies
abdulR
😍👍💪ok
anggita
like👍2☝☝iklan buat novel laga lokal
👁Zigur👁: thanks kak anggit.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!