NovelToon NovelToon
SEBELUM AKU LUPA SEGALANYA

SEBELUM AKU LUPA SEGALANYA

Status: sedang berlangsung
Genre:Time Travel / Trauma masa lalu
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Dinna Wullan

Arka terbangun dari tidur panjang selama tiga tahun tanpa membawa satu pun kepingan memori tentang siapa dirinya. Ia hidup dalam raga yang sehat, namun jiwanya terasa asing, terjebak dalam rasa bersalah yang tak bernama dan duka yang bukan miliknya. Di sisi lain, Arunika baru saja menyerah pada penantiannya. Selama tiga tahun, ia menunggu seorang pria dari aplikasi bernama Senja yang menghilang tepat di hari janji temu mereka di Jalan Braga. Pencarian Arunika berakhir di sebuah nisan yang ia yakini sebagai peristirahat terakhir kekasihnya.

Namun, takdir memiliki cara yang ganjil untuk mempertemukan mereka kembali. Di sebuah halte yang lembap dan kafe tua di sudut Braga, Arka dan Arunika duduk bersisian sebagai dua orang asing yang berbagi rasa sakit yang sama. Arka dihantui oleh bayangan janji yang ia lupakan, sementara Arunika terombang-ambing antara kesetiaan pada masa lalu dan debaran aneh yang ia rasakan pada pria bernama Arka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinna Wullan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KUTUKAN NAMA YANG SALAH

Arunika tertegun, matanya yang tanpa kacamata itu menyipit, menatap Senja dengan intensitas yang baru. Angin yang menderu di puncak menara seolah membawa pemikiran baru yang lebih masuk akal daripada sekadar takdir atau janji yang tak terpenuhi. Sebuah pemikiran yang membuatnya sedikit merinding.

"Jangan-jangan namamu bukan Senja," ucap Arunika pelan.

Senja terdiam. Ia mematung di tempatnya berdiri, membiarkan nama itu menggantung di antara mereka. Nama yang selama ini ia gunakan sebagai identitas, mungkin hanya karena ia muncul saat matahari tenggelam, atau mungkin karena itu adalah kata pertama yang terlintas di kepalanya yang kosong saat terbangun di trotoar Braga.

"Maksudmu?" tanya Senja, suaranya terdengar goyah.

"Nama itu terlalu puitis, terlalu pas dengan keadaanmu sekarang," lanjut Arunika, melangkah mendekat hingga ia bisa melihat bias cahaya di wajah pria itu. "Kalau kamu bilang kamu belum hilang meski janji sudah ditepati, mungkin itu karena aku memanggilmu dengan nama yang salah. Kita mencari identitas yang salah."

Arunika membuka kembali buku sketsa cokelat itu, jemarinya meraba inisial 'A' dan goresan-goresan tangan yang ada di sana. "Kadang orang lain selalu memandang kita sebelah mata, jadi kalau mereka nggak anggap kita hidup, biarin. Tapi kalau kita sendiri salah mengenali diri sendiri, kita nggak akan pernah bisa pulang."

Senja menatap kedua telapak tangannya. "Kalau aku bukan Senja... lalu siapa? Kalau nama itu hanya karanganku agar aku merasa memiliki identitas, berarti selama ini aku mencari jalan pulang ke alamat yang salah."

Arunika menatap ke arah keramaian Alun-alun di bawah. "Kita harus cari tahu namamu yang sebenarnya. Nama yang diberikan orang tuamu, nama yang dipanggil teman-temanmu, atau nama yang tertulis di undangan yang mungkin seharusnya kamu hadiri tiga tahun lalu."

Arunika menutup bukunya dengan mantap. "Senja mungkin cuma waktu saat kita bertemu, tapi itu bukan kamu. Alasan kamu masih di sini, alasan kamu nggak hilang saat kita sampai di puncak menara ini, adalah karena kamu belum benar-benar dipanggil dengan nama aslimu."

Senja merasakan debaran yang aneh—sesuatu yang lebih kuat dari sekadar rasa sesak. "Bagaimana kalau namaku yang sebenarnya adalah sesuatu yang tidak ingin kuingat? Bagaimana kalau nama itu membawa beban yang lebih berat dari nama Senja?"

"Apapun itu," jawab Arunika tegas, "itu adalah kunci untuk membuatmu benar-benar 'ada'. Kita turun sekarang. Kita cari tahu siapa pria di dalam sketsa ini sebenarnya, bukan siapa pria yang berdiri di halte saat matahari terbenam."

Mereka berbalik menuju lift, meninggalkan puncak menara yang dingin. Di dalam lift yang bergerak turun, suasana terasa lebih mencekam namun penuh harapan. Arunika menyadari bahwa perjalanan ini baru saja naik ke tingkat yang lebih serius: bukan lagi sekadar menuntaskan janji, tapi menjemput kembali sebuah eksistensi yang sempat terhapus dari dunia.

Matahari sudah hampir tenggelam sepenuhnya, menyisakan semburat jingga yang memudar menjadi ungu di cakrawala Bandung. Di bawah lampu-lampu jalan Asia Afrika yang mulai menyala satu per satu, Arunika berdiri di batas trotoar, bersiap untuk melangkah pulang ke dunianya yang riuh, sementara sosok pria itu tetap diam di sana—di antara bayangan bangunan tua.

Arunika berjalan beberapa langkah, namun langkahnya terasa berat. Ia berbalik, menatap pria yang selama ini ia panggil Senja itu, yang masih berdiri mematung memperhatikannya. Arunika melambaikan tangannya perlahan, sebuah gerakan yang terasa seperti tarikan antara ingin pergi dan ingin tetap tinggal.

"Kamu kayak misteri, sekuat apa pun aku cari, aku nggak bisa nemuin siapa kamu," ucap Arunika, suaranya sedikit meninggi agar terdengar di tengah kebisingan jalan raya.

Ia tersenyum getir, menyadari betapa anehnya hubungan mereka. Mereka telah mendaki menara, menelusuri toko buku, dan membedah memori, namun identitas asli pria itu tetap tersembunyi di balik kabut.

"Kadang orang lain selalu memandang kita sebelah mata, jadi kalau mereka nggak anggap kita hidup, biarin," lanjut Arunika, seolah memberikan penguatan terakhir untuk hari ini. "Tapi buatku, misteri tentang kamu itu yang bikin aku merasa... aku juga hidup. Kamu bukan cuma hantu atau tokoh novel buatku."

Pria itu membalas lambaian tangan Arunika dengan kaku, namun matanya memancarkan rasa terima kasih yang mendalam. "Mungkin memang itu tugasku, Arunika. Menjadi misteri yang nggak selesai biar kamu punya alasan buat balik lagi ke halte itu besok."

Arunika tertawa kecil, ia membetulkan letak tasnya dan kembali berbalik untuk benar-benar pergi. Namun, setiap beberapa meter, ia tidak tahan untuk tidak menoleh lagi, memastikan bahwa sosok itu tidak menghilang seperti uap. Ia terus melambaikan tangan sampai bayangan pria itu mulai kabur ditelan remang malam kota.

Arunika tahu, meski ia tidak memakai kacamata, ia tidak akan pernah lupa bagaimana rupa pria itu di bawah cahaya lampu jalan. Nama aslinya mungkin masih tersembunyi, tapi keberadaannya sudah terukir permanen di dalam buku sketsa hidupnya.

Setelah sosok Arunika menghilang di balik tikungan jalan yang mulai temaram, kesunyian mendadak terasa lebih berat bagi pria itu. Ia berdiri sendirian di tengah Alun-alun, sebuah titik bias di tengah hiruk-pikuk Bandung yang tak pernah tidur.

Ia mendongak, menatap puncak Menara Kembar Masjid Raya yang masih berdiri kokoh, menembus langit malam yang mulai gelap. Kata-kata Arunika tentang "siapa dirinya" terus bergema di kepalanya seperti lonceng yang tak kunjung berhenti.

"Sebenarnya aku siapa?" ucapnya lirih pada angin malam.

Suaranya terdengar asing bagi telinganya sendiri. Rasa hampa itu kini bukan lagi sekadar kosong, melainkan sebuah lubang hitam yang siap menelannya.

"Kamu lupa karena kamu terlalu jauh, jadi lupa siapa kamu sebenarnya," sebuah suara muncul dari arah belakang, membelah keheningan.

Pria itu tersentak. Ia berbalik dengan cepat. Di sana, duduk di salah satu sudut bangku taman yang tak jauh dari tempatnya berdiri, seorang pria muda dengan pakaian santai sedang memperhatikannya. Pria muda itu tampak begitu nyata, namun ada sesuatu dalam tatapannya yang menunjukkan bahwa dia bisa melihat lebih dari sekadar apa yang dilihat orang biasa.

Pria yang disebut "Senja" itu terpaku. "Terlalu jauh? Apa maksudmu?"

Pria muda itu tersenyum tipis, jenis senyum yang biasanya dimiliki oleh seseorang yang tahu akhir dari sebuah cerita. "Kamu terlalu lama berada di antara dua dunia, berjalan di trotoar yang sama selama tiga tahun tanpa berani melangkah keluar dari lingkaran rasa bersalahmu. Jarak itu bukan soal kilometer, tapi soal seberapa jauh jiwamu meninggalkan tubuhmu sendiri."

Senja merasakan debaran yang menyakitkan di dadanya. "Kadang orang lain selalu memandang kita sebelah mata, jadi kalau mereka nggak anggap kita hidup, biarin. Itu yang teman saya bilang tadi," ucap Senja membela diri.

"Temanmu benar," sahut pria muda itu sambil berdiri dan melangkah mendekat. "Tapi kamu bukan sekadar 'biarin'. Kamu tersesat di nama yang bukan milikmu. Nama 'Senja' itu indah, tapi itu hanyalah waktu, bukan identitas. Kamu tidak akan pernah bisa benar-benar pulang selama kamu masih memakai nama itu sebagai persembunyian."

Pria muda itu berhenti tepat di samping Senja, keduanya kini menatap menara yang sama. "Gadis tadi... dia sudah membawamu sampai ke puncak. Sekarang pertanyaannya, apakah kamu mau terus menjadi misteri yang tidak selesai di kepalanya, atau mulai mencari jalan pulang ke tempat tubuhmu yang sebenarnya berada?"

Senja menatap pria muda itu dengan bingung. "Siapa kamu? Kenapa kamu bisa bicara denganku seolah-olah aku benar-benar ada?"

Pria muda itu hanya menepuk bahu Senja—sebuah sentuhan yang terasa dingin namun solid. "Anggap saja aku pengingat. Ingat baik-baik, sebelum fajar besok, carilah satu hal yang bukan berasal dari ingatan gadis itu, tapi berasal dari dirimu sendiri. Jika tidak, kamu akan benar-benar menjadi 'Senja' selamanya—hanya muncul saat matahari terbenam, dan hilang saat malam tiba."

Pria misterius itu berdiri dari bangkunya, merapikan jaketnya seolah-olah percakapan ini hanyalah interaksi biasa antarmanusia. Namun, kata-kata yang keluar dari mulutnya terasa seperti vonis yang dingin bagi Senja.

"Kalau kamu sayang sama gadis itu, pergilah ke sudut lain dan jangan temukan dia," ucap pria itu dengan nada datar namun menekan.

Senja terpaku. Jantungnya—atau apa pun yang berdenyut di dalam dadanya saat ini—seakan berhenti berdetak. "Apa maksudmu? Kenapa aku harus menjauh?"

Pria muda itu menatap Senja dengan tatapan iba. "Kalau kamu masih bertahan untuk bersamanya seperti sekarang dan kemarin-kemarin, kamu akan hilang. Keberadaanmu saat ini cuma didukung oleh memori tipis yang dia punya. Tapi semakin kamu dekat dengannya, kamu justru mengisap energinya. Dia mengingatmu sebagai sebuah janji yang gagal, dan itu perlahan-lahan merusak dia."

Senja teringat wajah Arunika tadi. Wajah yang tanpa kacamata itu tampak begitu tulus, namun ada guratan lelah yang tak tersamarkan di sana.

"Aku hanya pengingat," lanjut pria itu sambil mulai melangkah pergi menjauh dari area Masjid Raya. "Semakin kamu memaksa untuk 'ada' di dunianya, semakin cepat kamu memudar menjadi ketiadaan yang sesungguhnya. Kalau kamu sayang dia, biarkan dia hidup di dunianya yang nyata, tanpa harus menuntun bayangan sepertimu setiap hari."

Senja berdiri mematung di tengah hamparan rumput sintetis yang mulai sepi. Kata-kata itu menghantamnya lebih keras daripada kenyataan bahwa ia adalah seorang hantu. Selama ini ia merasa tertolong oleh Arunika, merasa hidup kembali karena gadis itu bisa melihatnya. Namun sekarang, ia dihadapkan pada pilihan yang mustahil: bertahan bersamanya namun perlahan menghilang, atau pergi menjauh demi keselamatan gadis itu.

"Kadang orang lain selalu memandang kita sebelah mata, jadi kalau mereka nggak anggap kita hidup, biarin," bisik Senja pada dirinya sendiri, mencoba mencari kekuatan dari kalimat yang sering diucapkan Arunika. Tapi kali ini, kalimat itu terasa pahit.

Ia menatap ke arah jalan di mana Arunika tadi menghilang. Jika ia pergi ke "sudut lain" seperti saran pria tadi, ia mungkin akan tetap ada, tapi ia akan kembali menjadi sunyi yang paling dalam. Namun jika ia tetap menemui Arunika besok di halte itu, ia mungkin akan membahayakan satu-satunya orang yang peduli padanya.

"Siapa namaku sebenarnya..." gumam Senja dengan suara bergetar. "Dan kenapa namaku harus menjadi beban buatnya?"

1
Ira Indrayani
/Rose//Heart/
Dinaneka
Ceritanya bagus..
mampir juga yaa Thor di cerita aku "My Dangerous Kenzo"🙏👍
Dinna Wullan: terimakasih dukungannya kak dina, siap meluncur
total 1 replies
Ros Ani
mampir lagi Thor karya barumu,semangat berkarya & sukses 💪
Dinna Wullan: terimakasih kak semoga suka, itunggu kritik dan sarannya ka
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!