Di dunia yang penuh dengan kilatan kamera, Alice Vane adalah satu-satunya hal yang nyata bagi Julian Reed. Namun, bagi Julian, mencintai Alice berarti harus mengawasinya dari kejauhan—sambil membenci setiap pria yang berani bernapas di dekatnya.
Alice adalah magnet. Dari penyanyi manis Sean Miller hingga rapper tangguh D-Rock, semua menginginkannya. Alice tidak pernah sadar bahwa setiap tawa yang ia bagikan dengan pria lain akan dibalas oleh Julian dengan lirik lagu yang menghujatnya di radio keesokan harinya.
Saat Julian mulai menggunakan diva pop Ellena Breeze untuk memancing cemburu Alice, permainan pun berubah. Di antara lagu sindiran, rumor palsu, dan kepemilikan yang menyesakkan, Alice harus bertanya pada dirinya sendiri: Apakah ia benar-benar pelabuhan bagi Julian, atau hanya sekadar inspirasi yang ingin dipenjara dalam sangkar emas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26. The Shadow Before the Altar
Malam di perbukitan Vermont yang biasanya menenangkan, kini terasa mencekik. Di dalam ruang tengah yang hanya diterangi cahaya perapian, suasana begitu berat. Samuel Vane duduk di kursi tunggalnya, sementara Julian dan Alice bersimpuh di atas permadani di hadapannya.
Samuel menatap Julian dengan mata tajam yang seolah bisa menembus sukma. "Julian, sebagai pengacara, aku tidak bisa bekerja dengan setengah kebenaran. Sebagai ayah Alice, aku tidak bisa melindungimu jika kau masih menyimpan bangkai di dalam lemari pakaianmu. Katakan padaku, apa yang Sean miliki hingga dia begitu percaya diri bisa menghancurkanmu?"
Julian menunduk, tangannya menggenggam jemari Alice begitu kuat hingga memutih. Napasnya terdengar berat.
"Ini tentang masa-masa tergelapku, Pa," suara Julian bergetar. "Saat aku baru berusia sembilan belas tahun. Saat aku merasa dunia adalah milikku dan Tuhan hanyalah sebuah dongeng."
"Katakan saja, Julian. Jangan ada yang ditutupi," bisik Alice, mengusap punggung tangan suaminya.
Julian menarik napas panjang, matanya berkaca-kaca menatap Samuel. "Agensi lamaku... mereka punya tradisi yang mereka sebut 'The Blood Covenant'. Sebuah pesta inisiasi untuk setiap artis yang mencapai level megabintang. Aku dipaksa datang ke sebuah vila terpencil. Di sana, dalam keadaan mabuk berat dan di bawah pengaruh zat yang mereka suntikkan, aku dipaksa menandatangani kontrak tambahan dengan darahku sendiri."
Samuel mengernyitkan dahi. "Kontrak darah? Itu hanya simbolis atau ada konsekuensi hukum?"
"Lebih dari itu, Pa. Di pesta itu, aku melakukan hal-hal yang sangat menjijikkan. Ada video di mana aku terlihat sangat liar dengan beberapa wanita sekaligus—beberapa di antaranya bahkan bukan orang dewasa. Aku menghujat Tuhan, aku menginjak-injak simbol suci demi membuktikan bahwa aku adalah 'pemberontak' yang mereka inginkan untuk citra rockstar," Julian mulai terisak, bahunya berguncang. "Mereka merekam semuanya. Setiap detik kehancuranku ada di tangan mereka. Sean adalah salah satu orang yang memegang salinan master video itu."
Alice tertegun. Ia tahu masa lalu Julian liar, tapi ia tidak menyangka sedalam itu lubang hitamnya. Namun, ia tidak melepaskan genggamannya.
"Ada lagi?" tanya Samuel dingin.
"Aku... aku pernah dipaksa menjadi kurir transaksi keuangan gelap," lanjut Julian. "Uang hasil perdagangan manusia dan narkoba dari agensi dialirkan melalui rekening pribadiku atas nama 'donasi amal'. Jika video pesta itu keluar bersamaan dengan data keuangan ini, dunia tidak akan melihatku sebagai pendosa yang bertobat. Mereka akan melihatku sebagai monster yang bersembunyi di balik Alkitab."
Julian tiba-tiba bersujud, kepalanya menyentuh lantai di depan kaki Samuel. "Maafkan aku, Pa! Aku telah menodai kesucian keluarga Vane. Aku telah menipu kalian dengan wajah suci ini. Aku siap jika Papa meminta Alice meninggalkanku malam ini juga."
Hening yang sangat lama menyelimuti ruangan itu. Alice ikut berlutut, memeluk Julian yang hancur. "Pa... Julian adalah korban dari industri itu. Dia masih anak-anak saat itu terjadi."
Samuel berdiri, berjalan perlahan ke arah jendela, menatap kegelapan di luar. "Di pengadilan, istilah 'korban' tidak akan cukup kuat jika bukti visualnya begitu eksplisit, Julian."
Samuel berbalik, menatap menantunya yang masih bersujud. "Tapi, sebagai hamba Tuhan, aku tahu satu hal. Iblis akan menggunakan masa lalumu untuk membuatmu merasa tidak layak atas masa depanmu. Jika kita menyembunyikan ini, Sean akan memeras kita selamanya."
"Lalu apa yang harus kita lakukan, Pa?" tanya Alice penuh harap.
"Kita akan melakukan apa yang paling ditakuti oleh orang-orang seperti Sean Miller," ujar Samuel dengan suara yang kembali penuh otoritas. "Kita tidak akan menunggu mereka merilisnya. Kita yang akan membongkarnya terlebih dahulu. Kita akan merilis pengakuan publik tentang masa lalu kelammu, sebelum mereka sempat mengeditnya menjadi fitnah yang lebih buruk."
Julian mendongak, wajahnya sembab. "Tapi... karierku, reputasiku... semuanya akan benar-benar hancur, Pa."
"Kariermu mungkin mati, Julian. Tapi jiwamu akan hidup," Samuel menghampiri Julian, menariknya berdiri dan memeluknya seperti putra kandungnya sendiri. "Aku akan menyiapkan pembelaan bahwa kau berada di bawah paksaan zat kimia. Kita akan menuntut balik agensi atas pelecehan terhadap anak di bawah umur dan eksploitasi manusia. Kita tidak akan bertahan, Julian. Kita akan menyerang."
Julian menangis di bahu Samuel. "Terima kasih, Pa... terima kasih telah menganggapku anak."
Di New York, Sean Miller sedang duduk di depan layar monitor besar, mengedit sebuah video dengan tawa licik. Ia memotong bagian di mana Julian tampak disuntik paksa, dan hanya menyisakan bagian di mana Julian terlihat tertawa liar sambil memegang botol minuman di depan simbol agama.
"Besok pagi, 'Santo Julian' akan jatuh ke neraka," desis Sean. "Dan Alice... kau akan melihat siapa sebenarnya pria yang kau sembah itu."
cemburu bilang /CoolGuy/
markicob baca...
se inter apa ya thor... /Tongue/