"Sebuah nyawa yang dipinjam, sebuah pengabdian yang dijanjikan."
Leo Alistair seharusnya mati sebagai pahlawan kecil yang mengorbankan diri demi keluarganya. Namun, takdir berkata lain ketika setetes darah murni dari Raja Vampir,masuk ke dalam nadinya. Leo terbangun dengan identitas baru, bukan lagi serigala murni, melainkan sosok unik yang membawa keabadian vampir dalam insting predatornya.
Aurora adalah putri yang lahir dari perpaduan darah paling legendaris, keanggunan manusia dari garis keturunan Nenek nya, dan kekuatan abadi dari Klan Vampir. Dia memiliki kecantikan yang mistis, namun hatinya penuh kehangatan manusia yang dia warisi dari nenek moyangnya.
"Mereka bilang aku bangkit karena darah ayahmu, tapi bagiku, aku bangun hanya untuk menemukanmu. Dunia memanggilku monster, tapi aku adalah tawanan yang paling bahagia karena setiap napas ku adalah milikmu, Aurora."_Leo Alistair.
"Kamu bukan sekadar pelindung, tapi kamu adalah melodi jiwaku yang hilang."_Aurora Zuhaimi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hofi03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SADAR
Waktu sudah menunjukkan pukul dini hari, Leo masih tidak sadar kan diri dan terbaring di atas tempat tidur yang terbuat dari batu giok putih.
Cahaya lembut terpancar dari kristal-kristal yang menggantung di langit-langit, meresap ke dalam kulitnya, luka bakar di tangannya sudah mulai menutup, dan warna pucat di wajahnya perlahan digantikan oleh rona kehidupan.
Aurora berdiri di dekat jendela besar, orang tua nya sudah menyuruh nya beristirahat, namun dia menolak untuk beristirahat sampai Leo sadar.
"Dia pria yang keras kepala, sama seperti ayahnya," suara Arion terdengar dari pintu.
Arion kembali datang ke ruangan itu, kali ini dia datang bersama Ratu Selena.
"Dia hampir mati demi aku, Ayah, kenapa dia harus melakukan itu? Kontrak darah itu, apakah benar-benar memaksanya sampai mengabaikan nyawanya sendiri?" tanya Aurora menoleh sedikit.
"Kontrak itu memberikan ikatan, Aurora, tapi kontrak tidak bisa memaksa seseorang untuk tersenyum saat ia menderita demi orang lain. Apa yang dilakukan Leo tadi, itu bukan lagi karena perintah darahku," jawab Arion berjalan mendekat, berdiri di samping putrinya.
Aurora terdiam, merenungkan kata-kata ayahnya, dia teringat bagaimana Leo tetap berdiri tegak meski tulang-tulangnya hampir remuk, hanya agar Aurora bisa menyerang musuh.
"Lalu, apa yang akan terjadi sekarang? Musuh sudah tahu dia pelindungku," tanya Aurora pelan.
"Perang baru saja dimulai, Nak, para pemberontak itu hanyalah pembuka, mareka menginginkan darahmu karena sejarah Ratu Ivara yang ada padamu, dan Leo, dia adalah kunci yang tidak mereka duga," jawab Arion.
"Uuhhhggg..."
Tiba-tiba, terdengar suara erangan kecil dari tempat tidur, membuat Aurora langsung berbalik dan mendekat dengan cepat.
"Leo? Kamu bangun?" bisik Aurora, pelan.
Mata Leo perlahan terbuka, dia mengerjap beberapa kali, mencoba menyesuaikan cahaya kristal yang menyilaukan.
Setelah mata Leo sepenuh nya terbuka, hal pertama yang dia lihat adalah wajah cemas Aurora yang berada sangat dekat dengan wajahnya.
"Putri..." suara Leo parau, nyaris tak terdengar.
"Jangan panggil aku Putri, sudah kubilang kan?" ucap Aurora mendengus, mencoba menutupi rasa lega yang luar biasa dengan ketegasan palsunya.
"Lalu, apa aku sudah di surga? Kenapa ada malaikat yang galak di depanku?" tanya Leo tersenyum sangat tipis, terlihat sangat lemah namun masih sempat menggoda.
"Kamu masih di istanaku, Serigala Bodoh. Dan kamu baru saja pingsan seperti bayi," jawab Aurora memutar bola matanya, namun kali ini dia tidak bisa menahan senyumnya.
Leo tertawa kecil, meski dadanya masih terasa sesak, dia mencoba duduk, namun Aurora segera menahan bahunya.
"Diam di sana, kamu butuh waktu untuk memulihkan energimu," perintah Aurora, melotot kan matanya.
Arion yang melihat interaksi itu dari kejauhan hanya tersenyum kecil, lalu dia memberi isyarat pada Serena untuk meninggalkan mereka berdua di kamar itu.
Ada takdir yang mulai menenun jalannya sendiri di antara sang Serigala dan sang Putri Vampir.
Leo berusaha mengatur napasnya, merasakan energi hangat dari Kamar Kristal mulai meresap ke dalam pori-porinya, dia melirik ke sekeliling ruangan yang mewah namun terasa dingin, sangat berbeda dengan kamarnya di kediaman Alistair yang penuh dengan aroma kayu dan kehangatan keluarga.
"Ayah dan Ibu mu, mereka ada di sini tadi?" tanya Leo, suaranya mulai terdengar lebih jelas.
"Ya. Mereka baru saja keluar untuk menyiapkan ramuan penguat untukmu," jawab Aurora, duduk di kursi kayu di samping tempat tidur Leo, tangannya masih setia menggenggam pinggiran tempat tidur.
Leo menatap Aurora cukup lama, gadis itu tampak berbeda dengan gaun sage green nya, dia terlihat lebih anggun, namun aura ketangguhannya tetap tidak hilang.
"Terima kasih sudah membawaku sampai ke sini," ucap Leo tulus.
"Jangan berterima kasih, itu hanya balasan karena kamu sudah menggendongku seperti karung beras di hutan tadi. Sekarang kita impas," jawab Aurora membuang muka, mencoba menyembunyikan rona tipis di pipinya.
Leo terkekeh, namun tawanya terhenti saat dia merasakan liontin di dadanya berdenyut, lalu dia menarik kalung itu keluar dari balik kemejanya.
"Aurora, saat di jembatan tadi, liontin ini bersinar, aku merasa kekuatanku berlipat ganda, tapi rasanya seperti ada sesuatu yang mencoba mengambil alih kesadaranku," bisik Leo dengan raut wajah serius.
Aurora terdiam sejenak, dia menunjukkan liontin serupa di pergelangan tangannya.
"Aku juga merasakannya, ayah bilang, liontin ini adalah bagian dari ikatan jiwa, tapi dia menghubungkan insting kita, yang artinya, saat kamu dalam bahaya, aku bisa merasakannya, dan begitu juga sebaliknya," jelas Aurora, menatap Leo.
"Jadi itu alasannya aku bisa mencium keberadaan mu dari jarak berkilo-kilo meter?" tanya Leo, menatap dalam mata dingin Aurora.
"Mungkin," jawab Aurora pelan.
"Tapi Leo, kamu harus tahu satu hal, darah vampir di tubuhmu, dia akan terus bereaksi jika kamu terus-menerus menggunakan kekuatan berlebih, bahkan kamu bisa kehilangan sisi kemanusiaanmu jika tidak hati-hati," ucap Aurora, terlihat jelas guratan ke khawatiran di wajah cantik Putri Vampir itu.
"Aku tahu, tapi jika itu harga yang harus kubayar untuk memastikan kamu tetap aman, aku tidak peduli," jawab Leo menatap telapak tangannya sendiri.
Kata-kata itu membuat suasana di kamar menjadi canggung namun manis, Aurora tertegun, dia tidak pernah bertemu pria yang begitu berani menyerahkan segalanya untuknya, apalagi pria itu adalah orang asing yang baru ditemuinya beberapa jam yang lalu.
Ceklekk
Tiba-tiba pintu kamar kembali terbuka, Serena masuk membawa nampan berisi sup hangat dan beberapa botol kecil.
"Ah, kamu sudah sadar, Nak," ucap Serena dengan senyum lembut yang mengingatkan Leo pada ibunya, Jasmine.
""Namamu Leo, bukan? Aku Serena, ibu Aurora," ucap Ratu Serena, lembut.
"Terima kasih, Ratu," ucap Leo mengangguk hormat, meski masih agak canggung.
"Panggil aku Bibi saja jika sedang tidak ada pengawal," bisik Serena ramah.
"Aurora, biarkan dia makan, dan kamu, pergilah beristirahat, kantung mata mu nanti akan menghitam dan tidak akan ada pria yang menyukai mu," ucap Serena, melirik Putri nya dengan senyum menggoda.
Aurora mendengus kesal, namun dia tetep bangkit dan berjalan menuju pintu.
"Jangan coba-coba kabur, penjaga di luar tidak se ramah ibuku," ucap Aurora, melirik Leo, sebelum dia keluar.
Setelah Aurora pergi, Serena duduk di kursi tadi, dia menatap Leo dengan tatapan yang sangat dalam, membuat Leo merasa tidak nyaman.
"Leo, Arion menceritakan sedikit tentang ayahmu, Lucas," ucap Serena pelan.
"Kami tahu kenapa kamu ada di sini, tapi Aurora, dia belum tahu detail perjanjiannya. Dia hanya tahu kau dikirim untuk membantunya, sebagai pelindung nya," lanjut Serena, menatap wajah pucat Leo.
"Kenapa tidak diberitahu yang sebenarnya saja?" tanya Leo bingung.