Dua ego yang bersinggungan. Dua imperium yang beradu. Satu perasaan yang dilarang.
Every adalah sang penguasa kampus, River adalah sang pemberontak yang ingin menggulingkannya. Mereka menyebutnya rivalitas, dunia menyebutnya kebencian.
"...semua yang terjadi di gubuk ini, jangan pernah lo anggap sebagai sesuatu yang lebih dari sekadar cara lo membayar utang.."
River hanya menyeringai, "... gue tetap orang yang tahu persis gimana rasanya lo gemetar ketakutan di pelukan gue semalam."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muse_Cha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Prahara di Bawah Langit Kelabu
Situasi di desa Sukamaju berubah menjadi darurat level merah. Langit yang tadi pagi kelabu kini tumpah menjadi hujan badai yang sangat pekat. Suara gemuruh air sungai yang meluap kembali terdengar, lebih mengerikan dari sebelumnya.
Satu per satu relawan mulai tumbang. Kelelahan fisik, kurang tidur, dan keputusan Every yang memangkas jatah makan relawan demi warga mulai menunjukkan dampaknya. Anggota BEM dan anak buah River banyak yang terkapar di tenda medis karena demam dan dehidrasi.
Every sendiri sedang tidak baik-baik saja. Tubuhnya menggigil hebat di balik kemeja tipisnya. Wajahnya yang biasanya pucat porselen kini merona merah karena panas demam yang membakar. Matanya sayu, tapi ia tetap berdiri tegak di depan gudang logistik, memegang daftar inventaris dengan tangan yang gemetar.
"Every, lo pucat banget. Istirahat sekarang, biar gue yang ambil alih," Axel mencoba mendekat, memegang dahi Every namun Every langsung menepisnya dengan sisa tenaganya.
"Gue bilang jangan sentuh gue, Axel! Urus saja tim medis lo yang payah itu!" desis Every. Suaranya serak, nyaris hilang, tapi keangkuhannya tetap berada di level tertinggi. Ia tidak mau terlihat lemah, apalagi di depan River yang sedang sibuk memperkuat tanggul darurat di pinggir desa.
Tiba-tiba, suara sirine darurat berbunyi.
"AIR NAIK! BANJIR SUSULAN! SEMUA KE AREA TINGGI!" teriak salah satu warga.
Dalam hitungan detik, air cokelat pekat bercampur lumpur menerjang masuk ke pemukiman. Tanggul yang dibuat River hancur seketika. Kepanikan pecah.
River berlari menembus hujan, badannya basah kuyup, otot-ototnya menegang saat ia melihat Every masih mencoba menyelamatkan berkas logistik di tengah air yang sudah setinggi pinggang.
"EVERY RIANA! TINGGALIN SEMUANYA! LARI KE BUKIT!" raung River.
Every tidak mendengarkan. Ia mencoba menarik sebuah kotak obat-obatan yang terjepit. "Ini... ini buat warga... gue nggak bisa... biarin ini hanyut!" gumam Every lemah. Pandangannya mulai kabur, dunianya berputar.
River menerjang arus, menarik Every dengan paksa. "Logistik itu sampah kalau lo mati, bodoh! Paham?!"
Every menatap River, napasnya panas dan tersengal. "Gue... gue nggak mau gagal, River... gue nggak boleh kelihatan gagal..."
Tepat saat itu, Every ambruk. Demamnya mencapai puncak dan kesadarannya hilang sepenuhnya di tengah guyuran hujan lebat. River menangkap tubuh kecil Every, mendekapnya erat-erat sementara air terus naik dengan deras.
"Sialan, Eve! Bertahanlah!"
River menggendong Every menuju area perbukitan. Di belakang mereka, Aluna melihat pemandangan itu dengan mata penuh kebencian. Di tengah bencana yang mengancam nyawa, ia justru merasa ini saat yang tepat untuk membuat Every "menghilang".
Axel mencoba mengejar mereka, namun ia terhambat oleh arus air yang kuat. "River! Bawa dia ke helikopter di atas bukit!"
River tidak menjawab. Ia hanya terus berlari mendaki jalur berlumpur, melindungi kepala Every dari hujan dengan telapak tangannya. Ia bisa merasakan panas tubuh Every yang luar biasa melalui pakaian mereka yang basah.
"Lo nggak boleh mati, Eve. Kalau lo mati, siapa lagi yang bakal gue lawan?" bisik River dingin di tengah deru badai.
Sesampainya di sebuah gubuk kecil di ketinggian, River meletakkan Every dengan kasar namun tetap berhati-hati di atas dipan kayu. Ia menyadari satu hal: Every benar-benar sakit parah, tapi dia masih menggenggam erat stempel BEM di tangannya. Bahkan dalam pingsan pun, dia tidak mau melepaskan kekuasaannya.
"Wanita gila," gerutu River sambil mencoba merobek pakaian basah Every untuk mencegah hipotermia, namun tangannya berhenti sejenak. Ia melihat memar di bahu Every akibat perkelahian dengan Aluna tadi.
Kebencian River kini bercampur dengan amarah yang tertuju pada dirinya sendiri dan orang-orang di sekelilingnya. Namun, ego pria itu tetap teguh. Ia tetap merasa Every adalah musuh yang harus ia benci, meski kini ia sedang bertaruh nyawa untuk menyelamatkannya.