Elena adalah seorang tunangan dari pria bernama Marcus Leonhardt, dia adalah asisten di perusahaan pria itu. Suatu ketika Marcus membawa seorang perempuan bernama Selena Vaughn yang seorang konsultan komunikasi. Di suatu malam mobil yang di kendarai Elena ada yang mengikuti dan terjadilah BRUUKKK , kecelakaan…dimana Elena akhirnya sadar dan dia membuat keputusan berpura - pura buta. Apakah semua akan terungkap? Siapakah yang mengikuti Elena? Dan bagaimanakah kisah Elena selanjutnya?
On going || Tayang setiap senin, rabu & jumat
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Khanza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20 Ujian yang Disiapkan
Marcus tidak suka menunggu.
Pagi itu, keputusan yang ia buat semalam terasa lebih berat dari yang ia kira—namun ia tidak menariknya kembali. Ketidakpastian sudah menekan terlalu lama. Hari ini, ia ingin jawaban.
Elena duduk di ruang tamu ketika Marcus turun. Tongkat putihnya bersandar di sisi sofa, tangannya meraba halaman buku braille dengan gerakan tenang. Tidak ada yang terlihat aneh. Tidak ada tanda kepura-puraan.
Justru itu yang membuat Marcus semakin yakin.
“Pagi,” katanya.
Elena menoleh ke arah suara. “Pagi.”
Marcus duduk di seberangnya. Ia memperhatikan setiap detail—arah kepala Elena, posisi bahu, ritme napasnya. Semua tampak alami. Terlalu alami.
“Aku butuh bantuanmu,” kata Marcus tiba-tiba.
Elena mengangkat wajah. “Bantuan?”
“Ada dokumen lama. Aku ingin memastikan tidak ada yang terlewat. Kau yang paling mengenalnya.”
Elena terdiam sepersekian detik. Cukup lama untuk terasa… cukup singkat untuk tetap wajar.
“Aku bisa mencoba,” jawabnya lembut.
Marcus berdiri. “Ikut aku.”
...****************...
Di ruang kerja, Marcus sudah menyiapkan segalanya. Map-map tersusun di meja. Namun satu dokumen sengaja ia letakkan sedikit ke kiri—di luar jangkauan normal seseorang yang benar-benar tidak melihat.
Ujian sederhana.
Mematikan.
“Elena,” katanya, “dokumen yang di tengah.”
Elena melangkah pelan. Tongkatnya menyentuh lantai dengan ritme stabil. Ia berhenti di depan meja, tangannya meraba permukaan kayu, bergerak perlahan seperti mencari orientasi.
Marcus menahan napas.
Jari Elena bergerak… mendekati dokumen yang salah.
Lalu berhenti.
Ia menggeser tangannya sedikit—nyaris tidak terlihat—dan menyentuh map yang benar.
“Aku menemukannya,” katanya tenang.
Marcus membeku.
Kebetulan, pikirnya cepat. Harus kebetulan.
“Bagus,” katanya datar. “Buka halaman terakhir.”
Elena menurut. Jemarinya menyusuri kertas dengan hati-hati. Tidak tergesa. Tidak ragu.
“Ini laporan revisi,” katanya pelan.
Benar.
Marcus merasakan sesuatu di dadanya mengencang.
Tidak ada kesalahan.
Tidak ada celah.
Namun perasaan itu tetap ada.
Dan semakin kuat.
“Elena,” katanya tiba-tiba.
Wanita itu mengangkat kepala.
Marcus menjatuhkan pena dari tangannya.
Benda itu memantul di lantai, menggelinding ke arah kaki Elena.
Refleks.
Itu yang ia cari.
Elena tidak bergerak.
Tidak menoleh.
Tidak bereaksi.
Tongkatnya tetap diam.
Marcus menatapnya tajam.
“Maaf,” katanya. “Tanganku licin.”
“Tidak apa,” jawab Elena lembut.
Sunyi.
Ujian selesai.
Dan Marcus tidak mendapatkan apa pun.
Seharusnya ia lega.
Namun justru sebaliknya.
Karena Elena terlalu… sempurna.
...****************...
Di dalam dirinya, Elena menghitung detik.
Satu.
Dua.
Tiga.
Ia tahu persis apa yang Marcus lakukan. Posisi dokumen. Arah pena. Bahkan jeda napasnya.
Semua terbaca.
Namun wajahnya tetap tenang.
Karena kemenangan terbesar bukanlah menghindari jebakan—
melainkan membuat lawan yakin jebakan itu gagal.
“Elena,” kata Marcus pelan, suaranya berubah.
“Ya?”
Marcus menatapnya lama.
Untuk pertama kalinya, ada keraguan di matanya.
“Kau… baik-baik saja, kan?”
Elena tersenyum tipis.
“Aku selalu baik-baik saja.”
Kalimat itu sederhana.
Namun Marcus merasakan dingin yang menjalar di punggungnya.
Seolah ia baru saja melewati sesuatu yang tidak ia pahami.
...****************...
Malam datang tanpa suara.
Marcus berdiri sendirian di ruang kerja, menatap meja yang sama. Semua bukti menunjukkan Elena tidak tahu apa-apa.
Namun instingnya berteriak sebaliknya.
Dan Marcus selalu percaya insting.
Ia mengambil ponsel.
Mengetik satu pesan.
Aku perlu seseorang mengawasinya.
Pesan terkirim.
Keputusan dibuat.
Di kamar, Elena duduk di tepi ranjang, mata terbuka dalam gelap. Ponselnya bergetar pelan.
Langkah berikutnya dimulai.
Ia membaca pesan singkat itu.
Dia mulai bergerak.
Sudut bibir Elena terangkat tipis.
Karena saat Marcus memilih untuk mengawasinya—
ia baru saja masuk lebih dalam ke permainan yang Elena rancang.
Dan kali ini…
tidak ada jalan keluar tanpa kehilangan sesuatu.
Bab berikutnya…
seseorang akan melihat terlalu banyak—
dan kebenaran mulai retak di tempat yang salah.