NovelToon NovelToon
Obsesi Rahasia Pak Dosen

Obsesi Rahasia Pak Dosen

Status: tamat
Genre:Obsesi / Dosen / Diam-Diam Cinta / Tamat
Popularitas:29.2k
Nilai: 5
Nama Author: shadirazahran23

Lima tahun lalu, Zora hanyalah mahasiswi biasa di mata Dimas. Kini, ia adalah obsesi yang tak bisa ia lepaskan.

Dimas adalah dosen Ekonomi yang kaku dan dingin. Baginya, segala sesuatu harus terukur secara matematis. Namun, rumusnya berantakan saat sang ibu memboyong Zora,mantan mahasiswi yang kini sukses menjadi juragan kain untuk tinggal di rumah mereka setelah sebuah kecelakaan hebat.

Niat awal Dimas hanya ingin membalas budi karena Zora telah mempertaruhkan nyawa demi ibunya. Namun, melihat kedewasaan dan ketangguhan Zora setiap hari mulai merusak kontrol diri Dimas. Ia tidak lagi melihat Zora sebagai mahasiswi yang duduk di bangku kelasnya, melainkan seorang wanita yang ingin ia miliki seutuhnya.

Zora mengira Dimas masih dosen yang sama dingin dan formal. Ia tidak tahu, di balik sikap tenang itu, Dimas sedang merencanakan cara agar Zora tidak pernah keluar dari rumahnya.

"Kau satu-satunya yang tak bisa kulogikakan,Zora!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon shadirazahran23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21. Satu saf denganmu

BRAKK! PLUK!

Bungkusan plastik berisi seblak level tiga dan basreng yang masih panas itu menghantam lantai dengan sukses. Isinya muncrat ke mana-mana, mengotori lantai marmer toko yang bersih.

Dimas dan Zora tersentak hebat. Zora hampir saja terjatuh dari meja jika Dimas tidak sigap menangkapnya. Keduanya menoleh dengan wajah merah padam dan napas yang masih tersenggal.

Di depan pintu yang ternyata tidak terkunci rapat (karena Nurul punya kunci cadangan), Nurul berdiri mematung dengan mulut menganga lebar. Matanya melotot seolah melihat hantu, sementara tangannya masih menggantung di udara, syok kehilangan seblaknya.

"T-teh... A Dimas. itu... itu bibirnya..." Nurul terbata-bata, menunjuk-nunjuk ke arah mereka dengan jari gemetar. "Seblak Nurul... tumpah... Gusti Nu Agung, mata Nurul sudah tidak suci lagi!"

Dimas berdehem canggung, mencoba merapikan kerah kemejanya yang berantakan dengan raut wajah frustrasi yang tertahan. Sementara Zora? Ia ingin rasanya tenggelam ke bawah gulungan kain katun detik itu juga.

"Nurul! Ketuk pintu dulu kenapa sih?!" teriak Zora dengan suara melengking, berusaha menutupi rasa malunya yang sudah sampai ke ubun-ubun.

Momen panas itu menguap seketika, digantikan oleh aroma kencur dari seblak yang tumpah dan tawa tertahan Dimas melihat wajah istrinya yang kini jauh lebih merah daripada cabai level tiga.

Suasana toko yang tadinya panas membara kini berubah menjadi kaku dan canggung.

Nurul masih berdiri di sana, menatap Zora dan Dimas bergantian dengan pandangan penuh selidik. Dimas, yang sudah kembali ke mode "Dosen Dingin", hanya berdehem pelan sembari merapikan jam tangan dan berpamitan untuk menunggu di mobil agar mereka bisa bicara lebih leluasa.

Begitu pintu mobil Dimas tertutup di luar, Nurul langsung menyergap Zora.

"Teh Zora! Demi apa?! Itu tadi... A Dimas?!" Nurul histeris, suaranya naik dua oktaf. "Teteh sama A Dimas... ada apa-apa ya? Ya Allah, Teh, itu tadi bukan cuma sekadar 'ada apa-apa', itu mah sudah level 'apa banget'!"

Zora menghela napas panjang, wajahnya masih terasa panas. Ia mengambil kain pel untuk membersihkan sisa seblak yang malang itu. "Sudah, Rul. Bersihkan dulu ini, nanti Teteh jelasin."

"Enggak bisa, Teh! Nurul nggak butuh seblak, Nurul butuh penjelasan!" Nurul merebut kain pel itu. "Teteh jangan bilang kalau A Dimas itu pacar rahasia Teteh? Atau... Teteh jadi simpanan?"

"Hush! Mulutnya!" Zora mencubit pelan lengan Nurul. Ia terdiam sejenak, menatap pintu kaca toko, lalu menatap Nurul dengan serius. Rahasia ini tidak mungkin ia simpan selamanya dari orang kepercayaan seperti Nurul.

"Rul... sebenarnya..." Zora merendahkan suaranya, "Teteh dan Pak Dimas sudah menikah."

Mata Nurul hampir keluar dari kelopaknya. "MENIKAH?! Kapan?! Kok nggak bilang?!"

"Siri, Rul. Kemarin,saat Teteh pulang kampung."," bisik Zora. "Hanya keluarga inti yang tahu. Kami sepakat untuk merahasiakannya dulu, apalagi Pak Dimas kan dosen di kampus tempat banyak orang kenal Teteh."

Nurul menutup mulutnya dengan kedua tangan, tubuhnya lemas sampai ia harus duduk di atas tumpukan kain katun. "Jadi...A Dimas itu... beneran suami Teteh?"

Zora mengangguk, sedikit beban di pundaknya terasa terangkat. "Rul,tolong, jaga rahasia ini dulu ya.Apalagi Kanaya,dia masih harus istirahat total pasca lahiran.

"Beres, Teh! Rahasia aman di tangan Nurul," ucap Nurul sambil memeragakan gerakan mengunci mulut. Namun, sesaat kemudian wajahnya kembali memelas. "Tapi Teh... seblak Nurul gimana? Mana belum sempat dimakan satu suap pun..."

Zora terkekeh, ia merangkul Nurul. "Ya sudah, ayo tutup tokonya. Kita beli lagi, Teteh yang traktir seblak paling komplit sedunia!"

*

Malam harinya, di bawah temaram lampu gantung ruang makan, Bu Lastri meletakkan cangkir tehnya perlahan. Ia menatap Dimas dan Zora bergantian dengan binar mata yang penuh kebijaksanaan.

"Ibu sudah memutuskan," ujar Bu Lastri, suaranya tenang namun berwibawa. "Besok Ibu akan pulang ke Malang."

Zora tersentak, tangannya berhenti mengaduk sup. "Lho, Ibu... kenapa mendadak sekali? Apa Zora ada salah?"

Bu Lastri tersenyum lembut, meraih jemari menantunya itu. "Bukan, Sayang. Ibu pulang untuk menyiapkan segalanya. Pernikahan kalian di desa kemarin memang sah secara agama, tapi kalian harus segera meresmikannya secara negara. Ibu akan mengurus berkas dan pesta kecil-kecilan di sana. Ibu tidak mau ada fitnah lagi yang menyentuh kalian. Kalian harus punya 'perisai' yang kuat."

Dimas mengangguk mantap, tangannya menggenggam tangan Zora di bawah meja. "Ibu benar. Aku juga ingin Zora memiliki haknya sepenuhnya sebagai istriku di mata hukum."

Kepergian Bu Lastri menandai babak baru bagi mereka. Kini, rumah itu menjadi saksi bisu romansa yang tumbuh mekar.

Setiap pagi, saat fajar masih berupa garis biru tipis di ufuk timur, suasana syahdu menyelimuti kamar mereka. Dimas, dengan sarung dan peci hitamnya, berdiri kokoh di depan Zora.

"Allahu Akbar..."

Suara bariton Dimas yang mengalun merdu saat membacakan ayat-ayat suci seolah menjadi melodi paling indah di telinga Zora. Seusai salam, Zora meraih tangan suaminya, mencium punggung tangan itu dengan takzim. Dimas membalasnya dengan kecupan lama di kening Zora sambil membisikkan doa.

"Terimakasih sudah bersedia jadi makmumku, Sayang," bisik Dimas, jemarinya mengusap pipi Zora yang merona.

"Sama-sama , Mas," balas Zora dengan wajah merahnya, karena mulai detik ini panggilan 'Pak' untuk suaminya telah berubah.Itupun karena protes Dimas juga.

Kesibukan beralih ke dapur. Bunyi spatula yang beradu dengan wajan menjadi musik pagi. Zora dengan cekatan menyiapkan kotak bekal,nasi goreng kesukaan Dimas dengan telur mata sapi yang tertata rapi.

"Mas, jangan lupa dimakan ya bekalnya. Jangan cuma minum kopi saja." ujar Zora sambil memakaikan dasi ke kerah kemeja Dimas.

Dimas menunduk, menatap wajah istrinya yang begitu dekat. Ia melingkarkan tangannya di pinggang Zora, menariknya sedikit lebih rapat. "Bagaimana aku bisa lupa, kalau setiap suapannya dibuat dengan cinta yang sebanyak ini?"

"Mas... nanti telat!" Zora protes kecil, meski hatinya bersorak.

Ritual pagi itu selalu berakhir di depan toko kain. Mobil sedan Dimas berhenti tepat di depan toko, di mana Nurul sudah berdiri siaga dengan sapu di tangan dan cengiran godaan yang sudah siap diledakkan.

"Ehem! Aduh, pagi-pagi kok toko kain baunya wangi bunga melati ya? Oh, ternyata ada pengantin baru yang lagi nempel kayak perangko!" seru Nurul saat melihat Dimas turun untuk membukakan pintu bagi Zora.

Zora turun dengan wajah merah padam. "Nurul! Masuk sana, jangan mulai deh!"

Dimas hanya terkekeh pelan. Ia menghampiri Nurul yang masih tertawa-tawa. "Nurul, hari ini tolong jaga bosmu baik-baik ya. Jangan biarkan dia terlalu lelah," ucap Dimas sambil mengeluarkan selembar uang seratus ribu dari dompetnya.

Nurul melotot, matanya berbinar. "Waduh,A Dimas .. ini buat apa?"

"Itu uang jajanmu hari ini. Terima kasih sudah membuat istriku tertawa dan menjaganya," ujar Dimas tulus.

Nurul langsung mencium uang itu dengan heboh. "Siap, Bos Besar! Jangankan dijagain, kalau ada lalat yang berani nempel ke Teh Zora, langsung saya sikat pakai sapu ini! A Dimas tenang saja, silakan lanjut mengajar dengan tenang, asalkan setoran 'keamanan' lancar begini!"

Zora hanya bisa menggeleng-geleng melihat kelakuan keduanya. Dimas kemudian berbalik ke arah Zora, mengabaikan sorakan Nurul di belakang.

"Aku berangkat dulu. Sampai bertemu nanti sore, Istriku." Dimas mencium dahi Zora sekali lagi, mengabaikan dunia sekitar, sebelum akhirnya masuk ke mobil dengan senyum kemenangan.

Dan tanpa mereka sadari dibalik pos penjaga,seseorang melihat semuanya dengan tatapan tajam dan penuh amarah.Tangannya mengepal sempurna hingga kuku-kukunya memutih...

"Aku pastikan kalian tidak akan bahagia..."

Bersambung...

1
Ila Aisyah
penggelapan uang perusahaan, pembunuhan berencana ayah dimas
Shifa Burhan
inilah enak pemeran utama wanita, berbuat salah tapi segampang itu dimaafkan dan kesalahan hal sepele

zora
*pergi (minggat) dari rumah tampa izin dan sepengetahuan suami kesalahan fatal
*lebih percaya orang lain dari pada suami, ingat asas kepercayaan wanita yang lebih berkoar2
*membuat suami cemas, bingung, khawatir,
*dia enakan tidur, suami tapi suami dia biarkan kayak orang bodoh, alasan HP mati, tinggal colok cas, hidupkan hubungi suami, ini malah enak2an tidur, kayak tidak ada beban sama sekali
*setelah melakukan banyak kesalahan dengan enteng dia merasa aman saja, zora pakai otak kau tidak mau memaafkan dengan mudah kesalahan suami tapi ketika kau salah kau semudah itu dimaafkan

thor mohon lah berlaku adil, jika sang suami buat salah tidak mudah dimaafkan dan dibuat berjuang dulu baru dimaafkan maka adil lah juga ketika sang istri melakukan kesalahan buat juga tidak semudah itu dimaafkan buat juga berjuang,

buang jauh jauh pemikiran yang selalu menormalisasi semua kesalahan pemeran utama wanita,


adil tidak membuat novel jelek tapi malah membuat novel bertambah berkelas
Shifa Burhan: dan thor jangan sepelekan kesalahn zora karena ini adalah kesalahan yang berulang2, zora bukan belajar dari kesalahan sebelum nya tapi malah makin jadi seenak karena dia merasa author membela dia dengan membuat dimas selalu jadi budak cinta yang Terima saja diperlakukan seperti apa saja

thor adil terhadap sang wanita dan sang pria, berlalu netral lah, author harus berdiri adil, buang jauh2 sudut pandang wanita saja
total 1 replies
Dodoi Memey
Dimas maen cium aja cepet banget nyosornya
Dodoi Memey
Thor keren banget dimasnya calon suami siaga
Dodoi Memey
sepertinya Dimas blom pernah berdekatan sama cewek
shadirazahran23: dia pernah naksir sahabatnya Zora lo 🤣
total 1 replies
Dodoi Memey
tambah seru lanjutkan
Dodoi Memey
asyiikkk seru
Wiwi Sukaesih
kebiasaan Zora kalau ad apa" g pernh nanya lngsung
g bljr dr msalt kemarin
Rahayu Ayu
Kalau Zora srkalu berasumsi buruk senditi tanpa bertanya dan mendengarkan apapun alasan dari Dimas,
itu membuat Zora terlihat kekanakan dan selalu mendrama.
Acih Sukarsih
mulai konflik
Tamirah Spd
Thor kalau ingin menciptakan konflik Dimas dan Zora, kenapa hrs ada akta dlm dompet yg tertera namae Wulan anak Wulan dan Dimas ....?.yg sama sama nama Dimas beda nama belakang .Kan Janggal Dimas menyimpan akta sahabat nya dlm dompet mereka hanya sahabat.walau kesannya jadi salah paham dikira Dimas punya anak dgn Wulan.Tetap gak etis nyimpan akta org lain dalam dompet apa lagi anak nya Wulan panggil papa..... wesss angelllll.
Rahayu Ayu
Aq kira yg datang mengganggu Nesa atau Wulan, ternyata malah Mira si biang kerok, mungkin harapan Mira bisa bekerja di perusahaan Dimas, agar bisa mendekati Dimas lagi,
tapi entah peketjaan apa yg sudah di siapkan sandi, jadi tukang fotokopi atau malah jadi cleaning servis.
Rahayu Ayu: Ga terlalu penasaran amat sih kak.
yg penting jangan ada lagi gangguan buat RT mereka.
total 2 replies
Rahayu Ayu
Antara Nesa atau Wulan
soalnya keduanya ada hubungannya dengan Dimas,
Nesa sepupunya Dimas,
sedangkan Wulan walaupun teman yg baik tapi teman lucnat juga🤭
Rahayu Ayu
Posesif boleh, itu menandakan kalau kamu adalah orang yg sangat mencintai dan menjaga pasangan mu,
tapi, jangan sampai keposesif an mu ,malah membuat pasangan mu ilfil.
Ila Aisyah
loooo,,, iku yg membuat merinding disko 😛,,,
Wiwi Sukaesih
nah Lo ad LG penggemar zora.😁
Wiwi Sukaesih
ahh dkra spa yg bela Zora dh parno aj
ternyata paksu Dimas 😍
shadirazahran23: Matanya Dimas kaya Elang
total 1 replies
Marini Suhendar
Bos Dimas 🤭
Acih Sukarsih
dimas
Wiwi Sukaesih
pelajaran untuk Zora klw bertanya itu jgn dlm hati y sung tny k.orgny.jgn suudzon...
y Dimas persiapan 👍
shadirazahran23: Ia betul.Setelah ini Insya Allah Zor lebih dewasa dalam bersikap
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!