*Update tiap hari*
Dia pikir adiknya sudah mati 7 tahun lalu. Dia salah.
Zane Elian Kareem kehilangan segalanya dalam satu malam: Rumah, Orang tua, dan Serra, adiknya.
Namun, sebuah benda di toko berdebu mengubah takdirnya. Serra masih hidup.
Kini, Zane bukan lagi bocah lemah. Dia adalah seorang Tarker—pemeta wilayah liar yang berani menembus zona maut demi uang. Persetan dengan intrik politik kerajaan atau diskriminasi ras. Masa bodoh dengan Hewan Buas Kelas E yang mengintai di hutan.
Zane akan membakar siapapun yang menghalangi pencarian "jalan pulangnya" menuju Serra. Bahkan jika harus melawan satu republik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Murdoc H Guydons, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 2 - Laporan dan Suara Berisik
Suara teriakan membelah kebisingan pasar, membuatku hampir menarik tongkat baton dari sabuk. Namun, insting waspadaku mereda saat menyadari sumbernya: seorang pria berjanggut lebat dengan pakaian berbulu tebal, entah mengeluh atau marah-marah pada Tarker muda di depannya.
Dialek bahasanya begitu kental dan nadanya sangat keras, seolah-olah dia sedang memproklamasikan perang kepada musuh bebuyutannya. Itulah orang Ravnia; bangsa dari utara yang negaranya terdiri dari kumpulan negara-negara kecil yang selalu saja punya alasan untuk berdebat.
Tarker muda itu garuk-garuk kepala, setelah si Tarker Ravnia masuk ke bangunan markas Tarker Cabang Adam. Fondasinya terbuat dari bongkahan batu abu-abu yang sama dengan benteng kota, sementara lantai atasnya menggunakan kayu ek gelap yang tebal.
Di atas pintu masuk utamanya, terukir simbol Tarker—sebuah simbol Mata angin yang di belakangnya terdapat sehelai bulu elang dan sebuah ranting dengan pucuk daun kecil di ujungnya dalam posisi saling menyilang.
"Semoga keselamatan menyertaimu. Lisensimu, Tarker." Pinta pria itu dengan kaku, seolah ia baru saja menghafal prosedur itu semenit yang lalu.
"Menyertaimu ju—", Aku mengernyitkan dahi, baru menyadari permintaannya.
"Kau kenal denganku Boris, yang benar saja?"
Sikapnya langsung melunak, sebuah senyum lelah muncul di bibirnya. "Ayolah, ini prosedur. Nanti aku ditegur Zane."
Aku menghela napas, lalu mengeluarkan lisensiku.
"Zane Elian Kareem, Tarker divisi Beastology." Ucapku mengikuti 'prosedur'nya.
"Silakan masuk, Tarker Kareem." Katanya, mencoba terdengar berwibawa. Boris lalu menyilahkan aku masuk.
"Ada-ada saja kau Boris." Ucapku sambil menepuk pundaknya.
.... . ....
Begitu melangkah masuk, Aula Misi yang luas menyambutku dengan dengungan aktivitas yang khas. Langit-langitnya tinggi, memperlihatkan balok-balok kayu penyangga yang masif. Aku selalu terkesan dengan besarnya tempat ini.
Menjalankan operasi eksplorasi seperti ini butuh dana yang tidak sedikit. Semua ini ditopang oleh serikat-serikat dagang besar yang membayar mahal untuk satu hal: peta yang akurat. Peta kami adalah nyawa dari rute perdagangan mereka.
Udara di sini beraroma campuran antara perkamen tua, minyak kulit, dan entah kenapa, sedikit aroma rempah hangat yang tajam dari negeri jauh yang dibawa oleh para penjelajah. Itu pasti aroma lada hitam dari Shilagar, negara Teokrasi di Selatan yang sebagian besar penduduknya berkulit sawo matang dan berhidung mancung. Markas ini benar-benar titik temu seluruh Formia.
Saat mendekati konter, telingaku menangkap dua petugas berbisik-bisik di balik konter, suara mereka yang pelan hampir tenggelam oleh kebisingan aula.
"...proyek jalur baru Wayford-Cragspire itu benar-benar mimpi buruk bagi mereka," bisik yang satu.
"Tentu saja," sahut yang lain. "Jalurnya memotong langsung lewat Hutan Palenwood, Paleside? Desa itu akan jadi kota hantu bulan depan. Ssh, ada Tarker."
Aku membuang muka.
Paleside yang mati atau jalur ekonomi yang cepat, itu urusan petinggi di Dewan Stellan yang berpakaian rapi. Aku punya urusan yang lebih penting.
"Jadi misi darurat tentang 'hewan buas tak dikenal' itu, ternyata hanya Luak tanah berukuran besar," kataku sambil menyerahkan gulungan laporanku, nadaku sedikit menyindir. "Harusnya dibiarkan saja. Atau berikan pada Sentinel Corps untuk hal sepele seperti ini."
"Hari ini pengumuman hasil rapat besar Tarker, kan?" tanyaku, mengubah topik.
Petugas yang tadi bergosip langsung memasang senyum profesional. "Ya, tidak ada perubahan jadwal. Silakan taruh barangmu di sini. Kau sudah makan Tarker? Menu rendang domba baru di kantin enak, lho."
"Sepertinya tak ada rendang yang lebih enak selain dari rendang desaku di Godo," jawabku sambil tersenyum tipis. Sebuah kilasan singkat tentang aroma rendang di dapur ibuku dulu melintas di benakku.
"Tapi aku akan tetap mencobanya. Terima kasih."
Aku meninggalkan sebagian besar barang bawaanku dan hanya membawa sebuah tas kecil ke kantin "Perapian" yang hangat dan ramai. Setelah memesan makanan, aku duduk di meja paling sudut dan mengeluarkan draf laporan yang sudah kutulis semalam.
Dengan pensil grafit, aku mulai menyempurnakan berkas laporanku. Ini adalah bagian dari pekerjaan yang anehnya kusukai. Aku menajamkan kembali sketsa Luak tanah itu, dan menulis catatan kecil di pinggir tentang perilaku agresifnya yang tidak biasa.
Setelah menyelesaikan bagian analisis yang serius, aku menatap ruang kosong di pojok kertas. Sebuah dorongan iseng mengambil alih.
Kugambar Luak Tanah itu dengan lidah terjulur dan bintang berputar di atas kepala, sesuai aslinya. Bodo amat jika nanti bagian Sekretariat mengomeliku. Lagipula, apa iya mereka membaca detail setiap laporan para Tarker yang menumpuk setebal cucian kotor itu? Aku ragu.
Suara ribut mengganggu keheninganku, saat pemuda berpostur kokoh di dekat konter, sedang tertawa bersama sekelompok Tarker lain, menepuk punggung salah satu dari mereka dengan akrab. Kurasa Tarker dari Kinsei, terdengar dari aksen bahasanya yang patah-patah, berirama dan 'bulat'. Kudengar mereka juga punya bahasa sendiri di sana.
"Zane Elian Kareem. Masih hidup rupanya" sapa pemuda tadi.
Ia mendekat padaku, setelah selesai 'bercengkerama' bersama teman Kinsei-nya. Ia mengenakan zirah tubuh dari kulit tebal yang dijahit berlapis-lapis, memberinya siluet yang lebih besar dan kokoh. Di bahunya, seekor Lumifret kecil bertengger dengan nyaman, bulu punggungnya yang bercahaya tampak sehat dan terawat.
Aku kenal dia. Divisi Plantology. Darius Lowtrail.
"Aku hanya sedang menikmati momen mengerjakan laporan tanpa bau busuk, Darius. Momen yang baru saja berakhir, sepertinya."
"Haha, mulutmu pedas seperti biasa," balasnya dengan senyum miring.
"Jadi, misi kecil apa yang kau kerjakan? Jangan bilang kau masih solo? Mengerjakan misi remeh menangkap Tupai Pendar peliharaan yang lari ke hutan?" tanya Darius dengan muka mengejeknya selalu menyebalkan.
"Ya, paling tidak menjadi solo adalah pilihanku. Tak seperti seseorang, yang petantang-petenteng, tapi tak ada yang mau bergabung membentuk tim dengannya." jawabku dengan senyum yang tak kalah miringnya.
Itu adalah pukulan telak. Wajah Darius mengeras. Meskipun 'pandai bergaul', namun belum menemukan tim yang solid adalah frustrasi terbesarnya.
"Membangun tim yang tepat butuh waktu, Zane. Kau butuh orang yang dipercaya dan mengambil keputusan dengan data, bukan insting-instingan sepertimu." desisnya, nadanya tidak lagi ramah, seperti anak kecil tidak mendapatkan mainan.
Ia menatapku tajam sejenak, lalu berbalik dengan tiba-tiba. "Aku ada urusan, Silahkan lanjutkan menggambar hewan-hewanmu yang lucu" katanya singkat, lalu berjalan pergi,
Apa maksudnya hewan lucu?! Laporan ku sangat serius. Gambar hewannya saja yang sedikit kuberi 'imajinasi'. Plantologist mana mengerti tentang makhluk yang bergerak dinamis, mereka hanya tau gerakan rumput yang ditiup angin.
Aku menggelengkan kepala pelan dan membuang napas, berusaha kembali fokus pada laporanku. Tepat saat itu, semangkuk rendang domba yang hangat dan sepiring nasi panas diletakkan di mejaku, aromanya yang kaya menguar ke udara...
apa di sana gak ada makanan lain gitu thor misal buah atau cemilan lain atau apa gitu
Pas kita lari, dia datang
Mau betumbuk kah mereka?😭