NovelToon NovelToon
Exclusive My Executor

Exclusive My Executor

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Mengubah Takdir
Popularitas:95
Nilai: 5
Nama Author: Karamellatee

​Di dunia bawah yang kelam, nama Reggiano Herbert adalah eksekutor paling mematikan yang dikenal karena ketenangannya. Seorang pria yang akan memperbaiki kerah bajunya dan tidak mungkin menutup mata sebentar sebelum mengakhiri nyawa targetnya.

Baginya, hidup hanyalah rangkaian tugas yang dingin, hingga ia menemukan "Flower's Patiserie".

​Toko itu sangat berwarna-warni di tengah kota yang keras, tempat di mana aroma Strawberry Tart yang manis berpadu dengan keharuman mawar segar. Sang pemilik, Seraphine Florence, adalah wanita dengan senyum sehangat musim semi yang tidak mengetahui bahwa pelanggan setianya yang selalu berpakaian rapi dan bertutur kata manis itu baru saja mencuci noda darah dari jas abu-abunya sebelum mampir.

Tetapi, apakah itu benar-benar sebuah toko biasa?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karamellatee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#Bab 01 : Bisikan musim semi

Reggiano tidak menyadari keajaiban kecil di balik etalase kaca itu. Ia terus berjalan menembus kabut malam yang mulai turun, memeluk kotak kue seolah itu adalah benda paling rapuh di dunia. Namun, pikirannya tertinggal di dalam toko. Seperti ada sesuatu pada diri Seraphine yang selalu membuatnya merasa "aneh" bukan secara fisik, melainkan seolah wanita itu bisa melihat dan mengetahui segalanya juga menemukan kejahatan yang ia sembunyikan di balik tulang rusuknya.

​Sementara itu, di dalam Flower’s Patisserie, Seraphine masih memandangi pintu kayu yang baru saja tertutup. Senyumnya perlahan memudar, digantikan oleh ekspresi yang sulit diartikan. Ia menghirup udara, indra penciumannya jauh lebih tajam dari manusia biasa.

​Di antara aroma mentega dan mawar, Seraphine menangkap sisa-sisa bau yang sangat ia kenali. Bau logam yang tajam. Bau ketakutan. Bau kematian.

​"Lagi, Tuan Herbert?" bisiknya lembut pada udara kosong.

​Seraphine berjalan ke arah mawar yang baru saja mekar secara ajaib tadi. Ia menyentuh kelopaknya dengan ujung jari, dan seketika, warna putih mawar itu berubah menjadi merah tua yang pekat, seolah menyerap energi yang tertinggal dari aura Reggiano.

Apartemen Reggiano tidak memiliki tanda-tanda kehidupan. Minimalis, tanpa cela, dan sunyi. Namun, di kamar paling ujung, suasana terasa lebih hangat.

​"Kakak?" sebuah suara lemah menyambutnya.

​Elena Herbert berbaring di tempat tidur, wajahnya pucat. Gadis remaja itu menderita penyakit yang tidak bisa dijelaskan oleh dokter mana pun karena tubuhnya perlahan kehilangan vitalitas, seolah ada sesuatu yang mengisap hidupnya dari dalam.

Lumpuh secara total pada tangan dan kaki.

​"Kakak bawakan Strawberry Tart dari Nona Florence," ucap Reggiano, suaranya kini sepenuhnya penuh kasih sayang. Ia meletakkan buket mawar putih di vas bunga samping tempat tidur.

​Anehnya, begitu mawar itu diletakkan, Elena tampak bisa bernapas lebih lega. Semburat warna merah muncul di pipinya yang tirus.

"Bunga dari toko Nona Florence selalu terasa... berbeda. Seperti ada detak jantung di dalamnya."

​Reggiano terdiam. Ia teringat sentuhan tangan Seraphine tadi sore. "Mungkin dia hanya menggunakan pupuk yang sangat bagus, Elena."

​Namun, saat Reggiano hendak menyuapkan kue ke adiknya, ia menyadari sesuatu. Di dalam kotak kue itu, selain tart stroberi, ada sebuah kantong kecil transparan berisi kelopak bunga kering yang tidak ia pesan. Di sana tertulis nota kecil dengan tulisan tangan yang rapi:

​"Seduh ini bersama teh untuk Elena. Ini akan membantunya mengusir bayangan-bayangan yang mengikutinya."

​Reggiano membeku. Bayangan? Bagaimana Seraphine bisa tahu tentang "bayangan" yang sering dikeluhkan Elena dalam mengigau?

Setelah Elena tertidur lelap, wajahnya tampak lebih tenang setelah meminum teh dari kelopak bunga pemberian Seraphine.

Reggiano duduk di ruang tamu yang gelap, hanya ada cahaya rembulan yang masuk melalui celah gorden.

​Di atas meja kayu mahoni, tergeletak sepucuk surat perintah baru. Nama target, lokasi, dan jam eksekusi. Rutinitas yang biasanya ia lakukan tanpa berpikir, kini terasa sedikit lebih berat. Ia teringat ucapan Seraphine: "Tuan, anda datang tepat waktu seperti biasanya."

​Reggiano menatap tangannya. Tangan yang baru saja membelai rambut Elena dengan lembut, adalah tangan yang sama yang menghancurkan hidup Miller beberapa jam lalu.

​"Kebahagiaan Elena dibayar dengan ini," gumamnya pelan.

​Keesokan paginya, sisi timur kota diselimuti kabut tipis. Reggiano kembali ke rutinitas "pria kantoran"-nya. Namun, ada satu hal yang mengusik pikirannya: Bunga mawar putih itu.

​Biasanya, mawar potong akan mulai layu dalam dua atau tiga hari. Namun, mawar dari Seraphine yang ia letakkan di kamar Elena semalam justru terlihat lebih segar pagi ini. Kelopaknya tampak lebih tebal, dan warnanya bukan lagi putih pucat, melainkan putih cemerlang yang seolah memancarkan cahaya sendiri.

​Rasa penasaran untuk sifat yang sebenarnya berbahaya bagi seorang pembunuh bayaran mulai merayap. Pukul 10.00 pagi, sebelum ia pergi ke markas organisasi, Reggiano memutuskan untuk melewati Flower’s Patisserie lagi.

Bukan untuk membeli, hanya untuk mengamati.

​Dari seberang jalan, ia melihat Seraphine sedang berada di depan tokonya. Ia sedang menyiram tanaman di dalam kotak kayu di jendela.

​Tidak ada yang aneh, hanya seperti Seraphine tidak menggunakan alat penyiram. Ia hanya menggerakkan tangannya di atas tanaman itu, seolah-olah sedang mengelus udara lalu tanaman-tanaman itu... mereka condong ke arah tangannya, bergerak mengikuti gerakan jemarinya seperti kucing yang minta dimanja.

​Srekk...

​Reggiano tidak sengaja menginjak kaleng minuman kosong di trotoar. Suaranya kecil, hampir tak terdengar di tengah kebisingan kota, tapi Seraphine langsung menoleh.

​Mata mereka bertemu di antara lalu lalang pejalan kaki.

​Seraphine tidak tampak terkejut. Ia justru memberikan lambaian tangan kecil yang sopan dan senyum hangat yang sama. Ia memberikan isyarat dengan tangannya, mengajak Reggiano masuk.

​"Anda lewat di jam yang tidak biasa, Tuan Herbert," sapa Seraphine saat Reggiano melangkah masuk ke toko.

Aroma hari ini adalah cinnamon roll yang baru matang.

​Reggiano berusaha bersikap senatural mungkin. "Saya ada pertemuan di dekat sini. Saya hanya ingin berterima kasih... teh bunga semalam sangat membantu Elena tidur."

​Seraphine meletakkan tangannya di atas konter, menatap Reggiano dengan tatapan yang sangat dalam, seolah sedang membaca sesuatu di balik kacamata perak pria itu.

​"Saya senang mendengarnya. Elena menyayangi mu, Tuan Herbert. Dia pasti tumbuh dari kasih sayang, bukan dari rasa sakit."

​Kalimat itu membuat jantung Reggiano berdesir.

Rasa sakit?

​"Anda bicara seolah-olah bunga ini punya perasaan atau adik ku sendiri, Nona Florence," ucap Reggiano.

​Seraphine terkekeh pelan, suara tawanya seperti denting lonceng porselen.

"Segala sesuatu yang memiliki nyawa punya perasaan, Tuan. Mungkin seperti senjata yang disimpan di balik tas. Dia pasti merasa sangat panas karena terus-menerus digunakan, bukan?"

​Udara di dalam toko yang hangat mendadak terasa membeku bagi Reggiano. Ia refleks mengeratkan pegangan pada tas kerjanya.

Peringatan.

Belum pernah ada orang yang punya nyali untuk bicara seperti itu, apalagi di jaman dimana senjata itu sangat tabu dimiliki oleh warga biasa. Tetapi, dari banyaknya contoh mengapa Selene menyebutkan kata "Senjata" daripada hal-hal yang berkaitan dengan kesehariannya sendiri? Kecuali, ia memilikinya juga dan mengetahui benda itu panas.

​Namun, sebelum Reggiano sempat merespons, Seraphine menyodorkan sebuah bungkusan kecil berisi biskuit jahe.

​"Ini untuk perjalanan anda. Oh ya, wajah anda terlihat sangat tegang pagi ini. Jika Tuan, terus memikul beban dunia di bahu, Tuan akan hancur sebelum sempat melihat Elena sembuh."

​Reggiano terdiam lama, menatap biskuit itu, lalu menatap wanita di hadapannya.

"Siapa kamu sebenarnya, Nona?"

​Seraphine hanya memiringkan kepalanya sedikit, helai rambut cokelatnya jatuh di bahu.

"Hanya seorang pembuat kue yang ingin bunganya mekar selamanya. Bukankah kita semua punya rahasia kecil agar bisa bertahan hidup di kota ini?"

......................

Malam itu, apartemen Reggiano tidak terasa sedingin biasanya. Cahaya lampu tidur di kamar Elena memberikan rona kuning keemasan yang lembut.

Reggiano duduk di kursi kayu di samping tempat tidur adiknya, memperhatikan Elena yang sedang asyik mengunyah biskuit jahe pemberian Seraphine.

​Sudah berbulan-bulan Elena tidak memiliki energi sebesar ini. Biasanya, untuk duduk bersandar saja ia butuh bantuan, tapi malam ini, ia tampak bersemangat, bahkan rona merah di pipinya terlihat jauh lebih alami.

​"Kak, apa Kakak tahu?" Elena memulai, suaranya tidak lagi serak. "Mawar-mawar ini... mereka bicara padaku."

​Reggiano yang sedang mengupas apel terhenti sejenak. Pisau lipat peraknya berkilat di bawah cahaya lampu.

"Bicara? Mungkin itu hanya pengaruh obat dari dokter, Elena. Kau harus banyak istirahat."

​Elena menggeleng cepat, rambut hitamnya bergoyang.

"Bukan seperti suara orang mengobrol. Tapi seperti... nyanyian. Dan tadi siang, saat Kakak pergi, ada seorang wanita yang keluar dari sana."

​Reggiano meletakkan apel dan pisaunya.

Tatapannya berubah waspada, insting "Eksekutor"-nya langsung bangkit. Ia memeriksa kunci jendela dan pintu kamar lewat pantulan cermin.

"Seseorang masuk ke sini? Siapa? Bagaimana ciri-cirinya?"

​"Tidak, Kak. Dia tidak masuk lewat pintu," Elena menunjuk ke arah vas bunga mawar putih dari Flower’s Patisserie.

"Dia keluar dari dalam bunga itu. Tubuhnya kecil sekali, tapi kemudian dia menjadi setinggi aku. Dia memakai gaun yang terbuat dari helai kelopak mawar, dan aromanya persis seperti toko kue yang sering Kakak ceritakan."

​Reggiano terdiam. Logikanya menolak setiap kata yang diucapkan Elena, namun ia tidak bisa mengabaikan fakta bahwa adiknya membaik secara tidak rasional.

​"Dia mengatakan sesuatu padamu?" tanya Reggiano, suaranya rendah dan hati-hati.

​"Dia bilang, 'Jangan takut pada bayangan hitam itu lagi, karena sang Penjaga Taman sedang mengawasi mu'," Elena tersenyum lebar, sesuatu yang sudah lama tidak dilihat Reggiano.

"Lalu dia menyentuh keningku, dan rasa sesak di dadaku langsung hilang. Dia bilang dia teman Nona Florence."

​Reggiano merasa hawa dingin merambat di tengkuknya.

Penjaga Taman? Nona Florence?

​Ia bangkit berdiri, berjalan mendekati vas bunga itu. Secara fisik, mawar itu tampak normal yaitu indah, segar, dan harum. Namun, saat Reggiano mencoba menyentuh salah satu kelopaknya, ia merasakan sengatan listrik kecil yang membuatnya refleks menarik tangan.

​"Elena, tidurlah. Aku harus memeriksa sesuatu di luar," ucap Reggiano singkat.

​Reggiano keluar ke ruang tamu dan segera mengambil ponsel nya. Ia menghubungi salah satu informan paling tepercaya di organisasinya, seorang pria yang ahli dalam menggali latar belakang seseorang hingga ke akar paling dalam.

​"Cari tahu segalanya tentang Seraphine Florence," perintah Reggiano tanpa basa-basi. "Bukan cuma catatan sipilnya. Aku mau tahu siapa pemilik Flower’s Patisserie sebelumnya, dari mana asal bibit bunganya, dan apakah ada catatan tentang 'kejadian aneh' di sekitar tokonya dalam sepuluh tahun terakhir."

​"Tuan Herbert? Bukankah itu cuma toko kue biasa?" suara di seberang telepon terdengar heran.

​"Lakukan saja. Intinya jangan sampai ada yang tahu aku menanyakannya. Terutama pihak Organisasi."

​Setelah mematikan telepon, Reggiano berdiri di balkon, menatap ke arah timur kota di mana toko Seraphine berada. Di kegelapan malam, ia menyadari sesuatu yang mengerikan. Selama ini ia mengira dirinya adalah predator tertinggi di kota ini, pria yang memegang kendali atas hidup dan mati.

​Namun sekarang, ia merasa seperti seekor semut yang tanpa sadar telah masuk ke dalam sarang sesuatu yang jauh lebih besar, lebih tua, dan lebih tak terduga daripada sekadar sindikat kriminal.

​Dan yang paling membuatnya gelisah: ia mulai menikmati aroma bunga itu lebih daripada bau mesiu di tangannya sendiri.

Dua jam kemudian, ponsel Reggiano bergetar di atas meja marmer, sebuah pesan singkat masuk melalui jalur aman.

"Data terkirim. Tapi anda tidak akan menyukainya."

​Reggiano segera membuka dokumen terenkripsi tersebut di laptopnya. Sebagai seorang eksekutor, ia terbiasa melihat file target yang tebal—catatan kriminal, silsilah keluarga, hingga transaksi bank terkecil. Namun, apa yang ia lihat di layar membuatnya mengerutkan kening.

​Hanya ada satu lembar, dan hampir semuanya kosong.

- Laporan Data/riwayat -

​Nama: Seraphine Florence

Usia: Terdaftar 20 tahun

Status Sipil: Pemilik Toko "Flower’s Patisserie" (Izin usaha terbit 3 tahun lalu)

Pendidikan: Tidak ditemukan data

Rekam Medis: Tidak ditemukan data

Riwayat Orang Tua/Keluarga: Cecilia Florence dan Antonio Carlos (meninggal 10 tahun lalu)

​Reggiano menggulir ke bawah dengan cepat.

Biasanya, jika seseorang mencoba menghapus jejak digitalnya, akan ada "bekas luka" atau anomali yang tertinggal. Tapi file Seraphine bukan seperti file yang dihapus karena file ini terasa seperti file yang memang tidak pernah ada sebelumnya.

​Ia segera menelepon informannya kembali. "Vince, apa ini bercanda? Kau bilang kau bisa menemukan tikus di gorong-gorong terdalam kota ini. Bagaimana mungkin kau tidak menemukan satu pun sekolah atau catatan kelahiran atas nama ini?"

​"Itu masalahnya, Tuan Herbert," suara Vince di seberang sana terdengar gelisah, ada nada ketakutan yang tertahan. "Saya sudah mencoba membobol basis data nasional, rumah sakit pusat, bahkan arsip gereja tua. Namanya baru muncul tiga tahun lalu saat dia membeli bangunan toko itu. Dia membayarnya tunai dengan emas satu koper."

​Reggiano terdiam. "Emas?"

​"Ya. Pihak bank sempat mengira itu emas palsu, tapi setelah diuji, kemurniannya melampaui standar apa pun yang ada saat ini. Sejak itu, dia seolah-olah... menyatu dengan kota ini, tidak ada tetangga yang ingat kapan dia pindah dan mereka hanya merasa toko itu 'selalu ada di sana'."

​"Bagaimana dengan pemilik sebelumnya?"

​"Itu yang paling gila. Pemilik sebelumnya adalah seorang pria tua yang sudah pikun. Saat saya tanyakan, dia hanya bilang bahwa dia memberikan toko itu kepada 'Putri Musim Semi' sebagai ganti atas nyawanya yang hampir hilang karena sakit jantung. Besoknya, pria itu meninggal dengan tenang sambil tersenyum."

​Reggiano menutup telepon tanpa pamit. Bulu kuduknya meremang.

​Ia kembali ke kamar Elena. Adiknya sudah tidur sangat lelap, napasnya teratur dan tenang.

Reggiano mendekati vas mawar putih itu lagi. Di bawah sinar lampu yang redup, ia menyadari sesuatu yang luput dari pengamatannya tadi sore, dasar vas bunga ada dalam air yang jernih, terlihat sebuah bayangan kecil.

Bukan selayaknya bayangan bunga biasa, melainkan bayangan sesosok wanita yang sedang menari, namun saat Reggiano mengedipkan mata, bayangan itu hilang cepat sekali... hanya menyisakan pantulan wajahnya sendiri yang tampak lelah.

​"Siapa kau sebenarnya, Seraphine?" bisiknya.

​Tiba-tiba, aroma di kamar itu berubah. Bukan lagi hanya mawar dan biskuit jahe. Ada bau tanah basah yang sangat kuat, seperti aroma hutan setelah hujan badai, diikuti oleh bisikan halus yang entah berasal dari mana.

​“Kau terlalu banyak bertanya, Tuan...”

​Reggiano refleks menarik senjatanya dan berputar 180 derajat.

Kosong.

Hanya ada gorden yang tertiup angin malam. Namun, di atas meja, di samping bungkusan biskuit yang sudah kosong, kini muncul setangkai bunga melati kecil yang tadi tidak ada di sana.

​Segar, harum, dan tampak berdenyut pelan seirama dengan detak jantungnya. Kelopak bunga mawar masuk lewat celah jendela, mendarat sempurna di atas pistol milik Reggiano.

"Apa di sekitar sini ada yang menanam mawar?"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!