NovelToon NovelToon
Bahu Yang Memikul Langit Prau

Bahu Yang Memikul Langit Prau

Status: sedang berlangsung
Genre:Konflik etika / Mengubah Takdir / Keluarga
Popularitas:887
Nilai: 5
Nama Author: Nonaniiss

Sebuah kepingan masalalu pahit dan manis tentang perjuangan hidup sebuah keluarga kecil sederhana di lereng gunung Prau. Luka yang tak bisa sembuh dan kenangan yang tak bisa di hapus, hingga pada akhirnya berdamai dengan luka dan keadaan adalah jalan terbaiknya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nonaniiss, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kabut Subuh dan Punggung yang Menjauh

Lantai tanah di bawah dipan kayuku terasa seperti es yang menusuk tulang. Di luar, angin dari puncak Gunung Prau masih meraung, menyelip di sela-sela dinding anyaman bambu rumah kami yang sudah mulai renggang. Aku menarik selimut tipis, mencoba mencari sisa-sisa kehangatan yang hampir musnah.

Pukul lima pagi. Waktu di mana dunia seharusnya masih terlelap, namun di dapur kecil kami, suara denting parang dan gesekan tali sudah memulai simfoninya.

"Ibu sama Ayah berangkat dulu ya," suara lembut Ibu memecah kesunyian.

Aku merasakan sentuhan kasar namun hangat di keningku. Bau keringat yang bercampur dengan aroma asap tungku menyerbak saat Ibu mengecupku. Ia mengenakan pakaian kusam yang sudah penuh tambalan, seragam kebesarannya untuk bertarung di hutan.

Aku membuka mata sedikit, melihat Ayah yang berdiri di ambang pintu. Di bahunya melingkar beberapa gulung tali plastik dan parang yang terselip di pinggang. Sebuah pikulan kayu jati yang sudah mengilat karena sering digunakan, bersandar di dinding. Ayah tidak banyak bicara, matanya hanya menatap jalan setapak yang masih tertutup kabut tebal.

"Hati-hati, Bu... Yah..." bisikku parau.

"Jaga rumah. Jangan lupa nasinya dimakan kalau sudah lapar," pesan Ayah singkat sebelum mereka melangkah keluar.

Aku bangkit perlahan, menyeret langkah kaki menuju pintu. Dari balik pagar anyaman bambu yang menjadi batas duniaku, aku melihat dua punggung itu perlahan menghilang ditelan kegelapan dan kabut subuh. Mereka pergi menembus dingin yang menggigit, mendaki kecuraman lereng hanya untuk mengumpulkan dahan-dahan mati yang bisa ditukar dengan beberapa lembar uang kertas lecek.

Aku kembali ke dalam, menutup pintu rapat-rapat. Ruangan ini seketika terasa sangat luas dan sunyi. Aku meraih Pipit, boneka merah kain dengan wajah yang terbuat dari karet.

"Mereka sudah pergi," bisikku pada Pipit. "Hari ini kita harus jadi dewasa lagi, kan?"

Pipit tidak menjawab, ia hanya menatapku dengan mata kancingnya yang hitam. Di luar, cahaya matahari mulai mencoba menyeruak, namun bagiku, hari ini tetap terasa abu-abu. Antara keinginan untuk lari mengejar mimpi-mimpi yang sering kupendam di bawah bantal, atau sekadar bertahan hidup agar esok kami masih bisa makan. Batasnya sangat tipis, setipis helai anyaman bambu rumah ini.

Aku berjalan menuju jendela kecil di sudut ruangan, satu-satunya lubang yang membiarkan dunia luar mengintip ke dalam. Di sana, matahari mulai memenangkan pertarungannya melawan kabut Gunung Prau. Semburat warna jingga perlahan membakar sisa-sisa kedinginan yang tadi sempat membeku di lantai tanah. Aku terdiam melihat bagaimana cahaya itu merayap pelan, menyentuh kaki kursi kayu yang rapuh, lalu naik membasuh wajah Pipit yang kudelegasikan sebagai penjaga kesunyianku.

Setiap hari, aku menyaksikan ritual yang sama, kabut yang menelan orang tuaku, dan matahari yang berjanji akan membawa mereka pulang. Meski punggung mereka menghilang, jejak kaki mereka di tanah basah adalah garis kehidupan yang menjaga napas rumah ini tetap ada. Aku mengelus helai anyaman bambu dinding kami. Ia memang tipis, namun ia cukup kuat untuk menjadi saksi betapa kerasnya cinta bekerja tanpa perlu banyak kata.

Aku mengambil buku usang yang kusimpan di bawah bantal, tempat di mana mimpi-mimpiku bersembunyi dari realita yang pahit. Jika Ayah dan Ibu adalah akar yang menembus kerasnya tebing demi mencari air, maka aku harus menjadi tunas yang berani menatap langit. Aku tahu, hari-hari ke depan mungkin akan tetap berwarna abu-abu, dan angin gunung akan tetap mencoba menyelinap masuk melalui celah dinding. Namun, melihat cahaya yang kini memenuhi ruangan, aku sadar bahwa kegelapan hanyalah jeda singkat sebelum dunia kembali benderang.

Aku menarik napas dalam, membiarkan aroma kayu bakar dan harapan memenuhi dadaku. Hari ini mungkin aku harus menjadi dewasa lagi, menjaga rumah dan menunggu dengan sabar. Namun, di balik itu semua, aku percaya bahwa selama matahari masih terbit di ufuk timur, setipis apa pun dinding bambu ini, ia tidak akan pernah benar-benar runtuh oleh keputusasaan.

1
Zanahhan226
‎Halo, Kak..

‎Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!

‎Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
‎Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..

‎Ditunggu ya, kak..
‎Terima kasih..
‎🥰🥰🥰
Zanahhan226: terima kasih, Kak..
🥰🥰
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!