Alena Alexandria, sang hacker jenius yang ditakuti dunia bawah tanah, tewas mengenaskan dalam pengejaran maut.
Bukannya menuju keabadian, jiwanya justru terlempar ke dalam tubuh mungil seorang bocah terlantar berusia lima tahun.
Sialnya, yang menemukan Alena adalah Luca, remaja 17 tahun berhati es, putra dari seorang mafia dari klan Frederick.
"Jangan bergerak atau aku akan menembakmu," desis Luca dingin sambil menodongkan senjata ke arah bocah itu.
"Ampun, Om. Maafkan Queen," ucapnya, mendongak dengan mata berkaca-kaca.
"Om?"
Dapatkah Alena bertahan hidup sebagai bocah kesayangan di sarang mafia, ataukah Luca akan menyadari bahwa bocah di pelukannya adalah ancaman terbesar yang pernah masuk ke kediaman Frederick?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 10
"Kenapa wajahmu begitu? Kau habis disengat lebah?" Suara berat Luca yang dingin menggema di ambang pintu, menghancurkan suasana duka buatan yang sedang menyelimuti sofa.
Luca berdiri di sana dengan kemeja hitam yang lengannya sudah digulung, menatap Queen dengan pandangan yang sulit diartikan.
Queen, yang tadi sedang asyik meratapi nasib di balik bantal, langsung mendongak. Ia buru-buru menghapus sisa air matanya dengan kasar menggunakan punggung tangan mungilnya.
"Bukan urusan Luca! Pergi sana!" sahut Queen dengan suara cempreng yang terdengar mulai serak.
"Bukan urusanku kau bilang?" Luca melangkah masuk, aura mafianya membuat ruangan yang luas itu mendadak terasa sempit. "Ini ruang kerjaku. Sofa yang kau duduki itu harganya lebih mahal dari seluruh biaya hidupmu. Dan kau membasahinya dengan air mata?"
Alena dalam tubuh Queen merasa harga dirinya sebagai hacker elit tersenggol. Ia melempar bantal sofa itu ke arah kaki Luca.
"Ambil saja sofamu! Queen tidak butuh! Queen cuma... Queen cuma sedang mengetes apakah mata Queen masih bisa mengeluarkan air atau tidak!"
Bobby yang mengekor di belakang Luca hanya bisa geleng-geleng kepalanya.
"Luc, jangan galak-galak. Dia sepertinya mimpi buruk. Kau lihat tidak, dia sampai gemetar begitu?"
"Queen tidak gemetar! Queen kedinginan!" bantah Queen, padahal AC di ruangan itu sudah disetel pada suhu normal.
Luca menyipitkan mata. Ia berjalan mendekat, lalu berjongkok di depan sofa sehingga wajahnya sejajar dengan bocah itu.
Jarak mereka sangat dekat. Luca bisa melihat dengan jelas bulu mata Queen yang masih basah.
"Siapa yang kau tangisi dalam mimpimu tadi? Dan siapa yang kau sebut pembawa sial?" tanya Luca
Queen terdiam. Ia menatap mata tajam Luca. Ingatan tentang diseret paksa dan dipukuli dalam mimpi tadi kembali terlintas. Alena ingin berteriak bahwa dia adalah wanita dewasa yang tangguh, tapi lidah bocah lima tahun ini malah mengkhianatinya.
"Mereka bilang Queen pembawa sial," bisik Queen akhirnya. Bibirnya melengkung ke bawah, siap untuk meledak lagi. "Mereka bilang Queen harus mati saja."
Hening sesaat. Bobby bahkan sampai menahan napas, menunggu reaksi apa yang akan diberikan oleh tuan mudanya yang biasanya tidak punya empati ini.
"Cih!" Luca mendengus pendek. Ia mengulurkan tangannya, lalu dengan gerakan yang sedikit kaku, seperti orang yang tidak pernah menyentuh makhluk hidup sebelumnya, ia menepuk kepala Queen sekali.
"Mereka yang bilang begitu adalah orang-orang bodoh yang tidak punya kaca di rumahnya," ucap dingin Luca.
Queen mengerjap. "Hah?"
"Kalau kau pembawa sial, kau tidak akan selamat sampai ke mansionku," lanjut Luca sambil berdiri kembali. "Dan kalau kau harus mati, aku tidak akan membelikanmu daster pink kelinci yang sangat jelek itu semalam. Jadi berhenti menangis. Kau membuat IQ-ku turun hanya dengan melihatmu."
Queen mencebik, perasaan sedihnya mendadak menguap digantikan oleh rasa kesal. Dia menghibur atau menghina, sih? Dasar mafia tsundere!
"Luca," panggil Queen pelan.
"Apa lagi?"
"Queen lapar. Gara-gara menangis, perut Queen jadi bunyi terus," ucapnya sambil memegangi perut gembulnya dengan wajah memelas.
Luca menatap Bobby tanpa menoleh. "Bobby, dengar itu? Berikan dia makanan sebelum dia memakan sofa mahalku."
"Siap, Tuan Muda! Queen mau makan apa? Pasta? Steak?" tanya Bobby ceria.
"Ayam goreng!" seru Queen dengan mata berbinar. "Yang krispi! Yang kalau digigit bunyinya kruk-kruk!"
"Oke! Ayam goreng krispi segera meluncur!" Bobby langsung bergegas keluar, merasa lega karena suasana tegang tadi sudah mencair.
Kini tinggal Luca dan Queen di dalam ruangan. Luca berjalan menuju mejanya dan mulai membuka laptop, pura-pura sibuk. Namun, matanya sesekali melirik ke arah Queen yang sekarang sudah duduk tegak di sofa, mencoba menghapus sisa air mata di pipinya yang memerah.
"Luca," panggil Queen lagi.
"Hmm?" sahut Luca tanpa menoleh.
"Terima kasih sudah mengatakan kalau Queen bukan pembawa sial."
Luca berhenti sejenak, jemarinya membeku di atas keyboard. Ia berdehem pelan untuk menutupi kecanggungannya yang luar biasa.
"Aku hanya bicara fakta. Aku tidak suka barang-barang di rumahku disebut pembawa sial. Itu merusak reputasiku."
"Dasar gengsi," gumam Queen pelan.
"Kau bilang apa?!"
"Tidak! Queen bilang Luca sangat baik! Sangat dermawan! Dan tampan!" seru Queen dengan nada yang sangat tidak tulus, membuat Luca mendengus kesal.
Tak lama kemudian, Bobby kembali dengan satu ember ayam goreng krispi yang aromanya langsung memenuhi ruangan.
Queen tidak menunggu aba-aba. Ia segera menyambar satu paha ayam dan menggigitnya dengan ganas.
Kruk!
"Wah, pelan-pelan Queen! Kau makan seperti naga yang tidak makan seribu tahun!" tawa Bobby.
Luca memperhatikan dari jauh. Ada perasaan aneh yang menjalar di hatinya. Mansion yang biasanya terasa seperti kuburan mewah yang dingin, tiba-tiba terasa lebih hidup hanya karena suara kunyahan ayam dan ocehan tidak jelas seorang bocah.
Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama. Ponsel Luca di atas meja bergetar hebat. Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal.
[Kami tahu apa yang kau bawa pulang malam itu, Luca Frederick. Serahkan bocah itu, atau kami akan meratakan mansionmu malam ini] — Harley.
Luca meremas ponselnya hingga buku jarinya memutih. Matanya yang tadinya sedikit melunak kini kembali berubah menjadi sedingin es kutub. Ia melirik Queen yang masih asyik menjilati bumbu ayam di jarinya dengan wajah tanpa dosa.
"Jadi, bocah ini adalah barang berharga yang mereka maksud?" batin Luca.
"Bobby!" panggil Luca dengan nada yang membuat Bobby langsung berhenti tertawa.
"Ya, Luc?"
"Perketat keamanan di sektor utara. Pasang penembak jitu di setiap sudut atap. Dan jangan biarkan siapapun masuk, bahkan seekor lalat pun."
Queen, yang merasakan perubahan aura di ruangan itu, langsung menghentikan kunyahannya. Matanya yang tajam menatap Luca.
"Sepertinya waktu santai ku sudah habis. Siapa yang sedang kau lawan sekarang, Luca? Dan kenapa kau menatapku seolah aku adalah target sasaranmu?" gumam Queen.
lelaki remaja dgn anak balita 😁😁😁
ternyata Sean juga manusia biasa😌