"Kau hanyalah pemeran pengganti dalam hidupku, Shena. Jangan bermimpi lebih!"
Shena berhenti bermimpi dan memilih pergi. Tapi justru saat itulah, Devan baru menyadari bahwa rumahnya terasa mati tanpa suara Shena. Sang CEO arogan itu kini rela membuang harga dirinya hanya untuk memohon satu kesempatan kedua.
Bagaimana jadinya jika sang pembenci justru berubah menjadi pemuja yang paling gila? Masih adakah tempat untuk Devan di hati Shena yang sudah beku di Hati nya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Veline ll, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17 Badai di Depan Kamera
Pagi itu, langit Jakarta tampak mendung, seolah turut merasakan ketegangan yang menyelimuti kediaman Adiguna. Devan sudah terbangun sejak fajar, namun ia tidak langsung bersiap ke kantor. Ia berada di dapur, mencoba membuat sarapan sederhana dengan tangannya sendiri—sebuah pemandangan yang membuat Bi Inah tertegun di sudut ruangan.
"Pak, biar saya saja..."
"Tidak, Bi. Saya ingin Shena merasakan bahwa mulai hari ini, dia adalah ratu di rumah ini, bukan pelayan," jawab Devan sambil dengan hati-hati meletakkan sepiring omelet dan roti panggang di atas baki.
Namun, ketenangan itu pecah saat ponsel Devan bergetar hebat. Rian menelepon dengan suara panik.
"Pak! Segera nyalakan televisi! Sarah dan Tuan Hendrawan sedang mengadakan konferensi pers di depan gedung lama Bramantyo!"
Devan segera menyalakan televisi di ruang tengah. Di layar, tampak Sarah berdiri dengan anggun di balik mikrofon, didampingi Hendrawan yang memegang dokumen-dokumen tebal. Puluhan wartawan dari media infotainment hingga berita bisnis mengerubungi mereka.
"...pernikahan itu hanyalah kedok," suara Sarah terdengar lantang dan tajam melalui pengeras suara. "Adik tiri saya, Shena, bersama Devan Adiguna, telah memanipulasi ayah saya yang sedang sakit untuk mengalihkan aset warisan keluarga. Padahal, secara hukum adat dan wasiat kakek kami, Shena tidak memiliki hak setetes pun karena status kelahirannya yang... tidak sah."
Kilatan kamera meledak.
Pertanyaan-pertanyaan kejam mulai dilemparkan oleh wartawan. "Apakah benar Shena anak haram?" "Apakah Adiguna Group sedang di ambang kebangkrutan hingga harus mencuri tanah warisan?"
Tiba-tiba, Shena muncul di tangga. Ia telah mendengar semuanya. Wajahnya pucat pasi, matanya menatap layar televisi dengan kehampaan yang mengerikan. Rahasia terdalamnya, luka yang paling ia sembunyikan, kini menjadi konsumsi publik di seluruh negeri.
"Mas..." bisik Shena, suaranya bergetar.
"Mereka melakukannya. Mereka benar-benar menghancurkanku."
Devan langsung mematikan televisi dan berlari menghampiri Shena. Ia memeluk istrinya dengan sangat erat, seolah ingin menyerap semua rasa sakit itu ke dalam tubuhnya sendiri.
"Jangan dengarkan mereka, Shena. Jangan lihat," desis Devan. "Aku di sini. Aku tidak akan membiarkan mereka menang."
"Tapi mereka benar, Mas. Secara hukum, aku memang anak siri. Aku tidak punya nama di mata negara dibandingkan Sarah. Sekarang semua orang tahu..." Shena mulai terisak.
"Aku mempermalukan keluargamu. Papa Surya dan Mama Widya akan terseret dalam lumpur ini karena aku."
Devan melepaskan pelukannya, memegang kedua bahu Shena, dan menatapnya dengan intensitas yang tak tergoyahkan.
"Dengar aku. Statusmu tidak ditentukan oleh kertas wasiat atau kata-kata busuk Sarah. Kau adalah Shena Adiguna. Istriku. Dan jika dunia ingin membencimu, mereka harus melewatiku terlebih dahulu."
Devan meraih ponselnya kembali. "Rian! Siapkan ruang konferensi pers di kantor pusat sekarang juga! Panggil seluruh media utama. Kita akan memberikan jawaban."
Satu jam kemudian, gedung pusat Adiguna Group dikepung oleh awak media. Devan keluar dari mobil, mengenakan setelan jas hitam yang memancarkan wibawa luar biasa.
Namun, yang membuat semua orang terkesiap adalah fakta bahwa ia tidak datang sendiri. Ia menggandeng tangan Shena dengan sangat erat, membimbingnya berjalan melewati kerumunan wartawan yang berteriak ricuh.
Shena merasa seolah-olah ia sedang berjalan menuju panggung eksekusi, namun hangatnya genggaman tangan Devan memberinya kekuatan yang tidak pernah ia duga.
Di atas podium, Devan berdiri di depan puluhan mikrofon. Ia tidak tampak seperti pria yang sedang terpojok; ia tampak seperti singa yang siap menerkam.
"Selamat siang semuanya," suara Devan menggelegar, tenang namun penuh otoritas.
"Saya di sini untuk menanggapi fitnah yang dilemparkan oleh saudari Sarah Bramantyo."
"Tuan Devan! Apakah benar istri Anda anak tidak sah?" teriak salah satu wartawan.
Devan menatap wartawan itu dengan tajam hingga suasana mendadak hening.
"Istri saya adalah putri kandung dari Bapak Bramantyo dan Ibu Ratna. Tentang status administrasi masa lalu mereka, itu adalah urusan pribadi keluarga yang tidak ada hubungannya dengan integritas Shena sebagai manusia. Namun, perlu saya tegaskan..."
Devan mengangkat tangan Shena yang masih mengenakan cincin pernikahan mereka.
"Status Shena di perusahaan ini dan di hidup saya tidak didasarkan pada warisan tanah. Pagi ini, saya telah mengalihkan 30% saham pribadi saya secara mutlak atas nama Shena. Jadi, tuduhan bahwa kami mencuri tanah untuk menyelamatkan perusahaan adalah omong kosong. Tanpa tanah itu pun, Shena adalah pemilik sah dari sebagian besar kekayaan saya."
Suasana riuh seketika. Devan memberikan pengakuan publik yang sangat berisiko.
"Dan untuk Tuan Hendrawan," lanjut Devan, matanya menatap lurus ke kamera seolah sedang menantang musuhnya secara langsung. "Kami memiliki bukti keterlibatan Anda dalam penggelapan dana yayasan kakek Bramantyo selama sepuluh tahun terakhir. Dokumen itu sudah berada di tangan kepolisian sejak lima menit yang lalu. Jangan bicara soal hukum kepada saya, jika tangan Anda sendiri berlumuran lumpur."
Shena menoleh ke arah Devan, tertegun. Ia tidak tahu suaminya telah bergerak secepat dan sejauh itu untuk melindunginya.
"Satu hal lagi," Devan mendekatkan bibirnya ke mikrofon. "Siapa pun yang mulai hari ini masih menggunakan kata-kata menghina terhadap identitas istri saya, akan berhadapan langsung dengan tim hukum Adiguna Group. Pertemuan selesai."
Devan menarik Shena pergi dari podium sebelum para wartawan sempat bereaksi. Di dalam lift yang sepi, Shena menyandarkan tubuhnya ke dinding, napasnya tersengal-sengal.
"Mas... kenapa kau melakukan itu? 30% saham? Itu gila. Kau bisa kehilangan kendali perusahaan."
Devan mendekati Shena, mengunci tubuh wanita itu di antara lengannya. Ia tidak peduli pada saham atau perusahaan saat ini.
"Aku sudah bilang padamu, bukan? Aku lebih baik kehilangan tahta daripada kehilanganmu," bisik Devan. "Sekarang dunia tahu siapa kau. Kau bukan lagi bayangan Sarah. Kau adalah Nyonya Adiguna yang memiliki segalanya."
Shena menatap mata Devan, mencari sedikit saja keraguan, namun yang ia temukan hanyalah cinta yang dalam dan murni. Untuk pertama kalinya sejak kepulangannya, Shena tidak lagi merasa seperti tamu di rumah Devan. Ia merasa benar-benar pulang ke tempat yang seharusnya.
Namun, di sudut gelap ruangan konferensi pers yang mulai sepi, Sarah berdiri dengan wajah yang pucat pasi. Ia baru saja melihat tunangannya, Mark, mengiriminya pesan singkat: "Hubungan kita berakhir. Aku tidak ingin terlibat dalam kehancuran hukum keluargamu."
Sarah meremas ponselnya hingga layarnya retak. "Kau pikir kau menang, Shena? Jika aku tidak bisa mendapatkan harta itu, maka tidak ada satu pun dari kalian yang boleh bahagia!"
Sarah mengeluarkan sebuah kartu nama dari tasnya. Nama yang tertulis di sana adalah: Adrian. Pria yang tempo hari gagal membawa Shena ke Singapura.