NovelToon NovelToon
MASALALU YANG MENGANTAR KEBAHAGIAAN

MASALALU YANG MENGANTAR KEBAHAGIAAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Mertua Kejam / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Penyesalan Suami
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: zanita nuraini

Naya percaya cinta cukup untuk mempertahankan pernikahan.

Namun tekanan dari ibu mertua yang terus menuntut keturunan, ditambah kemunculan masa lalu suaminya dengan sebuah kenyataan pahit, membuat hidup Naya perlahan runtuh.
Ini bukan kisah perempuan yang kalah, melainkan tentang Naya—yang pergi, bangkit, dan menemukan bahagia yang benar-benar ia pilih.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zanita nuraini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB. 10. Langkah Baru Di Kota

Pagi itu Desa Sukamerta diselimuti kabut tipis. Udara terasa lembap, seolah enggan melepaskan siapa pun yang hendak pergi. Naya berdiri di halaman rumahnya dengan gamis sederhana dan tas kecil di tangan. Beberapa karung berisi pakaian dan barang penting telah tersusun rapi di sudut teras. Tidak banyak yang ia bawa. Ia sengaja tidak ingin membawa terlalu banyak kenangan.

Pandangan Naya tertuju pada kebun di samping rumah. Tanah itu masih basah oleh embun. Barisan tanaman yang selama ini ia rawat dengan tangan sendiri tampak diam, seolah ikut menunggu. Di sanalah ia bertahan hidup sejak remaja. Di sanalah ia belajar sabar, belajar ikhlas, belajar berdamai dengan keadaan.

Dadanya terasa sesak.

Ini bukan akhir, ia berusaha menenangkan diri. Aku hanya berpindah tempat, bukan menyerah.

Namun hatinya tahu, meninggalkan kebun itu bukan perkara ringan. Ia seperti menitipkan sebagian dirinya pada orang lain. Ada rasa takut—takut tanah itu tak lagi dirawat dengan cinta yang sama, takut ia tak lagi menjadi bagian utuh dari kehidupan yang pernah ia bangun.

Adit berdiri di sampingnya, memperhatikan wajah istrinya yang tampak tenang tetapi jelas menyimpan pergulatan. Ia bisa melihat sorot mata Naya yang berusaha kuat, meski di dalamnya ada banyak hal yang sedang dilepaskan.

“Kamu yakin?” tanya Adit pelan, bukan karena ragu, tetapi karena ingin memastikan sekali lagi.

Naya mengangguk, meski matanya sedikit berkaca-kaca. “Aku sudah niat, Mas.”

Adit tidak berkata apa-apa lagi. Ia tahu, di balik kalimat singkat itu, ada keberanian yang besar.

Tak lama kemudian, Bu Sulastri datang menghampiri. Wajah perempuan itu tampak sendu, tetapi ia berusaha tersenyum. Tanpa banyak bicara, ia langsung memeluk Naya. Pelukan itu erat, hangat, dan lama—seolah ingin menyampaikan semua pesan yang tak terucap.

“Jaga diri baik-baik di kota,” ucap Bu Sulastri lirih. “Kalau capek, ingat… kamu selalu punya rumah di sini.”

Naya mengangguk sambil menahan air mata. “Terima kasih, Bu.”

Ia melepaskan pelukan itu dengan berat. Tidak ada pesta perpisahan, tidak ada keramaian. Kepergiannya sunyi, hampir tak terdengar.

Namun justru di situlah perihnya.

Motor matic tua itu mulai melaju meninggalkan desa. Naya duduk di belakang Adit, memegang ujung gamisnya agar tidak tersingkap angin. Jalanan yang mereka lewati semakin menjauh dari kebun, dari rumah, dari kehidupan yang selama ini ia kenal.

Angin pagi menerpa wajahnya. Perlahan, bau tanah basah berganti dengan aroma asap dan debu jalanan. Naya menatap lurus ke depan, tetapi pikirannya berkelana. Ia merasa seperti seseorang yang sedang belajar bernapas di dunia baru.

Apakah aku akan baik-baik saja di sana? batinnya bertanya.

Ia tidak tahu seperti apa kehidupan kota nanti. Yang ia tahu, ia telah memilih mengikuti suaminya. Pilihan itu bukan tanpa takut, bukan tanpa ragu. Namun ia percaya, selama ia berada di sisi Adit, ia tidak benar-benar sendirian.

Di depan, Adit fokus pada jalan. Bahunya sedikit tegang, menahan lelah dan tanggung jawab yang kini sepenuhnya ia pikul. Di balik keheningan perjalanan itu, ada tekad yang sama-sama mereka simpan: apa pun yang menunggu di kota, mereka akan menghadapinya bersama.

Motor itu terus melaju, membawa mereka menjauh dari Sukamerta—dan membawa Naya pada langkah baru yang belum sepenuhnya ia pahami, tetapi telah ia terima dengan hati yang bergetar.

Motor itu akhirnya berhenti di depan sebuah rumah kecil di pinggiran kota. Naya turun perlahan, kakinya terasa sedikit kaku setelah perjalanan panjang. Ia menatap sekeliling dengan pandangan hati-hati. Tidak ada sawah, tidak ada kebun luas. Yang ada hanya deretan rumah sederhana, jalan sempit, dan suara kendaraan yang tidak pernah benar-benar berhenti.

“Inilah rumah kita,” kata Adit sambil membuka pintu.

Naya melangkah masuk. Rumah itu kosong, hanya diisi beberapa perabot dasar—kasur, meja kecil, dan lemari sederhana. Tidak ada hiasan, tidak ada aroma kehidupan. Namun rumah itu bersih dan cukup terang.

“Kita isi pelan-pelan,” lanjut Adit, seolah membaca pikiran Naya.

Naya tersenyum tipis. “Tidak apa-apa. Rumah bukan soal isinya.”

Ia meletakkan tasnya di sudut ruangan, lalu berdiri sejenak di tengah rumah. Ada rasa asing yang sulit dijelaskan. Rumah ini bukan hasil jerih payahnya, bukan tempat ia tumbuh. Namun di sinilah ia harus belajar menanam ulang dirinya.

Hari-hari pertama berlalu dengan penuh penyesuaian. Naya bangun pagi seperti biasa, tetapi yang ia dengar bukan lagi kokok ayam atau desir angin di kebun. Ia terbangun oleh suara kendaraan dan langkah kaki tetangga yang tergesa-gesa. Awalnya, ia sering terdiam lama di ambang pintu, mencoba mengatur napas agar tidak merasa tersesat.

Ia mulai mengenal lingkungan sekitar. Menyapa tetangga dengan senyum sopan, bertanya arah pasar, menghafal rute angkot meski jarang ia gunakan. Di pasar, ia belajar menawar dengan gaya kota yang lebih cepat dan tegas. Beberapa pedagang memandangnya heran dengan gamis panjang dan hijab menutup dada, tetapi Naya tetap bersikap tenang.

Aku tidak perlu berubah untuk diterima, katanya dalam hati.

Di rumah, ia mengisi hari dengan pekerjaan sederhana. Memasak, membersihkan rumah, dan menunggu Adit pulang. Sesekali ia duduk di dekat jendela, memandangi jalanan yang tak pernah benar-benar sepi. Ada kerinduan yang muncul tiba-tiba, terutama saat tangannya kosong—tak ada tanah untuk digenggam, tak ada tanaman untuk dirawat.

Namun Adit tampak jauh lebih tenang. Ia pulang tepat waktu, wajahnya tidak lagi terlalu lelah. Tidak ada lagi perjalanan panjang yang menguras tenaga. Setiap kali membuka pintu dan melihat Naya menunggunya, ada rasa pulang yang dulu sempat hilang.

“Kita sekarang benar-benar satu rumah,” kata Adit suatu sore sambil melepas sepatu.

Naya tersenyum kecil. “Iya.”

Malam-malam mereka diisi dengan hal-hal sederhana. Salat berjamaah, makan seadanya, lalu berbincang pelan sebelum tidur. Tidak banyak rencana besar. Tidak ada mimpi muluk. Hanya keinginan untuk bertahan dan hidup dengan tenang.

Adit sering memperhatikan Naya diam-diam. Istrinya tidak banyak mengeluh. Padahal ia tahu, perpindahan ini bukan hal mudah. Naya masih mengenakan pakaian sederhana seperti di desa, tetapi caranya berdiri, caranya menatap sekitar, kini terlihat lebih teguh.

“Kamu kuat,” ucap Adit suatu malam.

Naya tersenyum tanpa menjawab. Ia tidak merasa kuat. Ia hanya tidak ingin membuat suaminya merasa bersalah.

Di balik ketenangan itu, Naya tahu hidup mereka belum benar-benar aman. Kota ini besar. Terlalu besar untuk bersembunyi selamanya. Namun untuk saat ini, ia memilih menikmati hari-hari yang tenang. Menyimpan kecemasan di sudut hati yang paling dalam.

Di tengah hari-hari yang mulai terasa tertata, Naya merasakan sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan dengan kata-kata. Bukan kegelisahan yang nyata, melainkan firasat halus yang muncul tanpa sebab. Setiap kali berdiri di depan jendela, memandangi lalu lintas kota, dadanya sering terasa sedikit sesak.

Ia mencoba menepis perasaan itu. Ini hanya penyesuaian, katanya pada diri sendiri.

Namun bayangan Ratna kerap hadir tanpa diundang. Bukan dalam wujud kemarahan, melainkan sebagai bayangan kuasa yang belum benar-benar pergi. Naya tahu, perempuan seperti mertuanya tidak akan diam selamanya. Ratna terbiasa mengendalikan keadaan, dan kehilangan kendali bukan sesuatu yang mudah ia terima.

Sementara itu, di tempat lain, Ratna semakin tidak tenang. Ia sudah mengetahui bahwa Adit tidak lagi tinggal di desa. Informasi itu datang dari beberapa jalur, meski tidak ada satu pun yang bisa memberi alamat pasti.

“Dia sengaja menjauh,” gumam Ratna sambil menggenggam ponselnya erat.

Ia mulai menghubungi orang-orang yang pernah bekerja dengan Adit. Menanyakan kantor barunya, lingkar pergaulannya, bahkan kebiasaan sehari-harinya. Tidak semua pertanyaan mendapat jawaban, tetapi Ratna tidak kehabisan cara. Semakin sedikit informasi yang ia dapat, semakin besar keinginannya untuk menemukan.

Ratna tidak berniat datang membawa damai. Ia datang dengan niat memastikan bahwa pilihannya tetap yang paling benar.

Di rumah kecil pinggiran kota itu, Adit dan Naya mulai menata mimpi sederhana. Adit berbicara tentang pekerjaan yang ingin ia stabilkan. Naya mendengarkan dengan penuh perhatian, sesekali memberi tanggapan kecil. Ia tidak lagi membayangkan hidup besar. Baginya, cukup jika hari esok masih bisa mereka lalui bersama.

“Aku ingin hidup kita tenang,” kata Adit suatu malam. Naya mengangguk. “Aku juga.”

Namun Naya tidak sepenuhnya jujur pada perasaannya sendiri. Ada ketakutan yang ia simpan rapat-rapat. Takut suatu hari Ratna muncul di depan rumah mereka. Takut ia kembali menjadi alasan perpecahan. Dan takut, kebahagiaan yang ia rasakan saat ini hanyalah jeda sebelum ujian yang lebih besar.

Malam itu, setelah Adit tertidur, Naya bangun dan melaksanakan salat. Dalam sujudnya, ia kembali memohon keteguhan hati. Bukan untuk terhindar dari ujian, melainkan agar ia kuat menjalaninya.

“Apa pun yang terjadi,” bisiknya lirih, “jangan biarkan hamba goyah.”

Keesokan paginya, kehidupan kembali berjalan seperti biasa. Adit berangkat bekerja. Naya merapikan rumah. Tidak ada tanda bahaya. Tidak ada suara keras. Semuanya tampak normal.

Di kejauhan, roda takdir mulai bergerak perlahan. Ratna belum menemukan mereka, tetapi pencariannya belum berhenti. Dan Naya, meski berusaha tenang, tahu satu hal dengan pasti

Selamat pagi readers selamat membaca,,

Like komen vote subscribe dan hadiah nya ya..terimakasih.

1
sherapine
bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!