NovelToon NovelToon
Dua Pergi Satu Bertahan

Dua Pergi Satu Bertahan

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Romansa / Idola sekolah
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Tatie Hartati

Ada tiga remaja putri bersahabat mereka adalah Tari, Tiara , dan Karin mereka mempunyai pasangan masing-masing. dan pasangan mereka adalah sahabatan juga termasuk geng brotherhood pasangan Tari adalah Ramdan, pasangan Tiara adalah Bara dan pasangan ketiga ada Karin sama Boby.. karena ada sesuatu hal ketiga cowok itu membuat pasangan mereka kecewa dengan kejadian yang berbeda - beda namun dia antara 3 pasangan itu hanya Tari dan Ramdan yang bertahan karena Tari memberikan kesempatan kembali kepada Ramdan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tatie Hartati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 12 Dua Jejak di Langit Minggu

Ramdan melangkah masuk ke dalam rumahnya yang luas namun terasa begitu senyap. Hanya suara detak jam dinding yang menyambutnya dengan setia sejak kedua orang tuanya menetap di Kalimantan untuk mengelola perusahaan tambang. Biasanya, Ramdan akan langsung ke kamar, berkutat dengan buku matematika atau draf OSIS sampai tertidur.

Ia duduk di sofa ruang tamu, menatap langit-langit. Pikirannya masih tertinggal di rumah Tari—di momen shalat asar tadi, di aroma martabak, dan di tawa Pak Bambang.

Ceklek.

Suara pintu terbuka membuat Ramdan menoleh. Sosok Pak Ahmad masuk dengan wajah lelah namun matanya berbinar saat melihat putranya.

Ramdan langsung bangkit dan menghampiri ayahnya. Tanpa banyak kata, ia menyalami tangan pria itu, lalu tiba-tiba Pak Ahmad menariknya ke dalam pelukan hangat, pelukan yang sudah berbulan-bulan tidak Ramdan rasakan.

"Ayah kangen kamu, Jagoan. Maafin Ayah sama Ibu yang jarang ada di sini," bisik Pak Ahmad sambil menepuk punggung tegap putranya.

Ramdan terdiam, ia memejamkan mata sejenak, menikmati aroma khas ayahnya yang menenangkan. "Ramdan nggak apa-apa, Yah. Ramdan ngerti Ayah sibuk di site tambang."

Mereka pun duduk bersama di ruang tengah. Pak Ahmad mulai bercerita tentang betapa senangnya dia melihat Ramdan sudah tumbuh menjadi pria yang bertanggung jawab. "Tadi di rumah Bambang, Ayah beneran bangga. Kamu bukan cuma pinter ngurus organisasi, tapi pinter jaga anak orang juga ya? Bambang itu sahabat lama Ayah, dia seneng banget kamu ada buat jagain Tari."

Ramdan tersenyum tipis, rasa rindu yang tadinya menyesak kini perlahan mencair berganti rasa hangat. Di rumah yang biasanya sepi , senja itu terasa begitu hidup, hanya karena kehadiran sang Ayah.

Suara adzan Magrib berkumandang, memecah kesunyian rumah besar yang selama ini terasa dingin bagi Ramdan. Ramdan melirik jam dinding, lalu menatap ayahnya yang masih sibuk dengan berkas di meja makan.

"Yah, Ramdan ke kamar dulu ya, mau shalat Magrib," pamit Ramdan sopan.

Pak Ahmad tertegun. Penanya berhenti menari di atas kertas. Ia menatap punggung putranya yang sudah tumbuh tegap itu. Tiba-tiba, ada rasa sesak yang menghantam dadanya,rasa malu yang luar biasa. Ia adalah pengusaha sukses, pemilik tambang dengan ribuan karyawan, tapi ia lupa kapan terakhir kali ia bersujud di hadapan Sang Pemilik Semesta.

"Ndan..." panggil Pak Ahmad, suaranya parau.

Ramdan berhenti dan berbalik. "Iya, Yah?"

"Boleh Ayah... ikut?" tanya Pak Ahmad ragu. Matanya berkaca-kaca. "Ayah sudah terlalu lama 'bolong', Ndan. Ayah nggak tahu apa Tuhan masih mau denger doa orang kayak Ayah yang cuma inget harta."

Ramdan terdiam, matanya menatap haru pada sosok pria hebat di depannya. IaIu mendekat, menggenggam tangan ayahnya yang terasa kasar karena kerja keras.

"Pintu langit nggak pernah dikunci buat Ayah. Ayo, Yah... Ramdan imamin."

Di kamar itu, di bawah temaram lampu senja, sejarah baru tercipta. Pak Ahmad menangis sesenggukan dalam sujudnya, merasa tertampar oleh keshalehan anaknya yang selama ini ia tinggal di Jakarta hanya demi mengejar materi berlimpah. Ternyata, permata paling berharga miliknya bukan ada di perut bumi Kalimantan, tapi ada di atas sajadah ini.

Pukul 20.00 WIB. Ramdan sudah duduk tegak di kursi belajarnya. Di hadapannya bukan lagi draf OSIS, melainkan tumpukan buku kalkulus dan materi lomba tingkat nasional. Suasana kamar begitu hening, hanya ada suara gesekan pulpen dan detak jam dinding yang menemani.

Di sudut meja, ponselnya bergetar hebat. Layarnya menyala berkali-kali notifikasi dari "Geng Receh" masuk seperti air bah. Tanpa ekspresi, Ramdan membalikkan ponselnya. Layar menghadap meja. Silent mode: ON.

"Fokus, Ndan. Kalimantan depan mata," gumamnya pada diri sendiri.

Dua jam berlalu tanpa terasa. Saat jarum jam menunjuk angka 22.00, Ramdan meregangkan otot lehernya yang kaku. Ia meraih ponselnya dan... BOOM!

Ratusan notifikasi WhatsApp menumpuk. Tapi ada satu yang menarik perhatiannya. Bukan dari grup Geng Receh yang isinya sudah 300+ pesan, melainkan sebuah undangan masuk ke grup baru:

"PANITIA PENSI HARMONI CINTA 🎸".

Adminnya? Siapa lagi kalau bukan Tari.

Ramdan tertegun melihat nama grupnya. "Harmoni Cinta..." ucapnya pelan dengan sudut bibir yang terangkat tipis. Ia meng-scroll daftar anggota, lalu berhenti di foto profil Tari yang sedang tersenyum manis. Rasa lelah setelah dua jam menghitung limit dan integral mendadak hilang, digantikan oleh debaran halus yang lebih sulit dihitung rumusnya.

Grup WA: PANITIA PENSI HARMONI CINTA 🎸]

Tari: "Assalamualaikum dan selamat malam semuanya! Selamat bergabung di grup Panitia Pensi Harmoni Cinta. ✨"

Tari: "Grup ini dibuat untuk memudahkan koordinasi kita ke depannya ya. Tolong kerja samanya, jaga komunikasi, dan jangan ada yang ghosting kalau di-chat soal progres tugas. Semangat semuanya! 💪❤️"

Tiara: "Walaikumsalam, Bu Sekretaris! Siaaap! Semangat membara kayak api unggun! 🔥💃"

Alvin: "WADUH! WADUH Harmoni Cinta' katanya... Gue tebak sih ini harmoni antara Waketos sama Sekretaris ya? Hahaha! @Ramdan mana nih? Kok diem aja? Baru join langsung syok liat nama grupnya? Hahaha!"

Tari: "@Alvin ih jangan mulai deh! Nama itu kan hasil rapat kemarin! @Ramdan maaf ya Ndan, Alvin emang gitu orangnya. 😭"

Ramdan: "@all karena tugas aku sebagian diserahkan pada Tari, karena aku hari Sabtu ada lomba matematika tingkat nasional dan tempatnya di Kalimantan."

Tiara: "HAH?! KALIMANTAN?! Jauh banget Ndan! Semangat ya ampun, bawa pulang medali emas buat sekolah kita! 🥇✨"

Arga (Ketos): "Gokil! Semangat Ndan! Pantesan lo bagi tugas, ternyata mau tempur di pulau seberang. Good luck ya, fokus lombanya!"

Pajar: "Waduh, LDR-an dong kita sama Waketos? Eh maksud gue, Tari yang LDR-an ya? Hahaha! @Tari semangat ya jagain 'amanah' dari Ramdan! 😂"

Alvin: "WADUH! WADUH! WADUH! Kalimantan itu luas Ndan, jangan sampe lo nyasar di hati orang sana ya, inget ada yang nungguin di Jakarta! Hahaha! @Ramdan @Tari"

Tari: "Lho, Sabtu besok Ndan? Kok mendadak banget? 😮 Iya, Ndan... insya Allah amanah kamu aku jalanin sebaik mungkin di sini. Kamu fokus lomba ya, jangan mikirin pensi dulu. Semangat, Ramdan! ✨"

Ramdan: "@Tari, @Arga kalian berdua emang pinter acting ya. Kan kalian udah tahu semuanya dari kemarin-kemarin.

(Hening sejenak di grup...)

Grup panitia sepi akhirnya, Ramdan langsung buka grup Wa geng receh

[Grup WA: GENG RECEH ANTI REVISI 🤘]

Alvin: "WOY! Besok pagi kumpul jam 8 ya di Taman Kota. Jangan ada yang ngaret, apalagi yang janjian mau pake baju couple!"

Bara: "Siapa yang couple-an? Lo sama tripod kamera? Hahaha!"

Alvin: "Bukan gue, itu tuh... Pak Waketos kita tercinta sama Bu Sekretaris. Kabarnya besok wawancara cuma kedok, aslinya mau kencan berbalut tugas Bahasa Indonesia! @Ramdan keluar lo, jangan pura-pura ngitung logaritma!"

Ramdan: "Udah kalian tidur semuanya. Besok kumpul jam 09.00. Kita nggak ada waktu banyak karena narasumbernya sibuk."

(Hening sejenak di grup... 1 menit kemudian...)

Tari: "@Ramdan Aduh Waketos sok sibuk... kamu kan narasumbernya? 😂 Kita sengaja wawancara Waketos karena Pak Ketos udah diambil kelompok lain. Jadi narasumber sibuk yang kamu maksud itu... kamu sendiri, Ndan?"

Ramdan: "@Tari Iya, aku baru beres belajar matematika." (Niatnya biar kelihatan produktif dan berwibawa).

Alvin: "Alah! Bisa aja ngelesnya! Belajar matematika katanya... padahal mah lagi belajar mencintai Tari! Ngaku lo, Ndan! Logaritma apa Logar-rindu nih? Hahaha!" 🥁💥

Raihan: "GOOOOLLL!! Alvin tendangannya lurus ke gawang hati! Hahaha!"

Tari: "@Alvin Heh! Jangan sembarangan ya! Nanti Ramdan nggak mau jadi narasumber kita gimana?!" (Padahal di balik layar, Tari lagi senyum-senyum sampe guling-guling di kasur).

Tiara: "@Alvin 100% buat Alvin! Lagian susah banget sih kalian go public-nya?! Kita capek lho jadi tempat penyimpanan rahasia! Berasa jadi agen FBI gue jagain rahasia kalian berdua! 🙄💅"

Pajar: "@Tiara Sebenernya tanpa go public pun satu sekolah udah tahu kalau mereka itu pasangan. Kan mereka Couple Goals yang bikin baper berjamaah. Tiap mereka jalan berdua di koridor, udara sekolah mendadak bau-bau pelaminan tau gak!" 🏛️💍

Ramdan: "Eh Jar, @Pajar, kelas lo kan udah beres wawancara, berarti besok lo jangan datang ya. Ganggu aja. 🤣" (Ciee, Waketos mulai protektif nih!).

Ramdan akhirnya menyerah. Setelah ledekan Alvin, Tiara, dan Pajar yang makin menjadi-jadi di grup, ia memilih untuk benar-benar mematikan data selulernya. Kalau diteruskan, bisa-bisa ia tidak akan bisa belajar matematika dengan tenang.

Namun, sebelum benar-benar meletakkan ponselnya di nakas, satu notifikasi pesan pribadi masuk. Dari Tari.

Tari: "Ndan, tidur ya. Jangan dipikirin ledekan Alvin sama Pajar tadi. Sampaiketemu besok jam 09.00 di Taman Kota, Pak Narasumber Terhormat. 👋"

Ramdan menatap layar itu cukup lama. Ia tidak membalas lagi, namun ia melakukan sesuatu yang belum pernah ia lakukan sebelumnya. Ia menekan foto profil Tari, lalu menyimpannya ke galeri ponsel.

Di luar sana, angin malam bertiup kencang, tapi di dalam hati Ramdan,ada hangat yang baru saja bermekaran. Besok pagi, bukan hanya data wawancara yang harus ia siapkan, tapi juga jantung yang harus lebih kuat menghadapi tatapan Tari di bawah pohon trembesi.

Minggu pagi, pukul 04.15 WIB.

Saat sebagian besar remaja seusianya masih terbuai mimpi,atau mungkin baru saja memejamkan mata setelah begadang main game,Ramdan sudah terjaga. Tanpa bantuan alarm yang berisik, jam biologisnya sudah bekerja dengan sempurna.

Ramdan mendudukkan diri di pinggir tempat tidur, mengusap wajahnya pelan sambil mengucap syukur. Suasana kamarnya masih remang, hanya diterangi lampu meja yang temaram. Udara dingin khas fajar menyusup lewat celah jendela, tapi tak sedikit pun menyurutkan langkahnya menuju kamar mandi.

Byur! Segarnya air wudu menghapus sisa-sisa kantuk sekaligus mendinginkan sisa-sisa sesak di dadanya akibat kejadian di lapangan kemarin soal Arga. Ramdan kembali ke kamar, mengenakan sarung tenun rapi dan baju koko putih bersih yang aromanya segar karena baru disetrika.

Di atas sajadah, ia berdiri tegak. Suasana rumah masih sangat sepi, hanya terdengar suara detak jam dinding dan sayup-sayup lantunan ayat suci dari masjid komplek.

"Allahu Akbar..."

Selesai salam, Ramdan tidak langsung beranjak. Ia mengambil Al-Qur'an kecil yang selalu ada di meja belajarnya. Membukanya perlahan, lalu mulai melanjutkan hafalannya. Suaranya yang rendah dan merdu memenuhi keheningan subuh itu, seolah sedang mengirimkan doa-doa lewat udara pagi.

Di pagi hari yang indah dan segar, Ramdan sudah merapikan kerah bajunya, tas berisi buku catatan dan alat tulis sudah tersampir rapi di bahu. Ia melangkah menuju teras depan tempat Pak Ahmad sedang menikmati udara pagi.

"Yah, Ramdan izin berangkat sekarang ya. Mau ke Taman Kota, ada tugas wawancara buat pelajaran Bahasa Indonesia," pamit Ramdan sambil meraih tangan Ayahnya untuk bersalam.

Pak Ahmad menerima salaman putranya, tapi tidak langsung melepaskannya. Beliau menatap Ramdan dengan sorot mata jenaka yang sangat familiar.

"Oalah... tugas Bahasa Indonesia ya?" Pak Ahmad manggut-manggut sambil menahan senyum. "Kirain Ayah, kamu mau ngerjain tugas wawancara khusus..."

Ramdan mengerutkan dahi. "Tugas khusus apa, Yah?"

"Itu lho... wawancara eksklusif dari seorang calon Imam kepada calon Makmum cantiknya yang namanya Tari," goda Pak Ahmad telak. "Hati-hati lho, Ndan. Wawancara makmum itu harus pakai hati, jangan pakai tata bahasa baku terus, nanti dia malah bosen!"

SKAKMAT! Wajah Ramdan yang biasanya setenang air di waduk, mendadak berubah warna jadi merah padam. Dia langsung memalingkan wajah, pura-pura sibuk membetulkan letak tasnya yang sebenarnya sudah pas.

"Ayah... ini beneran tugas kelompok kok," bantah Ramdan pelan, meskipun suaranya sedikit pecah karena salting.

Ramdan cuma bisa geleng-geleng kepala sambil berjalan cepat menuju motornya. .

Ramdan mematikan mesin motornya tepat di depan gerbang Taman Kota yang mulai ramai oleh warga yang berolahraga pagi. Dari kejauhan, di bawah pohon beringin yang rindang, ia sudah bisa melihat siluet teman-temannya.

Ada Pajar yang sibuk mengalungkan kamera, Raihan yang lagi asyik makan cilok, dan tentu saja... Tari, yang berdiri anggun mengenakan hoodie pastel, tampak sedang membolak-balik buku paket Bahasa Indonesia.

Begitu Ramdan melepas helm dan berjalan mendekat, Raihan langsung berdiri sambil pasang pose hormat.

"WADUH! WADUH! WADUH! Sang Imam kita sudah sampai!" teriak Raihan tanpa dosa, suaranya sampai bikin beberapa orang yang lagi jogging menoleh. "Telat lima menit, Ndan! Habis latihan baca khutbah ya di rumah?"

Pajar langsung menyambar dengan kamera yang sudah standby. "Tahan, Ndan! Liat sini! Ini judul fotonya: Waketos Mencari Makmum di Antara Debu Kota. Mantap!"

Ramdan cuma bisa menghela napas panjang, berusaha mengontrol deg-degan di dadanya. Begitu sampai di depan mereka, matanya tak sengaja bertemu dengan mata Tari.

"Udah... udah. Jangan mulai deh," sahut Ramdan berusaha tegas, padahal suaranya sedikit serak. "Tari, materi wawancaranya sudah siap?"

"Sudah dong " kata Tari

"Oke, oke, ganti haluan!" seru Alvin sambil nepuk meja taman. "Kita simulasi wawancara Bahasa Indonesia, tapi topiknya: Suka Duka Jadi Waketos. Ramdan, lo narasumbernya. Siap?"

1. Penanya: Alvin (Si Tukang Kepo)

Pertanyaan: "Ndan, jujur ya, apa sih beban terberat jadi Waketos pas Ketosnya modelan Arga yang rada random kayak gitu?"

Jawaban Ramdan: "Bebannya itu harus jadi penyeimbang. Kalau Arga gaspol dengan ide-ide gila, saya yang harus jadi rem buat pastiin semuanya sesuai prosedur. Capek, tapi itu seninya kolaborasi."

2. Penanya: Karin (Si Pengamat)

Pertanyaan: "Selama menjabat, pernah nggak lo ngerasa pengen resign gara-gara tekanan dari guru atau temen-temen yang nggak kooperatif?"

Jawaban Ramdan: "Pernah, tapi saya inget lagi niat awal. Jabatan itu amanah, bukan beban. Kalau saya mundur cuma karena tekanan, berarti saya belum layak dapet tanggung jawab yang lebih gede nanti di masa depan."

3. Penanya: Bara (Si Serius)

Pertanyaan: "Ndan, gimana cara lo ngebagi waktu antara tugas Waketos yang bejibun sama hafalan Al-Qur'an lo yang tetep jalan terus?"

Jawaban Ramdan: "Manajemen waktu itu soal skala prioritas. Saya cicil hafalan pas subuh dan sebelum tidur. Kalau di sekolah fokus OSIS. Intinya, jangan kasih celah buat waktu terbuang sia-sia."

4. Penanya: Boby (Si Santuy)

Pertanyaan: "Ndan, ada nggak sih fasilitas atau 'keuntungan' khusus jadi Waketos yang paling lo nikmatin?"

Jawaban Ramdan: (Senyum tipis) "Keuntungannya bukan fasilitas, tapi akses buat kenal banyak orang dan belajar sabar menghadapi berbagai karakter. Itu ilmu yang nggak ada di buku paket manapun."

5. Penanya: Tiara (Si Detail)

Pertanyaan: "Menurut lo, apa skill paling penting yang harus dimiliki seorang Waketos biar nggak cuma jadi 'pajangan' doang di samping Ketos?"

Jawaban Ramdan: "Komunikasi dan ketelitian. Waketos itu tulang punggung administrasi dan eksekusi. Kalau kita nggak teliti, program kerja Ketos bisa berantakan semua."

6. Penanya TERAKHIR: Tari (Si Sekretaris Teliti)

Pertanyaan: (Natep Ramdan serius tapi lembut) "Ramdan... kalau nanti kamu pindah ke luar pulau, apa kamu yakin pengganti kamu di sini bisa sejalan sama visi-misi yang udah kita susun bareng-bareng?"

Jawaban Ramdan: (Suasana mendadak deep) "Sistem yang baik itu nggak bergantung sama satu orang, Ri. Saya yakin, pondasi yang udah kita bangun—termasuk kamu di dalamnya—bakal tetep kuat. Saya pergi buat belajar, bukan buat ninggalin tanggung jawab. Saya titip OSIS, dan... saya titip semangat saya di sini."

Di tengah keributan saling tunjuk yang makin nggak berujung, Ramdan akhirnya mengangkat tangan, menghentikan perdebatan Raihan dan Alvin.

"Cukup," suara Ramdan tenang tapi tegas. "Editor biar sama aku aja. Gak usah ribut lagi. Pajar, Alvin, tolong kirim semua filenya ke aku langsung sore ini lewat Cloud."

Semua orang terdiam, merasa lega sekaligus kagum. Memang cuma

Ramdan yang bisa jadi "pemadam kebakaran" di saat kritis begini.

Ramdan mulai mengemasi barang-barangnya dengan gerakan cepat. "Oke, karena masalah editor sudah beres, sorry ya guys, aku harus balik duluan."

"Lho, buru-buru amat, Ndan? Gak ikut makan bakso dulu?" tanya Alvin heran.

Ramdan memakai helmnya, lalu menatap teman-temannya satu per satu, dan terakhir tatapannya tertahan agak lama di mata Tari. "Aku mau nganterin Papa ke bandara sekarang. Papa mau balik lagi ke Kalimantan siang ini."

"Papa kasihan sama Mama di sana sendirian," lanjut Ramdan pelan. "Aku nggak mau Papa telat check-in. Aku duluan ya. Assalamualaikum."

Ramdan langsung memacu motornya meninggalkan area Taman Kota. Meninggalkan teman-temannya yang masih terpaku, terutama Tari yang hanya bisa menatap punggung Ramdan yang kian menjauh dengan perasaan campur aduk. Ada rasa bangga, tapi juga ada rasa sedih yang menyelinap—menyadari bahwa sebentar lagi, Ramdan-lah yang akan berada di posisi Papanya, pergi menuju pulau seberang.

Suasana di warung bakso pinggir Taman Kota lagi seru-serunya. Raihan udah habis satu mangkok, Pajar sibuk mindahin foto, dan Tari cuma ngaduk-ngaduk es tehnya dengan tatapan kosong—masih kepikiran Ramdan yang buru-buru ke bandara tadi.

Tiba-tiba... Ting! HP Alvin bunyi nyaring.

"Bentar-bentar, ada chat dari Sang Imam," ujar Alvin sambil buka WhatsApp. Detik berikutnya, matanya hampir keluar liat notifikasi m-banking. "WADUH! WADUH! WADUH! Gila lo, Ndan!"

"Kenapa, Vin? Ramdan kecelakaan?" tanya Tari panik, wajahnya langsung pucat.

"Bukan kecelakaan, tapi 'Kecelakaan Rezeki'!" Alvin nunjukin layar HP-nya ke arah semua orang.

Chat Ramdan: "Vin, cek saldomu. Barusan aku TF buat kalian jajan bakso. Sekalian Tari beliin minuman dan buah-buahan ya. Biar dia nggak lemes ngerjain laporan."

Satu meja langsung heboh. Pajar hampir keselek urat bakso, Karin sama Tiara langsung teriak histeris. "Gila, Waketos kita beneran sultan!"

Alvin dengan semangat 45 langsung ngetik balasan: "Thank you, BOS! Amanah dilaksanakan, calon makmum langsung gue kasih asupan vitamin!"

Tari? Dia cuma bisa nunduk, berusaha nyembunyiin senyum yang mekar di bibirnya. Pipinya beneran merah kayak saos bakso di depannya. Ternyata, meskipun lagi sibuk nganter Papanya ke bandara, pikiran Ramdan masih tertinggal di meja bakso ini... lebih tepatnya, tertinggal di dia.

Raihan masih melongo sambil megang garpu baksonya. Matanya bolak-balik ngeliatin layar HP Alvin sama tumpukan mangkok di meja.

"Gila... gue nggak nyangka banget," gumam Raihan pelan. "Waketos kita ternyata sultan kelas kakap, tapi kok gayanya biasa aja ya? Nggak pernah pamer, nggak pernah nunjukin kalau dia tajir di depan kita."

Alvin yang lagi asyik nyeruput kuah bakso langsung nengok ke Raihan, mukanya mendadak berubah serius. "Eh Han, lo kan emang nggak masuk geng Brotherhood, jadi lo nggak tahu."

Alvin naruh sendoknya, suaranya mengecil biar orang di meja sebelah nggak denger. "Asal lo tahu ya, itu tiap kita ngadain santunan atau baksos, uangnya itu mayoritas dari kantong Ramdan langsung. Tanpa proposal, tanpa minta-minta."

"Dan lo tahu yang paling gila?" lanjut Alvin. "Kita semua dilarang keras foto atau video buat di-posting di sosmed. Dia nggak mau ada konten-konten pamer sedekah. Dia cuma bolehin kita ambil foto buat dokumentasi laporan internal doang. Katanya, dia nggak mau pahalanya luntur gara-gara 'Like' di Instagram."

Tari ngerasa hatinya kayak kesentuh sesuatu yang hangat. Dia makin sadar kalau cowok yang baru aja pergi ke bandara itu punya kedalaman hati yang luar biasa. Di balik sikap kaku dan disiplinnya, Ramdan adalah orang yang sangat tulus.

"Wah... gue beneran hormat sama dia," Raihan geleng-geleng kepala, kali ini beneran respek. "Gue kira dia cuma pinter pelajaran, ternyata dia pinter jaga hati juga."

"Dan lo tau nggak, Ri? Kenapa dia jadi religius dan se-royal sekarang?" tanya Alvin pelan.

Tari menggeleng pelan, rasa penasarannya udah di puncak. "Bukannya dia emang dari dulu pinter, Vin?"

"Pinter emang iya, tapi religius yang 'total' begini itu baru," Alvin ngejelasin sambil serius. "Dia berubah drastis itu pas abis kejadian berantem hebat sama lo dulu. Pas waktu itu dia bener-bener down, dia kira hubungan kalian bakal hancur dan nggak ada harapan lagi."

Alvin narik napas panjang. "Dia bilang ke gue, dia bersyukur banget lo masih mau ngasih kesempatan kedua. Makanya, dia janji sama dirinya sendiri buat berubah total. Dia pengen ngebuktiin kalau dia emang pantas dapet kesempatan itu dari lo. Dia mau jadi versi terbaik dirinya, bukan cuma buat organisasi, tapi buat lo, Ri."

Tari nunduk dalem-dalem, matanya mulai berkaca-kaca. Ternyata, setiap sujud dan setiap sedekah sembunyi-sembunyi yang dilakukan Ramdan, ada nama Tari yang terselip di dalam niatnya. Dia berubah bukan karena terpaksa, tapi karena cinta yang dia bawa ke jalur langit.

"Gila..." gumam Raihan pelan. "Itu mah bukan sekadar sayang lagi, tapi udah level pengabdian."

Begitu ban motor Ramdan berhenti di depan teras rumah, ia bahkan belum sempat melepas jaketnya dengan sempurna. Pak Ahmad sudah berdiri di sana dengan koper besar dan wajah yang sedikit cemas sambil melirik jam tangan.

"Ayo, Ndan! Lima belas menit lagi jalanan bakal macet parah karena ada perbaikan jalan di depan," seru Pak Ahmad.

"Siap, Yah! Langsung naik!" Ramdan memutar posisi motornya, membantu Pak Ahmad menaikkan koper ke celah motor dengan cekatan.

Motor meluncur membelah jalanan kota yang mulai terik. Di sepanjang perjalanan, nggak ada obrolan receh kayak biasanya. Ramdan fokus banget nyalip kendaraan dengan perhitungan yang pas, sementara Pak Ahmad pegangan erat di bahu putranya.

"Ndan, pelan-pelan sedikit, yang penting selamat!" teriak Pak Ahmad di balik helm.

"Tenang, Yah. Ramdan udah itung estimasi waktunya. Kita bakal sampai sepuluh menit sebelum check-in ditutup!" jawab Ramdan mantap.

Dalam hati, Ramdan cuma pengen satu hal: memastikan Ayahnya bisa balik ke Kalimantan dengan tenang buat nemenin Ibunya. Perasaan sayangnya ke orang tua bener-bener jadi bahan bakar buat dia nggak ngerasa capek, meskipun tenaganya baru aja terkuras di Taman Kota.

Sesampainya di terminal keberangkatan, Ramdan langsung turun dan membantu menurunkan koper. Suasana bandara yang ramai mendadak terasa sedikit melankolis buat Ramdan.

"Sampaikan salam buat Ibu ya, Yah. Bilang ke Ibu, Ramdan di sini baik-baik saja dan lagi berjuang buat nyusul ke sana lewat jalur prestasi sekolah," ucap Ramdan sambil mencium tangan Ayahnya dengan takzim.

Pak Ahmad menepuk pipi Ramdan bangga. "Ayah percaya sama kamu. Jaga diri baik-baik, jaga pergaulan, dan... jangan lupa jagain 'makmum' kamu juga ya," goda Pak Ahmad di detik-detik terakhir sebelum masuk ke gerbang keberangkatan.

Ramdan cuma bisa tersenyum simpul sambil melambaikan tangan, menatap punggung Ayahnya yang perlahan menghilang di keramaian.

Suara pengumuman keberangkatan menggema di seantero terminal, menciptakan suasana makin melankolis. Di depan pintu check-in, Pak Ahmad berhenti melangkah. Beliau berbalik, menatap putra tunggalnya yang kini sudah tumbuh lebih tinggi darinya.

Ramdan meraih tangan Ayahnya, menciumnya lama dengan takzim. Ada keheningan yang bicara lebih keras daripada kata-kata.

Pak Ahmad terdiam sejenak, lalu memeluk Ramdan erat. Sebuah pelukan khas antar laki-laki; kuat dan menenangkan. "Ayah bangga sama perubahan kamu. Tetap jadi laki-laki yang menjaga sholat dan amanah. Ayah tunggu kamu di Kalimantan bukan sebagai tamu, tapi sebagai pemenang yang bawa kabar gembira dari sekolahmu."

Ramdan memejamkan mata, meresapi setiap kata itu sebagai bekal mentalnya. "Siap, Yah. Ramdan janji nggak akan ngecewain Ayah sama Ibu."

Pak Ahmad melepaskan pelukannya, lalu menepuk dada kiri Ramdan pelan. "Jaga hati juga. Kalau kamu serius sama Tari, buktikan dengan prestasi, bukan cuma janji. Laki-laki itu yang dipegang omongannya."

Pak Ahmad mulai menarik kopernya masuk. Di batas garis kuning, beliau melambaikan tangan dengan senyum paling tulus. Ramdan berdiri mematung di sana, menatap punggung tegap sang Ayah sampai benar-benar hilang di balik kerumunan.

Tiba-tiba, bandara yang ramai itu terasa sangat luas dan sepi bagi Ramdan. Dia sendirian sekarang di rumah, memikul tanggung jawab sebagai editor, Waketos, dan calon pejuang jalur prestasi.Ramdan baru saja mengusap sudut matanya yang sedikit lembap saat berjalan menuju area parkir motor. Namun, langkahnya terhenti saat melihat sosok pria paruh baya yang sangat ia kenal baru saja turun dari motor ojek online di area keberangkatan internasional.

"Pak Bambang?" gumam Ramdan tak percaya.

Itu memang Papa Tari. Beliau tampak kesulitan menurunkan koper besarnya sendirian sementara supir ojolnya sibuk merapikan helm. Penampilan Pak Bambang rapi seperti biasa, khas eksekutif yang mau berangkat ke luar negeri, tapi ada gurat lelah di wajahnya.

Ramdan langsung berlari mendekat. "Pak Bambang! Mari Pak, saya bantu," ucap Ramdan sigap sambil mengambil alih koper berat itu.

Pak Bambang nampak terkejut, matanya mengerjap di balik kacamata. "Lho, Ramdan? Kamu ngapain di sini? Sama Tari juga?"

Ramdan tersenyum sopan. "Enggak, Pak. Saya habis antar Ayah balik ke Kalimantan. Tari lagi ngerjain tugas kelompok di Taman Kota, Pak. Bapak mau ke Singapura sekarang?"

"Iya, Ndan. Ada meeting mendadak," jawab Pak Bambang sambil menghela napas, terlihat sedikit sedih.

Ramdan terdiam sejenak. Ada rasa perih yang aneh saat melihat pria sekelas Pak Bambang harus berjuang sendirian dengan ojol di saat putrinya sedang ia "culik" untuk tugas kelompok.

"Tolong jaga Tari ya selama Bapak di Singapura. Dia itu kalau sudah sibuk suka lupa makan."

Ramdan mengangguk mantap. "Pasti, Pak. Saya jaga amanah Bapak."

Ramdan tidak langsung beranjak ke parkiran. Ia berdiri diam di pagar pembatas, menatap langit Jakarta yang kian terik.

Di atas sana, dua jejak putih pesawat perlahan membelah awan. Satu pesawat membawa Ayahnya kembali ke Kalimantan, satu lagi membawa Pak Bambang menuju Singapura. Keduanya pergi meninggalkan amanah besar di pundaknya.

Ramdan merogoh saku, mengeluarkan ponsel yang layarnya masih menampilkan foto profil Tari yang baru saja ia simpan. Ia menarik napas panjang, menghirup udara bandara yang sarat akan aroma perpisahan, namun hatinya justru terasa semakin teguh.

"Tunggu aku di sana, Yah. Dan Pak Bambang... aku tidak akan mengecewakan kepercayaan Bapak. Untuk OSIS, untuk masa depanku, dan untuk dia."

Ramdan memakai helmnya, memacu motor meninggalkan bandara dengan satu keyakinan: bahwa jarak hanyalah ujian bagi mereka yang sedang memantaskan diri.

1
yanzzzdck
semangat yaa
Tati Hartati: makasih kak
total 1 replies
yanzzzdck
semangat
yanzzzdck: iya aman aja
total 2 replies
kalea rizuky
lanjut
Tati Hartati: siap kak...
total 1 replies
kalea rizuky
q ksih bunga deh biar makin bagus ceritanya
Tati Hartati: makasih banget ya kakak
total 2 replies
kalea rizuky
moga bagus ampe end dan gk bertele tele ya thor
Tati Hartati: makasih kak dukungannya
total 1 replies
yanzzzdck
semangat💪
Tati Hartati: Terimakasih banyak atas supportnya... semangat juga ya kakak..
total 1 replies
yanzzzdck
semangat aku bantu like semua, kalo bisa like balik ya, kalo gbisa gpp🙏
Tati Hartati: sama sama... insyaallah nanti aku kalau udah santai pasti mampir
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!