Bagaimana jika kepingan masa lalu yang kamu lupakan tiba-tiba saja menarikmu kembali ke dalam pusaran kenangan yang pernah terjadi namun terlupakan?
Bagian dari masa lalu yang tidak hanya membuatmu merasa hangat dan lebih hidup tetapi juga membawamu kembali kepada sesuatu yang mengerikan.
Karina merasa bahwa hidupnya baik-baik saja sejak meninggalkan desa kecilnya, ditambah lagi karirnya sebagai penulis yang semakin hari semakin melonjak.
Namun ketika suatu hari mendatangi undangan di rumah besar Hugo Fuller, sang miliarder yang kaya raya namun misterius, membuat hidup Karina seketika berubah. Karina menyerahkan dirinya pada pria itu demi membebaskan seorang wanita menyedihkan. Ia tidak hanya di sentuh, namun juga merasa bahwa ia pernah melakukan hal yang sama meskipun selama dua puluh empat tahun hidupnya ia tidak pernah berhubungan dengan pria manapun.
*
karya orisinal
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mapple_Aurora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 6
Lalu, sesaat setelahnya, Hugo menindihnya dan tanpa Karina bisa mencerna Hugo mencium bibirnya.
‘Ciuman pertamaku!’ Karina menjerit dalam hati, matanya melotot. Namun itu tidak berlangsung lama, Hugo menciumnya dengan sangat handal membuat Karina mulai terlena. Sial, dia menikmatinya padahal sebentar lagi ia akan dimakan.
“Kamu tidak bisa membalasnya?” Tanya Hugo menggeram, melepas sebentar tautan bibir mereka.
“Ahm…” Karina kesulitan mengeluarkan kata-kata, otaknya seketika kosong. Siapa yang akan menduga bahwa dia akan dicium malam ini.
“Aku belum pernah melakukannya,” Karina menggigit bibirnya, malu sekali mengatakannya. Ia sudah dua puluh empat tahun sekarang, namun belum pernah berciuman. Hugo pasti mengira dia gadis cupu.
Malam itu Karina benar-benar dimakan oleh Hugo, tetapi ia tidak meninggal melainkan menikmatinya. Awalnya memang sedikit sakit, tapi perlahan ia merasakan kenikmatan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Karina bukan anak kecil yang tidak tahu apa yang mereka lakukan. Tapi, Karina juga tahu ini salah. Ia dan Hugo adalah orang asing yang tidak terikat pernikahan. Apa yang mereka lakukan adalah dosa besar.
“Kenapa kamu melakukannya padaku?” Setengah jam setelah acara makan itu selesai, Karina bertanya sambil menangis. Ia merasa sangat ternodai.
“kamu sendiri yang setuju untuk berkorban demi melepaskan kelinci malang itu,” Hugo yang berbaring di sampingnya mengangkat sebelah alis. Kelinci malang ini jelas Tasya.
“T–tapi aku pikir kamu benar-benar akan memakanku, makanya aku setuju.”
Tangan besar Hugo menarik Karina lebih dekat, kulit mereka kembali saling bersentuhan. Karina ingin menjauh, tetapi Hugo melingkarkan tangannya di pinggang Karina sangat erat.
“Aku memang memakanmu, kamu tidak mati tapi ikut merasakan surga.” Kata Hugo blak-blakan, mata elangnya mulai terpejam.
Karina menggertakkan giginya, namun pipinya memerah tanpa bisa dicegah. “Aku tidak menikmatinya.” Kilahnya menolehkan kepalanya ke jendela.
“Desahanmu memenuhi kamar ini lebih keras daripada suaraku, jantungmu berdegup lebih kencang. Apa itu namanya kalau bukan menikmati?” Tanya Hugo, sebelah tangannya mengusap lembut dada Karina.
“Jauhkan tanganmu!”
Bukan menuruti, tangan Hugo menjelajahi area sensitifnya lebih jauh.
Karina menggigit bibirnya sampai berdarah agar tidak kembali mengeluarkan erangan. Ia tidak boleh menikmatinya, tidak boleh! Tapi sentuhan Hugo benar-benar begitu nikmat.
‘Sial! Aku seharusnya tidak menikmatinya.’ Hati kecil Karina terus saja protes, tapi tubuhnya menerima sentuhan itu dengan baik.
“Bibirmu berdarah,” tiba-tiba saja mata Hugo sudah terbuka, menatap bibirnya tanpa berkedip. “Jangan memancingku, Karina.”
Karina terkejut, mengapa Hugo sekarang memanggil nama depannya? Bukan nama belakang lagi?
“Darahmu manis, lebih manis dari darah orang-orang yang pernah aku minum.” Bisik Hugo setelah menjilati darah di bibir Karina.
Karina kembali ketakutan, perkataan Hugo barusan membawa Karina kembali pada kenyataan bahwa pria yang sedang berbaring di sampingnya adalah orang yang mengerikan.
Dia tampan, dia handal, tubuhnya idaman semua wanita. Begitupun sentuhannya. Tetapi, itu tidak mengubah fakta bahwa dia tidak punya hati. Hugo Fuller seorang predator dan Karina tidak tahu sampai kapan akan jadi pemuas nafsu Hugo sebelum akhirnya dia akan dibunuh.
“Tidurlah, kamu beruntung malam ini. Ingat besok malam jangan terlambat ke jamuan makan malam. Kalau kamu terlambat…” Hugo bangun, dia menyeringai pada Karina yang sudah pucat pasi. “...nasibmu mungkin akan lebih buruk daripada Linde.”
Setelah mengatakan itu, Hugo memakai kaosnya yang entah sejak kapan ada diatas kepala tempat tidur. Lalu pria itu meninggalkan Karina sendirian, tanpa peduli ketakutannya.
“D–dia bukan manusia,” tubuh Karina sangat lelah, namun kantuknya sudah hilang sejak mendengar perkataan mengerikan yang keluar dari mulut Hugo.
Pandangan Karina jatuh ke dadanya yang penuh bekas gigitan, tanda yang ditinggalkan Hugo sebagai bukti panas yang mereka lakukan selama berjam-jam.
...\=\=\=\=...
Pagi datang dengan damai yang berbanding terbalik dengan suasana di dalam rumah besar itu. Semua tamu yang kemarin datang kecuali Tasya duduk di meja makan dengan wajah pucat kurang tidur.
“Aku tidak tahu apa yang direncanakan oleh orang gila itu.” Kata wanita yang barusan Karina ketahui bersama Kate.
“Dia pasti akan membunuh kita semua,”
“Bukannya itu sudah jelas? Hanya menunggu giliran, lebih baik kita cari cara untuk kabur.”
Karina menghela nafas berkali-kali, mengabaikan percakapan di sekitarnya. Ia memakai baju dengan kerah tinggi untuk menyembunyikan tanda di lehernya. Kepalanya pusing karena kurang tidur, sentuhan Hugo dan kalimatnya yang mengerikan datang silih berganti memasuki kepalanya.
Sejak pergi semalam, Hugo belum terlihat lagi sampai sekarang. Karina bukan mengkhawatirkannya, ia hanya penasaran kemana pria itu pergi.
“Karina,” Alam yang baru bergabung, duduk di samping Karina. “Apa kamu sudah bertemu Tasya sejak tadi?”
“Hah?” Karina tersentak kaget refleks menoleh. “Maaf, aku melamun sejak tadi. Kamu nanya apa barusan?”
Alam tersenyum maklum, mengulang pertanyaannya. “Apa kamu sudah bertemu Tasya sejak tadi?”
Mendengar pertanyaan itu, Karina ragu untuk menjawab. Ia tidak tahu harus menjawab apa, jika ia mengatakan Tasya sudah pulang, semua orang pasti mendesaknya untuk mengatakan caranya. Karina tentu tidak mungkin mengatakan bahwa Tasya bisa pulang karena ia menyerahkan diri pada Hugo.
Pada akhirnya Karina memutuskan untuk menggeleng, berpura-pura tidak tahu.
“Aku khawatir terjadi sesuatu padanya, dia tidak ada di kamarnya dan barang-barangnya juga tidak ada.” Kata Alam tidak bisa menyembunyikan kekhawatirannya sama sekali.
“Tentu saja telah terjadi sesuatu padanya, kalau tidak, dia pasti sudah bergabung bersama kita disini.” Ujar Kate yang tiba-tiba saja bergabung dengan mereka berdua. Sementara melalui sudut matanya, Karina bisa melihat pria paruh baya yang kemarin sempat hampir berseteru dengan Tasya menyunggingkan senyum puas. Benar-benar tua bangka menyebalkan.
“Siapa yang tahu? Mungkin dia sudah pergi dan berhasil keluar.” Karina tersenyum misterius, namun perkataannya itu langsung mendapatkan dengusan tidak menyenangkan dari pria paruh baya.
“Hahaha… mana mungkin gadis naif itu bisa pergi, dia jelas datang kemari untuk mengemis. Aku tahu dia butuh banyak uang dan ingin membantu tetapi dia menolak.” Pria itu meludah ke lantai, wajahnya menjadi sangat kesal.
“Oh! Anda pasti sakit hati ditolak olehnya,” ejek Karina.
Pria itu berdiri dari duduknya, menghampiri Karina dengan wajah merah padam. “Jaga kata-katamu, Nona. Aku bisa membunuhmu sebelum pria gila itu membunuhmu.” Dia menggebrak meja dengan keras.
BRAK!
“Aku hanya mengatakan fakta, kamu pria tua mesum yang tidak tahu malu.” Karina melotot, tidak merasa takut.
“Hey… Guys, stop! Kita berada dalam situasi yang sama, jangan memperburuk keadaan.” Miller, seorang pria dua puluh sembilan tahun dengan cepat melerai mereka berdua.
“Situasi yang sama?” Karina mengangkat sebelah alisnya, sekilas melirik pria paruh baya itu sinis. “Mungkin nggak, karena setiap orang di ruangan ini datang dengan tujuan berbeda.”
“Anak muda zaman sekarang banyak yang kurang ajar ya sama orang tua,”
Astaga! Karina ingin sekali menyumpal mulut pria tua ini, jelas-jelas dia juga bukan orang tua yang bisa menghormati anak muda. Tidak ada aturannya anak muda menghormati orang yang lebih tua sementara orang yang lebih tua bisa berlaku seenaknya. Sebagai manusia harus saling menghormati, baik tua maupun muda. Bukan hanya salah satunya, sementara yang lainnya mendapatkan perlakuan kurang ajar.
“Terserah kamu saja, aku harap malam ini bukan hari kematianmu.” Ujar Karina kemudian pergi dari ruang makan, ia berencana untuk pergi ke perpustakaan. Kemarin saat mencari ruang makan, ia menemukan perpustakaan itu tidak terkunci. Daripada berdebat dengan pria itu lebih baik ia menghabiskan waktu untuk membaca.
Di rumah ini, selain Ranra, Karina hampir tidak menemukan satupun pelayan.
...***...
...Like, komen dan vote ...
sudah brusaha utk keluar,Mlah harus balik lagi😩
di tunggu double up-nya thor