Gavin adalah seorang playboy yang tak bisa hidup tanpa wanita, entah sudah berapa banyak wanita yang berakhir di ranjangnya, hingga akhirnya ia bertemu dengan Kanaya, seorang gadis suci yang menggetarkan hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Swan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Apartement Gavin
Kanaya masih terus terisak, meskipun Gavin sudah menjelaskan tentang kejadian yang sebenarnya.
Entahlah, hanya saja Kanaya merasa di lecehkan oleh Gavin, mengetahui ada pria yang sudah melihat tubuh dan bahkan menyentuhnya saja, sudah membuat Kanaya sesak.
Kanaya bukanlah seorang gadis liar yang terbiasa akan hal-hal seperti itu layaknya Hera maupun Karina, walaupun Kanaya pernah berpacaran tapi Kanaya tak pernah melakukan hal yang melewati batas seperti itu.
Jika dengan kekasihnya saja Kanaya tak sampai sejauh itu, jelas saja ketika mendengar cerita Gavin tadi, ia tetap merasakan kesedihan, walaupun di sisi lain dia juga bersyukur setidaknya, Kanaya bisa selamat dari pria-pria yang berniat jahat padanya, walaupun harus berakhir menjadi salah satu korban dari sang Cassanova Galaxy university.
Perlahan lsakan Kanaya mulai berhenti, sementara Gavin masih setia duduk di depan Kanaya, walaupun sudah beberapa menit Kanaya mendiamkan nya.
"Lo, harus tanggung jawab!"ucap Kanaya. Membuat Gavin tersentak.
"Eh... A-Apa? Lo ngomong apa barusan?"tanya Gavin, merasa belum mendengar jelas ucapan Kanaya tadi.
"Lo,,, harus tanggung jawab Gavindra Wijaya!"tegas Kanaya, membuat Gavin langsung shock mendengar ucapannya.
"Nay... Maksud lo, tanggung jawab, lo mau gue..."Ucapan Gavin tak di lanjutkan olehnya, sungguh dia tak mengira bahwa pikiran Kanaya akan sejauh itu.
"Nay, gue tau gue salah, gue emang khilaf, tapi... Apa harus sejauh itu?"
"Nay, gue gak sampai melakukan itu sama lo, lo masih virgin kalo itu yang lo takutin."Ucap Gavin, tak tau lagi harus merespon seperti apa ucapan Kanaya.
"Kalo lo pengen gue nikahin lo, gue rasa itu ter..."
"Siapa yang minta buat nikah sama cowok cabul kayak lo, hah?" Tanya Kanaya memotong ucapan Gavin. Sementara Gavin di buat tersentak dan semakin bingung,,sebenarnya apa yang di inginkan gadis di hadapannya ini sih.
"Gue minta pertanggung jawaban lo, dengan jangan pernah lo mengatakan apapun, pada siapapun, dengan apa yang udah lo dan gue lakuin semalam." Ujar Kanaya yang membuat Gavin langsung tersenyum senang.
"Dan lo juga harus nurutin, kemauan gue setidaknya sampe gue melupakan kejadian itu, paham?"lanjut Kanaya, yang di balas oleh gelengan Gavin.
"Lo, kok gitu sih, Nay gue udah nyelamatin lo tau, lo bisa abis di gilir 6 orang kalo lo gak gue bawa, masa gue juga harus tanggung jawab sekarang?Tanya, Gavin yang tak terima dengan permintaan Kanaya.
"Tapi lo udah liat, lo udah tau semua yang ada di gue, lo udah tau dan sentuh semuanya bahkan di saat calon suami gue belum melakukan itu."ucap Kanaya lalu kembali menangis, dan tentu saja membuat Gavin kembali panik.
"Eh... Nay, Nay... Kok malah nangis sih?"Gavin pun mencoba mendekati Kanaya, namun Kanaya malah semakin menjauh darinya.
"Aish sial,... Aghh."teriak Gavin frustrasi. Kenapa dia harus berada di posisi serumit ini, andai dia tau Kanaya akan selebay ini, mungkin lebih baik jika semalam Gavin benar-benar melakukannya, paling tidak dia bisa menikmati lebih dulu, baru dia menerima konsekuensi apapun setelahnya.
"Ok... Fine, gue turutin kemauan lo."ucap Gavin akhirnya, sambil menghela napas pasrah. Sementara Kanaya akhirnya diam dan tak menangis lagi, kemudian memandang Gavin.
"Dan sekarang, gue minta baju, lo harus siapin sekarang juga!"Titah Kanaya, membuat Gavin langsung menatapnya heran namun akhirnya menganggukan kepala.
"Hmmm..."Gavin bergumam, sebagai jawaban dari perintah Kanaya padanya, kemudian Gavin mengambil ponsel, untuk menelepon seseorang yang akan ia suruh menyiapkan baju untuk Kanaya.
"Udah, apa lagi?"tanya Gavin, setelah ia berhasil mengirim pesan pada anak buahnya untuk menyediakan pakaian untuk Kanaya.
Jika kalian bertanya kenapa Gavin tak menanyakan terlebih dulu mengenai model pakaian dan ukuran Kanaya, maka jawabannya adalah, Gavin sudah hafal di luar kepala mengenai ukuran tubuh perempuan, apalagi bila iya pernah melihat dan menyentuhnya, maka dia akan langsung bisa menebak, luar biasa bukan Gavin ini.
"Gue minta concealer juga."Lanjut Kanaya, sementara Gavin mengerutkan keningnya, Gavin sepertinya pernah mendengar nama benda itu.
"Apa itu, gue gak ngerti?"tanya Gavin. Kanaya berdecak mendengar ucapan Gavin.
"Buat nutupin ini...."Jawab Kanaya sambil menunjuk bekas merah di lehernya, yang sepertinya mulai Gavin sadari.
Gavin melihat ke arah yang di tunjuk Kanaya, dan akhirnya paham maksud dari gadis itu. Gavin pun kembali mengambil ponselnya, untuk mengetikan pesan kepada orang suruhannya.
Tak lama bel apartemen Gavin berbunyi, Gavin pun langsung beranjak dari tempat duduknya, Kanaya hanya memperhatikan Gavin dari jauh, posisinya tak berubah masih sama seperti tadi, duduk di ranjang dengan seluruh tubuh yang tertutup oleh selimut.
Tak lama Gavin kembali, dengan membawa sebuah paper bag, lalu menyerahkannya pada Kanaya.
"Baju lo, semuanya udah ada disitu."Ucap Gavin setelah menyerahkan paper bag itu pada Kanaya.
Kanaya pun mengangguk, dan beranjak dari posisinya, Kanaya tetap membelit tubuhnya dengan selimut, dan berjalan ke arah kamar mandi, membuat Gavin terkekeh kecil dengan tingkahnya.
Selagi Kanaya di kamar mandi Gavin memilih untuk membuat sarapan untuknya dan Kanaya, Gavin memutuskan untuk membuat nasi goreng untuk sarapannya kali ini, dia berharap Kanaya menyukai masakannya.
Lima belas menit di kamar mandi, Kanaya telah selesai membersihkan kan tubuhnya, Kanaya pun langsung memakai pakaian yang di berikan Gavin, yang ternyata bukan hanya pakaian tapi lengkap dengan pakaian dalam, yang pas di tubuh Kanaya. Kanaya cukup takjub pada keahlian Gavin menebak ukuran baju seorang gadis, di saat dirinya saja tak mungkin bisa melakukannya.
Kanaya melangkah keluar dari kamar mandi dengan menggunakan celana jeans dan atasan berlengan pendek berwarna pastel, Kanaya tampak cantik mengenakannya.
Melihat tidak adanya Gavin di kamar, membuat Kanaya memutuskan untuk keluar dari kamar Gavin dan melihat-lihat seperti apa apartemen yang menjadi tempat tidurnya semalam.
Apartemen Gavin cukup luas, dengan dua kamar, dapur, ruang tamu, ruang makan, dan sebuah ruangan yang sepertinya Gavin design sendiri, dimana di ruangan itu ada sebuah meja bar panjang sama seperti yang di lihat Kanaya saat ke club, lalu ada rak-rak yang berisi banyak minuman yang Kanaya yakini pasti minuman ber alkohol.
Puas mengelilingi apartemen Gavin, Kanaya memutuskan untuk menemui Gavin di ruang makan, dimana Gavin telah menyiapkan dua piring nasi goreng di meja yang ada di sana.
Kanaya memutuskan untuk duduk di depan Gavin, dan memperhatikan Gavin yang terlihat tengah menggenggam ponselnya.
"Karina nanyain lo."ucap Gavin tiba-tiba, membuat Kanaya yang baru saja mendudukan dirinya sedikit tersentak.
"Dia di mana emang sekarang?"tanya Kanaya.
"Apart nya Alex, baru pada bangun anaknya."jawab Gavin.
Kanaya hanya mengangguk sebagai tanda ia mengerti, tanpa mengatakan apapun, kemudian mengambil satu piring nasi goreng dihadapannya.
"Buat gue kan?"tanya Kanaya yang di angguki oleh Gavin, mereka pun mulai memakan makanan masing-masing dalam diam.
"Nasi gorengnya enak."puji Kanaya pada Gavin.
"Tanks... Lo suka?"tanya Gavin, Kanaya mengangguk pasti.
"Gua gak nyangka orang kaya lo bisa masak."
"Kenapa lo gak nyangka?"
"Ya secara lo kan orang kaya, pasti semua udah tersedia kan ,tanpa harus repot-repot masak."jawab Kanaya.
"Kalo di rumah iya, kalo disini ya nggak Nay, gue mulai terbiasa masak saat gue tinggal sendiri disini. "
"Oh ya, pesanan lo yang tadi juga dah dateng."ujar Gavin sambil menunjuk sebuah paper bag kecil, di sebuah meja yang tak jauh dari sana.
Kanaya hanya menganggukan kepalanyanya, tiba-tiba sebuah panggilan terdengar dari ponsel milik Gavin, membuat Gavin dan Kanaya melihatnya.
"Halo."jawab Gavin ketika menerima panggilan itu.
"Apa, Ra?"tanya Gavin, bertanya kepada si penelpon.
"Gue? Iya sama cewek "jawab Gavin pada si penelpon.
"APA... Ngapain sih lo ?"tanya Gavin nampak tak suka ,
"Ya udah terserah lo,"Ucap Gavin lagi, lalu memilih mematikan sambungan telponnya.
Setelah percakapan yang tadi sempat Kanaya dengar, tak ada percakapan lagi di antara mereka, sampai tiba-tiba bel apartemen Gavin terdengar.
"Nay bisa tolong bukain pintunya,?"Titah Gavin yang di angguki Kanaya, tanpa banyak bertanya. Nasi goreng buatan Gavin memang sudah ludes tak tersisa.
Kanaya terus melangkah, dan begitu tiba di depan pintu Kanaya pun segera membukanya. Dan setelahnya...
"Lo"
"Lo..." Ucap Kanaya dan seorang gadis bersamaan.
-Bersambung