NovelToon NovelToon
Kontrak Dendam Ceo

Kontrak Dendam Ceo

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Pohon Rindang

"aku tidak mencintai mu,aira.aku hanya ingin melihat mu menderita. "
Arlan Dirgantara, CEO angkuh yang dipenuhi dendam, mengikat Aira Senja dalam sebuah kontrak kejam. Bagi Arlan, Aira adalah pengkhianat yang harus membayar kesalahan masa lalu. Bagi Aira, Arlan adalah luka terdalam sekaligus satu-satunya harapan.
Di bawah atap yang sama, kebencian bercampur dengan rindu yang tak pernah benar-benar padam. Saat rahasia masa lalu terungkap, dendam itu berubah menjadi obsesi.
Akankah kontrak ini berakhir dengan kehancuran…
atau justru menyatukan dua hati yang terluka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pohon Rindang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 11: YANG TIDAK DIKATAKAN

Malam itu gedung Dirgantara Group sudah hampir kosong ketika Arlan turun ke lantai IT.

Ia tidak memberi tahu siapa pun.

Tidak pada sekretarisnya.

Tidak pada manajer operasional.

Termasuk Aira.

Ruang IT terang oleh cahaya monitor. Seorang staf muda berdiri cepat saat melihatnya masuk.

“Pak Arlan?”

“Tampilkan log akses jaringan dua hari terakhir,” ucapnya singkat.

Staf itu menelan ludah, lalu bergerak cepat. Layar besar menampilkan deretan waktu, titik akses, dan ID pengguna.

“Fokus di jam saat email atas nama Aira terkirim.”

Beberapa detik kemudian, data dipersempit.

Login tambahan melalui jaringan internal.

Akun yang digunakan bukan milik Aira.

Bukan pula milik Clarissa.

Itu akun manajer legal senior.

Arlan menyipitkan mata.

“Dia ada di kantor saat itu?”

“Tidak, Pak. Beliau sedang di luar kota. Aksesnya kemungkinan dipakai dari ruang konsultan.”

Ruang konsultan.

Arlan terdiam.

Ruangan itu memang sering dipakai tamu penting.

Tapi akses legal tidak sembarang bisa dibuka.

“Kirim semua data mentahnya ke email pribadiku.”

“Iya, Pak.”

Arlan menatap layar beberapa detik lebih lama.

Jika ini bukan Clarissa…

maka ada orang lain yang berani bermain.

Dan yang lebih mengganggunya—

Aira tidak pernah menyebut kemungkinan ini.

Keesokan paginya.

Aira datang seperti biasa. Tenang. Tepat waktu.

Ia meletakkan jadwal rapat di meja Arlan tanpa suara berlebih.

“Kau terlihat lelah,” ucap Arlan tiba-tiba.

“Saya baik-baik saja.”

Jawaban yang selalu ia gunakan.

Arlan berdiri, berjalan mendekat.

“Kau tahu sesuatu tentang insiden email itu.”

Itu bukan pertanyaan.

Aira tidak langsung menjawab.

Ia menatap Arlan dengan ekspresi yang sulit ditebak.

“Saya tahu ada akses internal tambahan.”

Arlan terdiam sepersekian detik.

“Kau tidak melaporkannya.”

“Saya belum punya cukup bukti.”

“Bukti untuk apa?”

“Untuk memastikan siapa yang benar-benar menggerakkan ini.”

Nada suaranya stabil.

Tidak defensif.

Tidak takut.

Itu yang membuat Arlan makin waspada.

“Kau pikir aku tidak bisa menanganinya?” tanyanya pelan.

“Saya pikir Bapak akan bertindak terlalu cepat.”

Hening.

Kalimat itu berbahaya.

Arlan tidak suka dikontrol.

Tidak suka ditahan.

Tapi Aira tidak sedang mengontrolnya.

Ia sedang melindungi arah permainan.

“Siapa yang kau lindungi?” suara Arlan merendah.

Tatapan mereka bertemu.

“Saya tidak melindungi siapa pun.”

“Kau selalu melindungi seseorang.”

Kalimat itu terdengar personal.

Bukan profesional.

Bukan CEO pada sekretaris.

Tapi pria pada wanita yang pernah pergi.

Dada Aira menegang sesaat, namun ia tetap berdiri tegak.

“Kali ini saya melindungi pekerjaan saya.”

Jawaban itu bersih.

Rasional.

Dan justru karena itu, Arlan tidak tahu apakah ia harus percaya atau tidak.

Siang itu, saat Aira kembali ke mejanya, ia membuka folder tersembunyi di laptop pribadinya.

Ia sudah tahu akun legal senior itu sedang tidak aktif.

Ia juga tahu kartu akses ruang konsultan sempat dipinjam seseorang.

Tapi ia belum menghubungkannya secara resmi.

Karena ia menunggu.

Menunggu siapa yang akan panik lebih dulu.

Sementara itu, di ruangannya, Arlan memandangi data yang sama.

Satu hal mulai jelas.

Aira tidak lagi sekadar bertahan.

Ia bermain.

Dan Arlan tidak yakin apakah ia sedang berada di sisi yang sama dengannya—

atau menjadi bagian dari strategi yang belum ia pahami.

Di lantai yang berbeda, Clarissa duduk di ruang konsultan dengan senyum tipis.

Ia tidak menyentuh sistem lagi.

Tidak perlu.

Karena dalam perang seperti ini…

yang paling berbahaya bukan orang yang menyerang.

Tapi dua orang yang mulai saling tidak percaya.

Dan retakan kecil itu—

baru saja tercipta.

1
Arkana Luis
bagus.
sangat seru
Rumah Berpenghuni
ayo thor lanjut an nya mana
Rumah Berpenghuni
iss si arlan jahat, tapi aira nya kasian🥺
Pohon Rindang: makasih udah mampir ☺
total 1 replies
Rumah Berpenghuni
semangat author, seru nii
Pohon Rindang: makasih semangat nya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!