罪から生まれ、 遺産を求める血に追われる。 Tsumi kara umare, isan o motomeru chi ni owareru. (Born from sin. Hunted by blood that demands legacy) Nakamura Noa, gadis miskin yang bekerja serabutan sekaligus merawat ibunya yang sakit parah. Noa dan ibunya yang sedang dalam persembunyian, tidak sadar bahwa klan besar Yamaguchi-gumi telah mengawasi mereka sejak lama. Mereka beranggapan bahwa Noa adalah pewaris roh leluhur Yamaguchi: 'Kuraokami' yang bangkit saat berada diambang batas. Sampai akhirnya Noa dijemput paksa dan dibawa kembali ke dunia kelam para algojo. Ia harus memilih: tunduk pada mereka atau hancurkan warisan yang telah merenggut hidupnya. ⛔️"DILARANG KERAS menyalin atau mengambil ide, alur, plot twist, tokoh, dialog, maupun bagian cerita, baik sebagian maupun seluruhnya, tanpa izin penulis."⛔️ Copyright© 12/07/2025 - SAMSARA. Technical Advisor : Aimarstories Cover : pinterest Dark psychological thriller Dengan gaya sinematic noir - slow burn
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon samSara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 2 - Nakamura part II
...**...
...血と影...
...-Chi to Kage-...
...'Darah dan Bayangan'...
...⛩️🏮⛩️...
...Keesokan hari....
Pagi-pagi sekali, sebelum ayam berkokok, Noa sudah bangun. Wajahnya masih muda, tapi matanya... terlihat lelah melebihi usianya. Ia mencuci muka dengan air sumur yang dingin, memakai baju kerja sederhana, lalu berangkat ke toko sayur milik keluarga Nishikawa: selain menjadi kasir, di waktu senggang Noa membantu menata rak dan mengangkat peti-peti berat.
Bayarannya? Tidak cukup. Tapi Noa tidak pernah mengeluh.
Selesai di sana, ia lanjut ke ladang seorang petani tua. Mencabut rumput, mengangkat karung pupuk. Malam hari, ia mengantar pesanan ke rumah-rumah terpencil, kadang membersihkan rumah warga lansia dengan bayaran seadanya.
Itu cukup untuk membeli obat batuk, sedikit bubur instan, dan menabung untuk impian konyol: membayar biaya rumah sakit suatu hari nanti. Di Shugitani, tak ada rumah sakit besar. Dokter hanya datang sebulan sekali, membawa obat penahan nyeri yang tak pernah cukup.
Yang Noa tahu: ia harus menjaga ibunya. Itu saja.
...⛩️🏮⛩️...
Malam itu, saat berjalan pulang melewati gang-gang gelap yang biasa ia lalui, Noa merasa ada yang berbeda. Udara terasa lebih berat. Langkahnya terdengar menggema. Ada tatapan dari kejauhan yang tak seperti biasanya. Tapi ia segera menepisnya. Dunia ini memang kejam, dan ia sudah terbiasa dicurigai hanya karena terlihat lelah dan miskin.
Tapi ia tidak tahu bahwa hidupnya, yang tampak seperti biasa saja di desa ini, telah menjadi objek pengamatan sejak lama.
Bahkan sejak ia belum tahu cara berjalan.
...⛩️🏮⛩️...
Delapan belas tahun yang lalu. Seorang pria bayangan bernama Hane, menemukannya saat gadis itu baru berusia satu tahun bukan dalam kondisi terbuang atau menangis kelaparan seperti yang dibayangkannya, tapi sedang duduk di rerumputan halaman belakang sebuah rumah kayu tua, tertawa kecil sambil menepuk-nepuk tanah basah. Di sampingnya, seorang wanita duduk bersila sambil menggulung benang rajut.
Saat Hane melihat wajah wanita itu, langkahnya terhenti seketika. Rambutnya lebih pendek dan ia tampak lebih kurus, tapi sorot matanya, garis rahangnya, dan cara ia menghela napas... semua itu sangat familiar.
Rin.
Atau setidaknya, seseorang yang begitu mirip Rin... wanita yang dikabarkan menghilang dari keluarga besar Yamaguchi sembilan belas tahun silam. Tapi nama yang digunakan wanita itu sekarang adalah Misao. Ia tinggal di rumah paling ujung desa, jauh dari pusat keramaian, dan hampir tidak pernah terlihat menghadiri acara warga. Identitas barunya sangat bersih, sekilas tanpa celah, seolah direkayasa dengan cermat untuk menghapus masa lalu.
Namun atasannya—Tadashi, bukanlah orang awam. Ia lebih tahu melihat sedikit celah dalam kepalsuan.
Atas perintah Tadashi, pengawasan pun dimulai. Awalnya ringan, hanya kunjungan setiap tiga bulan, berpura-pura sebagai turis atau pelancong yang tertarik dengan suasana desa pegunungan. Ia datang dengan kamera tua, catatan kecil, dan senyum ramah yang tidak meninggalkan kesan mendalam.
Tiap kali ia kembali, rasa curiganya semakin kuat.
Anak itu yang disebut-sebut sebagai keponakan jauhnya Misao, tumbuh dengan cara yang aneh. Terlalu pendiam untuk anak seusianya, ada sesuatu yang tersembunyi di balik tatapannya... sesuatu yang tidak bisa dijelaskan, tapi juga tidak bisa diabaikan.
Lalu saat gadis kecil itu—Noa—menginjak usia sepuluh tahun, Tadashi memanggil Hane secara langsung dan memerintahkannya untuk memantau secara penuh.
Hane tidak mempertanyakan. Ia hanya kembali ke desa dan kali ini, ia tidak datang dan pergi seperti biasanya. Ia menyewa pondok kosong di pinggir hutan, menata ulang peran dan identitasnya. Ia tak lagi sebagai pelancong. Ia... menetap.
Warga mengingatnya sebagai turis asing yang pernah singgah beberapa kali. Pria pendiam yang sangat ramah dan sopan. Ia menyapa warga setiap pagi saat membeli sayur di kios kecil dekat jembatan—membungkuk sedikit lebih dalam dari kebiasaan orang desa, mengucapkan terima kasih dengan nada yang selalu sama, lalu pergi tanpa pernah menawar harga. Ibu pemilik kios pernah berkata bahwa pria itu aneh, tapi 'aneh yang baik'. Ia selalu membayar pas, kadang lebih, dan tidak pernah bertanya macam-macam.
Anak-anak kecil mengenalnya sebagai 'Ojii-san kamera'. Sesekali, Hane akan memotret kabut pagi atau atap kuil tua, lalu menunjukkan hasilnya pada mereka. Cukup untuk membuat mereka mengingatnya sebagai orang yang tidak berbahaya atau mencurigakan.
Maka ketika ia kembali untuk tinggal, tidak ada yang merasa aneh. Mereka beranggapan bahwa pria itu yang mengaku sebagai seorang penulis memang menyukai suasana desa—tenang, udara bersih, dan kabut pagi yang setia menggantung di lereng-lereng bukit.
Tak ada yang tahu bahwa ia mencatat semuanya.
Siapa yang pulang paling larut.
Siapa yang jarang terlihat.
Siapa warga desa yang terkadang mengantarkan makanan ke rumah Misao tanpa diminta.
Ia juga mengenal Noa—bukan hanya sebagai target, tapi sebagai sosok yang disebut orang-orang dengan nada kasihan.
"A no ko, tsuyoi wa," (Gadis itu kuat) kata seorang nenek suatu sore.
"Mada chiisai noni, otona yori yō hataraku wa." (Masih kecil, tapi kerjanya lebih keras dari orang dewasa)
Hane hanya mengangguk, menyesap tehnya perlahan. Tidak bertanya. Tidak bereaksi. Warga desa Shugitani berbicara dengan dialek Kyoto atau Tamba yang kental, dan Hane sebenarnya mengerti setiap kata dengan jelas—namun di luar, ia berpura-pura tidak memahami sepenuhnya.
Karena dengan begitu, terkadang ia bisa mendapatkan informasi yang lebih jujur dari lingkungan sekitar. Dan setiap kalimat yang dilontarkan warga desa—terutama mengenai keluarga Nakamura—seperti potongan kecil puzzle untuk informasi yang berharga dalam laporannya.
Sesekali ia berkomentar ringan, "Ah... masih belajar dialek Shugitani," dengan bahasa Tokyo yang sopan. Warga sekitar mengangguk dan tersenyum, menganggap wajar saja, karena Hane memang seorang turis yang menetap bukan warga asli.
Kadang, saat Noa dengan kantong plastik di tangannya melewati kedai yang Hane singgahi, pria itu akan menggeser sedikit posisi duduknya—cukup untuk menyamarkan kehadirannya. Ia melakukannya secara alami, tanpa gestur mencurigakan. Mereka tidak pernah bertatap muka dan tidak pernah berbicara.
Bagi Hane, itulah posisi yang sempurna—hadir sebagai bayangan.
Cukup dekat untuk mengamati.
Cukup samar untuk tak pernah benar-benar diingat Noa.
⛩️🏮⛩️
Hane telah lama hidup sebagai bayangan di balik pepohonan, di antara kabut, kedai, dan kuil kecil yang sepi pengunjung.
Setiap tiga bulan, ia mengirim laporan. Bukan lewat internet. Bukan pula lewat surat. Tapi dengan metode lama—amplop yang diselipkan di balik papan kuil tua, lalu diambil kembali oleh tangan tak dikenal.
Isinya selalu sama:
...「対象は健康。継承の兆候なし。...
...行動は正常。...
...正体は依然として秘匿。」...
...署名:羽根...
...(Target sehat. Tidak menunjukkan tanda-tanda warisan. Aktivitas normal. ...
...Identitas masih tersembunyi. ...
...Signed: Hane.)...
Tapi malam ini, ia menulis sesuatu yang berbeda:
^^^「対象はフルタイムで働き始めた。経済状況は悪化。母親は重病。引き続き厳密に観察する。」^^^
...羽根...
...(Target mulai bekerja penuh waktu. Kondisi ekonomi buruk. Ibunya sakit parah. Akan lanjut observasi ketat. Hane.)...
Ia tidak tahu bahwa laporan itu akan memicu rantai peristiwa yang akan mengubah hidup gadis itu selamanya.
Saat bulan muncul penuh di atas desa Shugitani, bayangan pria itu berdiri di antara pohon cemara, menatap rumah tua tempat Noa tinggal. Cahaya samar dari lampu minyak terlihat dari jendela. Sunyi.
Mata pria itu mengikuti siluet Noa yang bergerak di dalam rumah—langkah gadis itu ringan, bahunya sedikit membungkuk, tapi wajahnya... sudah bukan anak kecil yang dulu ia temui pertama kali.
"Jikan tte... hontou ni hayai mon da..." (Waktu benar-benar cepat berlalu) gumamnya, nyaris terdengar seperti keluhan yang ia ucapkan pada dirinya sendiri.
Ia menundukkan kepala sedikit, tatapannya berpindah pada kamar lain yang gelap. Di sanalah sang ibu berbaring, napasnya pendek-pendek, seperti waktu hanya tinggal menghitung detik.
"Demo... Rin wa... mou jikan ga nai...," (Tapi... Rin sudah kehabisan waktu) bisiknya pelan, suaranya mengandung nada yang sulit dibaca—antara simpati, penyesalan, atau rencana yang belum diungkapkan.
Hane memejamkan mata sejenak, membiarkan bunyi desir angin malam melewati telinganya. Dalam hatinya, ia tahu bahwa klan tidak akan melepaskan apa yang mengalir di nadi gadis itu.
Darah tidak pernah berbohong.
Dan tidak pernah bisa sembunyi.
...—つづく—...
Percakapan di desa Shugitani memakai dialek Kyoto Tamba-ben.
Gumaman/ monolog Hane memakai dialek Tokyo.
disisi lain, noa bener² berjuang bertahan hidup bersama bibi yang memang sebenarnya ibu kandungnya. kondisi yang cukup memprihatinkan untuk mereka berdua yang sebatang kara
sungguh alur cerita ini membuat penasaran untuk terus membacanya
kuat banget udahan, pengambilan konfliknya juga menarik. Geisha, si penghibur yang dihargai di Jepang. pasti si Rin ini cantik banget sampai kayaknya jadi pusat. Btw kakak Author kamu risetnya jalur film apa pernah kesana, bisa buat setting yang jepang banget 👍