NovelToon NovelToon
I'M Sorry My Wife

I'M Sorry My Wife

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Nouna Vianny

Elia menikah dengan Dave karena perjodohan, tanpa cinta dan tanpa pilihan. Di malam pertama, Dave membuat perjanjian pernikahan yang menegaskan bahwa Elia hanyalah istri di atas kertas. Hari-hari Elia dipenuhi kesepian, sementara Dave perlahan menyadari bahwa hatinya mulai goyah. Saat penyesalan datang dan kata “I’m sorry, my wife” terucap, akankah cinta masih bisa diselamatkan, atau semuanya sudah terlambat?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nouna Vianny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tertangkap

Dengan sedikit ragu, Bianca melangkah mendekat ke arah mobil dengan ciri-ciri yang disebutkan Dave. Mobil itu terparkir di sudut area parkiran, seakan sengaja memilih posisi yang tidak mencolok—memberi kesan bahwa mobil tersebut bukan milik penghuni apartemen.

Tok… tok… tok…

Bianca mengetuk kaca mobil.

Michael yang berada di dalam segera menurunkan kaca jendela sedikit. Yang terlihat hanya sepasang mata dan hidungnya. Kening pria itu mengerut saat menatap Bianca, seperti merasa pernah melihat wajah itu, namun belum sepenuhnya yakin.

“Maaf, Nona. Anda siapa?” tanyanya waspada.

“Aku Bianca,” jawab Bianca tenang. “Kekasih Dave.”

Mendengar nama Dave, Michael langsung menurunkan kaca jendela lebih jauh. Raut wajahnya berubah seketika, dari curiga menjadi paham.

“Oh… jadi Anda Nona Bianca,” ucapnya sopan. “Perkenalkan, saya Michael. Saya memang diperintahkan oleh Tuan Dave untuk mengawasi Anda.”

Di saat yang sama, anggota lain yang berada di dalam mobil ikut menampakkan diri dengan menurunkan kaca di sisi masing-masing, memastikan Bianca tahu bahwa ia tidak sendirian.

Bianca hanya membalas dengan senyum tipis. “Aku ingin membeli beberapa kebutuhanku. Tolong awasi aku dari belakang.”

“Baik, Nona,” jawab Michael singkat dan tegas.

Bianca mengangguk kecil. “Aku ambil mobilku dulu.”

Ia pun melangkah menjauh, kali ini dengan perasaan sedikit lebih tenang. Meski jauh di lubuk hatinya, rasa diawasi itu belum sepenuhnya hilang.

Setelah Bianca selesai mengeluarkan kendaraannya dari halaman parkir, tak lama kemudian Michael melakukan hal yang sama.

“Huft… aku jadi seperti buronan,” gumamnya sambil menatap kaca spion dalam, memastikan dirinya siap dari balik kemudi.

Mobil Bianca melaju keluar dari area apartemen, disusul kendaraan Michael yang menjaga jarak aman. Meski berada dalam pengawasan, batin Bianca tetap saja diliputi kegelisahan. Ada perasaan tak nyaman yang terus mengendap, seolah sepasang mata mengintai dari kejauhan.

Tak lama kemudian, Bianca tiba di depan sebuah minimarket. Ia turun dari mobil sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling, waspada. Di seberang minimarket, mobil Michael terparkir rapi, posisinya cukup strategis.

Jika memang Alex tengah mengikutinya, Michael bisa bergerak leluasa mengejar sebelum Bianca benar-benar berada dalam bahaya.

Tak lama setelah mobil Bianca terparkir di halaman minimarket, sebuah mobil merah mewah berhenti tepat di sebelahnya. Pemandangan itu sontak membuat kewaspadaan Michael meningkat. Ada sesuatu yang terasa janggal.

“Yang mana, ya…?” gumam Bianca pelan sambil menatap rak obat. Tangannya sempat ragu sebelum meraih sekotak pil pencegah kehamilan.

“Untuk apa kau membeli obat itu?”

Suara itu membuat Bianca tersentak. Keranjang di tangannya terlepas dan jatuh ke lantai.

“A-alex?” ucapnya tercekat. Alex melangkah mendekat, lalu mencondongkan tubuhnya, mendekatkan wajah ke telinga Bianca.

“Kau pikir bisa lepas dariku?” bisiknya dingin. “Jangan harap.” Bianca mendorong dada pria itu agar menjauh.

PLAK!

Tamparan keras mendarat sempurna di pipi Alex. Namun alih-alih marah, pria itu justru tersenyum sinis, meliriknya sekilas seolah tamparan itu hanya hiburan kecil.

“Sikapmu jauh berbeda dibanding pertama kali kita bertemu,” katanya pelan namun menusuk. “Kau tahu, Bianca… malam itu, permainanmu benar-benar luar biasa.”

"Aku sudah bilang kita tidak ada hubungan apa-apa. Dan sekarang aku mohon padamu untuk tidak mengusik hidupku!" ungkap Bianca dengan penuh penekanan.

Alex terkekeh, mata nya tertuju pada satu pintu gudang yang terbuka dan menyeret Bianca ke dalam.

"Kau mau apa? To-" Bianca hendak berteriak namun lengan Alex dengan cepat membekap mulutnya itu.

Seorang staff yang sedang menyusun barang di rak mencurigai dua orang yang masuk tidak berada di setiap lorong. Ia pun segera memeriksa rekaman CCTV melalui komputer di meja kasir nya.

"Astaga!" staff wanita itu langsung menutup mulutnya saat melihat rekaman cctv di area gudang. Alex tengah memaksa Bianca melakukan perbuatan mesum. Dengan kedua tangan Bianca yang di pelintir ke belakang nya dan di tekan kuat ke dinding.

Hoodie yang dikenakan Bianca dibuka secara paksa. Meski berulang kali ia menolak dan menahan gerakannya, Alex seolah sudah dirasuki amarah. Ia menarik baju itu dengan kasar hingga terdengar suara robekan.

“Sialan kau! Tolong!” Bianca berusaha sekuat tenaga melepaskan diri dari cengkeraman Alex.

Sementara itu, staf minimarket telah berada bersama Michael. Wanita itu meminta bantuan sambil menjelaskan bahwa seorang perempuan sedang disekap di dalam gudang bersama seorang pria.

“JANGAN BERGERAK!” gertak Michael sambil menodongkan pistol ke arah Alex.

Gerakan Alex yang hendak mencium tubuh Bianca seketika terhenti. Ia menoleh ke belakang. Saat kedua tangannya tak lagi menahan, Bianca segera mendorongnya. Alex terhuyung, sementara Bianca cepat meraih hoodie yang terjatuh dan menutupi bagian atas tubuhnya. Ia segera berlindung di balik tubuh anggota Michael.

“Sialan! Kenapa bisa ada polisi di sini?” gumamnya dalam hati. Kedua matanya tertuju pada sebuah tangga. Ia berusaha kabur dengan naik ke atas, namun langkahnya terhenti saat timah panas melesat cepat dan menghantam bagian kakinya.

Dor!

Alex terjatuh dengan wajah membentur lantai. Michael dan para anggotanya segera mendekat. Mereka memborgol kedua lengannya ke belakang.

“Lepaskan! Kalian tidak ada urusannya denganku!” teriak Alex sambil meronta, berusaha melepaskan diri.

Michael dan para anggota membopong tubuh Alex. Kakinya terasa sakit dan lemas, membuatnya tak mampu berdiri sendiri.

“Sebentar.”

Langkah Alex terhenti saat tatapannya kembali mengarah pada Bianca. Matanya nanar, namun sorot itu jelas menyimpan pesan yang mengandung ancaman.

“Hari ini mungkin kau merasa menang…” ucapnya pelan, suaranya rendah dan penuh kebencian. “Tapi jangan pernah merasa kau sudah bebas dari cengkeramanku.”

Bianca tak menjawab. Ia hanya membalasnya dengan tatapan jijik, dingin, seakan Alex bukan siapa-siapa.

Michael tak memberi kesempatan lebih lama. Ia kembali membopong Alex dan meneruskan langkahnya, menyeret situasi itu menuju akhir yang tak bisa ditawar lagi.

Sementara itu, staf minimarket akhirnya bisa bernapas lega. Namun tubuhnya masih gemetar hebat. Bayangan Alex yang tumbang setelah ditembak Michael masih terpatri jelas di kepalanya.

Staff minimarket akhirnya dapat bernapas lega. Meski tubuh nya masih bergetar saat melihat Alex di tembak oleh Michael.

Bianca turut dibawa ke kantor oleh Michael untuk dimintai keterangan sekaligus menjadi saksi. Alih-alih merasa lega, langkah itu justru membuat dadanya semakin sesak oleh rasa takut yang perlahan merayap.

Bagaimana jika Alex membuka aibnya? Bagaimana jika pria itu mengatakan sesuatu yang seharusnya tak pernah diketahui siapa pun?

Napas Bianca terasa berat. "Tidak… aku harus tetap tenang" batinnya mencoba menenangkan diri. "Jangan sampai rasa takut ini justru menghancurkan semuanya." Ia mengepalkan tangan pelan, berusaha menguatkan diri. Apa pun yang akan terjadi, ia tahu satu hal yaitu tak boleh runtuh sekarang.

Di negeri seberang, Dave langsung menerima kabar tentang penangkapan pria yang selama ini mengganggu Bianca. Mendengar itu, ia segera memberikan perintah singkat. Pria tersebut harus menerima hukuman yang setimpal atas perbuatannya.

Namun suasana berubah ketika suara Elia memecah lamunannya. “Dave, bagus tidak?” serunya ceria, sambil mencoba beberapa aksesori di tubuhnya.

“Bagus,” jawab Dave singkat, nyaris tanpa menoleh.

Keempatnya kini tengah berjalan-jalan, membeli beberapa suvenir di sebuah pasar tradisional sebelum melanjutkan ke pusat perbelanjaan di sana. Begitu memasuki sebuah toko pakaian seperti biasa, Eliia langsung tertarik pada baju yang dipajang di tubuh manekin.

“Kau mau itu?” tanya Dave, menyadari tatapan Elia yang tampak terpaku.

“Ah, tidak,” jawab Elia ringan. “Aku cuma ingin melihatnya saja.”

Ia pun beralih ke sudut lain, memperhatikan deretan pakaian keluaran terbaru dari negara tersebut. Hingga langkahnya kembali terhenti.

Matanya tertuju pada sebuah gaun yang jauh lebih memikat dari sebelumnya.

Elia mendekat dan menyentuh kain yang tergantung itu dengan hati-hati. Sebuah gaun berwarna putih, dihiasi payet mutiara yang berkilau lembut. Modelnya sedikit terbuka, namun tetap terlihat elegan dan anggun.

“Yang mana ya…” gumamnya pelan, menimbang-nimbang antara gaun itu dan yang sebelumnya ia lihat.

“Ambil saja dua-duanya,” ujar Dave tiba-tiba. “Biar aku yang bayar.”

Elia menoleh cepat. “Ah, tidak usah, Dave. Kau saja sudah sering memberiku kartu hitam.”

Dave menatapnya datar. “Pemberian dan nafkah itu jelas berbeda. Ambil saja. Aku yang bayar.”

“Tapi harganya lumayan mahal,” ucap Elia jujur.

“Tidak masalah. Cepat ambil,” titah Dave, nadanya

sedikit memaksa namun tegas.

Elia tak mungkin menolak kesempatan itu. Terlebih, kali ini Dave yang membayar langsung. Bukan karena ia tak mampu ia jelas bisa membayar sendiri. Hanya saja, Elia bukan tipe perempuan yang gemar menghamburkan uang tanpa alasan.

Pembayaran pun berhasil. Elia keluar dari toko itu sambil menenteng dua paper bag di tangannya, wajahnya tampak begitu bahagia seperti anak kecil yang baru saja mendapatkan hadiah.

“Dave… terima kasih ya,” ucapnya tulus, menoleh ke arah pria itu. Dave hanya membalasnya dengan senyum tipis. Tidak banyak kata, tapi sorot matanya seakan mengatakan ia senang melihat Elia tersenyum.

Namun di sisi lain, Angel tak mau kalah.

Perempuan itu bahkan terlihat seperti baru saja habis memborong seluruh isi toko. Kedua tangannya penuh dengan beberapa paper bag, belum lagi yang dibawa Billy,semuanya milik Angel.

Billy hanya bisa menghela napas pelan, tapi tetap menurut, menenteng barang-barang itu tanpa protes. Wajahnya pasrah… seolah sudah paham, liburan bersama Angel memang selalu berakhir seperti ini.

1
Nnar Ahza Saputra
klw ada yg lebih baik dari Dave, mending tinggal kn..elia bisa hidup mandiri.. daripada bertahan yg ada hnya sakit hati,,
Vianny: Hallo Kak Nnar terimakasih sudah membaca tulisanku semoga suka ya dengan ceritanya. 🥰
total 1 replies
partini
hati seorang istri yg lemah lembut kaya lelembut ya gini, biar pun lihat dengan mata kepala nya suaminya lagi bercinta behhhh is ok is ok
partini: Thor komen buat karakter nya di novel bukan menerka" alurnya kalau tidak ya bagus bearti dia wanita yg BADAS 👍
total 2 replies
partini
coba nanti kalian tau kalau anakmu bermain lendir Weh,
Dave karakter sangat kuat sdngkn istri melohoyyy apa dia bias marah
kalau bisa Weh luar biasa lain ini Thor
kenal mama Reni ga
partini: author lama di sini Thor spesialis rumah tangga tiga orang ,tapi Endingnya hampir sama semua back together again
total 2 replies
Vianny
Iya😄
partini
itu tiga cogan siapa Thor, temennya Dave
lover♥️
nanti juga nyesel tuh Dave minta kesempatan yg sudah" kaya gitu bilang i love khilaf dll
Vianny: Pasti, karena penyesalan itu muncul selalu di akhir 🤭
total 1 replies
partini
oh betul ternyata bermain lendir weleh
uhhh istri sah dapat Otong sisa 🤭
Vianny: Xie xie 🥰🥰
total 3 replies
partini
menarik ini cerita,apakah setelah puas bermain lendir dengan Bianca dan sesuatu terjadi dia antar mereka berdua datang penyesalan di hati Dave dan ingin kembali ke istri bilang minta maaf ,,
semoga berbeda ini cerita
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!