NovelToon NovelToon
Menjadi Ibu Susu Putra Sang Pewaris

Menjadi Ibu Susu Putra Sang Pewaris

Status: tamat
Genre:Menikah Karena Anak / CEO / Ibu susu / Janda / Duda / Tamat
Popularitas:213.9k
Nilai: 5
Nama Author: Eli Priwanti

Setelah memergoki perselingkuhan suaminya, Kamila Andini mengalami tragedi hebat, ia terjatuh hingga kehilangan calon bayinya sekaligus harus menjalani pengangkatan rahim. Penderitaannya kian lengkap saat sang suami, Danu, menceraikannya karena dianggap tak lagi "sempurna".
Berharap mendapat perlindungan di rumah peninggalan ayahnya, Kamila justru dijadikan alat oleh ibu tirinya untuk melunasi utang kepada seorang konglomerat tua. Namun, kejutan menantinya. Bukannya dinikahi, Kamila justru dipekerjakan sebagai ibu susu bagi cucu sang konglomerat yang kehilangan ibunya saat persalinan.
Evan Anggara, ayah dari bayi tersebut, awalnya menentang keras kehadiran Kamila. Namun, melihat kedekatan tulus Kamila dengan putranya, tembok keangkuhan Evan perlahan runtuh. Di tengah luka masa lalu yang belum sembuh, akankah pengabdian Kamila menumbuhkan benih cinta baru di antara dirinya dan Evan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mulai merasa nyaman

Perjalanan dari area pemakaman menuju Ancol terasa jauh lebih ringan. Seiring dengan menjauhnya mobil dari gerbang kamboja itu, mendung di wajah Kamila perlahan tersingkap, digantikan oleh binar antisipasi saat mereka memasuki kawasan SeaWorld.

Begitu melangkah masuk ke dalam area akuarium utama, hawa sejuk dan pencahayaan biru yang temaram langsung menyambut mereka. Kamila spontan menutup mulutnya dengan tangan, matanya membulat takjub melihat ribuan ikan berlalu-lalang di balik kaca raksasa.

"Wah... Tuan, lihat itu! Ikannya besar sekali!" seru Kamila tertahan, wajahnya tampak kembali cerah seperti anak kecil yang baru pertama kali melihat dunia.

Baby Zevan pun tidak mau kalah. Bayi mungil itu bergerak aktif di gendongan Evan, kakinya menendang-nendang kecil karena antusias. Evan menurunkan Zevan dan membiarkannya berdiri dengan tumpuan tangan pada kaca tebal yang membatasi mereka dengan kehidupan bawah laut.

"Ba... ba... ta! Gi...!" oceh Zevan dengan bahasa bayinya yang khas, tangannya menepuk-nepuk kaca seolah ingin menangkap ikan pari yang sedang "terbang" melintas di depannya.

Evan berdiri tepat di samping Kamila, memerhatikan interaksi putra kecilnya itu. Hatinya yang biasanya beku dan dipenuhi bayang-bayang kelam masa lalu, entah mengapa terasa menghangat. Kesedihan pahit yang selama ini menghimpitnya seolah larut dalam air akuarium di depan mereka.

"Dia benar-benar menyukainya, Kamila," gumam Evan lembut.

"Iya, Tuan. Lihatlah, Baby Zevan sampai tidak berkedip," sahut Kamila ceria.

Melihat pipi Zevan yang menggembung karena terlalu semangat mengoceh, Evan merasa gemas. Ia mengulurkan tangan dan mencubit pelan pipi bulat putranya. "Anak Ayah pintar sekali, ya? Senang melihat ikan?"

Zevan mendongak, lalu tertawa terbahak-bahak hingga matanya menyipit. Tawa renyah itu menular pada Evan dan Kamila yang ikut tertawa bersama. Namun, saat tawa mereka mereda, tanpa sengaja mata Evan beradu dengan mata bening Kamila.

Ada keheningan singkat yang terasa berbeda. Evan terpaku menatap wajah Kamila yang tampak manis di bawah pendar cahaya biru akuarium. Menyadari tatapan intens majikannya, Kamila segera menundukkan kepala, membuang muka demi menyembunyikan rona merah yang menjalar di pipinya.

Evan yang salah tingkah pun langsung menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Ehem... ayo, pertunjukan lumba-lumbanya sebentar lagi dimulai. Kita tidak boleh terlambat."

Mereka segera berpindah ke area tribun pertunjukan. Evan memilih posisi duduk yang cukup strategis agar Zevan bisa melihat dengan jelas. Ia duduk tepat di samping Kamila, jarak yang cukup dekat hingga sesekali bahu mereka bersentuhan saat Zevan bergerak aktif.

Zevan kini duduk di pangkuan Kamila, namun tangannya terus meraih-raih ke arah kolam. Saat dua ekor lumba-lumba melompat tinggi ke udara, Zevan berteriak girang sambil bertepuk tangan dengan tangannya yang mungil.

"Lihat, Sayang! Itu lumba-lumbanya melompat!" ujar Kamila sambil membimbing tangan Zevan.

"Zevan, lihat itu! Mereka sedang menari!" Evan ikut menunjuk ke arah kolam, senyumnya tidak pernah luntur sejak tadi.

Melihat Zevan yang begitu bahagia dan tidak lagi sering menangis seperti dulu, Evan menyadari satu hal: Kamila bukan sekadar pengasuh. Wanita itu telah membawa kembali "nyawa" ke dalam hidupnya dan putranya yang sempat redup.

Namun, di tengah kebahagiaan itu, Evan tidak menyadari bahwa di kejauhan, sepasang mata sedang mengawasi mereka dengan penuh kebencian. Siska, yang berhasil melacak keberadaan mereka, berdiri di balik salah satu tiang tribun dengan tangan yang mengepal kuat.

"Nikmatilah selagi bisa, Kamila," desis Siska dari kejauhan, "karena setelah ini, aku akan memastikan kau tidak akan pernah ingin tersenyum lagi."

Setelah keriuhan pertunjukan lumba-lumba mereda, Evan membawa Kamila dan Zevan menuju sebuah restoran seafood yang letaknya persis di bibir pantai. Angin laut yang sepoi-sepoi membawa aroma khas air garam, namun Baby Zevan mulai menunjukkan tanda-tanda kegelisahan. Tangisannya pecah, bukan karena lapar, melainkan rasa kantuk yang menyerang setelah puas bermain.

"Tuan, sepertinya Zevan sudah sangat mengantuk. Saya izin ke ruang menyusui sebentar, ya? Tadi saya lihat ada tandanya di dekat lobi restoran," pamit Kamila dengan nada cemas.

Evan mengangguk pengertian. "Silakan, Kamila. Aku akan memesan makanan untuk kita."

Hampir tiga puluh menit berlalu. Saat makanan laut yang menggugah selera sudah tertata rapi di atas meja, Kamila kembali dengan langkah perlahan. Di pelukannya, Zevan sudah terlelap dengan napas yang teratur. Dengan cekatan, Kamila merebahkan bayi itu ke dalam stroller yang telah dimodifikasi menjadi tempat tidur yang nyaman.

Evan menatap meja yang penuh dengan hidangan, lalu beralih pada Kamila. "Makanlah Kamila, aku yakin kau pasti sudah lapar dan juga lelah. Beruntungnya Baby Zevan sudah tertidur, apalagi kau sebagai ibu susunya harus makan makanan yang banyak mengandung nutrisi."

Kamila tersenyum tulus, ada rasa hangat yang menjalar di hatinya mendengar perhatian kecil itu. "Terima kasih, Tuan. Anda juga harus makan."

Tanpa banyak bicara lagi, Kamila mulai menyantap hidangannya. Ia tidak berusaha tampil anggun atau menjaga imej di depan majikannya. Dengan lahap, ia menikmati cumi bakar dan lobster di piringnya. Evan, yang biasanya hanya makan secukupnya, justru terdiam memperhatikan Kamila. Ada sesuatu yang menenangkan saat melihat wanita itu bersikap apa adanya, tanpa kepura-puraan.

Tanpa sadar, sebutir nasi tertinggal di sudut bibir Kamila yang memerah karena sambal. Secara refleks, tangan Evan bergerak maju. Jari jempolnya menyapu lembut sudut bibir Kamila, mengambil butiran nasi itu.

Kamila membeku. Jantungnya berdegup kencang hingga terasa ke kerongkongan. Ia menatap dalam ke mata Evan, dan untuk beberapa detik, dunia di sekitar mereka seolah berhenti berputar. Deburan ombak di kejauhan menjadi latar belakang keheningan yang penuh makna di antara mereka.

Namun, momen manis itu hancur berkeping-keping dalam sekejap mata.

PLAK!

Sebuah tamparan keras mendarat di pipi kiri Kamila, membuat kepalanya terhentak ke samping. Suasana restoran yang tadinya tenang seketika berubah mencekam.

"Dasar wanita jalang, murahan! Kau berani sekali menggoda calon suamiku!" teriak Siska dengan napas memburu dan wajah yang merah padam karena amarah.

Kamila tercengang, tangannya bergetar saat menyentuh pipinya yang terasa panas dan berdenyut nyeri. Ia mengepalkan tangannya di bawah meja, mencoba sekuat tenaga menahan air mata yang mulai menggenang. Bukan karena sakit, tapi karena hinaan yang begitu rendah di depan umum.

Evan berdiri dengan kasar hingga kursi yang didudukinya hampir terjungkal. Amarahnya memuncak melihat kekejaman Siska yang tidak tahu tempat.

"Cukup hentikan Siska! Kau membuat aku hilang kesabaran!" bentak Evan dengan suara rendah namun menggelegar, matanya memelototinya dengan tatapan yang bisa membunuh. "Enyahlah kau dari sini!"

"Kau mengusirku demi dia, Evan?! Demi pengasuh rendahan ini?!" Siska menunjuk Kamila dengan jari yang gemetar.

Evan melangkah maju, memposisikan dirinya di depan Kamila seolah menjadi perisai hidup. "Dia tidak rendah, Siska. Sikapmu yang datang dan menampar orang tanpa alasan inilah yang jauh lebih rendah. Pergi sekarang, sebelum aku melakukan hal yang akan kau sesali selamanya!"

Bersambung...

1
Teh Yen
waahhh keren Evan d Kamila buat mereka bungkam semuanya 👏👏👏bravo bravo
setelah ini Sandra pasti Tidka akan melupakan hari ulang tahun terburuk sepanjang hidupnya 😏
Teh Yen
haah rasain d skakmatt kalian jenika Sandra emng enk ,😂😂 ada yg panas tp bukan api hihii
Teh Yen
waduh deg deg gan jg yah apakah Kamila akan terhasut omongan orang" sombong itu engg yah 😬,, tp sepertinya tidak akan semudah itu menaklukan Kamila wahai jenika yg terhormat jd siap" saja d usir dari mansion Evan yah 😏
Teh Yen
sepupu sialan usir aj Sono suruh plng kalau ayah Evan tau bisa marah besar dia kamu coba usir Kamila huuh 😤
Teh Yen
knp Evan memanjakan dia dia sudah besar lagi pula aga risih engg sih d perlakukan gt apa engg ada tersirat ada yg janggal gt Van masa engg ngeeh kalau jenika menyukai kamu dan tidak suka Dnegan Kamila
Rey
👍
💕£LI P®iwanti 🦋✍️⃞⃟𝑹𝑨 🐼: terimakasih kak 🙏
total 1 replies
Teh Yen
eeh datang lagi pengganggu baru huuh
💕£LI P®iwanti 🦋✍️⃞⃟𝑹𝑨 🐼: /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 1 replies
Teh Yen
hah ketakutan kan kalian rasain jahat banget sih orang pada huuh 😤😤
Teh Yen
nah nah pengaruh obatnya mulaii hilang yah ,, Alhamdulillah ternyata rahimmu masih ada Kamila itu hanya akal" lan Maya d dokter Burhan saja biar kamu merasa perempuan tak.berguna hiks kejam nya
Teh Yen
ayo cari tau Evan sebelum c Maya itu Bertindak lebih jauh dan kamu malah kecolongan nanti
💕£LI P®iwanti 🦋✍️⃞⃟𝑹𝑨 🐼: betul 👍
total 1 replies
Teh Yen
punya rencana apalgi c Maya itu blom kapok kah hadeuuh kamu harus hati" Kamila
Teh Yen
wah jahat banget tuh c Maya maen kabur aj suami lagi sakit jg malah bawa uang sisa perawatan pula ,, sepertinya itu karma buat kamu Danu karena sudah menyakiti istrimu d membuangnya seperti barang tidak berharga
💕£LI P®iwanti 🦋✍️⃞⃟𝑹𝑨 🐼: setuju
total 1 replies
Teh Yen
waah mantapz Evan biar tau rasa tuh c Maya hahaaa rasain kau Maya malu marah jd satu puas banget aku 👏👏👏👏
💕£LI P®iwanti 🦋✍️⃞⃟𝑹𝑨 🐼: sama kak 🤣🤣
total 1 replies
Teh Yen
jangan halu Maya Evan itu pria kulkas yg Tidka mudah luluh oleh perempuan apalgi perempuannya ky kamu huuhh dasar ulet bulu
Teh Yen
ah harusnya Evan permalukan Maya balik d depan umum dong kalau perlu buat dia kehilangan pekerjaannya karena sudah mempermalukan istrimu
susah emng kalau berhadapan dengan orang yg penuh iri hati engg ngapa ngapain jg ttp aj d nyirnyirin yah
Teh Yen
Maya .... Maya kaget engga kaget engga....???? kaget lah masa engga 😂😂😂 pembalasan yg elegan Kamila ,, bagaimana jantungmu masih aman kan Maya hemmm 😏
Teh Yen
blom.tau dia kalau Kamila udh jd nyonya sekarang 😏
💕£LI P®iwanti 🦋✍️⃞⃟𝑹𝑨 🐼: betul 🤣🤣🤣
total 1 replies
Patrick Khan
akusuka😍😍😍😍😍😍😍😍
💕£LI P®iwanti 🦋✍️⃞⃟𝑹𝑨 🐼: terimakasih kak 🙏🥰
total 1 replies
Patrick Khan
cie cie kevin🤣
Patrick Khan
cie Kevin suka sm Rani ya😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!