NovelToon NovelToon
TETANGGA GARIS KERAS

TETANGGA GARIS KERAS

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Wanita
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Rachel Imelda

Aruna Paramitha, gadis cantik yang memiliki bodi gores menganggap rumahnya dalam tempat yang paling aman, menjadi terganggu dengan kedatangan tetangga baru yang menyebalkan. Gavin Adnan, adalah pria garis keras dalam hal ketertiban. Aruna yang berjiwa bebas dan sedikit berantakan pun resmi menjadi musuh bebuyutan Gavin. Namun.un saat sebuah insiden salah kirim paket, mengungkap rahasia kecil Gavin yang tak terduga, tembok pertahanan pria kaku itu mulai goyah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rachel Imelda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tidak Sopan

Hari keberangkatan Tania ditandai dengan pemandangan yang sangat "Gavin": lima koper pink neon milik Tania sudah berjejer rapi di pinggir jalan, disusun berdasarkan ukuran dari yang paling besar ke yang paling kecil.

Tania berdiri di perbatasan halaman yang kini luas tanpa pagar itu sambil memegang kacamata hitamnya. Ia menatap Aruna dan Gavin dengan tatapan dramatis.

"Oke, Runa, Mas Gavin. Aku cabut dulu ya. Apartemen sudah cantik lagi, sudah siap buat konten home dekor," ujar Tania sambil menghela napas. Tapi sejujurnya, aku bakal kangen nonton kalian berdua. Drama audit cinta ini lebih seru daripada series di Netflix."

Tania kemudian mendekati Gavin dan berbisik, "Mas Gavin, titip kakakku, ya. Meskipun dia sering berantakan, dia satu-satunya orang yang bisa bikin Mas Gavin nggak kelihatan kayak robot kulkas lagi."

Gavin hanya mengangguk kaku, tapi ia memberikan sebuah benda kecil pada Tania. "Ini kartu nama toko pembersihan profesional dan daftar periksa perawatan apartemen pasca-renovasi. Saya harap Anda melakukan audit debu sebelum memasukkan furniture."

Tania melongo melihat kartu nama itu. "Makasih, ya Mas. Memang beda ya kalau punya tetangga rasa mandor bangunan."

Setelah Tania pergi dengan taksi (yang sebelumnya plat nomornya dicatat oleh Gavin untuk keamanan), Aruna menatap halaman mereka yang kosong. "Nah, sekarang tinggal kita berdua. Dan halaman ini... masih kelihatan gundul."

Gavin mengeluarkan penggaris lasernya dari saku. "Setuju. Kita butuh perabotan outdoor yang tahan cuaca, memiliki nilai ergonomis tinggi, dan tentu saja... tidak menjadi sarang laba-laba."

Mereka tiba di sebuah toko perabotan dan bangunan raksasa. Aruna baru saja melangkah masuk saat ia menyadari Gavin membawa "perlengkapan perang": meteran gulung logam, sebuah buku catatan kecil, dan sebuah botol semprotan antiseptik yang digantung di sabuknya.

Aruna berlari menuju sebuah kursi gantung rotan yang terlihat sangat nyaman. "Mas, lihat ini! Lucu banget kalau ditaruh di bawah pohon mangga!"

Gavin mendekat, tapi bukannya mencoba duduk, ia malah berlutut di lantai toko. Ia menarik meteran gulungnya.

"Runa, rotan sintetis ini memiliki kerapatan anyaman yang rendah. Potensi retak akibat sinar matahari langsung adalah 15% pertahun," lapor Gavin. Ia kemudian duduk di kursi itu dengan posisi punggung tegak lurus 90 derajat. "Dan sandaran ini tidak mendukung tulang belakang L4 dan L5 saya. Secara fungsional ini gagal."

"Mas, ini buat santai, bukan buat rapat anggaran!" protes Aruna sambil menarik Gavin ke bagian kursi kayu.

Saat melihat meja taman kayu jati, Gavin melakukan hal yang membuat pengunjung lain menoleh. Ia menaruh air botol mineral di atas meja, lalu mengguncang meja itu dengan tenaga sedang. Ia memperhatikan riak air di dalam botol tersebut.

"Stabilitas getarannya buruk, Runa. Jika ada angin kencang atau kucing melompat, kopi kita akan tumpah sebesar 20 milimeter. Saya butuh meja dengan kaki-kaki yang memiliki skrup pengatur ketinggian."

Aruna menutup wajahnya dengan tangan. "Mas... tolong orang-orang melihat kita sedang melakukan investigasi malpraktik furniture."

"Aku mau payung taman warna oranye cerah!" seru Aruna.

'Secara termodinamika, warna gelap lebih baik dalam menyerap panas, tapi warna oranye akan memudar lebih cepat karena radiasi UV," balas Gavin sambil menunjukkan tabel warna di ponselnya. "Saya mengusulkan warna taupe atau abu-abu beton. Selain netral, ia memiliki indeks refleksi cahaya yang aman bagi mata."

"Nggak, pokoknya harus ada warnanya! Masa rumah kita jadi kayak kantor kelurahan?"

Gavin terdiam, melihat binar di mata Aruna. Ia menarik napas panjang, lalu mencoret catatan di bukunya. "Baik, kita ambil warna oranye. Tapi saya akan membeli cairan pelindung UV tambahan untuk menyemprotnya setiap enam bulan sekali. Saya masukkan ke dalam jadwal pemeliharaan rutin."

Di bagian lampu taman, suasana yang tadinya penuh debat teknis, mendadak mencair. Aruna sedang mencoba sebuah lampu string light yang berkelap kelip hangat. Di bawah remang lampu itu, Aruna terlihat sangat cantik.

Gavin berdiri di depannya, menyingkirkan sebuah label harga yang menggantung di dekat kepala Aruna.

"Kenapa Mas? Mau komplen kalau lampu ini boros listrik?" tanya Aruna sambil tersenyum menggoda.

Gavin menatap lampu-lampu kecil itu, lalu menatap mata Aruna. "Tidak, saya baru saja menghitung bahwa intensitas cahaya lampu ini adalah 2700 kelvin. Itu adalah spektrum warna warm white yang... paling cocok untuk menyoroti wajah kamu."

Aruna tertegun, "Mas Gavin belajar gombal dari mana?"

"Bukan gombal, Runa. Itu observasi visual yang akurat," jawab Gavin pelan, tangannya menggenggam jemari Aruna di antara rak-rak lampu. "Mulai sekarang, halaman itu bukan lagi wilayah saya atau wilayah kamu. Itu adalah proyek bersama tidak butuh kesempurnaan, cuma butuh... kita yang ada di dalamnya."

Aruna tersenyum, menyandarkan kepalanya di bahu Gavin yang wangi citrus. "Tapi tetap ya, Mas. Nggak boleh ada garis pembatas imajiner lagi di sana."

"Satu-satunya garis yang tersisa," bisik Gavin, "hanya garis takdir yang sudah saya audit, dan hasilnya... 100 % valid kalau aku butuh kamu."

Belanja perabotan belum berakhir sebelum mereka sampai di bagian paling krusial bagi seorang Gavin yaitu kotak penyimpanan (storage box).

Di lorong terakhir, Aruna menemukan sebuah keranjang piknik dari rotan yang sangat cantik. Tanpa bertanya ia langsung memasukkannya ke dalam troli besar mereka yang sudah berisi meja, lampu dan payung oranye.

Gavin berhenti mendadak. Ia menatap keranjang itu, seolah-olah baru saja melihat laporan keuangan yang selisih satu miliar rupiah.

"Runa, keranjang ini tidak memiliki sistem penguncian kedap udara. Secara teknis, semut akan melakukan infiltrasi dalam waktu kurang dari sepuluh menit jika kita menaruh kue di dalamnya."

"Tapi ini lucu, Mas. Estetik!"

Gavin mengeluarkan penggaris lasernya, mengukur dimensi keranjang itu, lalu menghela napas. "Baik, kita beli. Tapi saya akan memodifikasinya dengan lapisan silikon di bagian tutupnya nanti malam."

Aruna hanya tertawa sambil mencubit pipi Gavin. "Mas, kamu itu satu-satunya orang di dunia yang mau kasih operasi plastik di keranjang piknik,"

Saat di kasir, antrean sangat panjang. Gavin mulai gelisah melihat orang di depan mereka yang menaruh barangnya berantakan. Tanpa sadar, Gavin mulai merapikan barang belanjaan orang asing tersebut, menyusun kaleng cat berdasarkan gradasi warna dan menyelamatkan balok kayu.

"Mas, berhenti mengaudit belanjaan orang lain!" bisik Aruna sambil menarik tangan Gavin.

"Maaf, Runa. Naluri keteraturan saya meronta-ronta melihat ketidakefisienan ruang di ban berjalan itu," jawab Gavin dengan wajah tanpa dosa.

Akhirnya tiba giliran mereka membayar, setelah semua barang di scan, lalu kasirnya menyebutkan angka yang harus di bayar, Gavin segera membayarkannya. Setelah itu mereka pun pergi dari situ kembali menuju ke rumah mereka.

Begitu mobil Gavin sampai di depan rumah mereka dan memasukkan mobilnya di carportnya, tiba-tiba suara Bu Tejo mengagetkan mereka berdua.

"Wah, abis borong nih, berdua?" tanya Bu Tejo. Lehernya ia panjang-panjangkan supaya bisa melihat apa yang dibelanjakan oleh Gavin dan Aruna.

"Iya, Bu Tejo. Nanti kami mau adakan syukuran halaman baru kami. Datang ya, Bu," kata Aruna.

"Pasti Ibu datang, tenang aja. Kalau perlu bantuan Ibu bilang aja, ya. Jangan sungkan." kata Bu Tejo lagi.

"Iya, Bu. Paling nanti aku teriakin Ibu kalo aku butuh bantuan Ibu, hehehe," kata Runa.

"Itu tidak sopan, Runa," kata Gavin sambil menurunkan barang belanjaan mereka.

Bersambung......

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!