NovelToon NovelToon
Tiba-Tiba Nikahin Sahabat!

Tiba-Tiba Nikahin Sahabat!

Status: sedang berlangsung
Genre:Percintaan Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / Cinta setelah menikah / Persahabatan / Perjodohan / Gadis nakal
Popularitas:9.4k
Nilai: 5
Nama Author: Soju Kimchizz

Siapa sangka hubungan persahabatan sejak kecil mengantarkan Viona dan Noah ke jenjang yang lebih serius?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soju Kimchizz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Makanan Dingin

Di dalam ruangan itu, waktu seolah berjalan lebih lambat. Noah duduk bersandar di kursi kebesarannya dengan posisi yang sedikit tidak biasa; ia membiarkan Viona tertidur pulas dengan kepala di pangkuannya, menjadikannya sebagai sandaran paling nyaman di dunia.

Tangan kanan Noah sibuk mencoret-coret lembar jawaban ujian mahasiswa dengan bolpoin merah, sementara tangan kirinya secara refleks mengusap lembut bahu Viona, memastikan istrinya itu tetap hangat dalam tidurnya.

Tok! Tok! Tok!

Pintu kayu itu diketuk pelan. Seorang mahasiswa tingkat satu melangkah masuk dengan ragu, membawa tumpukan tugas tambahan. Langkahnya mendadak terhenti, matanya membelalak menatap pemandangan di depan sana. Noah Sebastian, dosen yang biasanya menatap mereka seolah-olah mereka adalah beban peradaban, kini duduk dengan raut wajah yang begitu lembut.

"Taruh aja di meja," kata Noah singkat.

Suaranya sangat rendah, hampir berbisik, seolah-olah suara keras sedikit saja adalah dosa besar yang bisa mengusik tidur Viona.

Mahasiswa itu mengangguk kaku, meletakkan tugasnya secepat kilat. Sebelum keluar, ia sempat tersenyum tipis. Ia baru saja melihat sisi manusiawi dari sang "Dosen Killer". Ternyata, singa kampus ini bisa berubah menjadi pelindung yang begitu teduh hanya di hadapan satu wanita.

Viona melenguh kecil, ia menggeliat pelan saat merasakan kehangatan yang menjalar di pipinya. Perlahan, matanya terbuka dan bertemu langsung dengan tatapan Noah yang sedang menunduk menatapnya.

"Noah..." gumamnya dengan suara serak khas bangun tidur.

Tanpa berkata apa-apa, Noah menunduk dan mengecup kening Viona singkat namun dalam. Bukannya bangun, Viona justru semakin meringkuk, menyembunyikan wajahnya di perut Noah dan memeluk pinggang suaminya itu erat-erat.

"Gue udah dapat judul," ungkap Viona dari balik dekapan, suaranya teredam namun terdengar penuh kepuasan.

Noah tersenyum tipis, tangannya menyisir rambut Viona yang sedikit berantakan. "Bagus. Tapi lain kali kabarin gue ya kalau mau riset sampai subuh. Gue bisa temenin, gue bisa bawain kopi, atau setidaknya gue nggak perlu jantungan nyariin lo ke seluruh penjuru Seoul."

Viona mendongak, menatap dagu tegas Noah.

"Tapi kalau mahasiswa lain lihat lo nemenin gue riset tiap malam, mereka bakal ngira gue lulus karena ada lo. Mereka bakal bilang gue dapet jalur khusus."

Noah menutup tutup bolpoinnya dengan bunyi klik yang mantap. Ia menatap Viona lurus-lurus, tatapan yang biasanya membuat mahasiswa gemetar, kini justru membuat jantung Viona berdesir.

"Persetan dengan kata orang, Vio. Emang apa salahnya bantuin istri sendiri? Kalau mereka mau dapet bantuan dari gue, ya suruh mereka jadi istri gue juga, eh, nggak bisa, kan? Cuma lo yang punya akses itu," kata Noah telak.

Viona tertawa kecil, ia menarik dasi Noah pelan hingga wajah pria itu mendekat. "Dosen bucin," ejeknya.

"Bucin ke istri sendiri itu prestasi, Nyonya Willey. Bukan aib," balas Noah sebelum kembali mengecup hidung Viona, mengabaikan tumpukan kertas ujian di depannya yang mendadak terasa tidak penting sama sekali.

"Sana prepare dulu, sebentar lagi kelas dimulai," kata Noah, mencoba mengembalikan sisa-sisa wibawanya sebagai dosen meski detak jantungnya sudah tidak karuan.

Viona berdiri, merapikan roknya yang sedikit kusut. "Gue ke toilet cuci muka doang terus langsung cus ke kelas," ujar Viona enteng.

Namun, sebelum benar-benar melangkah pergi, Viona berhenti tepat di depan Noah. Ia tidak langsung lari, melainkan mencondongkan tubuhnya ke arah suaminya yang masih duduk di kursi kebesaran. Jemari lenturnya bergerak cekatan, membenarkan simpul dasi Noah yang sedikit miring akibat aktivitas "bantal" tadi, lalu menarik kerah kemeja pria itu agar lebih rapi.

Jarak mereka begitu dekat, hingga Noah bisa mencium sisa aroma tidur dan bumbu misterius yang masih menempel di tubuh Viona.

Cup.

Satu kecupan manis, lembut, namun tegas mendarat tepat di bibir Noah. Itu bukan di kening, bukan di pipi. Itu di bibir, dan itu adalah serangan pertama yang dilakukan Viona dengan kesadaran penuh.

Saat Viona hendak menarik diri dengan senyum kemenangan, tangan kekar Noah bergerak lebih cepat. Ia menyambar pergelangan tangan Viona, menariknya kembali hingga wanita itu nyaris terduduk lagi di pangkuannya. Tatapan mata Noah yang tadinya teduh, kini berubah menjadi gelap dan penuh godaan.

"Mau mancing gue pagi-pagi, hm?" bisik Noah dengan suara rendah yang serak, terdengar sangat berbahaya bagi pertahanan iman siapapun. "Gue bisa undur kelasnya satu jam, atau sekalian gue batalin, demi lanjutin apa yang baru aja lo mulai."

Wajah Viona langsung berubah merah padam seperti kepiting rebus. Keberaniannya yang setinggi langit tadi menguap begitu saja melihat respon agresif sang suami.

"Ih! Noah! Enggak ya! Dasar otak mesum!" pekik Viona panik. Ia menyentakkan tangannya, lalu berlari sekencang mungkin menuju toilet pribadinya di dalam ruangan itu.

Noah tertawa lepas, suara tawa yang sangat renyah dan puas. Ia menyentuh bibirnya sendiri dengan ujung jari, masih merasakan sisa kehangatan dari kecupan singkat tadi.

"Vio, gue tunggu di luar ya! Kalau sepuluh menit nggak keluar, gue anggap itu undangan buat masuk!" teriak Noah sengaja menggoda, yang langsung dibalas dengan bunyi kunci pintu yang diputar dua kali dari dalam.

Pagi itu, kelas S1 mungkin akan mendapati Pak Noah Sebastian mengajar dengan senyum yang terus mengembang, membuat para mahasiswa ketakutan sendiri karena mengira sang dosen sedang merencanakan kuis dadakan yang super sulit.

———

Setelah seharian berdiri dengan stiletto menyambut tamu VVIP dan memastikan operasional hotel berjalan tanpa cela, Viona tidak langsung istirahat. Ia pulang membawa kantong belanjaan besar, berisi bahan-bahan premium yang tadi subuh baru saja ia pelajari teknik pengolahannya bersama seorang chef pribadi.

"Oke, Vio. Konsentrasi. Bawang putih dulu, baru dagingnya," gumamnya menyemangati diri sendiri.

Dapur yang biasanya hanya menjadi pajangan estetika itu mendadak gaduh. Suara sutil beradu dengan wajan, aroma bumbu yang kadang terlalu menyengat, hingga insiden kecil di mana ia hampir menghanguskan saus spesialnya. Meski ada bagian yang sedikit terlalu cokelat alias gosong, hasil akhirnya terlihat cukup meyakinkan. Sebuah hidangan yang ditata cantik di atas piring porselen, lengkap dengan lilin aroma terapi di tengah meja.

[17.30] To: Noah

Gue udah di rumah. Buruan balik, ada sesuatu.

Viona tersenyum puas menatap layar ponselnya. Ia memutuskan untuk mandi dan bersiap, ingin menyambut Noah dengan penampilan segar, bukan dengan aroma bawang putih yang tadi subuh sempat membuat Noah curiga.

Namun, waktu adalah pengkhianat yang kejam.

Satu jam berlalu. Viona sudah cantik dengan homewear yang nyaman, namun kursi di depannya masih kosong.

Dua jam berlalu. Ia berkali-kali mengecek ponselnya. Tidak ada balasan. Panggilan darinya hanya berakhir di kotak suara. Viona mulai gelisah. Apa ada rapat mendadak? Atau ada mahasiswa yang bermasalah lagi?

Rasa lelah akibat begadang di perpustakaan dan bangun subuh untuk kursus memasak mulai menyerang pertahanannya. Kepalanya terasa berat. Perlahan, Viona melipat tangannya di atas meja makan, menumpukan kepalanya di sana sambil menatap pintu depan yang tetap tertutup rapat.

Lampu ruang makan yang temaram dan keheningan rumah membuat matanya memberat. Viona akhirnya terlelap, tepat di samping masakan yang kini mulai mendingin dan lilin yang perlahan habis terbakar. Ia tidak tahu bahwa di luar sana, Noah sedang bergelut dengan sesuatu yang membuatnya tak bisa menyentuh ponselnya sama sekali.

Noah melangkah masuk dengan napas terengah-engah. Jasnya sudah tersampir di lengan, dan dasinya sudah dilonggarkan sedemikian rupa. Begitu matanya menangkap sosok Viona yang tertidur dengan posisi tidak nyaman di meja makan, hatinya mencelos.

"Astaga, dia siapin ini buat gue," gumamnya lirih. Rasa bersalah menghantamnya lebih keras daripada masalah proyek Singapura yang baru saja ia hadapi.

Noah mendekat, mengusap bahu Viona dengan sangat lembut. "Vio... bangun, sayang..."

Viona tersentak, mengerjapkan matanya yang terasa berat. Begitu melihat wajah Noah, kesadaran dan kekesalannya langsung memuncak. "Oh! Noah! Ke mana aja sih? Lo tau jam berapa sekarang?" gerutunya dengan suara serak, mencoba menutupi rasa kecewanya.

"Maaf banget, Vio. Tadi ada rapat internal darurat soal proyek mall Singapura. Ada pegawai lapangan yang cedera dan gue harus urus asuransi sama laporannya sampai tuntas," jelas Noah tulus.

Viona menyipitkan mata, menatap Noah lurus-lurus dengan tatapan menyelidik. "Beneran gara-gara itu? Bukan karena asik ngobrol sama dosen lain atau... siapa gitu?"

"Benar, Vio. Demi Tuhan cuma urusan kerjaan," Noah menghela napas, matanya tertuju pada piring-piring di atas meja.

"Makanan lo udah dingin ya... maaf ya, gue bakal tetap makan kok."

Viona melihat piring-piring itu dengan tatapan miris. Daging yang tadi terlihat juicy kini tampak kaku, dan sausnya sudah mengental tidak karuan. "Gak usah. Kayanya rasanya juga jelek. Buang aja," ungkap Viona pahit. Ia berdiri, hendak membereskan piring-piring itu dengan gerakan kasar untuk dibawa ke tempat cuci piring.

"Hei... kok ngambek gitu? Maaf ya? Gue tetap makan ya?" bujuk Noah. Ia menahan tangan Viona, mencoba mengambil kembali piring yang sudah dipegang istrinya.

Pertahanan Viona runtuh. Mendengar suara lembut Noah, air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya mengalir deras membasahi pipinya. Bahunya berguncang hebat.

"Gue bela-belain bangun subuh buat kursus masak, Noah! Gue rela bayar mahal supaya diajarin kilat!" isak Viona pecah. "Gue nggak mau lo dikatain orang-orang punya istri manja kaya gue yang cuma tau kerja dan nggak bisa urus suami. Gue cuma mau lo bangga punya gue!"

Noah tertegun. Ia segera menarik Viona ke dalam pelukannya, mendekap kepala istrinya itu di dadanya yang bidang. Ia akhirnya paham dari mana aroma bumbu yang ia cium di perpustakaan tadi pagi.

"Hei... dengerin gue," Noah berbisik tepat di telinga Viona sambil mengusap punggungnya.

"Gak usah dipikirin omongan orang. Gue nggak pernah butuh koki di rumah ini, Vio. Gue cuma butuh lo. Fakta kalau lo usaha sekeras ini buat gue, itu udah lebih dari cukup. Gue bangga sama lo bukan karena masakan lo, tapi karena lo adalah Viona."

Viona masih sesenggukan di dada Noah, namun tangannya perlahan membalas pelukan suaminya. Rasa lelah dan sakit hatinya sedikit demi sedikit menguap, digantikan oleh kehangatan dari detak jantung Noah yang beraturan.

1
deeRa
haii... I found ur story, accidentally 😊
Vha Evha
karya yg bagus porsi nya pas cwe nya gk trlalu lebay dan menye" dan cwo nya meskipun bucin tpi gk kehilangan cool nya, smoga panjang crita nya
Nihayatuz Zain
lanjut kk
Nihayatuz Zain
wah karya bagus kok nggk ketauan pembaca ya
kurang promosi nih
atau judulnya kurang bar bar kk, biyar pada penasaran terus mmpir baca
Sunshine: Wahh makasihh ya kak udah suka karya aku❤️ maybe aku pikirkan dulu judul yg menarik lagi, terima kasih sarannya kak❤️❤️
total 1 replies
Nihayatuz Zain
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!