NovelToon NovelToon
Datang Untuk Mengabdi, Pulangnya Trauma.

Datang Untuk Mengabdi, Pulangnya Trauma.

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Horor / Rumahhantu / TKP / Komedi
Popularitas:683
Nilai: 5
Nama Author: Rania Venus Aurora

Mereka datang ke desa untuk KKN dengan niat mengabdi.
Yang tak mereka sangka, kepulangan mereka justru membawa trauma.
Setiap suara malam dianggap teror, setiap bayangan jadi horor, padahal tak satu pun hantu benar-benar ada. Semua kekacauan terjadi karena ketakutan, kepanikan, dan imajinasi para mahasiswa itu sendiri.
Sebuah kisah horor komedi tentang KKN yang gagal menakutkan hantu,
karena manusianya sudah panik duluan.
Datang untuk mengabdi, pulangnya trauma.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rania Venus Aurora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab.8

Mereka menyiapkan makan lesehan di ruang tengah. Tikar tipis digelar, Piring plastik dibagikan merata. Nasi hangat mengepul pelan, tapi tidak ada yang langsung menyantap dengan lahap. Semua makan seperti sedang menjalankan kewajiban, bukan menikmati hidangan. Tikar itu tidak pernah benar-benar bersih. Bukan kotor—lebih tepatnya terbiasa. Terbiasa diinjak, diduduki, dilipat, lalu dilupakan. Warnanya sudah tidak jelas, antara cokelat dan abu-abu, dengan motif garis yang dulu mungkin pernah simetris. Sekarang garis-garis itu miring, melenceng, seperti tidak lagi peduli pada bentuk.

Ketika mereka duduk melingkar, tikar itu berbunyi pelan. Bukan bunyi robek. Bukan bunyi gesek. Lebih seperti keluhan kecil dari sesuatu yang dipaksa kembali menjalani fungsi lamanya. Tidak ada yang menanggapi suara itu. Semua berpura-pura tidak mendengar. Piring plastik dibagikan satu per satu. Warnanya beragam, tidak seragam, jelas hasil kumpulan entah dari mana. Ada yang sudah tergores sendok, ada yang pinggirnya agak meleleh seperti pernah terlalu dekat dengan api. Tapi malam ini, tidak ada yang mengomentari itu. Biasanya, komentar pertama saat makan selalu soal lauk. Ini asin, kurang mateng, pedesnya nanggung. Sekarang, tidak ada suara apapun.

Tidak ada yang benar-benar nafsu makan, tapi tidak ada yang mau mengaku takut. Takut adalah kata yang terlalu besar. Terlalu dramatis. Terlalu mengundang tawa jika diucapkan keras-keras. Jadi mereka memilih kata lain dalam kepala masing-masing. Capek, Masih adaptasi, Belum lapar. Sendok beradu pelan dengan piring. Suara kunyahan terdengar canggung. Tidak ada obrolan ringan seperti seharusnya. Suara sendok itu terdengar terlalu jelas. Padahal biasanya bunyi makan selalu kalah oleh suara tawa, debat receh, atau musik dari ponsel seseorang. Malam ini, setiap ting kecil dari piring terasa seperti suara yang minta diperhatikan.

Ani mengambil nasi sedikit. Ia mengunyah lama, seolah nasi itu punya tekstur baru yang harus dipelajari dengan saksama. Matanya tidak menatap siapa pun, tapi juga tidak benar-benar fokus pada piring.

Palui duduk dengan punggung tegak, seperti sedang rapat. Ia makan pelan, teratur, dengan perhitungan matang. Setiap suapan seperti hasil negosiasi panjang antara rasa lapar dan prinsip penghematan.

Anang duduk agak membungkuk, menikmati masakannya sendiri dengan bangga yang ditahan. Tangannya cekatan, gerakannya yakin. Tapi setiap kali lantai kayu mengeluarkan bunyi kriet kecil, rahangnya menegang sebentar sebelum kembali mengunyah.

Ithay mengaduk nasi dengan sendoknya, memutar-mutar lauk seperti berharap menemukan bentuk yang lebih meyakinkan. Biasanya ia sudah bersenandung atau melempar komentar absurd. Sekarang, ia hanya sesekali menghela napas.

Juned duduk agak menjauh dari dinding. Kameranya tergeletak di samping, layar mati. Tangannya berada di pangkuan, jari-jarinya bergerak kecil, seperti menghitung sesuatu yang tidak kelihatan.

Susi menyuap nasi, lalu berhenti. Ia melirik ke sekeliling sebelum melanjutkan, seolah ingin memastikan semua masih di tempatnya masing-masing.

“Sebenernya,” kata Surya sambil mengunyah pelan, “ini tempatnya oke ya. Tenang.”

Ia berusaha tersenyum. Senyum yang biasa ia pakai untuk mencairkan suasana. Tapi malam ini, senyum itu terasa seperti tempelan. Matanya terus bergerak, menyapu sudut ruangan, dinding, pintu, lalu kembali ke piring.

“Tenang banget,” sahut Bodat tanpa menoleh.

Ia tetap menatap makanannya. Nada suaranya datar, seperti menyebut fakta cuaca.

“Kayak kuburan yang rajin disapu.”

Surya berhenti mengunyah.

Sendoknya menggantung di udara.

Beberapa orang ikut terdiam. Bahkan suara kunyahan pelan yang tersisa seperti ikut menahan diri.

“Kenapa harus kuburan?” Surya akhirnya bertanya, suaranya lebih pelan dari sebelumnya.

“Biar jujur.”

Kalimat itu jatuh begitu saja. Tidak diikuti tawa. Tidak diikuti bantahan. Ithay menelan makanannya lebih cepat dari rencana, lalu menunduk lagi. Biasanya ia akan menimpali dengan lelucon garing. Malam ini, ia memilih diam, keputusan yang membuat suasana justru terasa makin berat.

Ani menggeser piringnya sedikit, lalu kembali menariknya mendekat. Gerakan kecil yang tidak disadari siapa pun, tapi cukup menunjukkan pikirannya sedang tidak stabil.

Bodat akhirnya menyuap lagi, seolah kalimat barusan tidak pernah diucapkan.

Suasana makan berlanjut, Bukan dengan tenang, tapi dengan hati-hati. Setiap orang makan seperti sedang berada di ruang tunggu yang terlalu sunyi. Tidak ada yang ingin menjadi suara paling keras. Tidak ada yang ingin bergerak terlalu cepat. Susi mengambil kerupuk dan menggigitnya. Bunyinya krek, keras, jelas, memantul di ruangan. Beberapa kepala refleks menoleh.

“…maaf,” katanya cepat.

Tidak ada yang menyalahkan. Tidak ada yang menertawakan. Semua kembali ke piring masing-masing, tapi kini lebih pelan. Moren mengunyah sambil memiringkan kepala sedikit.

“Rasanya normal kan?” tanyanya pelan.

“Normal,” jawab Anang cepat, terlalu cepat.

“Terlalu normal,” Moren menambahkan, masih dengan nada yang sama.

Kalimat itu menggantung sebentar.

“Normal itu bagus,” kata Palui akhirnya. “Berarti nggak ada yang salah.”

Tidak ada yang benar-benar setuju. Tapi tidak ada juga yang membantah.Wati makan sambil duduk paling dekat dengan sudut ruangan. Punggungnya bersandar pada dinding kayu yang terasa dingin meski tidak lembap. Ia mengunyah dengan mata setengah terpejam, seperti sedang mencoba meyakinkan tubuhnya bahwa ini hanya malam biasa. Jam dinding berdetak pelan.

Tik… tok… tik… tok…

Tidak ada yang menoleh. Tapi semua mendengarnya. Sendok-sendok mulai melambat. Beberapa orang sudah selesai makan, tapi tidak berdiri. Piring kosong tetap di pangkuan, seperti benda pegangan agar tangan tidak terlihat gemetar. Bodat menyandarkan punggung ke dinding, piringnya sudah kosong.

“Lucu ya,” katanya datar, suaranya sedikit lebih rendah. “Biasanya makan rame bikin kenyang. Ini rame aja enggak, tapi kenyang duluan.”

“Bukan kenyang,” sahut Ani pelan.

“Ini… nggak selera.”

Tidak ada yang tertawa apalagi mengoreksi kalimat itu. Nasi habis perlahan. Bukan karena lapar, tapi karena tidak ingin meninggalkan sisa. Seolah sisa makanan bisa jadi alasan sesuatu untuk muncul, alasan yang tidak ingin mereka berikan. Piring-piring dikumpulkan pelan. Tidak ada suara tumpukan keras. Tidak ada protes siapa yang cuci. Semua bergerak seperti sudah sepakat tanpa bicara.

Saat makan malam selesai, tidak ada yang langsung berdiri. Mereka tetap duduk melingkar di atas tikar itu, dalam cahaya lampu kuning yang bergetar halus. Bayangan mereka masih panjang, masih bengkok, masih terasa sedikit tidak sesuai bentuk.

Perut terisi, Tapi dada terasa kosong. Dan di antara sisa nasi, piring plastik, dan tikar tua itu, semua mulai sadar satu hal, Makan malam ini bukan tentang makanan. Ia tentang mencoba meyakinkan diri bahwa malam masih aman.

...🍃🍃🍃...

Bersambung....

1
Bunga Matahari
Nama-namanya keren, tapi panggilannya cocok banget untuk horor komedi 😄
Bunga Matahari
baru juga baca, udah kebawa aura 😄😄🤣🤣
Putri Nabila
🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!