Almira Abimanyu, di hari ia mengetahui kehamilannya, Gilang, suaminya justru membawa Lila, istri kedua yang juga tengah hamil.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
20. Menyiram Bensin Dalam Kobaran Api
.
Suasana rumah telah sepi, Bu Rosidah dan Riana sudah masuk ke kamar masing-masing, terlelap dalam mimpi masing-masing. Hanya tinggal Lila yang berjalan mondar-mandir di ruang tamu, bak setrikaan yang tak kunjung berhenti, perasaannya gelisah menunggu kedatangan Gilang yang tak kunjung pulang. Setiap suara gemuruh petir membuatnya semakin cemas dan curiga.
Tak berapa lama, terdengar suara mobil memasuki halaman rumah. Lila bergegas membuka pintu dengan kasar, menyambut Gilang dengan tatapan tajam.
"Kenapa kamu baru pulang, Mas?" tanya Lila dengan nada ketus. "Kok lama sekali?"
Gilang menghela napas, mencoba menenangkan diri. "Rumah kontrakan Rini memang jauh. Apalagi hujan, jalanan licin. Aku tidak berani ngebut," ucap Gilang.
Alasan yang sebenarnya tidak sepenuhnya salah. Yang salah adalah, ia tidak mungkin berkata jujur bahwa tadi sempat berhenti lama di tepi jalan, bertatapan dan nyaris berciuman. Ia juga tidak mungkin mengatakan bahwa dirinya sempat berlama-lama di depan kontrakan Rini, bahkan sempat berpelukan. Lagipula kenapa pula dia harus memberikan penjelasan? Suami tertarik pada wanita di luar, bukankah wajar?
Gilang melanjutkan langkahnya sampai ke ruang tengah, dan Lila terus membuntutinya, bahkan hingga Gilang sampai di ruang makan. Mata wanita itu memicing, menyadari ada sesuatu yang aneh.
"Tadi, waktu kamu pergi, kamu pakai jaket kan," ucap Lila dengan nada curiga. "Kenapa sekarang tidak?"
Gilang menghela napas lagi, merasa lelah menghadapi sikap Lila yang selalu menuntut dan curiga. "Jaketku aku pinjamkan ke Rini," jawab Gilang apa adanya. "Kasihan dia kedinginan."
“Apa, Mas?" Jawaban Gilang, Lila murka. "Kenapa kamu meminjamkan jaket mu ke dia?" bentaknya. "Kamu sudah gila, ya?"
"Ya ampun, Lila, kamu kenapa sih?" ucap Gilang dengan nada frustrasi. "Aku cuma kasihan sama dia. Gak ada maksud apa-apa."
"Alah, alasan!" balas Lila dengan sinis. "Aku gak percaya sama kamu!" Wanita yang menatap tajam sambil berkacak pinggang. "Apa dia yang merayu kamu? Aku harus memberikan dia pelajaran besok,” ancamnya.
“Lila, sudahlah. Jangan membesarkan masalah yang tidak penting." Tiba-tiba saja Gilang merasa takut jika Lila akan melakukan sesuatu pada hari Rini.
"Kamu anggap ini tidak penting, Mas?!" Lyla berteriak tidak terima.
Keributan itu terdengar sampai ke kamar Almira. Wanita itu yang belum benar-benar tertidur, mengernyitkan keningnya, merasa terganggu dengan suara bising itu. Dengan malas, ia bangkit dari ranjang dan turun ke bawah.
Almira melihat Lila dan Gilang sedang berdebat sengit di ruang makan. Dari pembicaraan mereka ia segera tahu apa yang terjadi. Dengan senyum licik, ia mendekat.
"Ada apa ini?" tanya Almira dengan nada pura-pura khawatir. "Kenapa ribut-ribut malam-malam begini?"
Lila dan Gilang menoleh ke arah Almira. "Ini, Mbak," ucap Lila dengan nada kesal. "Mas Gilang meminjamkan jaketnya ke Rini! Aku curiga, pasti Rini yang menggoda Mas Gilang!"
Almira tersenyum simpul mendengar ucapan Lila. Inilah saatnya untuk menyiramkan bensin ke dalam kobaran api.
"Ya ampun, Lila, hanya masalah jaket kamu ribut kan?" ucap Almira dengan nada mencela, berpura-pura membela Gilang. "Mas Gilang kan cuma kasihan sama Mbak Rini. Lagian, Mbak Rini itu bekerja di rumah kita. Kalau dia sakit siapa yang akan mengerjakan pekerjaan rumah besok? Kamu?!”
"Tapi tetap saja, Mbak!" balas Lila dengan nada tidak terima. "Kenapa dia harus meminjam jaketnya Mas Gilang? Itu kan tidak pantas?"
Almira menggelengkan kepala seolah merasa prihatin. “Aku heran dengan kamu, Lila. Mas Gilang itu sudah capek, siang kerja dan sekarang belum istirahat. Terus sekarang kamu lihat Mas Gilang itu baru pulang dalam keadaan kedinginan. Kamu bukannya membuatkan teh atau apa biar hangat malah marah-marah tidak jelas!”
“Seharusnya kamu bangga punya suami yang baik hati dan suka menolong orang lain.” Almira berbicara panjang lebar sambil melirik ke arah Gilang seolah Dia sedang membela dan memberikan pujian.
Kata-kata Almira bagaikan oase di padang gurun bagi Gilang. Ia menoleh ke arah Almira dengan tatapan penuh penghargaan. Apa yang diucapkan oleh wanita itu benar. Ia menyadari, selama ini tak ada yang lebih memahaminya selain Almira.
"Terima kasih, Sayang," ucap Gilang meraih tangan Almira dan menggenggamnya erat. "Kamu memang selalu mengerti aku."
Gilang menoleh ke arah Lila dengan tatapan kecewa. "Lila, kamu seharusnya bisa mencontoh Almira," ucap Gilang dengan nada tegas.
Almira tersenyum sinis dalam hati. Rencananya berjalan dengan sangat lancar. Ia berhasil memprovokasi Lila dan membuat Gilang perlahan kehilangan respek terhadap Lila.
Lila mengepalkan tangannya, merasa geram kepada Almira. Ia merasa ada sesuatu yang buruk yang direncanakan oleh kakak madu. Hanya saja, ia belum bisa membuktikannya pada Gilang.
"Terserah kamu saja, Mas," ucap Lila dengan nada kesal, melepaskan tangan Gilang dan pergi meninggalkan ruang makan.
Almira tersenyum puas melihat Lila pergi dengan wajah masam. Ia menoleh ke arah Gilang, memasang ekspresi prihatin.
"Sudahlah, Mas," ucap Almira lembut. "Jangan terlalu dipikirkan. Mungkin Lila lagi sensitif. Bawaan ibu hamil biasanya memang begitu."
Gilang menghela napas, mencoba menenangkan diri. "Iya, Sayang," ucap Gilang lelah. "Terima kasih sekali lagi ya. Kamu selalu mengerti aku."
"Ya sudah, Mas," ucap Almira sambil mengusap pipi Gilang dengan lembut. "Sekarang, Mas istirahat aja. Mas pasti capek banget."
Gilang menggaruk tengkuknya merasa ragu untuk bicara. "Sayang, boleh tidak malam ini aku tidur di kamarmu? Sudah lama kita tidak menghabiskan malam bersama. Kamu juga istriku, aku merasa bersalah."
Almira merasa jijik mendengar kata-kata pria itu. Namun, menolak permintaan Gilang secara langsung akan membuat pria itu curiga dan merusak rencananya.
"Mas..." ucap Almira dengan nada lembut, mengelus pipi Gilang dengan sayang. "Sebenarnya aku mau banget. Aku juga kangen banget sama kamu."
Gilang tersenyum lebar mendengar ucapan Almira. "Benarkah?" tanyanya dengan nada gembira.
Almira mengangguk pelan, lalu melanjutkan ucapannya. "Tapi... menurutku, sebaiknya Mas bujuk Lila dulu. Kasihan dia, pasti masih marah sama Mas."
Gilang terdiam sejenak, menimbang-nimbang. Tiba-tiba saja ia merasa Lila terlalu ribet. Tapi tak dipungkiri apa yang dikatakan Almira benar. Terlebih mengingat jika Lila saat ini sedang mengandung anaknya. Anak yang telah ditunggu kelahirannya sejak lama.
"Kamu benar, Sayang," ucap Gilang yang sebenarnya merasa kecewa dengan penolakan Almira. "Aku memang harus membujuk Lila dulu."
Almira tersenyum puas mendengar ucapan Gilang. Ia berhasil memanipulasi pria itu sesuai dengan keinginannya.
"Iya, Mas," ucap Almira dengan nada lembut. "Bujuk Lila ya. Aku takut ada apa-apa dengan kandungannya."
Gilang mengangguk. "Kalau gitu, aku ke kamar Lila dulu ya, Sayang," ucap Gilang sambil mengecup kening Almira lalu berjalan menuju kamar tamu yang ia tempati bersama Lila
"Iya, Mas," balas Almira dengan senyum manis. Wanita yang kemudian mengusap keningnya dengan kasar setelah punggung pria itu tak lagi terlihat.
"Dasar bodoh," gumam Almira tersenyum mengejek. "Kamu tidak tahu apa yang menantimu.”
*
*
*
Hai guys… mohon maaf sebesar-besarnya ya Karena kemarin sempat libur. Sebagai gantinya hari ini autor ganti dengan 4 bab sekaligus.
Tapi mau izin besok libur lagi. Wkwkwk…
Kabur sebelum dilempar sendal 🏃🏼♀️🏃🏼♀️🏃🏼♀️🏃🏼♀️
semangat thor