Di Benua Tianyuan, kekuatan adalah segalanya. Namun, Ren Zhaofeng hanyalah seorang murid pelayan buta di Sekte Awan Hijau yang bertugas menyapu halaman. Tanpa penglihatan dan tanpa latar belakang, ia dianggap tidak lebih dari debu di bawah kaki para jenius yang berlomba mengejar keabadian.
Namun, dunia tidak tahu bahwa di balik kain penutup matanya, Zhaofeng memiliki "Hati Pedang Tanpa Cela". Ketika orang lain hanya melihat wujud, ia mendengar napas semesta.
Di bawah bayang-bayang Monumen Daftar Naga Langit yang agung, Zhaofeng memulai langkah pertamanya. Bukan untuk melihat puncak dunia, tetapi untuk memaksa dunia mendengarkan gema pedangnya. Dari penyapu hina menjadi legenda yang membelah langit—inilah kisah asal mula Sang Pedang Buta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baldy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lembah Angin Puyuh
Lembah Angin Puyuh terletak tiga hari perjalanan di sebelah barat Sekte Awan Hijau. Itu adalah celah sempit di antara dua tebing curam yang seolah-olah dibelah oleh kapak raksasa. Karena bentuk geografisnya yang unik, angin dari seluruh penjuru dataran terperangkap dan berputar di dalamnya, menciptakan badai abadi yang tidak pernah reda.
Bagi kultivator biasa, tempat ini adalah mimpi buruk. Suara angin yang menderu bisa memecahkan gendang telinga, dan tekanannya bisa melempar orang dewasa ke dinding tebing. Namun, bagi Ren Zhaofeng, ini adalah surga.
Zhaofeng berdiri di mulut lembah. Jubah biru murid luarnya berkibar liar, menampar-nampar tubuhnya.
"Bising sekali," gumamnya, tersenyum tipis.
Dia tidak menutup telinganya. Sebaliknya, dia membuka indranya lebar-lebar.
Wuuusssh... Hwoooo... Srrreeet...
Angin di sini tidak hanya satu arah. Ada angin yang datang dari atas, berputar di tengah, memantul di dinding batu, dan beradu satu sama lain. Setiap benturan angin menciptakan pusaran kecil yang tajam seperti pisau tak terlihat.
Misi sekte yang diambil Zhaofeng adalah mengumpulkan Rumput Angin Besi, tanaman obat langka yang hanya tumbuh di celah-celah tebing lembah ini. Rumput ini memiliki akar yang sangat kuat untuk menahan badai, dan daunnya setajam silet.
Zhaofeng melangkah masuk.
Seketika, tekanan angin menghantamnya. Tubuhnya terdorong ke belakang, tapi dia menancapkan kakinya dengan kuda-kuda kokoh. Tulang-tulangnya yang baru diperkuat oleh Pil Penguat Sumsum berderit pelan, menahan beban.
"Ini baru permulaan."
Dia mulai berjalan. Langkahnya pelan dan hati-hati.
Tiba-tiba, telinganya menangkap suara desingan aneh dari arah kanan. Berbeda dengan suara angin biasa, suara ini lebih tajam dan terfokus.
Bilah Angin Alami.
Zhaofeng memiringkan kepalanya.
Sreeet!
Sebuah garis tak terlihat lewat di samping pipinya, memotong sehelai rambutnya. Jika dia terlambat sedetik saja, telinganya yang akan putus.
"Luar biasa," batin Zhaofeng kagum. "Alam semesta sedang mengajarkanku cara menggunakan pedang."
Dia tidak mencabut pedangnya. Dia menjadikan tubuhnya sebagai pedang. Dia mencoba bergerak bersama angin, bukan melawannya.
Satu jam berlalu. Zhaofeng baru maju seratus meter. Pakaiannya sudah penuh robekan kecil, dan ada beberapa goresan darah di pipi dan tangannya. Tapi matanya di balik kain penutup semakin bersinar.
Dia mulai memahami pola kekacauan ini.
Angin tidak bergerak acak. Angin bergerak mengikuti kontur tebing. Jika dia bisa "mendengar" bentuk tebing dari gema angin, dia bisa memprediksi arah datangnya serangan.
Zhaofeng berhenti di depan sebuah tebing batu kapur. Di ketinggian lima meter, dia mendengar getaran halus dari sebuah tanaman. Daun-daunnya bergesekan dengan suara logam.
Rumput Angin Besi.
"Di sana."
Zhaofeng melompat. Dia menginjak tonjolan batu, lalu menggunakan teknik Langkah Pedang Hantu untuk meluncur di udara, memanfaatkan arus angin naik untuk mendorong tubuhnya lebih tinggi.
Tangannya terulur, mencabut tanaman itu dengan cepat sebelum angin melemparnya.
Dapat.
Dia mendarat kembali di tanah dengan mulus.
"Satu batang. Butuh sembilan lagi untuk menyelesaikan misi."
Namun, saat dia hendak menyimpan rumput itu ke dalam tas penyimpanannya, Hati Pedang-nya berdenyut keras. Sinyal bahaya.
Bukan dari angin. Dari makhluk hidup.
Zhaofeng membeku. Dia membiarkan suara angin menjadi latar belakang, dan fokus pada suara asing itu.
Tap... Tap...
Langkah kaki ringan. Teratur. Manusia.
Ada tiga orang yang mendekat dari arah belakang, melawan arus angin. Mereka bergerak cepat, seolah angin tidak membebani mereka.
"Jadi mereka benar-benar mengirim orang," gumam Zhaofeng dingin.
Tetua Pedang benar. Faksi Wang Gang tidak akan melepaskannya begitu saja.
Zhaofeng bersembunyi di balik sebuah batu besar. Dia menekan napasnya, menyamarkan detak jantungnya dengan ritme badai.
Tiga sosok muncul dari kabut debu. Mereka mengenakan jubah hitam dengan topeng polos. Pembunuh bayaran? Atau murid sekte dalam yang menyamar?
"Jejaknya berhenti di sini," kata salah satu dari mereka. Suaranya terdengar jelas meski di tengah badai—teknik pengiriman suara Qi. "Hati-hati. Anak buta itu licin."
"Dia cuma Tahap 3 Awal," sahut yang lain meremehkan. "Kita bertiga Tahap 4 Puncak. Kakak Wang meminta kita membawa kepalanya, bukan?"
"Jangan gegabah. Ingat apa yang terjadi pada Li Dong."
Zhaofeng mendengarkan. Tiga orang Tahap 4 Puncak. Di tempat terbuka, ini akan menjadi pertarungan yang sulit. Tapi di sini... di tengah badai di mana mata tidak berguna karena debu dan pasir...
Ini adalah arenanya.
Zhaofeng mencabut Pedang Karat-nya perlahan. Suara gesekan logamnya tertelan oleh suara angin.
Dia mengambil sebuah batu kerikil.
Ting.
Dia melempar batu itu ke dinding tebing di seberang.
"Siapa di sana?!" Ketiga pengejar itu menoleh serentak ke arah suara.
Saat itulah Zhaofeng bergerak.
Dia tidak berlari lurus. Dia melompat ke dalam arus angin samping, membiarkan tubuhnya terbawa kecepatan badai. Tubuhnya menjadi seringan bulu, tapi pedangnya seberat gunung.
Langkah Pedang Hantu: Langkah Dua - Bilah Senyap.
Dia muncul dari balik debu tepat di samping pengejar paling kiri.
SLASH!
Tidak ada teriakan. Hanya suara basah saat kepala orang itu terpisah dari badannya. Darah menyembur, langsung tertiup angin, menyiram rekan di sebelahnya.
"Apa—?!"
Dua pengejar lainnya panik. Mereka mencabut senjata mereka—pedang kembar dan rantai besi.
"Dia di sini! Serang!"
Mereka menyerang membabi buta ke arah Zhaofeng. Tapi di tengah badai debu, penglihatan mereka terbatas hanya dua meter. Mereka hanya menebas bayangan.
Zhaofeng sudah menghilang lagi, mundur ke dalam kabut pasir.
"Di mana dia?!" teriak pemegang rantai, suaranya mulai gentar. "Aku tidak bisa melihat apa-apa!"
"Diam! Dengarkan langkah kakinya!"
Mereka mencoba mendengarkan. Tapi yang mereka dengar hanyalah WUUUSSSH angin yang memekakkan telinga.
Zhaofeng berdiri lima meter di depan mereka, tidak bergerak. Dia "melihat" ketakutan mereka. Detak jantung mereka kacau. Napas mereka berat.
"Kalian masuk ke rumahku tanpa permisi," suara Zhaofeng terdengar, tapi seolah datang dari segala arah karena dia memantulkan suaranya ke dinding tebing. "Dan kalian buta di sini."
"Keluar kau, pengecut!"
Pemegang pedang kembar tidak tahan lagi. Dia melepaskan gelombang Qi sembarangan ke segala arah. Boom! Boom! Batu-batu hancur.
Tindakan bodoh. Ledakan Qi itu mengganggu kestabilan arus angin di sekitar mereka. Sebuah pusaran angin tajam terbentuk secara alami, menarik debu dan kerikil menjadi tornado mini.
Zhaofeng melihat peluang.
Dia meluncur masuk ke dalam kekacauan itu.
TRANG!
Dia menangkis pedang kembar itu, lalu menggunakan getaran benturan itu untuk memutar pedangnya sendiri.
Tebasan Gema: Pemecah Tulang.
Ujung gagang pedangnya menghantam pelipis musuh.
Krak!
Orang kedua jatuh, tengkoraknya retak.
Tinggal satu. Si pemegang rantai.
Orang terakhir ini gemetar hebat. Dua temannya mati dalam sekejap tanpa dia bisa melihat musuhnya. Dia berbalik dan lari. "Iblis! Dia Iblis!"
Tapi lari di Lembah Angin Puyuh tanpa memperhatikan langkah adalah bunuh diri.
Zhaofeng tidak perlu mengejarnya. Dia hanya menendang sebuah batu kecil ke arah kaki orang itu.
Tuk.
Orang itu tersandung. Dia jatuh ke depan, tepat ke jalur Celah Angin—sebuah retakan di tanah tempat angin bertekanan tinggi menyembur keluar seperti geyser.
WUSHH!
Tubuh orang itu terlempar ke udara, lalu terbanting keras ke dinding tebing setinggi sepuluh meter. Tulang punggungnya patah seketika. Dia jatuh ke tanah, tak bernyawa.
Zhaofeng menyarungkan pedangnya. Dia berdiri sendirian di tengah badai, dikelilingi tiga mayat.
"Wang Gang..." gumamnya. "Kau mengirim domba untuk membunuh serigala."
Dia menggeledah mayat-mayat itu. Di saku salah satu dari mereka, dia menemukan sebuah token giok hitam dengan ukiran "Ular Hitam".
"Organisasi pembunuh?" Zhaofeng mengerutkan kening. "Atau faksi rahasia di Sekte Dalam?"
Apapun itu, pesan mereka jelas: Ini bukan lagi persaingan murid. Ini perang.
Zhaofeng menyimpan token itu. Dia melihat ke dalam lembah yang lebih gelap dan lebih dalam.
"Aku butuh lebih kuat. Tahap 3 tidak cukup."
Dia berjalan semakin dalam ke jantung lembah, tempat angin dikatakan bisa memotong besi. Di sana, dia akan menempa tubuh dan pedangnya sampai batas.
💪