Tokoh utama nya adalah pria bernama Reza (30 tahun) .Dia bukan Pahlawan, dia bukan orang kaya ,dia cuma pria yang merasa hidupnya sudah tamat karena hutang, patah hati, Dan Rasa bosan.
dia memutuskan untuk pergi secara terencana .dia sudah menjual semua barang nya , menulis surat perpisahan yang puitis, dan sudah memilih Gedung paling tinggi. tapi setiap kali ia mencoba selalu ada hal konyol yang menggagal kan nya , misalnya pas mau lompat tiba tiba ada kurir paket salah alamat yang maksa dia tanda tangan. Pas mau minum obat, eh ternyata obatnya kedaluwarsa dan cuma bikin dia mulas-mulas di toilet seharian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon saytama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dilema
Kemenangan ini membawa nama Koperasi Kurir Jujur (K.KJ) ke level yang tidak pernah dibayangkan Reza saat ia masih meratapi nasib di apartemennya yang dingin. sekarang menjadi titik balik sebuah persimpangan antara idealisme seorang kurir dan logika dingin sebuah industri.
Enam bulan setelah pembersihan mafia pelabuhan, K.KJ telah bermutasi menjadi raksasa. Mereka kini memiliki lima ratus armada, tiga gudang regional, dan aplikasi yang digunakan oleh jutaan orang. Reza, yang dulunya adalah "Mas Drama" bagi Budi, kini dipanggil "Pak CEO" oleh staf-staf baru yang mengenakan seragam rapi dan tanda pengenal digital.
Namun, di balik dinding kaca kantor pusat mereka yang baru di Bogor, Reza merasa ada sesuatu yang hilang. Aroma oli dan keringat yang dulu memicu semangatnya kini digantikan oleh aroma pengharum
Ruangan otomatis dan tumpukan laporan keuangan yang dingin.
"Za, kita ada masalah," Budi masuk ke ruangan. Penampilannya masih sama jaket kusam dan bau rokok tapi wajahnya tampak gelisah. "Dewas pengawas koperasi dan beberapa investor baru mulai menekan. Mereka bilang sistem 'Keluarga Kurir' terlalu boros. Mereka ingin kita memotong margin donasi untuk dialihkan ke ekspansi armada di Kalimantan."
Reza mendongak dari mejanya. "Memotong donasi? Itu jantungnya K.KJ , Bud. Kalau itu dipotong, kita cuma jadi Metro Express versi hijau."
"Aku tahu, Za. Tapi mereka punya angka-angka. Mereka bilang dengan pertumbuhan sebesar ini, kita tidak bisa lagi memakai cara 'kekeluargaan'. Mereka ingin efisiensi. Mereka ingin kita mengganti kurir-kurir tua yang lambat dengan tenaga muda yang lebih kompetitif."
Reza terdiam. Ia melihat ke arah jendela, ke arah lapangan parkir di mana para kurir sedang bersiap berangkat. Di sana, ia melihat Sandi kurir yang dulu berkhianat tapi ia maafkan sedang membantu seorang kurir baru mengikat paket. Di sana juga ada Aris, yang kini menjadi kepala keamanan, sedang memeriksa mesin-mesin motor dengan teliti.
Apakah ia harus mengorbankan orang-orang yang membangun pondasi ini demi sebuah angka pertumbuhan?
Tiba-tiba, pintu ruangannya terbuka. Anya masuk membawa Fajar yang kini sudah mulai bisa berlari-lari kecil. Anya melihat wajah tegang suaminya dan segera mengerti.
"Za, ada tamu di bawah. Dia tidak mau bicara dengan siapa pun kecuali kamu," kata Anya lembut.
Reza turun ke lobi. Di sana, duduk seorang pria tua yang tampak familiar. Begitu pria itu berbalik, Reza tertegun. Itu adalah pria tua yang dulu ia antarkan obatnya saat hari pertama ia menjadi kurir dengan motor Budi. Pria yang memberinya uang lima puluh ribu untuk "ngopi".
"Pak... Bapak yang dulu di perumahan mewah itu?" tanya Reza.
Pria tua itu tersenyum tipis. "Namaku Herman, Nak. Aku datang bukan untuk mengambil paket. Aku datang untuk memberikan ini."
Herman menyerahkan sebuah plakat kecil dari kayu yang dibuat dengan tangan. Di atasnya tertulis: 'Untuk Kurir Tercepat yang Menyelamatkan Nyawaku'.
"Aku mendengar koperasimu sedang dalam tekanan untuk berubah menjadi perusahaan besar yang kaku," kata Herman. "Aku hanya ingin mengingatkanmu. Alasan aku memberimu uang lima puluh ribu dulu bukan karena kamu cepat, tapi karena di matamu aku melihat seorang manusia yang peduli pada manusia lain. Jangan biarkan gedung tinggi ini membunuh manusia di dalam dirimu, Reza."
Herman pergi begitu saja, meninggalkan Reza yang terpaku di tengah lobi yang megah itu.
Reza kembali ke ruang rapat di lantai atas, di mana para pengawas dan perwakilan investor sudah menunggunya dengan wajah-wajah serius. Mereka mulai memaparkan grafik-grafik yang menunjukkan bahwa K.KJ akan merugi jika tetap mempertahankan model koperasinya.
"Pak Reza, kita harus bersikap profesional. Logistik adalah tentang kecepatan dan biaya rendah. Empati tidak ada dalam neraca keuangan," kata salah satu perwakilan investor.
Reza berdiri. Ia melepaskan jam tangan mahalnya dan meletakkannya di atas meja rapat. Ia menarik lengan kemejanya, memperlihatkan gelang benang kuning yang masih melilit di pergelangan tangannya sebuah pengingat dari mana ia berasal.
"Kalian benar," kata Reza, suaranya tenang tapi berwibawa. "Empati memang tidak ada dalam neraca keuangan kalian. Tapi empati adalah alasan kenapa koperasi ini masih berdiri saat Metro Express mencoba menghancurkan kita. Empati adalah alasan kenapa kurir kita tidak mencuri paket meski mereka lapar. Dan empati adalah alasan kenapa saya masih hidup hari ini."
Reza menatap mereka satu per satu. "Jika kalian ingin perusahaan yang efisien dan dingin, silakan bangun sendiri. Tapi K.KJ akan tetap menjadi koperasi. Kita akan Tetap memprioritaskan pendidikan anak kurir di atas margin keuntungan. Jika itu berarti pertumbuhan kita melambat, biarlah. Saya lebih suka menjadi semut yang bahagia daripada menjadi raksasa yang kesepian."
Ruang rapat itu mendadak hening. Para investor saling pandang. Mereka menyadari bahwa mereka tidak bisa menggoyahkan pria yang sudah pernah melihat kematian dan kembali.
Setelah rapat itu, Reza keluar menuju gudang. Ia melepaskan kemeja kerjanya dan mengenakan jaket kurir lamanya yang masih tersimpan di lemari.
"Bud! Siapkan motor!" teriak Reza.
"Mau ke mana, Za?"
"Aku mau antar paket. Aku rindu bau aspal."
Anya melihat dari kejauhan dengan air mata bangga. Ia tahu suaminya telah memenangkan pertempuran paling sulit: pertempuran melawan keserakahan dirinya sendiri.
Reza memacu motornya keluar dari
Gerbang gudang, membelah kemacetan Bogor. Di jok belakangnya ada sebuah paket kecil, dan di hatinya ada kedamaian yang tidak bisa dibeli oleh saham mana pun dengan bayangan Reza yang menyelinap di antara mobil-mobil, kembali menjadi kurir bagi jiwanya sendiri.
Rencana gagal matinya kini telah berubah menjadi rencana hidup yang luar biasa. Perjalanan masih menyisakan cerita lagi, namun Reza Aditya tahu, selama ia masih memegang kemudi dengan jujur, ia tidak akan pernah salah jalan.