Buku ini gua tulis sebagai perwujudan eksistensional gua di dunia ini. Karena gua pikir, sebelum gua mati, gua harus ninggalin sesuatu. Untuk bilang ke orang² yang baca buku gua ini: "Ini gua pernah hidup di dunia, dan gua juga punya cerita." Pada dasarnya, buku ini berisi rangkuman hal² penting yang terjadi dalam hidup gua, yang coba gua ingat² kembali, gua gali kembali, di tengah kondisi gua yang sulit mengingat segala hal yang rumit. Juga, kalau² kelak nanti gua lupa dengan semua hal yang tertulis di buku ini, dan gua baca ulang, terus gua bisa bilang: "Oh... ternyata gua pernah begini."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lilbonpcs, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tabu
Ani...
Panggil saja begitu, dimata gua, gadis itu adalah cewek pertama yang ngebuat gua merasakan jadi 100% pria dewasa. Hubungan kami cukup aneh, enggak ada kesepakatan pacaran, enggak ada ungkapan cinta atau bahkan sayang.
Pertemuan pertama gua sama itu cewek lumayan kocak. Setelah beberapa lama kita SMS-an, kita akhirnya memutuskan untuk ketemuan. Berbekal sepeda motor pinjeman, gua memberanikan diri ketemuan sama Ani.
Kebetulan jarak rumah dia cuman sekitas 30 menit dari minimarket tempat gua kerja. Jadi, dia yang pilih tempat ketemuannya. Karena waktu itu gua enggak terlalu hafal daerah situ. Kesan pertama gua, gua pikir dia itu masih anak SMA. Yup, usianya emang 7 tahun diatas gua, but wajah dan badannya, lebih mirip kayak anak SMA. Awalnya gua agak bingung, sempet gua bilang: "Lu bohongin gua ya, lu bilang usia lu jauh lebih tua dari gua, keliatannya kok enggak gitu?" Dan dia cuman ketawa, katanya, gua orang keseratus yang bilang gitu ke dia.
Pertemuan pertama kami, gua cukup kikuk, ini pertemuan pertama gua sama cewek dewasa, but si Ani selalu terlihat berusaha ngebuat gua merasa nyaman.
Awalnya, dia berusaha nempel gua, layaknya orang pacaran, but karena dia tahu gua terlihat merasa enggak nyaman, akhirnya dia mulai berusaha memposisikan diri agar enggak keliatan terlalu intim. Emang agak aneh, tapi dulu gua emang cukup naif perkara ini.
Kenapa gua cukup canggung sama Ani?
Jelas, gua ketemu sama dia hanya berbekal sepeda motor, siapa sangka dia bawa mobil. Gua langsung ngerasa minder, jelas ketimpangan ekonomi yang sangat nyata. Tapi, dia selalu pintar dalam menempatkan posisinya, berusaha agar gua bisa nyaman.
Hubungan gua sama Ani jadi semakin deket setelah kita ketemuan. Kita jadi lebih sering ketemu, sekedar makan bareng, atau keliling kota dengan mobilnya. Yup, dia yang nyetir, karena gua emang enggak bisa nyetir mobil sampai sekarang... hahaha.
Sampai di titik...
Ini pertama kalinya, gua ngelakuin HS secara nyata, bukan sekedar SMS esek², but real HS. Awalnya gua enggak pernah berpikir ke arah sana, lagian gua cukup naif waktu itu.
Sampai, waktu itu gua libur, gua enggak pulang ke rumah, masih di minimarket. Karena tahu gua libur, dia ngajakin gua keluar. So dengan modus pulang ke rumah, biar anak² yang lain enggak curiga. Dia ngejemput gua, dia bilang: "Temenin gua nginep di hotel, gua lagi suntuk di rumah."
Dengan polosnya, gua iya-in tanpa berpikir aneh², karena gua dulu beneran sepolos itu.
Di kamar hotel, awalnya kita enggak ngapa² in, sampai dia mulai bertanya: "Emh... boleh minta tolong enggak, kan kita lagi berdua aja nih di hotel." Dari kata² sederhana itu, gua langsung nyadar, gua yang masih kikuk, langsung ngerti.
Akhirnya... untuk pertama kalinya, gua bener² ngejamah tubuh cewek.
Tapi, gua pikir² lagi itu bukan seks yang normal, itu lebih seperti "gua yang dijadiin obyek pemuas nafsunya."
Gini...
Awalnya dia cuman ngajakin kissing, tapi kemudian berlanjut lebih jauh, dia mulai minta gua ngeraba dada dan bagian keintimannya. Gua dengan polosnya, juga rasa penasaran seorang pria, ngikutin aja kemauannya. Sampai puncaknya, dia nyuruh gua ngejilat bagian keintimannya. Rasa yang aneh, dan bau yang cukup asing, gua pengen muntah, tapi dia bilang: "Tahan dong jangan muntah di ranjang." Gua pengen udahan karena enggak enak, tapi si Ani malah ngejepit kepala gua pakai kakinya. Semua berakhir ketika dia klimaks. Di mata gua sekarang, itu bukan normal HS, gua sama sekali enggak dapat kepuasan, ini lebih mirip gua lagi diperkosa.
Dan hari² gua sama Ani, dihabiskan dengan hal² seperti itu. Segala macam style pemuasan nafsu cewek gua pernah coba. Semuanya muncul begitu aja dari ide liarnya Ani.
Sampai, suatu saat gua mulai berontak, gua nuntut juga ke Ani, gua juga pengen dipuasin, bukan cuman dia. Dan... dia akhirnya ngelakuin hal itu. Di titik ini, gua mulai kalap...
Hal yang sangat liar, seperti gua melakukan pembalasan dendam. Tapi... gua enggak yakin, apakah ini pantas diceritain atau enggak, gua berpikir ber-kali² sebelum nulis ini.
Jadi...
Gua bener² memuaskan fantasi gua pada tubuh Ani. HS dengan kasar, tali, pentungan, dan kekerasan. Intinya, ini HS yang sangat tabu, ini benar² menyimpang.
Gua lakuin itu... ke Ani.
Setelah itu, pandangan Ani ke gua jadi berubah. Seperti rasa takut yang sangat amat dalam. Gua juga mulai posesif ke Ani. Gua mulai merasa memiliki tubuhnya. Akhirnya, konflik demi konflik terjadi. Setiap konflik selalu berakhir dengan HS with kekerasan.
Gua yang awalnya bener² polos, semuanya berubah... bukan gua yang memulai, dia yang mengawali. Tapi gua pikir, dia sedang ngebangunin macan yang sedang tidur.
Sampai akhirnya, ada di titik si Ani juga mulai menikmatinya. Dia mulai berfantasi lebih liar dari gua, tapi gua selalu punya batasan, seliar apapun HS yang gua lakuin sebelum menikah, pantang buat gua ngemasukin bagian intim dia. Ini prinsip gua sebagai pria. Agak naif emang, tapi gua tahu, gua enggak mau ngerusak masa depan cewek dengan ngebuat dia hamil diluar nikah.
Hubungan gua sama Ani ini, enggak berjalan terlalu lama. Akhir dari hubungan ini, sesuatu yang cukup menyakitkan. Jadi kira² udah lebih dari 1 bulan gua sama dia enggak saling bersentuhan. Tiba² aja dia ngajakin ketemuan, bukan di hotel, atau di rumahnya, di sebuah cafe. Dia mengenakan dress yang cukup tertutup, enggak biasanya.
Dengan nada yang cukup berat dia bilang: "Gua hamil, sambir nunjukin perutnya yang belum terlalu membuncit."
Gua kaget bercampur marah: "Loh... siapa yang ngehamilin lu? bukannya gua enggak pernah ngemasukin lu?"
Sambil menangis dia bilang, kalau yang ngehamilin dia adalah cowoknya, yang punya status kurang lebih sama kayak gua. Gua kecewa parah, tapi waktu itu, dengan pikiran yang cukup kacau gua malah bilang: "Kalau cowok itu enggak mau nikahin lu, biar gua yang nikahin lu."
Dia menggeleng, katanya seminggu dari sekarang, cowoknya itu yang ngehamilin dia, mau ketemu orangtua dia, buat tanggung jawab. Gua patah hati... lagi dan lagi.
Meski hubungan gua sama Ani tanpa ada statemen pacaran, atau bahkan ungkapan kata cinta. Jujur saja, setelah beberapa kali berhubungan, gua mulai merasakan perasaan memiliki dan cinta.
Rupanya, pertemuan itu adalah perpisahan kita, gua yang sangat kecewa, marah, bercampur cemburu, bingung, dan dengan pikiran penuh gejolak... gua minta HS ke dia untuk terakhir kalinya ke dia. Kali ini, gua bener² masukin dia, keluarin di dalam, gua ngelanggar prinsip gua sendiri.
Gua berpikir ber-kali² untuk menceritakan ini, gua malu, gua takut, ini sesuatu yang seharusnya enggak pernah gua lakuin, tapi pada akhirnya gua jatuh juga ke dosa ini.
Setelah malam terakhir itu, gua enggak pernah denger lagi kabar dari Ani, sampai hari ini gua nulis ini. Gua cuman berharap yang terbaik untuk kehidupan dia. Meski gua kecewa dan marah, tapi gua enggak pernah benci sama Ani.
Jika Vati adalah cewek yang pertama kali ngajarin gua segala hal tentang HS, Ani adalah cewek yang pertama kali ngebuat gua mempraktekannya. Hari² itu udah berlalu sekarang, bahkan beberapa saat yang lalu, gua sempat benar² ngelupain sosok Ani. Bahkan wajahnya secara detail pun gua udah agak lupa, yang gua ingat, dia cewek dewasa yang bertubuh anak SMA.
Tidak ada tujuan akhir disana. Tidak ada hadiah menanti. Tapi justru saat dia menyadari absurditas itu dan tetap memilih untuk mendorong batu, di situlah kebebasannya muncul.
Bahkan dalam penderitaan, Sisyphus bahagia
bukan karena penderitaannya menyenangkan,
melainkan karena penderitaan itu tidak lagi menguasainya🔥