Lastri menjadi janda paling dibicarakan di desa setelah membongkar aib suaminya, seorang Kepala Desa ke internet.
Kejujurannya membuatnya diceraikan dan dikucilkan, namun ia memilih tetap tinggal, mengolah ladang milik orang tuanya dengan kepala tegak.
Kehadiran Malvin, pria pendiam yang sering datang ke desa perlahan mengubah hidup Lastri. Tak banyak yang tahu, Malvin adalah seorang Presiden Direktur perusahaan besar yang sedang menyamar untuk proyek desa.
Di antara hamparan sawah, dan gosip warga, tumbuh perasaan yang pelan tapi dalam. Tentang perempuan yang dilukai, dan pria yang jatuh cinta pada ketegaran sang janda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter²⁰ — Lebih Berharga Daripada Seluruh Isi Dunia.
Rumah kecil itu mulai terasa hangat, karena ada tawa dan ada cerita. Walau saat itu, hanya ada mereka bertiga.
Sejak beberapa hari terakhir, kedua orang tua Lastri sedang menginap di rumah saudara dari pihak ayahnya. Ada acara kecil di desa sebelah, dan awalnya Lastri berniat menyusul. Namun sejak Alya dan Kelvin datang, rencananya berubah. Lastri akhirnya menelepon ibunya, memberi kabar jika ia memutuskan untuk tidak pergi dulu.
Lastri menyiapkan teh manis hangat, Kalvin meminumnya pelan.
“Ngomong-ngomong… Teteh nggak tinggal sama orang tua?” tanya Kelvin penasaran. “Teh Lastri hidup sendirian di sini?”
Lastri tersenyum kecil. “Bapak sama Ibu lagi ke desa sebelah, ada acara keluarga di sana. Tadinya Teteh mau menyusul, tapi karena kalian datang… Teteh ke sananya nanti saja.”
Alya menghela napas panjang. “Teh… aku capek. Pegel semua badanku ini,” keluhnya manja.
Lastri tersenyum hangat. “Capeknya tapi capek yang sehat. Di sini, kebanyakan orang termasuk perempuan... dari kecil memang sudah biasa ke sawah atau ladang.”
Tba-tiba dari masjid kecil di ujung jalan, suara adzan magrib terdengar. “Allaahu Akbar, Allaahu Akbar. Asyhadu allaa illaaha illallaah...“
Lastri spontan berdiri. “Kalau kalian nggak keberatan… kita sholat dulu ya. Tapi… seharusnya, laki-laki sholatnya di masjid.”
Alya dan Kalvin refleks ikut berdiri. Lalu… mereka berhenti.
Alya mematung.
Kalvin juga.
Lastri menatap mereka berdua, baru sadar ada sesuatu yang aneh. “Eh, Teteh baru sadar. Kalian kayaknya belum shalat sejak datang kesini, ya. Kalian… non-muslim?”
Alya menelan ludah.
Kalvin menunduk.
Dan untuk pertama kalinya, wajah Kalvin yang biasanya dingin itu terlihat… kikuk.
Alya berusaha tersenyum, tapi gagal. “Kami muslim, kok. Tapi aku… aku nggak bisa sholat.”
Lastri menatapnya lembut. “Kenapa?”
Alya mengusap tengkuk. “Aku… aku nggak diajarin sama orang tuaku.”
Kalvin menarik nafas, lalu berkata pelan. “Aku juga.”
Lastri terdiam. Dadanya seperti ditarik pelan, ada sesuatu yang menyesak sekaligus menghangat. Ia menatap dua orang di depannya—wajah mereka tidak tampak seperti anak-anak nakal. Mungkin mereka bukan tak mau, mungkin mereka hanya… tak pernah diberi kesempatan.
Lastri kembali duduk.
Ia menepuk lantai di sebelahnya, memberi isyarat agar Alya dan Kalvin ikut duduk.
“Kalian… mau belajar?” tanya Lastri lembut.
Alya menatap Kalvin.
Kalvin menatap Alya.
Alya mengangguk pelan. “Mau… tapi aku malu.”
Kalvin menambahkan, “Aku juga, takut salah.“
Lastri tersenyum hangat. “Kalau takut salah, berarti kalian orang baik. Yang nggak baik itu... orang yang sama sekali nggak mau belajar.”
Alya menunduk, tiba-tiba matanya panas.
“Ya sudah, kita belajar pelan-pelan.”
Lastri lebih dulu mengajari wudhu.
“Ini niatnya di dalam hati,” ujar Lastri.
Kalvin mengangguk.
Alya mengangguk.
Tapi Alya sempat panik.
“Teh, aku nggak tau urutannya!”
Lastri menepuk bahu Alya lembut. “Nggak apa-apa. Ulangi, pelan-pelan ya.”
Kalvin yang biasanya selalu terlihat yakin, kali ini malah bertanya beberapa kali.
“Ini setelah tangan… muka dulu atau kepala dulu?”
Lastri lalu menjawab dengan sabar.
Alya sampai menatap Kalvin.
“Bang… kok abang juga bingung?”
Kalvin melirik tajam. “Diam.”
Lastri tertawa kecil.
Setelah wudhu, mereka pun bersiap untuk sholat. Lastri mengambil salah satu mukena miliknya, menyodorkan pada Alya. Ia meminjamkan sarung dan baju koko kecil pada Kalvin, milik ayahnya.
Kalvin menerimanya dengan ragu.
“Teh… ini…”
Lastri tersenyum. “Pakai aja, biar enak sholatnya.”
Kalvin mengangguk.
Alya sudah mengenakan mukena, tapi wajahnya merah.
“Aku… jelek ya, Teh?” bisik Alya.
Lastri menahan tawa. “Kamu cantik, tapi ini bukan soal cantikmu di luar… ini tentang yang ada di dalam dirimu.”
Alya mengangguk pelan, saat ini ia merasa dirinya tidak perlu tampil sempurna. Hanya cukup... jadi manusia biasa.
Lastri menjadi imam, Alya dan Kalvin berdiri di belakang. Tubuh Alya gemetar, sementara Kalvin terlihat kaku.
Lastri menoleh sebentar.
“Tenang saja, nggak apa-apa salah. Allah itu lihat niatnya.”
Dan sholat magrib itu dimulai. Lastri membaca dengan pelan, agar Alya dan Kalvin bisa mengikuti gerakan.
Alya beberapa kali terlambat rukuk, Kalvin beberapa kali salah posisi tangan. Tapi Lastri tidak menegur keras, karena yang paling penting mereka mau mencoba.
Setelah selesai sholat, Alya duduk lama di sajadah. Matanya berkaca-kaca.
Lastri menatapnya lembut. “Kamu kenapa?”
Alya menggeleng cepat. “Aku nggak kenapa-napa…” tapi suaranya pecah. “Aku… baru pertama kali, ngerasain tenang kayak gini.”
Kalvin menunduk, ia tidak menangis seperti adik perempuannya. Tapi rahangnya mengeras, seolah ia sedang menahan sesuatu yang selama ini ia pendam.
Lastri mengangguk. “Karena selama ini kalian hidup di tempat yang semuanya serba cepat dan modern. Banyak tuntutan, dan banyak gengsi. Tapi kalian lupa… kalian juga butuh pulang.”
Kalvin menatap Lastri. “Pulang?”
Lastri tersenyum. “Iya… kembali kepada Sang Pencipta. Allah yang memiliki segalanya, termasuk kita.”
Lalu, Lastri mengeluarkan Al-Qur’an kecil.
Alya menatapnya. “Teh… aku juga nggak bisa ngaji.”
Kalvin menambahkan pelan, “Aku bisa baca huruf… tapi bukan huruf Arab.”
Lastri mengangguk. “Nggak apa-apa, kita mulai dari Iqra dulu.”
Alya mengernyit. “Iqra?”
Lastri tertawa kecil. “Iya, kita mulai dari yang paling dasar.”
Dan saat itu… di rumah kecil Lastri, dua anak kota yang datang untuk menguji—justru malah duduk rapi seperti murid kecil.
Lastri mengajari huruf demi huruf.
“Ini alif.”
Alya menirukan, “A…lif.”
Lastri tersenyum. “Bagus.”
Kalvin menirukan lebih pelan. “Alif.”
Lastri mengangguk, lalu kembali mengajarkan. Alya dan Malvin meniru. Dan lama-lama, mereka mulai sedikit lancar.
Alya sampai tertawa sendiri. “Teh… kok aku seneng ya.”
Lastri menatap gadis itu dengan tatapan hangat. “Karena kamu lagi belajar sesuatu yang penting, jauh lebih berharga daripada seluruh isi dunia.“
Kalvin menghembuskan napas pelan. Dadanya terasa lebih sejuk, seolah ada ruang yang kembali terisi—tidak lagi kosong seperti sebelumnya.
Tok tok tok.
“Ada tamu kayaknya, Teh. Aku buka, ya…” Alya sudah melangkah duluan ke pintu.
Begitu daun pintu terbuka, matanya langsung membesar.
Malvin berdiri tepat di depan sana.
Sementara Malvin sendiri mengernyit. Perempuan yang membuka pintu memakai mukena. Wajahnya asing—tapi ada sesuatu yang terasa… familiar. Ia menatap beberapa detik, mencoba mengingat.
Lalu mata Malvin seketika membelalak lebar. “Alya…?!”
Belum sempat ia melanjutkan, tangan Alya sudah menutup mulutnya dengan panik. “Ssttt! Abang harus pura-pura nggak kenal aku, plisss!”
Mata Malvin mendelik tajam. Ia menarik tangan Alya dari mulutnya, menahan kesal yang langsung naik. Namun sebelum ia sempat bicara kembali, suara langkah kaki terdengar mendekat dari dalam rumah.
Lalu suara perempuan yang ia kenal, yang selama ini memenuhi pikirannya, mengalun lembut dari balik ruangan.
“Alya… siapa?“