"Mencintai Pak Alkan itu ibarat looping tanpa break condition. Melelahkan, tapi nggak bisa berhenti"
Sasya tahu, secara statistik, peluang mahasiswi "random" sepertinya untuk bersanding dengan Alkan Malik Al-Azhar—dosen jenius dengan standar moral setinggi menara BTS—adalah mendekati nol. Aris adalah definisi green flag berjalan yang terbungkus kemeja rapi dan bahasa yang sangat formal. Bagi Aris, cinta itu harus logis; dan jatuh cinta pada mahasiswa sendiri sama sekali tidak logis.
Tapi, bagaimana jika "jalur langit" mulai mengintervensi logika?
Akankah hubungan ini berakhir di pelaminan, atau justru terhenti di meja sidang sebagai skandal kampus paling memilukan? Saat doa dua pertiga malam beradu dengan aturan dunia nyata, siapa yang akan menang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fatin fatin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 17
Tinga Minggu Kepulangan dari Lombok disambut oleh tumpukan berkas dan realita kampus yang kembali berputar cepat. Alkan langsung dihadapkan pada sebuah tanggung jawab besar: Dekanat menunjuknya sebagai Kepala Lab Riset Kecerdasan Buatan yang baru. Ini adalah posisi prestisius, namun Alkan tahu risikonya adalah waktu yang akan tersita untuk penelitian dan rapat-rapat birokrasi.
"Mas... kopi?" Sasya meletakkan cangkir di meja kerja Alkan yang kini pindah ke ruang kerja mereka di rumah.
Alkan mendongak, matanya tampak sedikit lelah menatap barisan angka di layar. "Terima kasih, Sayang. Kamu sudah makan?"
"Sudah, tapi... entah kenapa hari ini rasanya nasi nggak enak," gumam Sasya sambil memijat tengkuknya.
Alkan menarik kursi Sasya agar mendekat. Ia meletakkan telapak tangannya di dahi istrinya. "Kamu pucat. Masuk angin karena AC kantor?"
Sasya menggeleng. "Mungkin cuma capek karena mulai bantu-bantu proyek riset dosen senior di fakultas sebelah."
Pagi berikutnya, rutinitas mereka pecah. Alkan yang biasanya menemukan Sasya sudah rapi menyiapkan sarapan, kini justru mendapati pintu kamar mandi tertutup rapat dengan suara mual yang cukup hebat dari dalam.
Alkan mengetuk pintu dengan panik. "Sasya? Kamu kenapa? Kita ke dokter sekarang?"
Sasya keluar dengan wajah pucat dan lemas, tangannya berpegangan pada kusen pintu. "Hanya mual biasa, Mas. Mungkin asam lambung karena semalam begadang baca jurnal."
Alkan menatap istrinya dengan insting seorang peneliti yang tajam. Ia teringat sesuatu. "Sasya, siklus bulanan kamu... apakah sudah lewat?"
Sasya terdiam, mencoba melakukan query memori di otaknya. "Eh... harusnya minggu lalu. Oh astaga, Mas, saya lupa karena terlalu sibuk mengurus jadwal konferensi Mas kemarin!"
Tanpa menunggu lama, Alkan mengambil kunci mobil. "Pakai jaketmu. Kita tidak ke kampus pagi ini. Kita ke apotek dulu, lalu ke klinik."
Di dalam mobil, suasana terasa sangat tegang sekaligus penuh harapan. Sasya menggenggam testpack yang baru saja ia beli di tangannya dengan gemetar. Begitu sampai di rumah kembali, Sasya masuk ke kamar mandi sementara Alkan menunggu di luar, berjalan bolak-balik seperti sedang menunggu hasil kompilasi program yang menentukan kelulusan.
Lima menit kemudian, Sasya keluar. Matanya berkaca-kaca. Ia menyodorkan benda kecil itu ke tangan Alkan.
Dua garis merah. Terang dan jelas.
Alkan terpaku. Ia yang biasanya bisa menjelaskan teori paling rumit di dunia teknologi, mendadak kehilangan kata-kata. Ia melihat Sasya, lalu melihat kembali ke arah benda itu.
"Ini... berarti ada variabel baru dalam sistem kita, Sasya?" suara Alkan bergetar karena emosi yang meluap.
Sasya mengangguk sambil menangis haru. "Sepertinya 'proyek' masa depan kita dikasih percepatan sama Allah, Mas."
Alkan langsung memeluk Sasya dengan sangat erat namun hati-hati. Ia menciumi puncak kepala istrinya berkali-kali. "Alhamdulillah... Ya Allah, terima kasih. Saya akan menjadi ayah, Sya. Anak kita akan punya logika sepertimu dan... semoga tidak sekaku saya."
Malam itu, Alkan mematikan seluruh perangkat kerjanya. Tidak ada riset, tidak ada draf jurnal. Ia ingin merayakan kabar ini dengan cara yang paling indah.
Di atas tempat tidur, Alkan memeluk Sasya, namun kali ini gerakannya jauh lebih protektif dan lembut. Ia mengusap perut Sasya yang masih rata dengan penuh takzim.
"Mas... Mas nggak kecewa? Maksudku, Mas baru saja jadi Kepala Lab. Pasti sibuk sekali. Apa aku nggak akan jadi beban?" tanya Sasya pelan.
Alkan menghentikan gerakannya, menatap Sasya dalam-dalam. "Sasya, jabatan itu cuma atribut. Anak ini... dia adalah amanah yang paling tinggi. Kita akan belajar jadi orang tua bareng-bareng. Jangan pernah merasa jadi beban."
Rasa syukur dan haru berubah menjadi gairah yang lebih matang. Alkan mencium Sasya, kali ini dengan tempo yang lebih lambat, seolah ingin menghargai setiap detik keberadaan istrinya. Sentuhannya terasa lebih hangat, penuh dengan janji perlindungan.
Malam itu, mereka kembali menyatu dalam kasih sayang yang lebih dalam. Ada rasa syukur yang meluap dalam setiap sentuhan panas yang mereka bagikan—sebuah perayaan atas kehidupan baru yang mulai bersemi di rahim Sasya. Penyatuan mereka malam ini terasa lebih bermakna, sebuah janji suci untuk menjaga titipan Tuhan yang kini hadir di antara mereka.
Namun, kebahagiaan itu segera diuji. Masuk minggu kedelapan, Sasya mengalami morning sickness yang sangat parah. Ia bahkan tidak bisa mencium bau nasi atau parfum Alkan.
"Mas... tolong jauh-jauh dulu," isak Sasya saat Alkan baru saja pulang dari kampus. "Parfum Mas bikin aku mual banget."
Alkan yang sudah rindu ingin memeluk istrinya terpaksa berdiri di ambang pintu kamar. "Tapi saya sudah mandi di kampus, Sayang."
"Tetap saja... baunya aneh."
Alkan menghela napas, ia harus belajar menghadapi kehamilan yang tidak ada di buku panduan teknis mana pun. Di saat yang sama, Bu Sarah kembali muncul di kampus, membawa kabar bahwa riset Alkan di Lab baru sedang diincar oleh pihak asing yang ingin membeli datanya secara ilegal.
Alkan terjepit di antara mengurus istri yang sedang payah dan menjaga integritas laboratoriumnya.