Alana bukan sekadar penebus hutang judi pamannya; dia adalah obsesi gelap Dante Volkov. Di tangan sang Ice King, Alana harus memilih: menjadi mawar yang indah di dalam penjara emas, atau hancur saat musuh mulai mengincar nyawanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon your grace, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB:20 OLAHRAGA?
Suasana di ruang makan mewah mansion Volkov pagi itu terasa sangat kontras. Aroma kopi Blue Mountain yang mahal dan roti panggang mentega memenuhi udara, namun ketegangan yang pekat masih menggantung di antara pasangan suami istri yang duduk di ujung meja panjang tersebut. Alana duduk dengan bahu yang merosot, wajahnya ditekuk dalam ekspresi cemberut yang tidak bisa ia sembunyikan. Bibirnya yang sedikit membengkak—jejak dari ¢ïµmåñ ßêrïñgå§ di bawah guyuran air tadi—tampak mengerucut kesal.
Ia merasa sekujur tubuhnya pegal, seolah setiap inci ototnya telah dipaksa bekerja melampaui batas. Dante benar-benar tidak mengenal kata ampun; pria itu mêlåmþïå§kåñ segala hå§rå† gelap dan rasa rindu posesifnya di kamar mandi tanpa memedulikan rêñgêkåñ lelah Alana.
Dante, yang duduk di kepala meja dengan kemeja hitam yang lengannya digulung hingga siku, memotong steak setengah matangnya dengan gerakan yang sangat presisi. Ia melirik Alana dari balik gelas kristal berisi air mineral, lalu sebuah smirk tipis yang penuh kemenangan muncul di sudut bibirnya. Ia sangat menikmati pemandangan istrinya yang merajuk seperti itu; baginya, Alana yang kesal jauh lebih mêñggðÐå daripada Alana yang takut.
"Aku tidak mau melihat wajah yang ditekuk seperti itu di ruang makan," ucap Dante dengan suara dingin yang dalam, memecah keheningan. "Kau merusak seleraku, Alana."
Alana sedikit tersentak. Suara bariton itu selalu berhasil memberikan efek getaran instan di tulang belakangnya. Ia segera menunduk, menghindari tatapan mata biru es yang seolah bisa menelanjangi jiwanya. Meskipun ia sangat kesal dan ingin sekali melempar garpu ke arah pria ßêñgï§ itu, Alana cukup tahu diri. Melawan Dante saat pria itu sedang dalam mode dominan hanya akan berakhir dengan dirinya kembali Ðï§êrê† ke atas ranjang atau lebih buruk lagi.
Jadilah ia makan dengan tenang, mengunyah omeletnya dengan gerakan mekanis. Dante terus memperhatikan setiap gerakan kecil Alana—bagaimana tenggorokan gadis itu bergerak saat menelan, atau bagaimana jemari mungilnya memegang sendok. Tatapan Dante begitu intens, seolah ia sedang menguliti Alana dengan matanya.
"Kau harus olahraga lebih banyak," celetuk Dante tiba-tiba di tengah kunyahannya.
Alana menoleh dengan dahi berkerut, memberikan tatapan bertanya tanpa suara. Olahraga? Untuk apa? Bukankah pekerjaanku membersihkan mansion ini sudah lebih dari cukup untuk membakar kalori? pikirnya dalam hati.
Dante mendengus kasar, ia meletakkan pisau dan garpunya dengan bunyi denting yang nyaring di atas piring porselen. "Ck. Kau terlalu mudah lelah, Little girl. Baru Ðïmå§µkï dua kali saja kau sudah lemas dan memohon ampun seolah-olah aku sedang mêmßµñµhmµ. Kau harus bisa mengimbangi gåïråhkµ, Alana. Aku tidak mau istriku pingsan setiap kali aku ingin bersenang-senang sedikit lebih lama."
Wajah Alana seketika meledak menjadi merah padam, bahkan hingga ke area leher dan telinganya. Ia secara refleks menoleh ke segala arah, menatap barisan maid dan pengawal yang berdiri dengan wajah kaku di belakang mereka. Meskipun para pelayan itu sudah terlatih untuk bersikap seperti patung, Alana yakin mereka mendengar setiap kata vµlgår yang keluar dari mulut tuannya.
"Dante! Jangan bicara seperti itu... kumohon," seru Alana dengan suara lembutnya yang bergetar karena malu. Suaranya terdengar seperti bisikan yang memohon, sangat kontras dengan aura keras di ruangan itu.
Melihat reaksi Alana, smirk di wajah Dante semakin lebar. Entah mengapa, ia sangat terobsesi dengan suara lembut Alana yang selalu terdengar seperti melodi di telinganya, apalagi jika suara itu berubah menjadi Ðê§åhåñ pasrah atau êråñgåñ nikmat di bawah kungkungannya. Pikiran Dante mulai berkelana kembali ke momen di kamar mandi tadi—bagaimana kµlï† Alana memerah saat ia mêñghµjåmkåñ miliknya, dan bagaimana gadis itu mêñjêþï†ñɏå dengan sangat ketat.
Dante menggelengkan kepalanya sedikit, mencoba mengusir pikiran kð†ðr yang mulai membakar bagian bawah perutnya lagi. Jika ia menuruti dorongan itu, ia pasti akan menggendong Alana kembali ke kamar dan tidak akan keluar mansion seharian. Padahal, hari ini ada urusan pengiriman senjata di perbatasan yang membutuhkan otorisasi langsung darinya.
Pria raksasa itu bangkit dari kursinya, gerakannya begitu tiba-tiba sehingga kursi berat itu bergeser dan menimbulkan suara decitan di lantai marmer. Alana, yang masih merasa malas untuk bergerak, tetap duduk di kursinya. Namun, Dante tidak membiarkannya. Ia melangkah mendekat, mencengkeram lengan Alana dan menariknya berdiri dengan satu sentakan yang tak terbantahkan.
"Ayo, antar aku ke depan," perintahnya tanpa ruang untuk penolakan.
Dante menyeret Alana keluar menuju serambi depan mansion, di mana konvoi mobil hitam lapis baja sudah menunggu. Sebelum melangkah masuk ke mobil, Dante berbalik, menatap istrinya yang tampak kecil di hadapannya.
"Aku pergi. Nanti siang akan ada instruktur olahraga pribadi yang datang ke sini untuk melatih fisikmu. Jangan berani-berani membolos atau menolak, little girl. Ini demi kebaikanmu sendiri... dan kêþµå§åñkµ," bisik Dante dengan nada yang menjanjikan badai di malam hari nanti.
"Tapi Dante—"
Hap.
Belum sempat Alana menyelesaikan kalimat protesnya, Dante sudah mêlåhåþ ßïßïr mungil itu dengan ßêrïñgå§. Ia tidak peduli dengan puluhan pasang mata pengawal yang secara serentak memalingkan pandangan atau menatap tanah. Dante mêñ¢ïµm Alana dengan gaya khasnya—kasar, menuntut, dan penuh kepemilikan. LïÐåhñɏå memaksa masuk, mencicipi sisa rasa omelet dan manisnya ßïßïr Alana yang kini benar-benar menjadi ¢åñе baginya.
Setelah merasa puas mêñghï§åþ energi istrinya, Dante melepaskan pagutan itu. Ia mengusap ibu jarinya pada bibir Alana yang kini tampak merah dan sedikit basah, lalu mengecup dahi gadis itu dengan sentuhan yang anehnya terasa sangat protektif.
"Tunggu aku kembali. Dan ingat, pakai baju olahraga yang tidak terlalu terbuka. Aku tidak mau instruktur itu melihat apa yang hanya boleh aku lihat," ancam Dante terakhir kalinya sebelum ia masuk ke dalam mobil dan melesat pergi meninggalkan debu yang beterbangan.
Alana berdiri mematung di teras, menyentuh bibirnya yang masih terasa panas. Ia mendesah pasrah, menyadari bahwa hidupnya kini benar-benar telah dikalibrasi ulang oleh keinginan sang predator.
lanjut thor👍😄
ayo thor bikin alana jd bucin dong😄
lanjut thor yg banyak dong😄😄😄