NovelToon NovelToon
Pewaris Rahasia Tuan Sagara

Pewaris Rahasia Tuan Sagara

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / One Night Stand / Cintapertama
Popularitas:9.8k
Nilai: 5
Nama Author: erma _roviko

Satu malam di bawah langit Jakarta yang kelam, Alisha hanya ingin melupakan pengkhianatan yang menghancurkan hatinya. Di sebuah lounge mewah, ia bertemu dengan pria asing yang memiliki tatapan sedalam samudra. Damian Sagara. Tanpa nama, tanpa janji, hanya sebuah pelarian sesaat yang mereka kira akan berakhir saat fajar menyingsing. Namun, fajar itu membawa pergi Alisha bersama rahasia yang mulai tumbuh di rahimnya.

Lima tahun Alisha bersembunyi di kota kecil, membangun tembok tinggi demi melindungi Arka, putra kecilnya yang memiliki kecerdasan tajam dan garis wajah yang terlalu identik dengan sang konglomerat Sagara.

“Seorang Sagara tidak pernah meninggalkan darah dagingnya, Alisha. Dan kau... kau tidak akan pernah bisa lari dariku untuk kedua kalinya.”

Saat masa lalu menuntut pengakuan, apakah Alisha akan menjadi bagian dari keluarga Sagara, atau hanya sekedar ibu dari pewaris yang ingin Damian ambil alih?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon erma _roviko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5

“Buka pintunya, Alisha. Sebelum aku memerintahkan orang-orangku untuk meruntuhkan dinding rumah ini.”

Suara Damian Sagara membelah keheningan malam di pesisir. Alisha berdiri mematung di balik pintu kayu rumahnya yang mulai lapuk. Ia bisa melihat cahaya lampu dari deretan mobil mewah yang mengepung halaman rumahnya. 

Cahaya putih yang menyilaukan itu menembus celah-celah dinding papan. Arka sudah terlelap di kamar dalam, tidak menyadari bahwa dunianya sedang dikepung.

“Pergilah, Damian! Kau tidak punya hak untuk datang ke sini!” teriak Alisha dengan suara yang pecah.

“Aku punya setiap hak yang ada di dunia ini,” balas Damian dari luar.

Alisha menarik nafas panjang dan membuka pintu dengan sentakan kasar. Ia berdiri di ambang pintu dengan tangan gemetar yang ia sembunyikan di balik punggung. 

Di hadapannya, Damian berdiri tegak dengan setelan jas hitam yang tampak sangat kontras dengan tanah berpasir di bawah kakinya. Lima orang pria berbadan tegap berdiri di belakangnya seperti bayangan maut.

“Apa yang kau inginkan?” tanya 

Alisha dengan nada menantang.

Damian tidak menjawab. Ia melangkah maju, memaksa Alisha untuk mundur dan memberinya jalan masuk. Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan yang sempit itu. Matanya tertuju pada sebuah foto kecil Arka yang terpasang di dinding.

“Dia memiliki garis rahang Sagara, Alisha,” ujar Damian tanpa menoleh. 

“Jangan coba-coba membohongiku lagi dengan bualan tentang ayah yang tidak ada.”

“Dia anakku. Hanya anakku,” desis Alisha.

Damian berbalik dengan gerakan yang sangat cepat. Ia menatap Alisha dengan tatapan yang sangat tajam. “Anakmu? Kau pikir dia tercipta dari udara?”

“Aku yang membesarkannya. Aku yang bangun setiap malam saat dia sakit. Di mana kau saat itu?’ suara Alisha mulai meninggi.

“Aku mencarimu!” bentak Damian hingga gema suaranya memantul di dinding kayu. 

“Aku mencarimu ke setiap sudut Jakarta setelah kau menghilang seperti pengecut pagi itu!”

Alisha tertawa getir dengan air mata yang mulai mengalir. “Mencari? Kau sedang sibuk memasang cincin di jari Clarissa Aditama di semua saluran berita.”

Damian terdiam sejenak. Rahangnya mengeras. Ia mengeluarkan sebuah amplop coklat dari balik jasnya dan melemparkannya ke atas meja makan kayu yang tua. Amplop itu mendarat dengan suara debuman yang berat.

“Apa ini?” tanya Alisha ragu.

“Investigasi lengkap tentang pelarianmu,” jawab Damian dingin. 

“Kau meninggalkan Jakarta dua hari setelah malam itu. Kau mematikan ponselmu. Kau pindah ke kota ini dengan nama belakang palsu yang kau buat sendiri.”

Alisha meremas jari-jarinya. “Aku hanya ingin hidup tenang.”

“Hidup tenang dengan mencuri anakku?” Damian melangkah mendekat, menginvasi ruang gerak Alisha. 

“Arka lahir tepat sembilan bulan setelah malam kita di hotel itu. Kau pikir aku sebodoh itu untuk tidak bisa menghitung?”

“Itu hanya kebetulan,"” sanggah 

Alisha dengan sisa kekuatannya.

Damian mengambil selapis kertas dari dalam amplop itu. “Ini adalah catatan medis dari klinik di pinggiran Jakarta. Nama pasien. Alisha. Keluhan, mual di pagi hari. Tanggal kunjungan, tepat sebulan setelah kita bertemu.”

Alisha memalingkan wajahnya. Ia merasa seluruh pertahanannya sedang dihancurkan satu per satu oleh fakta yang dibawa Damian. Pria itu tidak datang untuk bernegosiasi. Ia datang untuk mengklaim.

“Kenapa kau begitu yakin?” tanya Alisha pelan.

“Karena aku melihat diriku sendiri di dalam matanya,” jawab Damian dengan suara yang mendadak melunak namun tetap tegas. 

“Aku melihat caramu menatapnya dengan ketakutan saat di balai kota. Kau takut aku menyadarinya, kan?”

“Aku takut kau akan menghancurkan kebahagiaannya,” balas Alisha. 

“Keluargamu adalah sarang ular, Damian. Arka tidak akan bisa bertahan di sana.”

Damian mencengkeram bahu Alisha, memaksa wanita itu untuk menatapnya. “Aku adalah ular terbesar di sana, Alisha. Dan aku akan memastikan tidak ada yang bisa menyentuh sehelai rambutnya pun.”

“Kau tidak mengerti,” isak Alisha. 

“Dia bahagia di sini. Dia menyukai laut. Dia menyukai sekolahnya.”

“Dia menyukai bangunan arsitektur,” potong Damian. “Dia butuh pendidikan terbaik yang bisa dibeli oleh uang. Bukan sekolah yang hampir roboh karena proyek pelabuhanku sendiri.”

Alisha mendorong dada Damian dengan kedua tangannya. “Uang bukan segalanya bagi seorang anak kecil!”

“Tapi keamanan adalah segalanya!” balas Damian. 

“Kau pikir berapa lama kau bisa menyembunyikannya? Cepat atau lambat, wartawan atau musuh bisnisku akan mencium keberadaannya. Kau ingin dia menjadi target penculikan karena ibunya terlalu egois untuk meminta perlindungan dariku?”

Alisha terdiam. Kata-kata Damian menghantam logikanya. Selama lima tahun ia hanya memikirkan cara untuk lari. Ia tidak pernah memikirkan apa yang akan terjadi jika rahasia ini terbongkar oleh orang yang salah.

“Aku bisa menjaganya,” ujar Alisha dengan nada yang tidak lagi yakin.

“Dengan apa? Dengan mesin jahit tua ini?” Damian melirik ke arah sudut ruangan. 

“Seorang Sagara lahir untuk memimpin, bukan untuk bersembunyi di balik kain.”

Suasana di dalam rumah itu menjadi sangat sunyi. Hanya terdengar suara deburan ombak dari kejauhan dan nafas Alisha yang tersengal. 

Damian melepaskan cengkeramannya pada bahu Alisha. Ia merapikan kembali jasnya yang sedikit berantakan.

“Aku sudah menyiapkan segalanya,” kata Damian dengan suara yang datar. 

“Sebuah rumah di Jakarta Selatan. Keamanan dua puluh empat jam. Dokter pribadi untuk Arka.”

“Aku tidak meminta semua itu,” sahut Alisha.

“Aku tidak memberikannya padamu,” balas Damian dingin. “Aku memberikannya pada putraku.”

Damian berjalan menuju pintu kamar tempat Arka sedang tidur. Alisha mencoba menghalanginya, namun Damian hanya perlu memberikan satu tatapan peringatan untuk membuat Alisha berhenti. 

Damian membuka pintu itu sedikit. Ia melihat sosok kecil Arka yang meringkuk dibawah selimut tipis.

“Dia sangat mirip denganku saat tidur,” gumam Damian. Ada kilatan kerinduan yang sangat dalam di matanya.

“Damian, tolong.” Mohon Alisha di belakangnya. “Jangan ambil dia dariku.”

Damian berbalik dan menutup pintu kamar dengan sangat pelan agar tidak menimbulkan suara. Ia menatap Alisha yang kini sudah jatuh terduduk di lantai sambil memeluk lututnya. 

Damian berlutut di depan Alisha. Ia mengangkat dagu wanita itu agar mereka saling bertatapan.

“Aku tidak akan mengambilnya darimu,” bisik Damian.

Alisha menatap mata Damian, mencari kebohongan di sana. Namun yang ia temukan hanyalah tekad yang tidak tergoyahkan.

“Tapi aku juga tidak akan membiarkanmu membawanya lari lagi,” lanjut Damian. “Satu-satunya alasan aku tidak membawa polisi ke sini sekarang adalah karena aku ingin Arka bangun dan melihat ibunya berada di sampingnya.”

“Kau gila,” desis Alisha.

“Aku seorang ayah yang baru saja kehilangan lima tahun waktu berharga,” balas Damian.

Damian mendekatkan wajahnya ke wajah Alisha. Jarak mereka begitu dekat hingga nafas hangat Damian terasa di kulit Alisha. Aroma parfum kayu cendana pria itu kini bercampur dengan bau garam laut. 

Damian menatap bibir Alisha sejenak sebelum kembali mengunci tatapannya pada mata wanita itu.

“Seorang Sagara tidak pernah meninggalkan darah dagingnya, Alisha,” ujar Damian dengan suara rendah dan mengancam namun penuh dengan kerinduan yang tertahan selama bertahun-tahun.

“Mulai malam ini, kau dan Arka tidak punya pilihan lain,” lanjut Damian. 

“Kalian ikut denganku ke Jakarta. Baik kau setuju atau tidak. Baik kau membenciku atau tidak.”

Alisha merasakan dinginnya borgol tak kasat mata mulai melilit hidupnya kembali. 

“Kau tidak bisa memaksaku.”

“Lihat ke luar jendela!” perintah Damian. 

“Mobil-mobil itu tidak akan pergi tanpa kalian di dalamnya. Aku punya tim hukum yang bisa membuktikan bahwa kau telah menculik ahli waris Sagara dalam waktu kurang dari satu jam.”

Damian berdiri dan mengulurkan tangannya pada Alisha.

“Bangun, Alisha. Kemasi barang-barang Arka yang paling penting. Kita berangkat sebelum fajar!” perintah Damian tanpa ruang untuk protes.

Alisha menatap tangan itu. Tangan yang dulu memberinya kehangatan dalam satu malam yang luar biasa, kini menjadi tangan yang merenggut kebebasannya. Ia menyadari bahwa pelariannya telah berakhir di titik ini. Di sebuah rumah kecil di tepi pantai, ia harus menyerah pada takdir yang bernama Sagara.

“Aku membencimu, Damian,” bisik Alisha sambil menyambut uluran tangan itu untuk berdiri.

Damian menarik Alisha ke dalam pelukannya untuk sekejap. Ia membisikkan sesuatu di telinga Alisha yang membuat seluruh bulu kuduk wanita itu berdiri.

“Kebencian adalah awal yang bagus untuk memulai kembali, Alisha. Setidaknya kau tidak akan pernah bisa melupakanku lagi.”

Damian melepaskan Alisha dan berjalan menuju pintu depan untuk memberikan instruksi pada orang-orangnya. 

Alisha berdiri terpaku di tengah ruangan, menatap pintu kamar Arka. Ia tahu, mulai besok, hidup anaknya tidak akan pernah sama lagi. 

Pewaris rahasia Sagara telah ditemukan, dan dunia akan segera mengetahuinya.

1
Diana_Restu
ceritanya seru sekarang mulai satset ga terlalu muter.makasih author.love sekebon🥰
Ranita Rani
bingung bingung q memikirnya,,,,
Imas Atiah
bacanya bikin deg degan tegang
Lianty Itha Olivia
knp cerita ini semakin dibaca kedlm isinya hya perdebatan yg itu2 saja, seolah mengikuti konferensi meja bundar isinya muter2 spt mejanya
erma _roviko: Gak kok kak, bab 33 udah aman
total 1 replies
tia
sekian bab masih belom tau siapa lawan dn siapa temen 🤭
Sri Muryati
seru banget...😍
Imas Atiah
susah ye nenek lampir
tia
ternyata biang kerok selama ini rania,,,
Imas Atiah
Alisha kamu bilang Damian jng smpe kamu kena jebakan clarisa
Sunaryati
Jangan terjebak dengan Clarissa
Ranita Rani
poseng + tegang
Imas Atiah
damian knp kamu duku tak bertanggungjawab mlh mengawasi dari jauh kirain beneran peduli yah ini sih bikin alisha dan arka membencimu
Diana_Restu
terlalu lama teka tekinya jadi jenuh bacanya soalnya masih blm ada titik terang.konfliknya alot.
erma _roviko: Hehe maaf ya kak, aku koreksi kok
total 1 replies
tia
masih abu abu , siapa teman dan siapa lawan 😭
Bonny Liberty
damang hujan lagi ngomongin cinta tapi lagi kasih tau cara dia melindungi orang yg paling penting dalam hidupnya😒
𝐈𝐬𝐭𝐲
alisha terlalu keras kepala...
Imas Atiah
nurut aja alisha ,damian takut kehilanganmu dan arka
Sunaryati
Ah seperti pertarungan mafia, padahal cuma Clarrisa menginginkannya Damian, namun Damian yang tidak bersedia.
Naufal Affiq
lanjut kak
tia
lanjut Thor udah sabar 💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!