Muhammad Zaka Fauzian Azkar. Nama itu tak asing di telinga para santri Pondok Pesantren Al-Hikmah. Gus Azkar, begitu ia akrab disapa, adalah sosok yang disegani, bahkan ditakuti. Pribadinya dingin, irit bicara, dan dikenal sangat galak, baik oleh santri putra maupun putri. Tegas dan disiplin adalah ciri khasnya, tak ada yang berani membantah.
Namun, dinding es yang menyelimuti hati Gus Azkar perlahan retak saat seorang santriwati baru hadir di pondok. Rina, gadis pendiam yang sering menyendiri, menarik perhatiannya. Berbeda dari santri putri lainnya, Rina memiliki dunianya sendiri. Suaranya yang lembut, seperti anak kecil, kontras dengan tingginya yang mungil. Cadar yang menutupi wajahnya menambah misteri pada sosoknya.
Gus Azkar sering mendapati Rina tertidur saat pelajaran fiqih yang ia ampu. Setiap kali ditegur karena tidak mendengarkan penjelasannya, Rina hanya diam, kepalanya menunduk. Jawaban yang selalu sama keluar dari bibirnya yang tertutup cadar, "Maaf Ustadz, saya kan sant
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12: Kesadaran yang Tertunda
Langkah kaki Rina terasa melayang saat ia berjalan menuju kamar mandi di dalam kamarnya. Pikirannya benar-benar kacau. Efek bangun tidur dan rasa pusing membuat memorinya sedikit kacau.
"Kayaknya aku baru usia 15 tahun deh, ini mah fiksi banget kalau aku nikah. Fix, ini mimpi!" gumamnya dalam hati. Rina merasa sedang berada di dunia halusinasi yang sangat nyata. "Yaudah ah, mumpung dalam mimpi, aku mau mandi terus pakai baju dinas tidur favoritku. Salatnya entar aja, namanya juga mimpi ini."
Di dalam kamar mandi, Rina membersihkan diri. Masih dengan keyakinan bahwa ini adalah mimpi indah, ia keluar hanya dengan mengenakan "baju dinas" tidurnya. Baju itu adalah sebuah lingerie tipis bermodel daster pendek yang sangat kekurangan bahan. Bahannya transparan dan sangat ketat, memperlihatkan dengan jelas bentuk tubuh Rina yang pulen, montok, dan sintal—aset yang selama ini ia sembunyikan rapat-rapat di balik gamis longgar dan cadarnya.
Rina merasa sangat bebas. Karena mengira ini mimpi, ia mengambil ponselnya dan memutar lagu Bang Toyib.
"Mengapa kau tak pulang-pulang... anakmu... anakmu merindukanmu..."
Rina mulai bergoyang kecil, mengikuti irama lagu sambil menyisir rambutnya yang basah di depan cermin. Ia bahkan sempat bersenandung ria, benar-benar mengabaikan sosok laki-laki yang sedang duduk di atas sajadah di belakangnya.
Sementara itu, Gus Azkar yang sedang menunggu di atas sajadah untuk mengimami salat Maghrib, mendadak kaku. Tasbih di tangannya hampir jatuh. Ia melihat istrinya keluar dengan pakaian yang... luar biasa minim. Pemandangan itu benar-benar menguji iman Gus Azkar yang selama ini terkenal sangat kuat.
Gus Azkar berdeham keras, namun Rina masih asyik bergoyang tipis mengikuti lagu. Azkar menyadari satu hal: istrinya ini sedang kehilangan kesadaran akan realita.
Gus Azkar berdiri perlahan. Ia berjalan mendekati Rina yang masih asyik dengan dunianya sendiri. Ia mematikan musik di ponsel Rina secara mendadak, membuat kamar itu seketika sunyi.
"Rina..." suara Gus Azkar terdengar sangat rendah dan dalam.
Rina menoleh sambil tertawa kecil. "Ih, pangeran mimpi aku kok bisa matiin lagu sih? Hebat banget mimpinya."
Gus Azkar tidak tahan lagi dengan kepolosan yang berbahaya ini. Ia ingin menyadarkan Rina bahwa ini bukan khayalan. Dengan gerakan cepat namun lembut, Gus Azkar menarik pinggang Rina hingga tubuh montok itu menempel sempurna pada tubuh tegapnya.
"Mimpi tidak akan terasa sehangat ini, Sayang," bisik Gus Azkar.
Sebelum Rina sempat mencerna kata-kata itu, Gus Azkar langsung menunduk dan melumut bibir Rina dengan penuh kerinduan dan kepemilikan. Ciuman itu terasa begitu nyata, panas, dan menuntut. Oksigen di sekitar Rina seolah menghilang. Rasa dingin dari air mandi tadi seketika berganti dengan panas yang menjalar ke seluruh tubuhnya.
Mata Rina membelalak sempurna. Sentuhan itu, rasa itu, dan aroma maskulin dari tubuh Gus Azkar benar-benar masuk ke inderanya. Ini terlalu nyata untuk sebuah mimpi.
Gus Azkar melepaskan tautan bibir mereka perlahan, namun tangannya masih mendekap erat pinggang Rina yang hanya terbalut kain tipis itu. Ia menatap mata Rina yang kini tampak syok.
"Masih mau bilang ini mimpi? Atau mau saya buktikan lagi supaya kamu sadar kalau laki-laki di depanmu ini adalah suamimu yang sah?" tanya Gus Azkar dengan suara serak, tatapannya kini berubah menjadi sangat lapar, sangat kontras dengan sosok ustadz yang galak di pesantren.
Rina mematung, wajahnya memerah sampai ke leher. Ia tersadar sepenuhnya. Ini nyata. Pernikahan ini nyata. Dan ia baru saja menari dengan baju transparan di depan ustadz paling ditakuti di Al-Hikmah.
"A-Astagfirullah... Mas Azkar..." Rina mencicit, suaranya hampir hilang karena malu yang luar biasa.