NovelToon NovelToon
Miliarder Nyasar Di Kondangan Mantan

Miliarder Nyasar Di Kondangan Mantan

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Diam-Diam Cinta / Cinta setelah menikah / Wanita perkasa / Balas Dendam
Popularitas:240
Nilai: 5
Nama Author: Sefna Wati

"Datang sebagai tamu tak diundang, pulang membawa calon suami yang harganya miliaran."
Bagi seorang wanita, tidak ada yang lebih menghancurkan harga diri selain datang ke pernikahan mantan yang sudah menghamili wanita lain. Niat hati hanya ingin menunjukkan bahwa dia baik-baik saja, ia justru terjebak dalam situasi memalukan di depan pelaminan.
Namun, saat dunia seolah menertawakannya, seorang pria dengan aura kekuasaan yang menyesakkan napas tiba-tiba merangkul pinggangnya. Pria itu—seorang miliarder yang seharusnya berada di jet pribadi menuju London—malah berdiri di sana, di sebuah gedung kondangan sederhana, menatap tajam sang mantan.
"Kenalkan, saya tunangannya. Dan terima kasih sudah melepaskannya, karena saya tidak suka berbagi permata dengan sampah."
Satu kalimat itu mengubah hidupnya dalam semalam. Pria asing itu tidak hanya menyelamatkan wajahnya, tapi juga menyodorkan sebuah kontrak gila: Menjadi istri sandiwara untuk membalas dendam pada keluarga sang miliarder.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sefna Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26: London Fog dan Teka-teki di Langit

Jet pribadi Pramudya Corps membelah awan di ketinggian 40.000 kaki. Di dalam kabin yang mewah, suasananya justru lebih tegang daripada ruang interogasi polisi. Alana duduk meringkuk di kursi kulit, matanya tak lepas dari ibunya, Larasati, yang duduk tenang di hadapannya. Di leher Larasati, sebuah alat kecil berbentuk cakram hitam menempel erat dengan lampu merah yang berkedip setiap tiga detik.

"Mas Arkan, Mas Ariel... ini beneran nggak bisa dicopot pakai pinset atau apa gitu?" tanya Alana, suaranya parau karena cemas. Sisi "julid"-nya yang biasa meledak-ledak kini tertutup oleh rasa takut yang nyata.

Ariel, yang sedang sibuk dengan tablet miliknya, menggeleng tanpa menoleh. "Jangan disentuh, Alana. Itu sensor tekanan dan suhu. Begitu suhu tubuh Ibu berubah drastis atau ada tarikan fisik, alat itu akan memicu ledakan mikro. Julian Black bukan pemain amatir seperti Maya."

Arkan menghampiri Alana, membawakan secangkir teh hangat. "Kita punya tim penjinak bom terbaik yang menunggu di London. Julian ingin kita sampai di sana dalam keadaan utuh. Dia tidak akan meledakkannya sebelum mendapatkan kunci itu."

Alana menyesap tehnya, lalu menatap Arkan. "Mas, kita ini mau ke London buat nyerahin kunci atau mau buat keributan? Soalnya kalau cuma mau nyerahin kunci, mending kita kirim paket kilat aja daripada harus mempertaruhkan nyawa Ibu."

"Kita akan melakukan keduanya, Lana," Arkan duduk di sampingnya, suaranya rendah dan penuh tekad. "Kita berikan kuncinya, tapi kita pastikan Julian tidak akan pernah bisa menggunakannya."

Ariel memutar kursinya, menatap Arkan dan Alana. "Aku sudah melacak lokasi Julian. Dia tidak di gedung perkantoran. Dia punya sebuah estate pribadi di pinggiran Cotswolds. Tempat itu lebih mirip benteng daripada rumah tinggal. Kita masuk ke sana seperti menyerahkan diri ke kandang singa."

"Singanya belum tahu saja kalau dia kedatangan macan oren," celetuk Alana sambil melirik Mochi yang sedang tidur tenang di pojok kabin. Anehnya, kucing itu adalah makhluk paling santai di pesawat ini.

Setelah penerbangan belasan jam, mereka mendarat di bandara pribadi di London. Kabut tebal khas Inggris menyambut mereka, memberikan suasana yang semakin suram. Sebuah mobil Rolls-Royce hitam sudah menunggu di landasan.

Seorang pria Inggris dengan setelan tweed yang rapi berdiri di samping mobil. "Tuan Arkananta, Tuan Pramudya, dan Nyonya. Tuan Black sudah menunggu untuk makan malam."

"Makan malam terus perasaan, apa nggak bosan ya orang kaya hobinya jamuan makan mulu?" bisik Alana pada Arkan saat mereka masuk ke dalam mobil.

Perjalanan menuju Cotswolds memakan waktu dua jam. Di sepanjang jalan, Alana hanya bisa melihat pepohonan gundul dan kabut yang semakin pekat. Saat mobil memasuki gerbang besi raksasa yang dijaga pria bersenjata, Alana tahu bahwa permainan ini sudah mencapai level final.

Rumah Julian Black adalah sebuah kastil tua yang telah direnovasi dengan teknologi mutakhir. Begitu mereka masuk ke aula utama, seorang pria paruh baya dengan rambut putih yang disisir rapi dan mata abu-abu yang dingin menyambut mereka.

"Selamat datang, keluarga Arkananta. Dan Tuan Pramudya, senang melihatmu akhirnya memilih sisi yang benar," ucap Julian Black dengan aksen Inggris yang sangat kental dan formal.

Alana melangkah maju, tangannya memegang erat tas kecilnya. "Halo, Om Julian. Maaf ya kami agak telat, jet pribadinya nggak bisa diajak ngebut kayak angkot di Jakarta. Jadi, mana kesepakatannya? Lepasin alat di leher Ibu saya, dan kunci ini jadi milik Om."

Julian tersenyum, senyum yang tidak sampai ke matanya. "Nyonya Alana, Anda jauh lebih menarik daripada yang digambarkan di laporan intelijen saya. Tapi bisnis tidak sesederhana itu. Silakan duduk. Mari kita bicarakan masa depan dunia di bawah pengaruh data yang kalian bawa."

Meja makan panjang itu penuh dengan hidangan mewah yang aromanya menggugah selera, tapi tidak ada satu pun dari mereka yang menyentuhnya. Larasati duduk di ujung meja, tetap tenang meski maut menempel di lehernya.

"Julian, kunci ini ada padaku," Arkan mengeluarkan kunci kuno itu dari sakunya, meletakkannya di atas meja. "Lepaskan Larasati sekarang."

Julian memberikan isyarat pada asistennya. Seorang teknisi membawa sebuah koper perak berisi alat pemindai. "Setelah kunci ini divalidasi, alat di leher Nyonya Larasati akan dinonaktifkan secara otomatis melalui cloud server saya."

Teknisi itu mengambil kunci tersebut dan memasukkannya ke dalam sebuah slot di koper. Di layar monitor, muncul grafik pemindaian yang rumit. Alana menahan napas. Ariel tampak sangat fokus, tangannya berada di bawah meja, sepertinya sedang mengoperasikan sesuatu melalui jam tangannya.

"Validasi berhasil," ucap teknisi itu.

Julian mengangguk puas. "Bagus. Sekarang, matikan alatnya."

Lampu merah di leher Larasati berubah menjadi hijau, lalu padam sepenuhnya. Larasati menghela napas lega, ia perlahan melepaskan cakram itu dari kulitnya.

"Nah, sekarang kunci itu milikmu, Julian. Kami pergi," ucap Ariel sambil berdiri.

"Tunggu dulu," Julian mengangkat tangannya. "Kalian pikir kalian bisa pergi begitu saja setelah membawa semua data ini ke rumahku? Arkan, Ariel... kalian punya bakat. Bergabunglah dengan 'The Board'. Dengan data ini dan kekuatan finansial kalian, kita bisa mengatur ekonomi dunia. Kenapa harus menjadi pahlawan yang miskin jika bisa menjadi dewa yang kaya?"

Alana tertawa, tawa "julid"-nya menggema di aula kastil yang sunyi. "Wah, Om Julian ini cita-citanya tinggi banget ya? Jadi Dewa? Om tahu nggak, di Jakarta orang yang ngaku-ngaku jadi Dewa atau Raja biasanya berakhir di RSJ atau masuk konten parodi. Mas Arkan dan Mas Ariel itu sudah kaya, nggak butuh bantuan Om buat nambah saldo!"

Wajah Julian mendadak berubah gelap. "Anda tidak punya pilihan, Nyonya."

"Sebenarnya, kami punya," sahut Ariel. Ia menekan sebuah tombol di jam tangannya.

Tiba-tiba, seluruh lampu di kastil itu padam. Namun, bukan padam biasa. Layar besar di aula itu menyala kembali, menampilkan ribuan baris kode yang sedang terhapus secara otomatis.

"Apa yang kamu lakukan?!" teriak Julian.

"Kunci itu... Arkan dan Alana memang membawanya. Tapi kunci itu sudah dipasangi virus enkripsi yang aktif saat divalidasi oleh servermu," Ariel tersenyum dingin. "Dalam sepuluh detik, seluruh data suap, daftar nama, dan aset 'The Board' di server pusatmu akan dikirimkan ke Interpol, CIA, dan seluruh kantor berita di dunia. Secara otomatis."

Julian panik. "Hentikan! Batalkan sekarang!"

"Sudah terlambat, Julian," Arkan berdiri di depan Alana, melindungi istrinya. "Kamu ingin perang, kan? Ini adalah serangan jantung untuk organisasimu."

Suara alarm keamanan kastil berbunyi melengking. Pasukan penjaga Julian mulai merangsek masuk ke aula.

"Lana, lari ke arah balkon! Helikopter evakuasi sudah di sana!" perintah Arkan.

Mereka berlari menembus kegelapan, mengandalkan cahaya dari ponsel dan insting. Alana memeluk Mochi yang mendadak bangun dan tampak siap bertarung.

Duar! Duar!

Baku tembak pecah di lorong kastil. Tim elit bentukan Ariel yang sudah menyusup sejak tadi malam mulai melakukan serangan balasan. Alana merasa seperti berada di tengah film Mission Impossible, tapi kali ini tanpa pemeran pengganti.

Mereka sampai di balkon besar yang menghadap ke lembah. Sebuah helikopter hitam tanpa logo sudah menunggu dengan baling-baling yang berputar kencang.

"Ibu, masuk duluan!" Alana mendorong ibunya ke dalam kabin helikopter.

Arkan dan Ariel menyusul. Namun, saat Alana hendak melompat masuk, sebuah tangan mencengkeram kakinya. Julian Black, dengan wajah penuh luka dan kemarahan, menariknya kembali ke lantai balkon.

"Kalau aku hancur, kamu ikut hancur!" teriak Julian.

"MAS ARKAN!" teriak Alana.

Arkan hendak melompat turun, tapi Ariel menahannya. "Arkan, lindungi Ibu! Biar aku yang urus!"

Ariel melompat turun kembali ke balkon. Ia menendang Julian dengan telak, membuat pria tua itu tersungkur. Ariel menarik Alana berdiri dan mendorongnya ke arah pintu helikopter yang terbuka.

"Pergi! Bawa Ibu pulang!" teriak Ariel.

"Ariel! Mas ikut!" jerit Alana.

Ariel tersenyum tipis, senyum yang sama persis dengan Alana saat ingin berkorban demi orang lain. "Aku harus memastikan server ini hancur sepenuhnya dari dalam. Pergi, Lana! Ini tugas kembaranmu!"

Helikopter terpaksa lepas landas karena tembakan penjaga Julian semakin gencar. Alana menempelkan wajahnya ke kaca, melihat sosok Ariel yang perlahan menghilang di tengah kepulan asap kastil yang mulai meledak.

Di dalam helikopter, Alana menangis sesenggukan di pelukan Arkan. Namun, Larasati tiba-tiba memegang tangan Alana. Ia menunjuk ke arah bawah, ke arah hutan di samping kastil.

Dari balik pepohonan, sebuah suar (flare) berwarna oranye melesat ke langit. Kode rahasia yang hanya diketahui oleh keluarga Malik.

"Dia selamat..." bisik Larasati.

Alana menghapus air matanya. "Dasar Mas Ariel! Suka banget bikin drama! Nanti kalau ketemu lagi, aku bakal suruh dia traktir mie ayam se-Inggris Raya!"

Namun, di tengah kelegaan itu, Arkan menerima pesan di tabletnya. Sebuah video singkat dari Kakek Waluyo di penjara yang entah bagaimana bisa mengirim pesan.

"Permainan baru saja dimulai, Arkan. Julian hanyalah bidak. Raja yang sesungguhnya... baru saja mendarat di Jakarta. Dan dia punya wajah yang sangat kamu kenal."

Alana menatap layar itu. Di video itu, terlihat seorang pria keluar dari mobil di depan rumah lama Alana. Pria itu menoleh ke kamera... dan dia adalah Malik, ayah kandung Alana, tapi dengan sorot mata yang dingin dan penuh kebencian.

"Ayah...?" gumam Alana. "Kenapa Ayah ada di sana? Dan kenapa mukanya kayak mau ngajak perang?"

1
Sefna Wati
"Nulis bab ini beneran bikin aku putar otak banget biar tetep seru buat kalian. Semoga suka ya! Kalau ada saran atau kritik, langsung tumpahin aja di sini. Aku butuh asupan semangat dari kalian nih! ❤️"
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!