NovelToon NovelToon
Tabib Miskin Dan Dewi Bunga Teratai

Tabib Miskin Dan Dewi Bunga Teratai

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyelamat / Reinkarnasi / Romansa pedesaan / Romansa Fantasi / Peran wanita dan peran pria sama-sama hebat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:553
Nilai: 5
Nama Author: Cahya Nugraha

Shen Yi, tabib desa yang bajunya penuh tambalan, berlutut di sampingnya.
Tanpa ragu, ia pegang pergelangan tangan itu
dan racun dingin yang seharusnya membunuh siapa pun... tak menyentuhnya sama sekali.

Wanita itu membuka mata indahnya, suaranya dingin bagai embun pagi
"Beraninya kau menyentuh Dewi Teratai?"

Shen Yi garuk kepala, polos seperti biasa.

"Maaf, Nona Lian'er. Kalau nggak dicek nadi, bisa mati kedinginan.
Ini ramuan penghangat dulu, ya? Gratis kok."

Dia tak tahu...
sentuhannya adalah satu-satunya harapan Lian'er untuk mencairkan kutukan abadi yang menggerogoti tubuhnya.
Dan juga satu-satunya yang bisa menghancurkannya selamanya.

Dari gubuk reyot di lereng gunung terpencil, hingga dunia jianghu penuh darah dan rahasia,
seorang tabib miskin dan dewi teratai terikat oleh takdir yang tak terucap.

Apa yang terjadi ketika manusia biasa jatuh cinta pada dewi yang terlarang disentuh?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cahya Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bayang-Bayang di Jalan

Pagi itu, kabut tipis masih menyelimuti lereng Gunung Qingyun ketika Shen Yi dan Lian'er selesai menyiapkan bekal. Keranjang bambu besar Shen Yi sudah penuh: akar ginseng kering, ramuan penghangat dalam botol kecil, jarum akupunktur, kain pembalut, dan sedikit nasi kering yang dibungkus daun pisang. Di atas semuanya, dia meletakkan botol kristal kecil berisi sisa Air Teratai Abadi. Hanya tiga tetes lagi, tapi cukup untuk menjadi kunci atau senjata terakhir.

Lian'er berdiri di depan pintu gubuk, memandang danau kecil yang teratai-teratainya masih mekar sempurna meski musim semi sudah berlalu. Dia mengenakan jubah biru muda sederhana yang dibeli di pasar desa—bukan lagi sutra putih dewi, tapi kain katun biasa yang nyaman untuk perjalanan jauh. Rambutnya diikat tinggi, dan di pinggangnya tergantung sabuk kecil berisi beberapa kelopak teratai kering yang bisa dia panggil kapan saja.

“Apa kita benar-benar harus pergi?” tanyanya pelan, suaranya hampir berbisik. “Gubuk ini. danau ini. semuanya terasa seperti rumah sekarang.”

Shen Yi mendekat dari belakang, memeluk pinggangnya sebentar. “Aku tahu. Aku juga nggak mau pergi. Tapi kalau Xue Han berhasil ritual di Danau Teratai Kuno, energi teratai di seluruh dunia bisa rusak. Desa bawah, Pak Li yang batuknya kambuh lagi, anak kecil yang suka main di danau… mereka semua bisa terkena dampak dingin abadi itu. Kita nggak bisa diam saja.”

Lian'er mengangguk pelan, tangannya menutupi tangan Shen Yi di perutnya. “Aku tahu. Aku cuma takut kehilangan ini semua. Takut kalau kita pergi, sesuatu terjadi, dan kita nggak bisa kembali seperti dulu.”

Shen Yi memutar tubuh Lian'er menghadapnya. Matanya penuh keyakinan. “Kita akan kembali. Bersama. Aku janji. Setelah ini selesai, kita tutup pintu gubuk ini untuk orang luar selama setahun penuh. Nggak ada pasien, nggak ada tamu. Cuma kita berdua, danau teratai, dan sup jahe setiap pagi.”

Lian'er tertawa kecil, air mata tipis menggenang di sudut matanya. “Janji ya?”

“Janji.”

Mereka berpelukan sebentar di ambang pintu, sebelum Lian'er melepaskan diri dan mengambil tas kecil berisi pakaian ganti dan ramuan pelindung dari Nenek Hua.

Shen Yi mengunci pintu gubuk dengan tali bambu sederhana—bukan karena takut dicuri, tapi karena ingin memberi tanda bahwa rumah ini sedang menunggu pemiliknya pulang. Mereka berjalan menyusuri jalur setapak menurun gunung, melewati desa bawah yang masih sepi pagi itu.

Beberapa penduduk desa yang sudah bangun melambai dari kejauhan. Pak Li berjalan pincang mendekat, membawa keranjang telur.

“Tabib Shen! Nona Lian! Mau ke mana lagi? Jangan lama-lama ya, anakku lagi nunggu obat batuk baru.”

Shen Yi tersenyum, mengambil telur itu. “Kami pergi sebentar, Pak. Obatnya sudah saya tinggal di gubuk—ambil saja kalau butuh. Kalau kami lama, minta tolong jaga danau teratai ya. Jangan sampai ada yang ambil bunga-bunganya.”

Pak Li mengangguk serius. “Tenang. Desa ini jaga rumah kalian. Hati-hati di jalan.”

Mereka melanjutkan perjalanan. Jalur menurun gunung cukup aman, tapi setelah sampai di kaki gunung, dunia terbuka lebih luas: jalan tanah menuju kota kecil terdekat, lalu ke arah utara menuju wilayah Sekte Langit Teratai. Perjalanan diperkirakan dua minggu kalau jalan kaki dan naik kereta sederhana.

Hari pertama berlalu tenang. Mereka berhenti di desa kecil untuk makan siang—sup mie sederhana di warung pinggir jalan. Lian'er makan dengan lahap, bahkan minta tambah cabai meski matanya berair.

“Kau sekarang suka pedas ya?” goda Shen Yi.

Lian'er mengangguk sambil menyeka mata. “Dulu aku tak bisa rasakan apa-apa selain dingin. Sekarang aku ingin coba segalanya. Pedas, manis, asam. Semuanya.”

Shen Yi tersenyum. “Nanti di sekte, kalau ada kesempatan, aku ajak kau makan makanan khas mereka. Katanya mereka punya sup tulang dengan rempah langka.”

Malam pertama mereka menginap di penginapan kecil di pinggir kota. Kamar sederhana dengan dua tempat tidur jerami dan tungku kecil. Lian'er duduk di tepi tempat tidur, memandang Shen Yi yang sedang memeriksa ramuan.

“Shen Yi… kalau di sekte nanti, mereka minta kau tinggal di sana? Atau minta kau serahkan darah teratai untuk ritual mereka?”

Shen Yi berhenti sejenak, lalu duduk di sampingnya. “Kalau mereka minta itu, aku tolak. Aku bukan aset sekte. Aku tabib miskin dari gunung. Darahku kalau perlu dipakai, biar aku yang putuskan.”

Lian'er memeluknya dari samping. “Aku tak mau kehilangan kau lagi. Apa pun yang terjadi, kita pulang bersama.”

Shen Yi tersenyum.

Hari-hari berikutnya berlalu dengan ritme yang sama: jalan pagi, istirahat siang, cari penginapan malam. Lian'er semakin lincah—dia mulai bisa berjalan jauh tanpa capek, bahkan membantu Shen Yi memetik herbal di pinggir jalan. Shen Yi mengajarinya nama-nama tanaman, cara baca nadi sederhana, dan Lian'er balas mengajarinya cara mengendalikan energi teratai tanpa memakai terlalu banyak kekuatan.

Suatu sore di hari kelima, saat mereka melewati hutan bambu lebat, angin tiba-tiba berubah dingin tak wajar.

Shen Yi berhenti. “Ada yang salah.”

Lian'er mengangguk, tangannya sudah siap memanggil kelopak teratai. “Energi es hitam, dekat sekali.”

Dari balik pepohonan bambu, muncul enam sosok berjubah hitam—topeng perak teratai retak berkilau di bawah sinar matahari sore. Di depan mereka, seorang pemimpin dengan jubah lebih panjang, mata dingin terlihat dari balik topeng.

“Kalian berdua… darah teratai ganda,” katanya dingin. “Xue Han sudah menunggu. Serahkan diri, atau kami ambil paksa.”

Shen Yi maju selangkah, melindungi Lian'er. “Kami nggak akan serahkan apa-apa. Kalau mau ambil, lewati aku dulu.”

Pemimpin itu tertawa pelan. “Tabib miskin yang berani. Baiklah. Kalian berdua akan jadi bahan ritual. Yang lain… mati saja.”

Pertarungan meledak.

Lian'er melepaskan kelopak teratai seperti panah putih—menyasar dua pemburu sekaligus. Mereka terjatuh, tubuh membeku karena energi teratai yang sekarang lebih kuat tanpa kutukan menghambat.

Shen Yi tak punya senjata, tapi dia punya ilmu tabib. Saat satu pemburu mendekat, dia mengeluarkan jarum akupunktur dari lengan baju, menusuk titik vital di leher pemburu itu dengan cepat. Pemburu terhuyung, mati rasa seketika.

“Shen Yi!” teriak Lian'er.

Shen Yi menoleh tepat saat pedang es hitam hampir menyentuhnya. Lian'er melompat maju, kelopak teratai membentuk perisai di depannya. Benturan menciptakan suara retak keras, es hitam pecah menjadi serpihan.

Pemimpin pemburu maju, tangannya membentuk cakar es hitam besar. “Kalian tak bisa lari selamanya.”

Tapi sebelum dia menyerang lagi, suara kuda mendekat dari belakang hutan. Shi Jun muncul dengan kuda hitam, diikuti empat murid Sekte Langit Teratai berjubah biru.

“Saudara!” teriak Shi Jun, pedang teratai birunya menyala terang. Dia melompat dari kuda, menebas cakar es hitam pemimpin pemburu itu dalam satu gerakan.

Pemburu-pemburu yang tersisa panik. Shi Jun dan murid-muridnya menyerang cepat—pedang teratai mereka lebih kuat di hutan ini, energi teratai murni menetralkan es hitam dengan mudah.

Pemimpin pemburu mundur, tapi sebelum kabur, dia melemparkan bola es hitam kecil ke arah Shen Yi dan Lian'er.

Shen Yi mendorong Lian'er ke samping, bola es itu mengenai bahunya. Dingin menusuk tulang, tapi tak separah dulu. Dia meringis, tapi tetap berdiri.

Shi Jun menebas pemimpin itu terakhir, tubuhnya jatuh ke tanah.

Pertarungan selesai dalam hitungan menit.

Shi Jun berlari mendekat, memeriksa bahu Shen Yi. “Kau terluka?”

Shen Yi menggeleng. “Tak apa. Ramuan penghangatku cukup.”

Lian'er buru-buru mengeluarkan botol kecil dari tasnya, mengoleskan ramuan ke bahu Shen Yi. Dinginnya mundur seketika.

Shi Jun memandang mereka berdua dengan mata penuh rasa bersalah. “Maaf aku terlambat. Aku berangkat dari sekte begitu terima kabar dari mata-mata kami. Xue Han sudah mulai ritual tiga hari lalu. Dia pakai darah murid-murid yang dia tangkap—darah dengan esensi teratai lemah. Tapi itu cuma pengikat sementara. Dia butuh darah kalian berdua untuk menyempurnakan.”

Shen Yi mengangguk. “Kami tahu dari surat Elder Mei Ling. Kami sedang dalam perjalanan ke sekte.”

Shi Jun tersenyum lega. “Bagus. Ayah, Pemimpin Shi Tian… akhirnya sadar ancaman ini lebih besar dari politik sekte. Dia setuju untuk bantu kalian tanpa syarat. Tapi kita harus cepat. Ritual akan selesai dalam tujuh hari lagi—saat bulan purnama penuh.”

Lian'er memandang Shi Jun. “Terima kasih sudah datang. Kami tak akan bisa hadapi ini tanpa kau.”

Shi Jun menggeleng. “Aku yang berterima kasih. Kalian berdua yang mengubahku. Aku dulu sombong, sekarang aku tahu… kekuatan sejati bukan dari darah atau sekte, tapi dari hati yang mau lindungi orang lain.”

Mereka naik kuda yang dibawa Shi Jun—dua kuda tambahan untuk Shen Yi dan Lian'er. Murid-murid sekte mengawal di depan dan belakang.

Perjalanan berlanjut lebih cepat. Malam itu mereka menginap di pos peristirahatan sekte kecil di pinggir hutan. Api unggun menyala, dan untuk pertama kalinya sejak pulang ke gubuk, mereka duduk bersama lagi seperti dulu di kapal.

Shi Jun bercerita tentang sekte: Elder Mei Ling yang semakin tua tapi masih bijak, ayahnya yang mulai berubah setelah tahu Shen Yi hidup, dan murid-murid muda yang kagum pada “tabib miskin yang menyelamatkan dewi”.

Lian'er mendengar dengan tenang, tangannya memegang tangan Shen Yi di bawah selimut.

Shen Yi memandang api unggun. “Besok kita sampai di gerbang sekte. Setelah itu ke Danau Teratai Kuno.”

Lian'er berbisik. “Kita akan menang. Karena kita bersama.”

Shi Jun mengangguk. “Bersama. Dan kali ini, aku tak akan ragu lagi.”

Malam semakin larut. Angin membawa aroma bunga teratai samar dari kejauhan—mungkin dari danau kecil di gunung, atau mungkin dari danau kuno yang menunggu mereka.

Di Danau Teratai Kuno, Xue Han berdiri di tengah lingkaran es hitam yang semakin lebar. Matanya dingin, tapi ada kilau ambisi di dalamnya.

“Mereka datang. Darah teratai ganda akan jadi milikku.”

Es hitam di sekitar danau bergetar, seolah menjawab.

1
Kashvatama
Ceritanya semakin jauh bab semakin menegangkan. tidak cuma bercerita tentang drama tetapi konflik eksternal
Kashvatama
yuk follow akunku untuk dapat info update terbaru. sebentar lagi aku release judul baru nih 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!