NovelToon NovelToon
When Gods Grow Bored

When Gods Grow Bored

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Epik Petualangan / Fantasi
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: jhoven

When Gods Grow Bored berlatar di sebuah benua kuno "Nirenva" yang dilanda perang tanpa akhir, tempat kerajaan-kerajaan saling membantai atas nama para dewa yang pernah turun dan meminjamkan kekuatan mereka kepada umat manusia. Di dunia di mana nilai hidup diukur dari restu ilahi, Kai Jhoven: seorang anak tanpa berkah dan tanpa asal-usul tumbuh sebagai sosok terbuang, dipaksa bertahan di tengah kekacauan yang tidak pernah ia pilih. Ketika sebuah kekuatan asing akhirnya menjamah dirinya, Kai Jhoven terseret ke dalam pusaran konflik yang jauh lebih besar dari perang antar manusia: intrik ilahi, kekuasaan yang dipinjam, dan kebenaran kelam di balik mukjizat yang disembah dunia. Dalam perjalanan dari medan perang hingga jantung kekuasaan, takdir, kepercayaan, dan kemanusiaan diuji; sementara langit yang selama ini dipuja perlahan mulai retak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jhoven, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

prolog: permainan dimulai.

..."The gods and goddesses, forgotten for two millennia, now descend from the heavens, bringing new light and destiny to humankind."...

2000 Tahun yang Lalu — Saat Langit Terbelah.

Langit pecah pada hari itu.

Bukan oleh petir, juga bukan oleh badai.

Ia terbelah seperti kain tipis yang disayat dari dalam.

Penduduk Benua Nirenva yang sedang bekerja di ladang menghentikan cangkul mereka. Anak-anak yang bermain di sungai berhenti tertawa. Para ibu yang menumbuk gandum mengangkat wajah dengan dahi berkerut.

Di atas sana, langit biru yang biasa mereka kenal berubah warna.

Cahaya keemasan merembes keluar dari retakan panjang yang membelah cakrawala. Awalnya tipis, seperti fajar yang salah arah. Namun dalam hitungan detik, cahaya itu mengalir deras, membanjiri dunia dengan kilau yang tidak pernah mereka lihat sebelumnya.

Udara menjadi berat.

Burung-burung terjatuh dari langit.

Hewan ternak meraung dan berlutut seakan ditekan oleh tangan tak kasat mata.

Dan manusia.. makhluk yang selama ribuan tahun merasa menjadi penguasa tanah ini, mendadak terlihat kecil..

Sangat kecil.

Retakan itu melebar.

Lalu mereka turun.

Ratusan.

Tidak.. ribuan.

Sosok-sosok bercahaya melayang perlahan dari celah langit yang terbuka. Tubuh mereka menjulang, diselimuti cahaya yang terlalu terang untuk ditatap lama. Kilau emas mengalir di permukaan mereka seperti sungai api yang jinak.

Sejarah kelak menyebut hari itu sebagai Hari Lautan Gandum Emas, karena langit dipenuhi kilau seperti ladang tak berujung yang tertiup angin.

Namun bagi manusia yang berdiri di bawahnya…

Hari itu adalah hari ketakutan pertama.

####

Seorang anak lelaki menggenggam tangan ibunya dengan erat.

“Ibu… mereka siapa?”

Sang ibu tidak menjawab.

Ia hanya berlutut.

Dan satu per satu, manusia di seluruh dataran Nirenva ikut berlutut, bukan karena mereka diperintah, melainkan karena lutut mereka tak sanggup lagi menopang tubuh.

Tekanan yang turun bersama para makhluk itu bukan sekadar cahaya.

Itu adalah keberadaan.

Keberadaan yang begitu besar hingga jiwa manusia terasa seperti butiran debu.

Lalu salah satu dari mereka melangkah maju.

Ia berbeda.

Tubuhnya lebih padat. Lebih jelas. Lebih nyata.

Seorang pria bertubuh kekar mengenakan mahkota emas di kepalanya. Jubah bercahaya menjuntai dari bahunya. Matanya memancarkan kilat yang tidak menyerupai emosi manusia.

Ia melayang turun, berhenti beberapa meter di atas tanah.

Dan ketika ia berbicara, suaranya tidak hanya terdengar.

Ia terasa.

Menggetarkan tulang.

...“Mahluk fana.”...

Suaranya dalam. Tenang. Tanpa amarah.

...“Kalian hidup dalam kegelapan.”...

Manusia saling berpandangan, kebingungan dan ketakutan bercampur menjadi satu.

...“Kalian bertahan dari bencana. Kalian lari dari monster. Kalian mati karena penyakit yang bahkan tidak kalian pahami.”...

Ia mengangkat tangannya.

Langit bergemuruh.

...“Sudah saatnya kalian bangkit.”...

Sunyi menyelimuti dataran.

Seorang pemuda yang berdiri di antara kerumunan memberanikan diri bersuara, meski suaranya gemetar.

“Siapa… kalian?”

Makhluk bercahaya itu tersenyum tipis.

...“Kami?”...

Cahaya di belakangnya berdenyut.

...“Kami adalah yang kalian sebut… Dewa.”...

Kata itu menggema di udara seperti palu raksasa yang menghantam bumi.

Dewa.

Kata yang selama ini hanya hidup dalam doa dan cerita api unggun.

Kini berdiri di depan mereka.

Nyata.

Dan tersenyum.

####

Tangisan pecah pertama kali.

Seorang wanita merangkak maju, rambutnya kusut, wajahnya basah air mata.

“Anakku… sudah tujuh hari dia tidak bangun. Tubuhnya panas, napasnya lemah… Jika engkau benar dewa… tolong selamatkan dia!”

Lalu suara lain menyusul.

“Istriku sekarat!”

“Ladang kami hancur oleh monster sihir!”

“Desa kami terbakar musim lalu!”

Permohonan berubah menjadi teriakan.

Teriakan menjadi jeritan harapan.

Makhluk bermahkota emas itu memandangi mereka.

Dan untuk pertama kalinya, senyum lebarnya terlihat jelas.

...“Baiklah.”...

Ia mengangkat kedua tangannya.

Cahaya meledak dari tubuhnya, menyapu dataran seperti ombak yang tidak terlihat namun terasa.

Anak yang sakit terbangun.

Luka-luka menghilang.

Tubuh yang lemah kembali tegap.

Orang-orang yang miskin menemukan lumbung mereka penuh.

Hujan turun tepat di atas ladang yang kering.

Keajaiban demi keajaiban terjadi dalam satu tarikan napas dunia.

Tangisan berubah menjadi pujian.

Manusia bersujud dengan penuh euforia.

“DEWA!”

“DEWA BENAR-BENAR ADA!”

Dan para makhluk bercahaya itu hanya berdiri.

Menyaksikan.

Menikmati.

####

Hari itu, manusia tidak hanya menerima mukjizat.

Mereka menerima kekuatan.

Para dewa menyentuh dahi manusia pilihan. Cahaya meresap ke dalam tubuh mereka.

Sebagian memperoleh kendali atas api.

Sebagian atas air.

Sebagian mampu menguatkan tubuh melampaui batas manusia.

Setiap kekuatan berbeda, tergantung dewa mana yang memberi restu.

Dan untuk pertama kalinya, manusia tidak lagi sekadar mangsa.

Mereka menjadi pemburu.

Monster sihir yang dulu ditakuti kini diburu dan ditebas.

Desa-desa kecil bersatu.

Ilmu pengobatan berkembang.

Pertanian melimpah.

Peradaban melonjak dalam satu abad lebih cepat daripada ribuan tahun sebelumnya.

Dan para dewa tinggal di antara mereka.

Mengajarkan.

Mengawasi.

Tersenyum.

####

Seratus tahun berlalu seperti mimpi panjang.

Lalu suatu pagi, langit kembali retak.

Manusia berkumpul dengan panik.

Para dewa berdiri dalam barisan cahaya.

...“Kami akan kembali ke tempat asal kami.”...

Tangisan pecah.

“Jangan tinggalkan kami!”

“Kami belum siap!”

Makhluk bermahkota emas menatap mereka dengan tatapan yang sulit dimengerti.

...“Kalian sudah lebih dari cukup.”...

Dan mereka naik.

Langit menutup.

Cahaya menghilang.

Dunia kembali biru.

Untuk pertama kalinya dalam satu abad, manusia merasa sendirian.

####

Awalnya, semuanya tetap damai.

Kerajaan Besar Atlanta berdiri megah, memayungi seluruh Nirenva. Manusia yang kini memiliki kekuatan ilahi menjaga dunia dari ancaman.

Namun kekosongan itu… tidak pernah benar-benar hilang.

Siapa dewa paling agung?

Siapa yang menerima restu paling murni?

Siapa yang pantas memimpin?

Perdebatan berubah menjadi perpecahan.

Perpecahan berubah menjadi perang.

Dan hanya butuh sepuluh tahun untuk menghancurkan apa yang dibangun dalam seratus.

Atlanta runtuh dalam api dan darah.

Dari reruntuhannya lahir tiga kerajaan besar.

Khanox. ( Fraksi Dewa Primordial )

Vladmir. ( Fraksi Dewa Perang )

Solarius. ( Fraksi Dewi Harapan )

Masing-masing memuja fraksi dewa berbeda.

Masing-masing yakin restu mereka paling benar.

Dan perang yang dimulai hari itu… tidak pernah benar-benar berhenti.

####

1500 tahun kemudian—

Perang masih berlangsung.

Generasi demi generasi lahir dengan kebencian yang diwariskan.

Anak-anak belajar menyebut nama dewa sebelum mereka belajar menulis.

Nilai hidup manusia diukur dari seberapa kuat restu yang mengalir dalam darah mereka.

Tanpa restu?

Tanpa nilai.

Tanpa masa depan.

Tanpa hak.

Dan jauh di atas sana.. Langit yang tampak tenang menyimpan sesuatu.

Retakan yang tak terlihat.

Dan di baliknya… Tawa pelan.

Mengapa? Karena manusia tidak pernah menyadari satu hal.

Mukjizat pertama bukanlah hadiah.

Itu adalah umpan.

Perpecahan bukanlah kecelakaan.

Itu adalah desain.

Dan perang panjang Nirenva: Bukan kegagalan umat manusia.

Melainkan hiburan.

Sebuah permainan yang dimulai dua ribu tahun lalu.

Permainan yang belum berakhir.

Dan ketika para dewa mulai merasa bosan…

Mereka selalu mencari cara baru untuk membuat dunia ini terbakar lebih terang.

####

Jauh di sebuah desa kecil di perbatasan wilayah perang..

Seorang anak hidup tanpa cahaya.

Tanpa tanda restu.

Tanpa bisikan ilahi dalam darahnya.

Dan untuk pertama kalinya dalam dua ribu tahun…

Langit tidak bereaksi.

Namun jauh di atas sana; Sesuatu bergerak.

Dan retakan yang tak terlihat itu…

Berdenyut sekali lagi.

Permainan baru akan dimulai.

Dan kali ini, Bukan para raja. Bukan para pemuja. Bukan para jenderal.

Melainkan seorang anak tanpa berkah.

Yang akan membuat langit sendiri mempertanyakan keabadiannya.

1
Salsabilla Kim
keren 💪💜🌸
Salsabilla Kim: semangat 💪💜🌸
total 3 replies
Fajar27
👉🏻👍
ùrizen
/Smile/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!