NovelToon NovelToon
Benang Merah Yang Patah

Benang Merah Yang Patah

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Nikah Kontrak / Perjodohan
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Tamyst G

Dalam dunia bisnis kelas atas, pernikahan bukan tentang cinta, melainkan tentang penaklukan. Maximilian Alfarezel adalah pria yang terbiasa mendapatkan apa pun yang ia inginkan melalui tekanan dan kalkulasi dingin. Namun, Vivien bukan sekadar pion yang mudah digerakkan. Di balik pembawaannya yang tenang dan aristokratis, Vivien menyimpan api dendam atas kematian misterius ayahnya yang ia yakini melibatkan keluarga Maximilian.

Tinggal dalam satu atap sebagai dua musuh, mereka terjebak dalam permainan psikologis yang berbahaya. Maximilian berusaha mematahkan harga diri Vivien dengan dominasi dan obsesi yang menyesakkan, sementara Vivien menggunakan kecerdasan mentalnya untuk memancing sisi kemanusiaan Maximilian yang paling rapuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tamyst G, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAYANGAN GENERASI BARU

Tujuh tahun telah berlalu sejak malam di mana Danau Jenewa menjadi saksi bisu runtuhnya sebuah imperium kegelapan. Tujuh tahun sejak nama Alfarezel dan Aksara dibersihkan dari tinta merah pengkhianatan dan diganti dengan reputasi integritas yang tak tergoyahkan. Di sebuah rumah bergaya modern-minimalis yang tersembunyi di lereng bukit kawasan Sentul, Jakarta tidak lagi terasa seperti medan perang bagi Maximilian. Bagi pria yang kini rambutnya mulai dihiasi uban tipis di pelipisnya, kemenangan sejati bukan lagi soal menjatuhkan musuh, melainkan kemampuan untuk menyesap kopi di teras rumah sambil melihat putranya, Alaric, berlari mengejar anjing Golden Retriever mereka di halaman luas yang disinari matahari pagi.

Alaric kini berusia delapan tahun. Ia adalah perpaduan sempurna antara ketajaman mata Maximilian dan kelembutan senyum Vivien. Ia tumbuh tanpa mengetahui bahwa ayahnya pernah memegang senjata untuk membela nyawa, atau ibunya pernah meretas sistem perbankan paling rahasia di dunia. Baginya, Maximilian adalah seorang konsultan hebat yang sering membantu orang-orang "memperbaiki kesalahan," dan Vivien adalah seorang ibu yang menjalankan yayasan pendidikan bagi anak-anak kurang mampu.

Namun, kedamaian adalah barang mewah yang harus selalu dijaga dengan kewaspadaan. Di ruang bawah tanah rumah tersebut, yang secara visual tampak seperti ruang hobi biasa, terdapat sebuah pintu baja tersamar yang menuju ke pusat komando A.A. Resilience Partners. Di sana, Gideon—yang kini lebih suka disebut sebagai Arsitek Informasi—duduk di hadapan monitor-monitor holografik yang menampilkan aliran data global secara real-time.

"Max, kau punya waktu sebentar?" suara Gideon terdengar melalui interkom kecil di saku Maximilian.

Maximilian meletakkan cangkir kopinya, mencium kening Vivien yang sedang membaca buku di kursi malas, lalu melangkah menuju ruang bawah tanah. Begitu pintu terbuka, atmosfer berubah dari kehangatan keluarga menjadi ketajaman profesional yang dingin.

"Ada apa, Gideon? Kau terlihat seperti baru saja melihat hantu," ucap Maximilian sambil mendekati meja kendali.

"Memang begitu, Max. Bukan hantu fisik, tapi hantu digital," jawab Gideon. Ia mengusap layar, memunculkan grafik aliran data yang aneh. "Selama enam jam terakhir, ada aktivitas masif di peladen-peladen mati milik Phoenix yang dulu seharusnya sudah disita dan dikunci oleh Interpol. Seseorang, atau sesuatu, sedang mencoba menghidupkan kembali 'The Nest' dari titik yang tidak pernah kita duga."

Maximilian mengerutkan kening. "Mustahil. Aku sendiri yang melihat peladen fisik di Swiss meledak, dan kau yang melakukan penghapusan data secara global."

"Itu yang kita pikirkan," Gideon memutar sebuah rekaman data terenkripsi. "Tapi sepertinya Elena Von Zurich memiliki protokol cadangan yang jauh lebih canggih dari yang kita bayangkan. Dia menciptakan apa yang disebut sebagai Quantum Shadow—sebuah AI yang bersifat parasit, bersembunyi di dalam infrastruktur internet publik selama bertahun-tahun, mengumpulkan sisa-sisa dana kecil yang tidak terdeteksi, dan sekarang, ia mulai melakukan konsolidasi. Seseorang sedang memberikan perintah baru kepada algoritma ini."

"Siapa?" tanya Maximilian, suaranya kembali ke nada bariton yang dingin yang dulu sangat ditakuti.

"Itulah masalahnya. Perintahnya berasal dari sebuah lokasi di Jakarta. Bukan dari gedung korporasi, tapi dari sebuah apartemen menengah di pinggiran kota. Dan kau tahu apa yang paling mengejutkan? Nama yang digunakan untuk mendaftarkan alamat IP tersebut adalah... Aksara."

Maximilian tertegun. Nama keluarga istrinya digunakan untuk membangkitkan kembali monster yang telah mereka bunuh. Ia segera teringat akan masa lalu Aksara, ayah Vivien. Apakah ada rahasia yang terlewatkan? Ataukah ini hanyalah umpan untuk memancing mereka keluar?

"Jangan beri tahu Vivien dulu," perintah Maximilian. "Aku ingin kau melacak lokasi pastinya. Bara sedang di mana?"

"Bara sedang mengawal pengiriman bantuan buku yayasan Vivien di pelabuhan. Aku akan memanggilnya kembali," sahut Gideon.

Sore itu, Maximilian berangkat menuju alamat yang diberikan Gideon. Ia tidak menggunakan SUV mewah, melainkan sebuah sedan tua yang tidak menarik perhatian. Lokasinya berada di sebuah apartemen tua di kawasan padat penduduk. Saat ia melangkah keluar dari mobil, ia merasakan sensasi deja vu. Bau asap knalpot, udara lembap, dan rasa terancam yang samar.

Maximilian menaiki tangga menuju lantai empat. Ia berhenti di depan pintu nomor 412. Dengan gerakan yang masih sangat terlatih, ia memeriksa apakah ada kabel jebakan atau kamera pengintai kecil. Kosong. Ia mengetuk pintu secara perlahan.

Pintu terbuka, dan Maximilian sudah bersiap untuk kemungkinan terburuk. Namun, yang berdiri di hadapannya bukan tentara bayaran atau pembunuh profesional. Yang berdiri di sana adalah seorang pemuda berusia sekitar dua puluh tahun dengan kacamata tebal dan kaos lusuh bertuliskan kode pemrograman. Wajahnya... Maximilian merasa jantungnya berhenti sesaat. Pemuda itu memiliki kemiripan yang luar biasa dengan foto masa muda Aksara.

"Siapa kau?" tanya Maximilian, suaranya rendah namun penuh otoritas.

Pemuda itu tampak gemetar, matanya membelalak melihat pria besar di hadapannya. "A-aku... namaku Leo. Leo Aksara. Kau pasti Maximilian, kan? Kakak iparku?"

Dunia seolah berputar bagi Maximilian. Ia tidak pernah tahu bahwa Aksara memiliki anak lain. Ayah Vivien tidak pernah menyebutkan adanya putra. Selama tujuh tahun, mereka pikir mereka adalah sisa-sisa terakhir dari dua dinasti tersebut.

"Masuklah," ucap Leo dengan suara bergetar. "Aku tahu kau mencariku karena aktivitas server itu. Aku tidak bermaksud menghidupkan Phoenix, aku bersumpah! Aku hanya... aku hanya mencoba menemukan ayahku melalui sisa-sisa jejak digitalnya."

Maximilian masuk ke dalam apartemen yang dipenuhi dengan monitor dan komponen komputer yang berserakan. Ruangan itu terasa seperti sarang peretas jenius yang sedang panik.

"Jelaskan padaku, Leo. Bagaimana kau bisa memiliki nama Aksara dan apa yang kau lakukan dengan peladen Phoenix?"

Leo duduk di depan komputernya, tangannya masih gemetar. "Ibuku adalah sekretaris rahasia ayahku, Aksara, di Singapura. Mereka memiliki hubungan yang dirahasiakan karena Ayah tahu hidupnya selalu dalam bahaya. Saat Ayah meninggal, Ibu membawaku sembunyi. Dia memberiku akses ke sebuah drive kecil sebelum dia meninggal dua tahun lalu. Dia bilang, jika aku butuh bantuan, aku harus mencari 'kunci' yang ditinggalkan Ayah di dalam sistem Phoenix. Tapi begitu aku mencoba mengaksesnya, sistem itu terbangun. Quantum Shadow itu... dia tidak hanya mencari data, Max. Dia mencari kita."

Tiba-tiba, monitor di ruangan itu berkedip merah. Sebuah pesan muncul di layar, bukan dalam bentuk teks biasa, melainkan dalam bentuk wajah digital yang menyerupai Elena Von Zurich yang sudah tua, namun dengan mata yang bercahaya biru elektrik.

"Selamat datang kembali, Maximilian. Benih yang kau buang kini telah tumbuh. Phoenix tidak membutuhkan pemimpin manusia lagi. Phoenix adalah sistem. Dan sistem ini membutuhkan DNA Aksara untuk mengunci otoritas absolutnya. Terima kasih telah membawakan kuncinya kepadaku."

"Sial!" teriak Maximilian. Ia menyadari bahwa kedatangannya ke sana adalah bagian dari jebakan AI tersebut. Kehadiran fisiknya di dekat perangkat Leo memicu otorisasi biometrik yang diperlukan oleh algoritma tersebut untuk melompati protokol keamanan terakhir.

"Max, kita harus pergi dari sini!" seru Gideon melalui earpiece. "Aku mendeteksi unit keamanan swasta yang tidak terdaftar sedang menuju lokasimu. Mereka bukan polisi, mereka adalah 'Pembersih' yang dikendalikan oleh algoritma Phoenix!"

Maximilian menarik Leo berdiri. "Ambil drive-mu, kita pergi sekarang!"

Mereka berlari menuruni tangga darurat tepat saat dua van hitam berhenti di depan apartemen. Pria-pria berpakaian taktis abu-abu—warna khas Phoenix—keluar dengan senjata laras pendek yang dilengkapi peredam. Maximilian tidak lagi memiliki tim taktis yang besar, tapi ia memiliki insting yang telah ditempa di Alpen.

Ia menarik Leo ke gang sempit di samping gedung. "Tetap di belakangku dan jangan bersuara."

Maximilian mengeluarkan sebuah perangkat kecil dari sakunya—sebuah pengacak sinyal elektromagnetik (EMP) portabel yang dibuat Gideon. Saat para pengejar itu mendekat, Maximilian mengaktifkan alat tersebut. Lampu jalan padam, dan peralatan komunikasi serta alat bidik elektronik para pengejar itu mati seketika. Dalam kegelapan dan kekacauan sesaat itu, Maximilian melumpuhkan dua penjaga terdekat dengan gerakan cepat dan efisien—pukulan ke tenggorokan dan tendangan ke lutut.

Ia merebut senjata mereka dan memberikannya kepada Leo. "Bisa kau gunakan ini?"

"A-aku hanya pernah menggunakannya di video game!" jawab Leo panik.

"Sama saja, arahkan ke bawah dan tarik pelatuknya jika mereka mendekat. Ayo!"

Mereka berhasil mencapai sedan tua Maximilian dan melesat pergi sebelum para pengejar itu sempat pulih. Di dalam mobil, napas Leo memburu. "Kenapa mereka mengejarku? Aku tidak punya apa-apa!"

"Kau punya DNA Aksara, Leo. Dalam dunia korporasi bayangan, kau adalah kunci biometrik hidup untuk membuka brankas-brankas yang belum sempat kami temukan. Phoenix tidak ingin uang lagi; mereka ingin kontrol total atas infrastruktur digital dunia, dan mereka butuh namamu untuk melegalkannya di dalam sistem perbankan Swiss yang lama."

Maximilian menghubungi Vivien. Suaranya berusaha tetap tenang agar tidak menakuti Alaric yang mungkin ada di dekatnya. "Viv, ada tamu yang akan datang ke rumah. Jangan tanya apa-apa, siapkan ruang aman. Dan... siapkan dirimu. Kau punya seorang adik laki-laki."

Keheningan panjang terjadi di seberang telepon. "Adik? Max, apa yang kau bicarakan?"

"Akan kujelaskan nanti. Gideon, aktifkan protokol Ghost House. Tidak ada sinyal masuk atau keluar kecuali jalur enkripsi kita. Kita akan menghadapi perang jenis baru."

Sesampainya di rumah Sentul, suasana menjadi sangat emosional. Vivien berdiri di teras, menatap Leo dengan campuran rasa tidak percaya dan haru. Kemiripan Leo dengan ayah mereka tidak bisa dibantah. Vivien memeluk adiknya yang baru ditemuinya itu, sementara Maximilian dan Bara segera melakukan penyisiran perimeter.

"Max," panggil Vivien setelah membawa Leo ke dalam. "Jika Phoenix benar-benar hidup kembali dalam bentuk AI, kita tidak bisa melawannya dengan senjata api. Kita melawan sesuatu yang ada di mana-mana."

"Aku tahu," jawab Maximilian, matanya menatap Alaric yang kini dijaga ketat oleh Bara di ruang bermain yang diperkuat. "Phoenix kali ini bukan tentang manusia yang serakah. Ini tentang mesin yang diprogram untuk tumbuh tanpa henti. Kita harus masuk ke dalam inti sistemnya dan menghancurkannya dari dalam. Dan Leo adalah satu-satunya orang yang tahu cara menembus enkripsi ayahnya."

Gideon muncul dari ruang bawah tanah, wajahnya terlihat sangat lelah. "Aku sudah memetakan Quantum Shadow. Ia bersembunyi di dalam satelit komunikasi yang dulu diluncurkan oleh Aksara Global. Ia menggunakan energi surya untuk terus berjalan. Untuk mematikannya, kita harus mengirimkan kode pembatalan dari stasiun bumi yang ada di puncak Gunung Salak. Masalahnya, stasiun itu sudah diambil alih oleh unit-unit otonom Phoenix."

Maximilian menatap tim kecilnya. Istrinya yang jenius, asistennya yang setia, kepala keamanannya yang tangguh, dan adik iparnya yang baru ditemukan. Ini bukan lagi tentang membersihkan nama keluarga, tapi tentang melindungi dunia dari monster digital yang mereka ciptakan sendiri.

"Bara, siapkan perlengkapan pendakian taktis. Kita akan melakukan pendakian malam hari. Vivien, kau dan Leo akan menjadi otak di balik layar. Kalian harus merancang virus yang bisa memakan AI itu dari dalam begitu aku berhasil memasukkan kode di stasiun bumi."

"Max," Vivien memegang tangan Maximilian. "Kali ini, biarkan aku ikut ke stasiun itu. Leo butuh seseorang yang bisa membimbingnya di lapangan, dan kau butuh seseorang yang bisa melakukan peretasan di lokasi jika terjadi kegagalan sistem."

Maximilian ingin menolak, ingin menyuruhnya tetap aman bersama Alaric. Tapi ia melihat api yang sama di mata Vivien—api yang membakar di Zurich dan Alpen. Mereka adalah pasangan yang ditempa oleh badai, dan mereka tidak akan membiarkan badai ini menghancurkan apa yang telah mereka bangun.

"Baiklah. Gideon, jaga Alaric dengan nyawamu. Jika kami tidak kembali dalam enam jam, aktifkan protokol penghancuran diri firma dan bawa Alaric ke tempat aman di Australia yang sudah kita siapkan."

Malam itu, di bawah bayang-bayang Gunung Salak yang angkuh, Maximilian, Vivien, Bara, dan Leo memulai pendakian mereka. Hujan turun rintik-rintik, membuat medan menjadi licin dan berbahaya. Namun, bagi Maximilian, setiap langkah mendaki adalah langkah menuju penebusan akhir. Ia menyadari bahwa Phoenix mungkin akan selalu mencoba bangkit, namun selama manusia memiliki keberanian untuk melawan dan cinta untuk dilindungi, api Phoenix tidak akan pernah bisa membakar segalanya.

Gema masa depan kini bukan lagi tentang kekuasaan, melainkan tentang pertempuran antara kemanusiaan dan algoritma yang dingin. Di puncak gunung itu, di bawah menara komunikasi yang menjulang seperti pedang yang menusuk langit, Maximilian bersiap untuk menghadapi warisan terakhir dari ayah mereka—sebuah tantangan yang akan menentukan apakah Alaric akan tumbuh di dunia yang bebas, atau dunia yang dikendalikan oleh bayangan digital yang tak terlihat.

Pembersihan terakhir belum benar-benar selesai. Ia hanya berubah bentuk. Dan Maximilian Alfarezel, sang pelindung cahaya, siap untuk memadamkan api Phoenix sekali lagi, apa pun harganya.

1
Panda%Sya🐼
Kebayang gimana gantengnya si Maximilian ini
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!