NovelToon NovelToon
My Kaisar

My Kaisar

Status: tamat
Genre:Romantis / Percintaan Konglomerat / Enemy to Lovers / Tamat
Popularitas:9.4k
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

Bagi Freya Aurelia, mahasiswi seni yang hidupnya penuh warna dan kebebasan, Istana Welas adalah labirin kuno yang membosankan. Namun, sebuah insiden "salah masuk kamar" menyeretnya ke dalam pusaran protokol kerajaan yang kaku.
Di sana ada Kaisar Welas, sang putra mahkota yang perfeksionis, dingin, dan kaku layaknya robot. Dua dunia yang bertolak belakang ini dipaksa bersatu saat titah Buyut menjodohkan mereka demi sebuah stabilitas tradisi.
Satu bulan. Itulah waktu yang mereka miliki untuk membuktikan bahwa perjodohan ini adalah sebuah kesalahan besar. Namun, di antara perang urat syaraf, noda saus sambal di kemeja mewah, dan pelarian ke warung mie ayam, garis-garis benci itu mulai memudar.
Dapatkah Freya mewarnai hidup Kaisar yang hitam-putih? Atau justru Freya yang akan terbelenggu dalam kaku-nya adab istana?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 16

Waktu berjalan seperti cat minyak yang tumpah di atas kanvas miring—cepat, tak terkendali, dan meninggalkan jejak yang sulit dihapus. Hari ini adalah hari ke-20 sejak pengumuman perjodohan gila itu dimulai. Artinya, hanya tersisa sepuluh hari lagi sebelum kesepakatan satu bulan itu berakhir. Sepuluh hari sebelum Freya bisa kembali ke dunianya yang bebas sepenuhnya, atau justru terjerat lebih dalam.

Di studio lukis kampus, Freya sedang dikepung oleh tugas akhir semester. Ia tampak berantakan; rambutnya disanggul asal-asalan dengan pensil sketsa, pipinya tercoret warna ochre, dan tangannya sibuk menggoreskan palet ke kanvas besar di depannya. Sejak pagi, ia tidak sempat mengecek ponsel. Pesan-pesan dari Kaisar—yang belakangan ini mulai rajin mengirimkan pesan singkat hanya untuk bertanya apakah ia sudah makan—terabaikan begitu saja di dalam tas.

Di sudut ruangan, Pangeran Kholid duduk di kursi lipat, masih dengan statusnya sebagai "Aspri hukuman". Ia sedang berpura-pura membersihkan kuas, namun matanya terus tertuju pada layar ponselnya sendiri, lalu beralih menatap punggung Freya dengan senyuman miring yang licik.

Senyum itu adalah jenis senyum yang biasanya mendahului sebuah badai besar.

"Kenapa, Kholid? Ada berita bagus di HP lo sampe lo senyum-senyum kayak dapet kupon makan gratis?" suara Freya tiba-tiba memecah kesunyian, padahal posisinya masih membelakangi Kholid.

Kholid terkejut hingga hampir menjatuhkan kuas yang ia pegang. "Kau... kau sedang melukis atau punya mata di belakang kepala, Freya?"

Freya meletakkan paletnya, lalu berbalik perlahan. Ia menyilangkan tangan di dada, menatap Kholid dengan mata elangnya yang tajam. "Gue nggak butuh mata di belakang kepala buat tahu kalau lo lagi nggak beres. Gue tau lo pasti lagi ngerencanain sesuatu dengan senyum lo itu."

Kholid berusaha mengembalikan ekspresi datarnya. "Jangan terlalu percaya diri. Aku hanya sedang melihat jadwal kegiatanku setelah masa hukuman ini berakhir."

"Halah, bohong banget," Freya melangkah mendekat, membuat Kholid refleks memundurkan kursinya. "Gue ini pelukis, Kholid. Gue biasa ngeliat detail terkecil dari ekspresi wajah orang. Garis di sudut bibir lo itu... itu garis licik. Lo lagi nunggu sesuatu meledak, kan?"

Kholid terdiam, wajahnya sedikit pucat. Ia tidak menyangka intuisi gadis rebel ini begitu kuat. Memang benar, Kholid baru saja mengirimkan sebuah foto "panas" ke seorang jurnalis gosip papan atas. Foto itu diambil oleh orang suruhannya saat Kaisar dan Freya keluar dari penginapan "Melati" dengan baju kusut pagi itu.

"Sepuluh hari lagi, Freya," Kholid akhirnya bersuara, mencoba mengalihkan pembicaraan. "Hanya sepuluh hari sebelum kau bebas dari 'tahanan' istana. Bukankah itu yang kau inginkan?"

Freya terhenti. Sepuluh hari. Kata-kata itu entah kenapa terasa sedikit menghantam dadanya. Bukannya merasa senang, ada rasa sesak yang halus, seolah-olah ia belum siap untuk melepaskan panggilan "Kai" atau debat kusir di dalam mobil mewah.

"Iya, sepuluh hari lagi gue bebas," sahut Freya, suaranya sedikit lebih rendah. "Dan selama sepuluh hari itu, gue bakal pastiin lo nggak punya kesempatan buat ngerusak apa pun. Inget ya, mata gue tajem."

Setelah Kholid izin keluar untuk (katanya) membeli kopi, Freya akhirnya merogoh tasnya dan mengambil ponsel. Ada 15 panggilan tak terjawab dan 20 pesan dari Kaisar.

Kaisar (10:00): Sudah sampai di kampus? Jangan lupa sarapan.

Kaisar (12:30): Kenapa teleponku tidak diangkat?

Kaisar (14:00): Aku akan menjemputmu jam 5 sore. Jangan pulang dengan Kholid.

Kaisar (15:30): Freya? Kamu baik-baik saja?

Freya menggigit bibirnya. Ia baru sadar sekarang sudah jam 16:45. Ia segera mengetik balasan.

Freya: Sori Kai, gue sibuk ngelukis sampe lupa dunia. Gue aman. Jemput aja di depan gerbang biasa.

Baru saja ia menekan tombol kirim, Jihan masuk ke studio dengan wajah panik. "FREY! GILA! LO LIAT INTERNET NGGAK?!"

"Ada apa lagi sih, Ji? Masalah bensin habis kemarin viral?" tanya Freya malas.

"Lebih parah dari itu!" Jihan menyodorkan tabletnya. Di sana, sebuah situs berita hiburan memajang foto headline dengan judul bombastis: "Skandal Semalam di Penginapan Terpencil: Apakah Ini Alasan Sebenarnya Perjodohan Sang Putra Mahkota?"

Foto itu memperlihatkan Kaisar yang sedang memakaikan kemeja flanelnya ke bahu Freya di depan penginapan, dengan latar belakang langit subuh yang remang. Sudut pengambilan fotonya dibuat sedemikian rupa sehingga mereka tampak sangat intim, seolah baru saja keluar dari sebuah pertemuan rahasia.

"Ini... ini kan pas kita baru bangun," gumam Freya, tangannya sedikit gemetar. "Siapa yang ambil foto ini? Di sana nggak ada siapa-siapa!"

"Ini pasti kerjaan Kholid atau orang-orangnya, Frey. Beritanya bilang kalian 'menghilang' dari pengawasan istana untuk menghabiskan malam berdua," ujar Jihan cemas.

Di kantor pribadinya, Kaisar sedang membanting tabletnya ke atas meja marmer. Di depannya, Pangeran Ethan berdiri dengan wajah tegang.

"Siapa yang mengizinkan berita ini naik?!" suara Kaisar menggelegar, sangat jarang ia kehilangan kendali seperti ini.

"Tim humas istana sedang berusaha men-take down, Kak. Tapi ini sudah menyebar di akun-akun gosip besar. Netizen mulai menyerang Freya, mereka bilang Freya sengaja menjebakmu agar perjodohan ini dipercepat," lapor Ethan.

Kaisar mengepalkan tangannya. Ia tidak peduli pada reputasinya sendiri, tapi ia peduli pada Freya. Ia tahu betapa gadis itu sangat menghargai kebebasan dan harga dirinya. Berita ini akan menghancurkan Freya.

"Siapkan mobil. Sekarang," perintah Kaisar.

"Tapi Kak, di luar kampus Freya sekarang sudah penuh wartawan!"

"Aku tidak peduli. Dia tanggung jawabku."

Saat Freya keluar dari gedung fakultas, ia disambut oleh jepretan kamera dan teriakan wartawan yang menanyakan kebenaran berita tersebut.

"Nona Freya! Apa benar Anda dan Pangeran menginap bersama?"

"Apakah ini strategi Anda untuk masuk ke keluarga Welas?"

Freya merasa dunianya berputar. Ia benci menjadi pusat perhatian seperti ini. Di saat ia merasa ingin pingsan, sebuah SUV hitam besar menerobos kerumunan. Pintu terbuka, dan Kaisar keluar dengan wajah yang sangat gelap.

Ia tidak bicara sepatah kata pun. Kaisar langsung merangkul pundak Freya, melindunginya dari kilatan lampu kamera, dan membawanya masuk ke dalam mobil. Di belakang mereka, Kholid berdiri di kejauhan dengan senyum kemenangan yang semakin lebar.

Di dalam mobil, Freya hanya diam, menatap tangannya yang masih ada bekas cat.

"Maafkan aku," ucap Kaisar pelan. Ia meraih tangan Freya, menggenggamnya dengan erat. "Aku seharusnya lebih waspada."

Freya menoleh, matanya berkaca-kaca. "Kai... sepuluh hari lagi semuanya berakhir, kan? Kenapa mereka jahat banget? Gue cuma mau ngelukis, bukan mau jadi bahan gosip nasional."

Kaisar menarik Freya ke dalam pelukannya—kali ini bukan karena kedinginan, tapi karena ia benar-benar ingin menjadi pelindung gadis itu. "Aku tidak akan membiarkan mereka menyakitimu lagi, Freya. Sepuluh hari itu... mungkin tidak akan berakhir seperti yang kau bayangkan."

"Maksud lo?"

Kaisar tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya mengeratkan pelukannya, menyadari bahwa ia tidak akan sanggup melepaskan "kekacauan" indah ini dalam sepuluh hari ke depan. Sementara itu, Kholid tidak tahu bahwa dengan melakukan ini, ia justru mempercepat tumbuhnya benih cinta yang selama ini coba mereka sangkal.

1
Nita Aprika Nita
🤣🤣🤣🤣MasyaaAllah.. 👍
Nita Aprika Nita
🤣🤣
Nita Aprika Nita
Ya Allah.. karya mu bagus banget kak.. tapi kok sepi yang baca dan like y..
Nadhira Ramadhani: bantu kasih bintang 5 dong kak🤣
total 1 replies
Thata Ayu Lestary
bagusss bgttt karya nya kak , besttttt
Nadhira Ramadhani: baca ceritaku juga yang lain kak 😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!