Ye Xuan, pria berusia 35 tahun yang terjebak dalam kehidupan monoton dan menyedihkan sebagai pekerja minimarket, tewas mengenaskan akibat tabrak lari di tengah malam yang sedang hujan lebat. Di detik-detik terakhir hidupnya yang dipenuhi penyesalan atas takdir yang selalu menginjak-injaknya, ia memohon sebuah kehidupan yang tenang.
Namun, kesadarannya justru ditarik ke dalam Ruang Gacha raksasa yang membekukan waktu, memberinya satu tiket emas sebagai kompensasi anomali takdir, lalu melemparnya kembali ke masa SMA.
Kini, dibekali warisan Tabib Dewa kuno dan sebuah sistem Gacha, pria paruh baya di dalam tubuh remaja ini harus merancang ulang jalan hidupnya, siap memotong siapa saja yang berani menghalangi tujuannya di dunia kultivasi modern wuxia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16 Tiket Emas Kedua
Kamar sempit yang berbau lembab itu terasa sangat sunyi. Ye Xuan duduk bersila di atas lantai kayu yang dingin, menatap lurus ke arah antarmuka holografik di depannya. Tiga nyawa baru saja dia cabut malam ini, namun detak jantungnya setenang permukaan danau yang tak tertiup angin.
Di sudut kanan atas layar, ikon tiket berwarna emas berkilau menggoda pandangannya.
"Sistem ini bereaksi terhadap anomali," batin Ye Xuan menganalisis. "Membunuh kultivator yang melampaui levelku dianggap sebagai penyimpangan takdir. Jika aku ingin mendapatkan lebih banyak tiket emas di masa depan, aku tidak bisa hanya diam dan menunggu. Aku harus secara aktif menghancurkan pion-pion penting di papan catur kota ini."
Ye Xuan menekan ikon [ Ruang Gacha ].
Wushhhhh...
Waktu di dunia nyata kembali terhenti. Kesadaran Ye Xuan ditarik ke dalam ruang hampa bertabur bintang yang luas. Roda logam raksasa itu berdiri menjulang, memancarkan aura kuno yang menekan segala arah.
Ye Xuan melangkah maju. Tanpa keraguan sedikit pun, dia menekan tombol.
[ Putar Roda - Menggunakan 1 Tiket Gold ].
Tiket emas itu hancur menjadi debu cahaya bercahaya dan tersedot ke dalam pusat roda raksasa.
Grummmmmmmm!!!!
Suara gesekan logam berat menggema ke seluruh penjuru dimensi hampa tersebut. Roda raksasa itu bergetar hebat sebelum akhirnya berputar dengan kecepatan gila-gilaan. Cahaya emas, ungu, dan biru berpendar menyilaukan, menerangi wajah Ye Xuan yang menatap tajam tanpa berkedip.
"Beri aku sesuatu yang bisa kugunakan untuk membantai mereka di jarak dekat," gumam Ye Xuan dengan suara parau. Ilmu Tabib Dewa memberinya kemampuan membunuh secara diam-diam lewat jarum beracun, tapi jika dia dikepung dalam pertarungan fisik terbuka, dia butuh teknik bela diri yang nyata.
Putaran roda perlahan melambat.
Tek... tek... tek... TING!
Jarum penunjuk berhenti tepat di sebuah area yang memancarkan pendaran cahaya merah darah bercampur emas. Sebuah kotak berbingkai naga muncul di layar holografik.
[ SELAMAT! Anda mendapatkan Hadiah: Warisan Bela Diri Kuno - Seni Pukulan Pemutus Meridian (Tingkat Bumi). ]
[ Memulai Proses Integrasi... ]
Mata Ye Xuan melebar. "Seni Pukulan Pemutus Meridian?"
Sama seperti sebelumnya, seberkas cahaya melesat dari roda raksasa itu dan langsung menembus titik tengah dahi Ye Xuan.
"Ughh!"
Ye Xuan mengertakkan giginya. Rasa sakit kali ini berbeda dengan integrasi Tabib Dewa. Jika sebelumnya otaknya yang diserang oleh ribuan informasi, kali ini rasa sakitnya menyebar ke seluruh jaringan otot dan serat saraf di tubuhnya.
Ingatan tentang kuda-kuda untuk bertarung, cara memutar pinggul untuk menghasilkan tenaga ledakan maksimal, dan metode menyalurkan kekuatan fisik murni ke titik akupunktur musuh dipahat secara paksa ke dalam memori ototnya.
Namun, karena tubuhnya sudah dibersihkan oleh Pil Pembersih Sumsum Tulang, Ye Xuan mampu menahan proses ini tanpa harus bergulingan di lantai seperti terakhir kali. Keringat dingin membasahi tubuhnya, napasnya memburu, tapi dia tetap berdiri tegak dengan kedua tangan mengepal kuat.
Lima menit kemudian, cahaya merah itu pudar.
"Hahhhhh... haahhhh..." Ye Xuan menghela napas panjang, membuka matanya perlahan.
Sebuah kilatan tajam seperti pedang yang baru diasah terpancar dari sepasang matanya. Dia mengangkat kedua tangannya, mengepalkan jarinya secara perlahan. Sensasi kekuatannya sangat berbeda. Dia merasa bisa menghancurkan batu bata hanya dengan jentikan jarinya, asalkan dia mengenai titik rapuh yang tepat.
Seni Pukulan Pemutus Meridian ini sangat brutal. Teknik ini tidak membutuhkan tembakan energi yang mencolok, melainkan pertarungan jarak dekat ekstrim di mana setiap pukulan, sikutan, atau tendangan dirancang untuk menghentikan aliran darah musuh, membuat saraf mereka meledak, atau melumpuhkan organ dalam mereka tanpa meninggalkan bekas luka luar yang parah. Ini adalah gaya bertarung seorang pembunuh sejati.
"Kombinasi yang sangat sempurna dengan pengetahuan Tabib Dewa," senyum mengerikan terukir di wajah Ye Xuan. "Satu menyelamatkan, satu menghancurkan."
Dia menekan tombol keluar.
Wushhhhh...
Kembali ke kamar pengapnya, Ye Xuan merebahkan diri di atas kasur. Tubuhnya lelah, tapi mentalnya sangat waspada. Dia menutup matanya dan tertidur selama beberapa jam, membiarkan tubuhnya menyerap semua perubahan itu.
Keesokan paginya, suasana SMA Jinghai kembali riuh.
Sinar matahari pagi menyorot masuk melalui jendela kelas 2-B. Ye Xuan duduk di kursinya di sudut belakang, menatap keluar jendela dengan ekspresi datar. Pikirannya sedang menghitung berapa lama waktu yang dibutuhkan Keluarga Ji untuk menyadari bahwa ketiga pembunuh bayaran mereka telah lenyap tanpa jejak malam tadi.
Di bagian depan kelas, keributan kecil sedang terjadi.
Zhao Wei, sang murid pindahan yang kaya raya, sedang duduk santai di atas meja milik murid lain. Dia mengenakan sepatu sneakers edisi terbatas yang harganya setara dengan biaya hidup Ye Xuan selama setahun. Di sekelilingnya, beberapa murid laki-laki berkumpul seperti kacung, mendengarkan Zhao Wei menyombongkan tentang mobil sport baru ayahnya.
Di samping Zhao Wei, Lin Xia berdiri dengan anggun. Hari ini, roknya terasa sedikit lebih pendek dari biasanya. Lipatan blusnya menonjolkan bentuk dadanya yang bahenol dengan sangat jelas setiap kali dia tertawa merespons lelucon garing Zhao Wei. Tangannya sesekali menyentuh bahu Zhao Wei, memberikan godaan kecil yang membuat pria arogan itu semakin besar kepala.
"Kamu benar-benar hebat, Zhao Wei. Tidak semua orang bisa masuk ke klub eksklusif itu," ucap Lin Xia dengan nada mendesah pelan, mengerjap-ngerjapkan matanya yang lentik.
"Hahaha, itu bukan apa-apa bagi keluargaku, Lin Xia. Kalau kau mau, akhir pekan ini aku bisa membawamu ke sana. Kita bisa makan malam di lantai paling atas," balas Zhao Wei sambil tersenyum congkak. Matanya dengan rakus menyapu lekuk tubuh Lin Xia.